Inicio / Romansa / Hasrat Kakak Tiri / Kepingan Kepingan

Compartir

Kepingan Kepingan

last update Fecha de publicación: 2026-05-15 08:42:12

Arion masih mematung di depan jendela kamarnya.

Ponsel itu masih menempel erat di telinga.

Tatapannya lurus menembus kerlip lampu kota yang seolah enggan terpejam.

Namun, jiwanya tidak ada di sana.

Bayangan sedan lecet milik Arka terus menari-nari di pelupuk matanya.

Juga deskripsi tentang seorang pria yang mengemudi seperti orang yang kehilangan kompas hidup.

Aneh.

Sejak mendengar cerita itu, ada rasa sesak yang menyelip di dadanya.

Seolah instingnya sedang berteriak, memaksa otaknya menyatuka
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Kakak Tiri   102. Masih Terpendam

    Malam semakin larut. Rumah itu sudah tenggelam dalam sunyi sejak satu jam yang lalu. Alena masuk ke kamarnya lebih dulu. Lampu ruang tamu dimatikan. Dan kini hanya tersisa cahaya redup dari lampu dapur yang samar menjangkau ruang tengah.Roy masih duduk sendiri di sofa. Tubuhnya sedikit membungkuk. Siku bertumpu di lutut. Sementara kedua tangannya saling menggenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.Tatapannya kosong ke depan. Namun pikirannya jauh sekali dari rumah itu. Ia kembali berada di dek tongkang tua. Kembali mendengar suara ombak malam. Kembali mencium aroma besi dan garam laut yang membuat dadanya sesak. Dan yang paling menyiksa— ia kembali mendengar suara tangis bayi kecil yang bahkan belum sempat ia peluk dengan layak.Roy memejamkan mata. Napasnya bergetar pelan. Dan setelah sekian lama ia mengubur nama itu dalam lembaran masa lalu yang mati— nama itu lolos begitu saja dari bibirnya.“…Shana.”Suara itu nyaris tidak terdengar. Namun cukup membuat langkah seseo

  • Hasrat Kakak Tiri   101. Semakin Rumit

    Malam belum benar-benar larut. Namun apartemen itu sudah tenggelam dalam sunyi yang terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Shana masih duduk di lantai kamar, bersandar lemah di sisi ranjang. Lampu utama tidak ia nyalakan. Hanya cahaya remang dari lampu meja yang membiarkan separuh wajahnya tenggelam dalam bayangan.Matanya kosong menatap lantai. Pikirannya kacau. Berputar tanpa arah. Dan setelah dinding pertahanan yang ia bangun sekian tahun runtuh begitu saja— sebuah kata lolos dari bibirnya.“…Ayah.”Pelan. Hampir seperti bisikan yang bahkan tak pantas didengar siapa pun. Shana langsung menunduk. Dadanya sesak seketika.Kata itu terasa asing di lidahnya sendiri. Begitu asing— hingga terdengar seperti milik orang lain. Karena selama hidupnya, ia hampir tidak pernah mengucapkannya lagi. Kecuali dulu. Saat masih kecil. Saat ia masih menjadi anak perempuan yang sering iri melihat teman-temannya dijemput ayah mereka sepulang sekolah.Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya pernah

  • Hasrat Kakak Tiri   Kepingan Kepingan

    Arion masih mematung di depan jendela kamarnya.Ponsel itu masih menempel erat di telinga.Tatapannya lurus menembus kerlip lampu kota yang seolah enggan terpejam.Namun, jiwanya tidak ada di sana.Bayangan sedan lecet milik Arka terus menari-nari di pelupuk matanya.Juga deskripsi tentang seorang pria yang mengemudi seperti orang yang kehilangan kompas hidup.Aneh.Sejak mendengar cerita itu, ada rasa sesak yang menyelip di dadanya.Seolah instingnya sedang berteriak, memaksa otaknya menyatukan kepingan teka-teki yang berserakan.“Siapa ini?” ulang Arion, suaranya terdengar dingin dan tajam.Di seberang sana—hening menyergap selama beberapa detik.Lalu, sebuah suara berat yang familiar terdengar lagi.“Kasar amat, Bang.”Alis Arion bertaut tipis.Nada bicara yang dibuat-buat itu runtuh seketika.Dan sekarang—ia tahu persis siapa pemilik suara asli di balik telepon.“Arka.”Terdengar tawa kecil yang terdengar dipaksakan di ujung sana.“Ketahuan juga.”Rahang Arion mengeras.Rasa kes

  • Hasrat Kakak Tiri   99. Masih Munafik

    Mesin mobil akhirnya mati.Suara dengungnya hilang begitu saja, digantikan oleh keheningan yang terasa terlalu nyata.Lampu dashboard perlahan redup.Menyisakan pantulan samar wajah Arion di kaca depan.Ia tidak langsung turun.Tangannya masih bertahan di setir, meski tidak lagi menggenggamnya sekuat tadi.Seolah masih ada sesuatu yang menahannya untuk bergerak.Di belakang, Shana juga belum membuka pintu.Ia duduk diam.Pandangannya lurus ke depan, tapi tidak benar-benar melihat apa pun.Gedung apartemen mereka berdiri menjulang di hadapan.Lampu-lampu di beberapa lantai menyala.Yang lain gelap.Seperti hidup orang-orang di dalamnya—ada yang hangat, ada yang kosong. Di dalam mobil itu, suasananya tidak bisa dijelaskan dengan sederhana.Bukan canggung.Bukan juga nyaman.Lebih seperti… dua orang yang sama-sama tahu sesuatu sedang berubah, tapi memilih berpura-pura tidak terjadi apa-apa.Arion menarik napas pelan.Panjang.Lalu mengembuskannya perlahan.“Sudah sampai,” ucapnya akhirn

  • Hasrat Kakak Tiri   98. Taak Punya Hak Kembali

    Roy berdiri kaku di tengah dek kapal tongkang itu.Angin laut berembus tanpa ampun, membawa aroma garam yang tajam, menusuk paru-parunya hingga terasa perih.Tangannya mengepal kuat.Bukan sekadar amarah yang membakar di sana.Tapi ada rasa sesak karena ia sadar—setiap detik yang terbuang di sini, jaraknya dengan satu-satunya alasan ia bernapas semakin membentang jauh.Laras.Dan bayi kecil yang bahkan belum sempat ia beri nama dengan suaranya sendiri.“Gue kasih waktu buat lo mikir,” ujar pria di depannya, nadanya begitu santai.Sebuah ketenangan yang terasa mual di tengah situasi antara hidup dan mati.Roy tidak menyahut.Tatapannya lurus ke depan, namun jiwanya sudah terbang jauh melintasi samudera.Kembali ke rumah kecil itu.Ke lampu teras yang pernah ia lihat padam dari kejauhan, menyisakan sunyi.Ke sebuah keputusan yang sudah ia ambil di kepala... tapi jiwanya belum sanggup merelakan.“Lo pikir ini cuma soal utang?” lanjut pria itu lagi.Langkahnya pelan, terdengar berat di ata

  • Hasrat Kakak Tiri   97. Kebetulan Yang Terlalu Rapih

    Sisil menarik napas panjang dan pelan.Membiarkan keheningan menggantung sejenak.Seolah sedang menimbang berat kata-kata yang akan meluncur.Matanya bergerak tenang, berpindah dari Arion ke Shana,Sorot matanya seperti mencari sesuatu di wajah mereka.Gerakannya tidak terburu-buru, Meski ada ketegasan yang tak tergoyahkan di sana.“Kalian sadar nggak sih…” ucapnya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.“Semakin kalian cari tahu, semakin kalian masuk lebih dalam.”Tidak ada yang langsung menyela.Sisil melanjutkan.“Dan ini bukan cuma soal masa lalu seseorang.”IIa menatap lurus ke depan, terpaku pada binar cahaya yang memancar dari lobby apartemen.Terangnya lampu di sana seolah menelanjangi keraguannya, “IMenurutku sih, ini soal sesuatu yang sengaja disembunyikan.”Shana mengerutkan dahi.“Kamu tahu sesuatu?” tanyanya tajam.Sisil tersenyum tipis.Senyum yang tidak sepenuhnya bisa dibaca.“Aku tahu cukup untuk bilang… ini nggak sesederhana yang kalian kira.”Arion bersandar

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status