LOGINMereka tiba di pulau tersebut pagi-pagi sekali untuk mengejar matahari terbit. Udara masih sejuk, angin laut berhembus lembut membawa aroma garam yang menyegarkan."Wah, tempatnya indah sekali!" seru Rara sambil menatap hamparan pantai pasir putih yang membentang luas."Iya," Dara mengangguk setuju. "Ini sangat cocok dengan konsep prewedding kita."Fotografer dan tim sudah bersiap dengan peralatan mereka. Mereka mulai mengarahkan pose untuk foto pertama. Dara dan Raymond berdiri di tepi pantai, dengan latar belakang bukit hijau yang menjulang di kejauhan."Raymond, pegang pinggang Dara dengan lebih erat," instruksi fotografer. "Dara, dongakkan wajahmu sedikit ke arah Raymond. Bagus! Sekarang tatap mata satu sama lain."Dara menatap mata Raymond yang penuh cinta. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah momen yang akan mereka kenang selamanya."Perfect!" fotografer mengambil beberapa foto dengan cepat. "Sekarang coba kalian berjalan di tepi pantai sambil bergandengan tangan."Mereka men
Sore itu Dara dan Raymond baru saja tiba di rumah setelah seharian menghabiskan waktu bersama di kota. Ketika mobil Raymond memasuki halaman, Dara langsung mengerutkan kening melihat sebuah mobil mewah hitam metalik terparkir di area parkir."Mobil siapa itu?" gumam Dara sambil menatap mobil asing tersebut dengan penuh rasa ingin tahu.Raymond mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin tamu Papa atau Mamamu."Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, suara tawa terdengar dari ruang tamu. Dara dan Raymond saling berpandangan sebelum melangkah masuk.Dan ketika Dara melihat sosok yang duduk di samping papanya, matanya langsung membulat. Jantungnya berdetak kencang. Senyum lebar mengembang di wajahnya."KAK RENDRA!" teriak Dara dengan suara nyaring yang membuat semua orang di ruang tamu menoleh.Tanpa pikir panjang, Dara langsung berlari menghambur ke arah Rendra yang sudah berdiri dengan tangan terbuka lebar. Tubuh mungil Dara menabrak dada Rendra dengan ke
Rendra langsung tersadar dan tertawa canggung. Tangannya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Maaf Paman, maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya memberikan pujian biasa. Lagipuan aku sudah punya Sinta. Paman tidak perlu khawatir.""Omong-omong Sinta," David mengalihkan pembicaraan dengan nada yang sedikit ketus. "Mana dia? Kenapa tidak ikut? Dan anak kalian?""Sinta dan anak-anak akan pulang seminggu lagi," jawab Rendra sambil memasukkan tangan ke saku celananya. "Aku pulang terlebih dahulu karena ada urusan bisnis yang harus diselesaikan di sini. Kontrak yang mendesak. Jadi ya terpaksa aku duluan deh."Laura yang mendengar itu mengangguk pelan. "Anak-anak kamu usia berapa sekarang?" Tanya David. "Raka sudah berusia dua puluh tahun, sedangkan Risa berusia 15 tahun. Nanti kalau mereka sudah sampai, aku bawa ke sini biar mereka ingat." Jelas Rendra dengan tersenyum. "Sudah besar-besar ternyata, aku sudah lupa wajah anak-anak kamu." "Iya Paman," Rendra menggaruk kep
Pagi yang tenang di kediaman keluarga David dan Laura tiba-tiba terganggu oleh bunyi klakson mobil yang terus berbunyi tanpa henti. Suara memekakkan itu membuat David yang sedang membaca koran di ruang keluarga mengerutkan kening dengan kesal."Siapa sih yang tidak tahu sopan santun?" gerutu David sambil melipat korannya dengan kasar. "Pagi-pagi sudah membunyikan klakson seperti itu."Laura yang baru turun dari lantai dua juga terlihat terganggu. "Mungkin tamu penting. Coba kamu lihat dulu siapa."David bangkit dari sofa dengan wajah kesal dan berjalan menuju pintu depan. Laura mengikuti di belakangnya dengan rasa penasaran. Begitu pintu terbuka, mata David langsung membulat melihat mobil mewah hitam metalik yang terparkir di halaman rumahnya.Pintu mobil terbuka, Rendra turun dengan senyum lebar. Penampilannya sangat rapi, mengenakan kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana bahan hitam, lengkap dengan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Rambutnya disisir rapi ke belakang,
Keheningan menyelimuti ruangan beberapa detik. Semua orang masih mencerna informasi yang baru saja mereka dengar.David yang pertama kali bereaksi. "Kalian... kalian serius?""Sangat serius Papa," jawab Rara dengan senyum tulus. "Kami sudah berpikir matang tentang ini. Kami tahu ini mungkin terdengar terburu-buru. Tapi kami yakin dengan keputusan kami."Erik bangkit dari duduknya, wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. "Tapi kalian baru saja... maksudku, bukankah kalian baru...""Baru putus dengan pasangan kami?" Reyhan melanjutkan kalimat Erik dengan tenang. "Iya, kami tahu. Tapi justru karena itu kami merasa ini adalah waktu yang tepat. Kami berdua memahami satu sama lain. Kami berdua tahu apa yang kami lewati. Dan kami yakin bisa saling mendukung, saling menguatkan."Rania menatap anaknya Raymond, seolah mencari konfirmasi. Raymond tersenyum dan mengangguk. "Aku mendukung mereka Mama. Kalau mereka sudah yakin, kenapa tidak?"Dara juga bangkit dan berlari memeluk Rara. "Aku sangat
Sore itu Reyhan dan Rara duduk berhadapan di sebuah cafe yang tenang. Di hadapan mereka masing-masing tersaji secangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat. Suasana di antara mereka terasa lebih ringan dibanding beberapa hari yang lalu, meski masih ada sedikit canggung yang menyelimuti.Reyhan menatap Rara dengan tatapan serius. Tangannya terulur di atas meja, menggenggam tangan Rara dengan lembut namun tegas."Rara, aku sudah berpikir panjang tentang usulanku kemarin," ucap Reyhan membuka pembicaraan. "Dan aku masih tetap pada pendirianku. Aku pikir kita bisa mencoba untuk saling membuka hati."Rara menatap genggaman tangan Reyhan, lalu mengangkat kepalanya menatap mata pria di hadapannya. "Aku juga sudah berpikir Rey. Dan sejujurnya, aku pikir ini bisa jadi solusi yang baik untuk kita berdua."Senyum tipis muncul di wajah Reyhan. "Jadi kamu setuju?""Iya," Rara mengangguk pelan. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Kita berdua masih mencintai orang lain. Tapi seperti yang kamu bilang,







