LOGINRara terdiam. Dadanya masih terasa sakit mendengar pengakuan itu. Tapi setidaknya sekarang dia mengerti. Dia mengerti kenapa Raymond selalu terlihat tidak bahagia. Kenapa tatapannya selalu kosong ketika menatapnya."Kamu bodoh Dara," ucap Rara tiba-tiba, membuat Dara tersentak. "Sangat bodoh.""Rara...""Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Rara dengan nada frustasi. Tapi tidak ada kemarahan di sana. Hanya kekecewaan. "Kenapa kamu harus berkorban seperti itu? Kenapa kamu harus menyakiti dirimu sendiri?"Dara tidak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis dalam diam."Kamu pikir dengan berkorban seperti itu kamu jadi pahlawan?" Rara melanjutkan. "Tapi lihat sekarang. Kamu sakit. Aku sakit. Raymond sakit. Reyhan juga sakit. Semua orang sakit karena kamu memilih untuk tidak jujur!""Maafkan aku," bisik Dara dengan suara hampir tidak terdengar.Rara menggeleng. "Aku tidak butuh permintaan maafmu lagi. Yang aku butuh adalah kamu belajar dari kesalahan ini. Belajar untuk jujur. Belajar u
Langit sudah sepenuhnya gelap ketika Reyhan dan Rara kembali ke rumah Erik. Lampu-lampu di teras menyala terang, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Dari luar, mereka bisa melihat bayangan orang-orang yang masih berkumpul di ruang tamu melalui jendela besar.Rara berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya gemetar menyentuh kenop pintu. Dadanya terasa sesak membayangkan harus berhadapan dengan semua orang di dalam sana."Kamu tidak sendiri," bisik Reyhan sambil menyentuh pundak Rara dengan lembut. "Aku ada disini bersamamu."Rara menoleh dan tersenyum tipis pada Reyhan. Senyum yang penuh rasa terima kasih. Lalu dengan nafas yang dalam, dia membuka pintu dan melangkah masuk.Begitu pintu terbuka, semua mata langsung tertuju pada mereka. Suasana di ruang tamu masih terasa berat meski sudah berlalu beberapa jam. Laura masih duduk di samping Dara yang wajahnya bengkak karena menangis. Raymond berdiri di dekat jendela dengan tatapan kosong. Sementara orang tua mereka duduk dengan wa
Raymond bergegas menghampiri Dara yang masih terduduk lemas di lantai. Tangannya terulur mencoba membantu Dara berdiri, tapi wanita itu justru menggeleng keras sambil menangis."Jangan sentuh aku," bisik Dara dengan suara parau. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Jangan dekati aku Raymond.""Dara kumohon," Raymond berlutut di hadapan Dara. Tangannya ingin menyentuh pipi basah itu tapi ditepis dengan kasar. "Dengarkan aku dulu.""Pergi!" teriak Dara frustasi. Matanya menatap Raymond dengan tatapan penuh luka. "Pergi kejar Rara! Dia lebih membutuhkanmu sekarang. Bukan aku!"Raymond terdiam. Dadanya sesak melihat Dara dalam kondisi seperti ini. Tapi sebagian hatinya juga khawatir pada Rara yang pergi dengan air mata."Dara...""Kumohon Raymond," Dara menatap mata Raymond dengan tatapan memohon. "Kejar Rara. Pastikan dia baik-baik saja. Aku yang sudah merusak segalanya. Setidaknya pastikan dia tidak melakukan hal yang bodoh."Sebelum Raymond sempat menjawab, Reyhan
Angga yang sejak tadi diam akhirnya bangkit. Wajahnya memerah, matanya menatap Raymond dengan tatapan tidak percaya."Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Angga dengan nada dingin. "Kamu tahu apa yang akan terjadi pada reputasi keluarga kita kalau kamu membatalkan pertunangan begitu saja?""Aku tahu Papa," Raymond mengangguk. "Tapi aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Itu tidak adil untuk Rara. Dan juga tidak adil untukku."Erik yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya angkat bicara. "Jadi selama ini kamu dan Dara..." dia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi semua orang sudah mengerti maksudnya.Dara yang mendengar semua itu hanya bisa menangis dalam diam. Tubuhnya gemetar hebat. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Semua yang dia takutkan terjadi.Dia melirik ke arah Rara yang masih duduk dengan kepala tertunduk. Tidak ada air mata di wajah sahabatnya itu. Hanya keheningan yang mencekam.Dengan langkah gontai, Dara menghampiri Rara dan berlutut
Rara mencoba mencairkan suasana, meski dia tahu Raymond akan mengatakan yang sebenarnya. Suasana di ruang tamu rumah Erik masih terasa mencekam. Raymond berdiri dengan napas tersengal, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Semua mata tertuju padanya, menunggu kelanjutan kalimat yang terhenti di tengah."Karena aku..." Raymond menarik napas panjang, tangannya terkepal erat di sisi tubuh.Tepat saat itu, pintu rumah terbuka dengan bunyi yang cukup keras. Langkah kaki terdengar mendekat, membuat semua orang menoleh ke arah pintu ruang tamu.Dara dan Reyhan muncul di ambang pintu.Wajah Dara terlihat pucat, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis. Sementara Reyhan berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar namun tatapannya tajam tertuju pada Raymond."Maaf kami datang terlambat," ucap Reyhan sambil tersenyum tipis. Tangannya merangkul pinggang Dara dengan posesif. "Tadi ada sedikit urusan yang harus diselesaikan."Raymond merasakan dadanya seolah ditikam melihat p
Bandara internasional dipenuhi hiruk pikuk orang-orang yang datang dan pergi. Suara pengumuman penerbangan bergema di seluruh ruangan, bercampur dengan obrolan para penumpang dan suara roda koper yang bergesekan dengan lantai.Di area kedatangan, keluarga besar Raymond dan keluarga besar Rara sudah berkumpul sejak setengah jam yang lalu. Rania dan Angga berdiri paling depan, sesekali melirik jam tangan mereka dengan wajah tak sabar. Di belakang mereka ada Erik dan Citra. Rara berdiri agak ke samping, wajahnya terlihat pucat meski sudah diberi sedikit riasan."Pesawatnya sudah mendarat," ucap Angga sambil mengecek ponselnya. "Raymond sebentar lagi keluar."Rania mengangguk antusias. "Akhirnya dia pulang juga. Sudah lama sekali dia di Inggris.""Sayang, Dara dan keluarganya tidak datang." "David dan Laura masih ada urusan," jawab Erik. "Jadi mereka tidak bisa ikut menjemput."Rara mendengar percakapan itu dengan hati yang mencelos. Dara memang tidak ikut. Sejak kemarin, sahabatnya itu







