LOGINMobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi utama. Victor membukakan pintu, dan Gerald turun lebih dulu sebelum mengulurkan tangannya pada Irene. Begitu kaki Irene memijak lantai marmer lobi, seluruh atensi di ruangan luas itu seolah tersedot ke arah mereka.Irene tampil memukau, memancarkan aura quiet luxury yang sangat berkelas. Ia mengenakan setelan midi dress berbahan wool-crepe berwarna putih pudar off white yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun tegas. Gaun itu memiliki potongan kerah tinggi yang elegan, dipadukan dengan long coat senada yang hanya ia sampirkan di bahunya, memberikan kesan berwibawa. Pinggang rampingnya dipertegas dengan sabuk kecil berkepala emas yang senada dengan stiletto pumps dari Christian Louboutin yang ia kenakan.Penampilannya semakin sempurna dengan rambut hitam pekatnya yang dibiarkan terurai lurus sempurna dan sangat berkilau. Rambutnya yang sehalus sutra itu jatuh meluncur dengan indah di bahunya, mencerminkan cahaya lampu lobi dan member
Bab 92 (Gerald)Di sebuah apartemen mewah bergaya Skandinavia di kawasan elit Copenhagen, Denmark, Alea berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang tertata rapi. Sebagai putri dari salah satu pengusaha sukses di Kanada, kemewahan bukanlah hal baru baginya. Interior apartemennya dipenuhi furnitur desainer dan karya seni mahal, namun semua itu terasa hambar saat ini.Tangannya yang lentik dengan kuku yang dipulas merah sempurna mencengkeram beberapa lembar foto. Matanya yang tajam menatap tidak percaya pada sosok pria yang selama ini ia anggap sebagai "miliknya"."Sejak kapan Gerald perhatian dengan wanita?" tanyanya dengan nada rendah yang menuntut kepada pria pesuruh yang berdiri di hadapannya."Dari informasi terbaru yang kami kumpulkan, sepertinya sudah cukup lama, Nona Alea."Mata Alea membelalak. Ia melemparkan foto-foto itu tepat ke arah pria tersebut. "SIALAAANNN!"Foto-foto itu melayang jatuh di atas karpet bulu yang mahal. Alea berdiri tegak, napasn
Bab 91"Ka-kamar kita?" tanya Irene gugup. Yang ada dipikiran Irene saat ini adalah kenapa harus kamar kita? Apa artinya ia akan tidur bersama Gerald?Gerald menaikkan satu alisnya. “Apa ada yang salah?”“Uhm… Maksud kamu kamar kita?” tanya Irene hati-hati, berharap Gerald paham maksud pertanyaannya.“Ya, benar. Kamar kita berdua. Kamar kamu dan aku.” Gerald kemudian menatap tajam, meraih dagu Irene. “Apa yang kamu pikirkan, sayang?”Irene menggeleng pelan, "Tidak ada." Ia tersenyum tipis. Yah, tidak mungkin kan Gerald membiarkannya tidur sendiri? Hah! Dia sudah menjadi miliknya.Mereka berdua pun melanjutkan melihat interior penthouse tersebut. Gerald menuntun Irene melewati ruang keluarga yang luas, dapur gourmet dengan peralatan canggih, hingga akhirnya mereka tiba di koridor menuju area privat.Irene takjub melihat ruang pakaian yang terisi penuh. Itu adalah ruang walk-in closet yang sangat besar, dipenuhi gaun-gaun designer, tas-tas mewah, dan sepatu dari merek-merek ternama, sem
Bab 90Setelah badai gairah mereda, Gerald menarik Irene ke pelukannya. Mereka terlelap beberapa jam dalam penerbangan panjang di tengah kenyamanan kabin.Private jet mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Internasional Toronto, Kanada. Cahaya matahari pagi menerobos jendela, menandakan awal hari yang baru, di benua yang baru.Irene dan Gerald sudah berganti pakaian. Gerald kembali mengenakan setelan jas abu-abu gelapnya, tampak fresh dan sempurna membalut tubuhnya yang tegap. Sementara Irene mengenakan setelan celana panjang krem yang elegan, memancarkan kecantikan wanita itu.Mereka turun dari private jet. Udara Kanada terasa dingin dan bersih, sebuah kontras yang tajam dari Jerman. Seperti biasa, asisten Gerald—Victor, sudah siaga menyambut mereka di bawah tangga pesawat.Victor membungkuk hormat. "Selamat datang kembali, Tuan Gerald. Selamat pagi, Nyonya Irene."Gerald hanya mengangguk singkat, sementara Irene tersenyum tipis. Mereka berjalan menuju mobil mewah yang sudah
Bab 89Gerald mengangkat wajahnya, menyeringai puas. "Itu baru permulaan, my love," bisiknya serak. Ia tidak membiarkan Irene beristirahat lama.Kini tubuh Irene benar-benar dilahap oleh Gerald. Pria itu dengan cepat menanggalkan sisa pakaiannya dan Irene, menyatukan kulit panas mereka. Tanpa menunggu, pria itu terus menghujam miliknya dalam-dalam ke inti tubuh Irene. Dorongan pertama begitu kuat, membuat Irene menjerit tertahan dan melengkungkan punggungnya."Oh my, Gerald!" Irene memekik, mendesah kuat saat ia hendak mendapatkan pelepasan keduanya. Gelombang nikmat itu datang lebih cepat dan lebih buas.Gerald tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan hentakan pinggul yang intens dan bertenaga. Suara berat Gerald dan geramannya memperlihatkan bagaimana ia begitu menyukai tubuh kekasihnya."Oh Irene sayang..." geramnya, suaranya serak dan dominan. Ia semakin memacu pinggulnya, hentakannya dalam dan memabukkan. Ia menarik tubuh Irene, memeluknya erat, membuat tubuh basah merek
Bab 88“Oh my, Ge…” lirih Irene, matanya memejam, pasrah dan penuh gairah. Ia tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata.Gerald tersenyum tipis, Ia memutus ciuman mereka, namun tatapannya tak pernah lepas dari mata Irene.Gerald melepaskan pakaian atas Irene, blazer putih dan dress lilac itu kini tergeletak di lantai, memperlihatkan bra renda hitam yang kontras dengan kulit putih mulusnya. Ia mencium bahu mulus milik kekasihnya. Kulit putih dan lembut, aroma manis yang khas, adalah candu baginya. Ia menghirupnya dalam-dalam, menikmati aroma Irene yang memabukkan.Napas panas Gerald berhembus halus di kulit leher Irene, membuat tubuh Irene bereaksi. Setiap sentuhan udara panas itu, setiap ciuman ringan di tulang selangkanya, membuat nadi dan sarafnya merespon semua sentuhan Gerald.Tangan pria itu sudah turun, meremas lembut bukit kenyalnya yang sudah menantang, siap disantap. Melalui lapisan bra, Gerald merasakan detak jantung Irene yang berpacu kencang. Ia meremas, mengelus, dan memilin
Bab 86Gerald dan Victor berjalan cepat, meninggalkan kantor polisi dengan aura kemenangan yang tegas. Mereka tidak menyisakan satu pun keraguan bahwa ini adalah akhir dari kisah Owen dan Bertha.Mereka tiba di parkiran VIP bandara. Sampai di mobil, Gerald tersenyum lembut, senyum yang murni dan ha
Bab 85"Pertemuan dua kekasih yang sungguh mengharukan…"Suara bariton yang dalam dan dingin itu memecah keheningan di lorong sel penahanan. Suara yang kini paling mereka benci dan takuti. Pandangan Owen dan Bertha mengangkat wajah mereka, tertuang pada sosok yang ada di sana.Berdiri di luar jeruj
Bab 84"Kau berengsek! Kalian semua berengsek!" raung Bertha frustrasi, seluruh harapannya hancur berkeping-keping. Satu-satunya harta yang ia andalkan berakhir membuatnya menyerahkan diri begitu saja. Mau lari? Ia tidak lagi memiliki energi untuk itu.Kerongkongannya kering, tubuhnya lemas, bahkan
Bab 83"Maaf?" Staff tersebut terkejut, bukan karena nominal perhiasannya, tetapi karena ia tahu wanita yang di depannya ini adalah sosok yang angkuh dan arogan. Menjual perhiasan branded secara tiba-tiba, dengan penampilan berantakan, jelas bukan hal biasa."Kenapa?" tanya Bertha nyalang. Ia menat







