Masuk“Alea!”Suara berat Gerald menggelegar, membelah atmosfer ruangan yang sempat menegang. Sosok pria itu berdiri tegak di ambang pintu, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke arah wanita yang kini membeku di tempatnya.Gerald sebenarnya sudah berada di sana selama beberapa menit. Ia sengaja tidak langsung masuk, membiarkan dirinya terpaku saat mendengar bagaimana Irene membela haknya dengan cara yang begitu anggun dan berwibawa. Rasa bangga membuncah di dadanya—wanitanya bukan hanya cantik, tapi juga memiliki benteng pertahanan yang tak tertembus.Tiga pasang mata beralih ke sumber suara. Alea, wanita yang sempat menghilang dari kehidupan Gerald selama bertahun-tahun karena ketakutan akan rahasia kehamilannya, kini berdiri di sana. Saat matanya bertemu dengan Gerald, Alea dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Ia memaksakan senyum yang manis dan innocent, seolah tahun-tahun pelarian dan pengkhianatan tidak pernah terjadi.“Gerald, kau di sini?” sapa Alea lembut, suaranya dibu
“Entahlah,” sahut Irene ringan sembari mengangkat bahu. Namun, ia gagal menyembunyikan lengkungan tipis yang merekah di sudut bibirnya—sebuah tawa tertahan yang membuat matanya bersinar.Gerald, yang sedari tadi mengunci pandangannya pada Irene, tak membiarkan momen itu berlalu. Ia meraih jemari Irene, menuntun langkah wanita itu dengan gerakan posesif namun lembut hingga Irene terduduk di kursi kebesarannya—kursi yang biasanya menjadi singgasana dingin bagi sang CEO, namun kini terasa hangat karena kehadiran Irene.“Sayang…” gumam Gerald dengan suara bariton yang berat, menggetarkan udara di antara mereka. Ia mendekat, jempolnya mengusap lembut bibir ranum Irene sebelum ia menundukkan kepala dan melumat bibir itu dengan intensitas yang sarat akan kerinduan.“Uhm… Ge…” Irene mendesah, jemarinya mencengkeram kemeja sutra Gerald, berusaha menjaga keseimbangan di tengah serangan gairah yang mendadak.Ciuman itu semakin dalam, menuntut, dan penuh gairah, sebelum akhirnya Gerald perlahan m
Mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi utama. Victor membukakan pintu, dan Gerald turun lebih dulu sebelum mengulurkan tangannya pada Irene. Begitu kaki Irene memijak lantai marmer lobi, seluruh atensi di ruangan luas itu seolah tersedot ke arah mereka.Irene tampil memukau, memancarkan aura quiet luxury yang sangat berkelas. Ia mengenakan setelan midi dress berbahan wool-crepe berwarna putih pudar off white yang memeluk tubuhnya dengan sopan namun tegas. Gaun itu memiliki potongan kerah tinggi yang elegan, dipadukan dengan long coat senada yang hanya ia sampirkan di bahunya, memberikan kesan berwibawa. Pinggang rampingnya dipertegas dengan sabuk kecil berkepala emas yang senada dengan stiletto pumps dari Christian Louboutin yang ia kenakan.Penampilannya semakin sempurna dengan rambut hitam pekatnya yang dibiarkan terurai lurus sempurna dan sangat berkilau. Rambutnya yang sehalus sutra itu jatuh meluncur dengan indah di bahunya, mencerminkan cahaya lampu lobi dan member
Bab 92 (Gerald)Di sebuah apartemen mewah bergaya Skandinavia di kawasan elit Copenhagen, Denmark, Alea berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota yang tertata rapi. Sebagai putri dari salah satu pengusaha sukses di Kanada, kemewahan bukanlah hal baru baginya. Interior apartemennya dipenuhi furnitur desainer dan karya seni mahal, namun semua itu terasa hambar saat ini.Tangannya yang lentik dengan kuku yang dipulas merah sempurna mencengkeram beberapa lembar foto. Matanya yang tajam menatap tidak percaya pada sosok pria yang selama ini ia anggap sebagai "miliknya"."Sejak kapan Gerald perhatian dengan wanita?" tanyanya dengan nada rendah yang menuntut kepada pria pesuruh yang berdiri di hadapannya."Dari informasi terbaru yang kami kumpulkan, sepertinya sudah cukup lama, Nona Alea."Mata Alea membelalak. Ia melemparkan foto-foto itu tepat ke arah pria tersebut. "SIALAAANNN!"Foto-foto itu melayang jatuh di atas karpet bulu yang mahal. Alea berdiri tegak, napasn
Bab 91"Ka-kamar kita?" tanya Irene gugup. Yang ada dipikiran Irene saat ini adalah kenapa harus kamar kita? Apa artinya ia akan tidur bersama Gerald?Gerald menaikkan satu alisnya. “Apa ada yang salah?”“Uhm… Maksud kamu kamar kita?” tanya Irene hati-hati, berharap Gerald paham maksud pertanyaannya.“Ya, benar. Kamar kita berdua. Kamar kamu dan aku.” Gerald kemudian menatap tajam, meraih dagu Irene. “Apa yang kamu pikirkan, sayang?”Irene menggeleng pelan, "Tidak ada." Ia tersenyum tipis. Yah, tidak mungkin kan Gerald membiarkannya tidur sendiri? Hah! Dia sudah menjadi miliknya.Mereka berdua pun melanjutkan melihat interior penthouse tersebut. Gerald menuntun Irene melewati ruang keluarga yang luas, dapur gourmet dengan peralatan canggih, hingga akhirnya mereka tiba di koridor menuju area privat.Irene takjub melihat ruang pakaian yang terisi penuh. Itu adalah ruang walk-in closet yang sangat besar, dipenuhi gaun-gaun designer, tas-tas mewah, dan sepatu dari merek-merek ternama, sem
Bab 90Setelah badai gairah mereda, Gerald menarik Irene ke pelukannya. Mereka terlelap beberapa jam dalam penerbangan panjang di tengah kenyamanan kabin.Private jet mendarat dengan mulus di landasan pacu Bandara Internasional Toronto, Kanada. Cahaya matahari pagi menerobos jendela, menandakan awal hari yang baru, di benua yang baru.Irene dan Gerald sudah berganti pakaian. Gerald kembali mengenakan setelan jas abu-abu gelapnya, tampak fresh dan sempurna membalut tubuhnya yang tegap. Sementara Irene mengenakan setelan celana panjang krem yang elegan, memancarkan kecantikan wanita itu.Mereka turun dari private jet. Udara Kanada terasa dingin dan bersih, sebuah kontras yang tajam dari Jerman. Seperti biasa, asisten Gerald—Victor, sudah siaga menyambut mereka di bawah tangga pesawat.Victor membungkuk hormat. "Selamat datang kembali, Tuan Gerald. Selamat pagi, Nyonya Irene."Gerald hanya mengangguk singkat, sementara Irene tersenyum tipis. Mereka berjalan menuju mobil mewah yang sudah
Bab 89Gerald mengangkat wajahnya, menyeringai puas. "Itu baru permulaan, my love," bisiknya serak. Ia tidak membiarkan Irene beristirahat lama.Kini tubuh Irene benar-benar dilahap oleh Gerald. Pria itu dengan cepat menanggalkan sisa pakaiannya dan Irene, menyatukan kulit panas mereka. Tanpa menun
Bab 88“Oh my, Ge…” lirih Irene, matanya memejam, pasrah dan penuh gairah. Ia tidak lagi mampu mengucapkan kata-kata.Gerald tersenyum tipis, Ia memutus ciuman mereka, namun tatapannya tak pernah lepas dari mata Irene.Gerald melepaskan pakaian atas Irene, blazer putih dan dress lilac itu kini terg
Bab 86Gerald dan Victor berjalan cepat, meninggalkan kantor polisi dengan aura kemenangan yang tegas. Mereka tidak menyisakan satu pun keraguan bahwa ini adalah akhir dari kisah Owen dan Bertha.Mereka tiba di parkiran VIP bandara. Sampai di mobil, Gerald tersenyum lembut, senyum yang murni dan ha
Bab 85"Pertemuan dua kekasih yang sungguh mengharukan…"Suara bariton yang dalam dan dingin itu memecah keheningan di lorong sel penahanan. Suara yang kini paling mereka benci dan takuti. Pandangan Owen dan Bertha mengangkat wajah mereka, tertuang pada sosok yang ada di sana.Berdiri di luar jeruj







