LOGINSuara deru mesin mobil yang halus terdengar memasuki halaman rumah.Tidak lama kemudian, Papa Surya melangkah masuk dengan wajah sumringah. Dia baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang melelahkan, tapi semangatnya kembali menyala saat melihat kondisi rumah yang tak biasa."Wah, rumah bersih sekali pagi ini," puji Surya sambil meletakkan tas kerjanya di sofa. Matanya berbinar melihat lantai marmer yang mengkilap tanpa noda. "Tumben Mama rajin bebersih? Biasanya kan nunggu asisten."Lydia yang sedang menata piring di meja makan hanya tersenyum kaku. Senyum yang dipaksakan, seolah bibirnya ditarik menggunakan kawat."Iya, Pa," jawab Lydia pelan, suaranya terdengar lelah. "Mama... Mama lagi pengen olahraga sedikit. Biar sehat."Kami duduk mengelilingi meja makan."Ma, kopi Rey habis. Tolong tuangkan lagi dong," pintaku santai, menyodorkan cangkir kosongku ke arah Lydia.Lydia membeku sejenak. Tangannya mengepal di atas meja. Biasanya, akulah yang menuangkan minum untuk mereka. Tapi h
Aku masih mematung di pinggir kasur, menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat.Pikiran-pikiran buruk berputar di kepalaku. Bagaimana kalau dia mengira aku terlibat dalam pesta gila itu? Bagaimana kalau dia berpikir aku mau melakukan itu padanya?Aku mondar-mandir di depan pintu kamar mandi seperti setrikaan rusak. Maju selangkah, mundur lagi. Tanganku sudah terulur ingin mengetuk, tapi kembali ditarik karena ragu.‘Rey, jangan pengecut. Jelaskan sekarang atau kesalahpahaman ini akan membusuk.’ batinku.Aku menarik napas panjang, memantapkan hati. Aku harus masuk. Aku harus menjelaskan bahwa aku menolak ajakan gila Haris itu.Cklek.Aku memutar gagang pintu. Tidak dikunci.Pintu terbuka perlahan, menampilkan uap hangat yang memenuhi ruangan. Amanda berdiri di dekat shower, baru saja melepaskan handuknya. Tubuhnya yang polos terekspos sempurna di bawah cahaya lampu kuning yang temaram.Dia menoleh saat mendengar pintu terbuka."Eh, Rey?" sapanya. Matanya berkedip polos, tidak ada j
Aku membuka pintu kamar tidur sepelan mungkin. Keheningan malam menyelimuti ruangan.Aku melangkah masuk.Pemandangan di atas ranjang membuat dadaku terasa sesak. Amanda tertidur sangat pulas. Dadanya naik turun dengan ritme lambat, efek dari obat tidur dosis tinggi yang dicekoki ibunya sendiri.Mataku menyapu ruangan dan berhenti pada gelas susu yang kosong di atas nakas. Ada sisa endapan putih di dasarnya. Jejak kejahatan Lydia.Aku segera menyambar gelas itu dan membawanya ke kamar mandi.Krrrrr...Air keran mengucur deras. Aku menggosok bagian dalam gelas itu dengan sabun berkali-kali, memastikan tidak ada residu obat yang tertinggal. Bau susu bercampur bahan kimia harus hilang. Aku tidak mau Amanda bangun besok pagi dan menyadari rasa aneh di bekas minumannya.Biar rahasia busuk ini terkubur bersama malam ini. Biar Amanda tetap melihat ibunya sebagai ibu, bukan sebagai monster.Setelah gelas itu bersih dan kering, aku meletakkannya kembali ke rak di pantry kecil.Aku menatap cerm
Napas Lydia memburu, dadanya naik turun dengan cepat di balik sisa kain lingerie yang robek. Darah segar masih menetes dari luka cakar di leher dan lengannya, mengotori kulit putihnya yang selama ini dia rawat dengan biaya ratusan juta.Dia berdiri di sana, di sudut kamar yang temaram, menatapku dengan mata melotot penuh kemenangan gila. Pecahan gelas wine berserakan di sekitar kakinya seperti ranjau."Kenapa diam saja, Rey?" tantangnya dengan suara melengking. "Takut? Kamu sadar sekarang kalau kamu kalah? Satu teriakanku, dan hidupmu hancur!"Aku masih duduk di kursi tunggal itu, menyilangkan kaki dengan santai. Tidak ada kepanikan di wajahku. Tidak ada keringat dingin.Perlahan, aku mengangkat kedua tanganku dan bertepuk tangan.Prok. Prok. Prok.Tepukan pelan itu bergema di ruangan yang sunyi, terdengar ganjil dan mengerikan."Akting yang luar biasa, Ma," pujiku datar. "Benar-benar totalitas. Hollywood pasti bangga kalau melihat bakat terpendam Mama."Senyum gila di wajah Lydia sed
Setelah urusan dengan Livia selesai di Grand Aurelia, aku tidak langsung pulang. Aku meminta Jonathan mengantarku ke The Royal Crown, hotel bintang tujuh yang kini menjadi simbol kekuasaan keluarga Morales di kota ini.Aku butuh tempat untuk membersihkan diri. Bukan sekadar mandi, tapi membuang sisa-sisa "Rey si Pelayan Hotel" yang melekat di tubuhku seharian ini.Setelah selesai mandi, aku mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Jonathan di atas kasur, sebuah setelan jas hitam custom-made dari perancang ternama dunia, standar pakaian keluarga Morales.Aku mengenakan kemeja putih yang pas di badan, lalu membalutnya dengan jas hitam yang memancarkan aura dominasi. Tidak ada dasi. Dua kancing teratas kubiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun mematikan.Terakhir, aku merogoh saku celana dan memindahkan sebuah benda kecil ke saku dalam jasku. Sebuah flashdisk hitam."Malam ini..." gumamku pada bayangan di cermin, "...aku tidak akan datang sebagai menantu yang berbakti. Aku dat
Urusan di markas Veleno sudah selesai. Pixel sedang memproses data-data busuk Lydia ke dalam sebuah flashdisk enkripsi yang akan diantarkan sore nanti. Aku masih punya waktu sekitar 7-8 jam sebelum "kencan neraka" jam sepuluh malam nanti."Jonathan. Ikut aku ke Grand Aurelia," ucapku. “Aku harus membereskan satu urusan lagi. Livia.""Ah, Nona Manajer itu," Jonathan mengangguk patuh. "Apakah kita perlu... mengamankannya?""Nggak. Kita akan memberinya hadiah," aku menatap keluar jendela. "Dia sudah berkorban banyak, termasuk harga dirinya semalam. Cara terbaik untuk membungkam seseorang sekaligus membuatnya setia adalah dengan memberinya mahkota."Aku dan Jonathan masuk ke mobil kursi penumpang.“Ke Grand Aurelia, Gun,” titah Jonathan.“Siap!” ucap Guntur.Sekitar 20 menit kemudian, mobil mewah Jonathan berhenti di lobi utama Hotel Grand Aurelia.Begitu Jonathan turun, suasana lobi langsung berubah tegang. Para staf, doorman, hingga resepsionis langsung membungkuk hormat sembilan puluh







