LOGINKilatan cahaya dari moncong meriam kaliber 120mm itu menyilaukan seluruh pandangan di atas jembatan gantung.Di mataku, waktu melambat menjadi kepingan milidetik. Sebuah peluru pelontar baja penembus zirah meluncur membelah udara dingin malam dengan kecepatan hipersonik, menciptakan gelombang kejut berupa cincin asap putih di sekelilingnya. Moncong meriam itu telah mengunci tepat ke tengah-tengah kap mesin mobil kami.Paman Julian di sebelahku memejamkan mata, pasrah menyambut kematian yang tak terhindarkan.Baja berlapis obsidian milik "Banteng Hitam" mungkin kebal terhadap rentetan peluru senapan mesin, namun benturan kinetik murni dari peluru tank seberat belasan kilogram dengan kecepatan suara ini pasti akan meremukkan mobil kami beserta isinya menjadi besi tua berdarah.Menghindar ke kiri atau kanan adalah bunuh diri; kami akan terjun bebas ke dasar Ngarai Merah. Mengerem juga sudah terlambat.Hanya ada satu cara untuk seorang Tiran bertahan hidup. Maju dan hancurkan ancaman itu.
Hawa panas Emas Kemerahan yang meledak dari pori-poriku membuat cat di dinding lorong mansion perlahan mengelupas dan menghitam.Namun, amarah murni itu hanya berlangsung selama dua detik.Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan memutus aliran Qi Purgatoriku secara paksa. Aku menekan kembali lautan energi yang mengamuk itu ke dalam Dantian-ku hingga suhu di lorong kembali normal. Seorang Raja tidak boleh kehilangan ketenangannya hanya karena lawannya menutup satu jalan.Aku menatap ibuku, Angeline, yang masih berdiri dengan tenang menghisap pipa tembakaunya. Dia tidak tampak terkejut dengan kabar hancurnya jet pribadi kami."Mereka membakar sayap kita," ucapku datar, mempererat genggamanku pada gagang koper Black Ledger di tangan kiriku."Lalu apa yang akan kau lakukan, Tiran?" tantang Angeline dengan seulas senyum tipis yang penuh intrik. "Apakah kau akan merengek dan menunda keberangkatanmu?"Aku mendengus pelan, sebuah seringai dingin terukir di bibirku. Aku menekan ear
"Kita punya undangan makan malam di Ibukota. Dan Veleno tidak pernah datang terlambat."Kata-kataku memutus keheningan di halaman depan yang berlumuran darah. Paman Julian tidak membuang sedetik pun. Dia langsung menekan earpiece komunikasinya, menyalakan rentetan perintah dengan nada militer yang tegas untuk menyiapkan jet pribadi keluarga, mengamankan landasan pacu, dan menunjuk lima elit Ghost Unit paling mematikan untuk menjadi pengawalku.Aku memutar tubuhku, meninggalkan sisa-sisa mayat pasukan Ibukota, dan melangkah masuk kembali ke dalam mansion yang hancur.Sepatu botku yang berlapis abu dan darah meninggalkan jejak samar di atas karpet Persia yang robek di aula utama. Para pelayan yang bersembunyi kini mulai keluar dengan gemetar, mencoba membersihkan puing-puing. Saat melihatku berjalan melewati mereka, mereka serentak menunduk dalam-dalam, menahan napas karena aura pembunuh yang masih menempel pekat di jas hitamku.Aku menaiki tangga utama menuju sayap barat lantai dua. Tu
‘Beruangmu baru saja menjadi karpet pelapis lantai di halamanku,’ bisikku pelan, suaraku berat, sedingin es, dan penuh dengan intimidasi. ‘Bersihkan lehermu, Pak Tua. Karena setelah aku selesai mengurus sampah di sini... Ibukota adalah target buruanku selanjutnya.’Aku tidak menunggu pria tua di seberang sana menjawab.Dengan satu remasan dari tangan kiriku, cangkang polikarbonat telepon satelit tingkat militer itu hancur berkeping-keping. Serpihan komponen elektroniknya berjatuhan ke atas genangan darah di lantai marmer.Aku menoleh perlahan ke arah halaman.Paman Julian dan puluhan komandan Ghost Unit sedang mengunci sisa-sisa pasukan Ibukota yang masih hidup, sekitar belasan orang yang sudah kehilangan senjata dan moral tempur mereka. Di bawah todongan senapan laras panjang Veleno, para elit bayaran yang arogan itu kini berlutut dengan tubuh gemetar hebat.Julian menatapku, menanti perintah eksekusi pamungkas.Aku berjalan dengan langkah pelan yang menggema di tengah kesunyian hala
Cengkeraman tangan kanan raksasa yang bermutasi itu terasa seperti rahang naga darat yang menjepit pergelangan kaki kiriku.Dengan sisa kekuatan lengan raksasanya, Beruang Besi berusaha menarik kakiku ke atas, berniat membanting tubuhku ke marmer yang hancur atau merobek kakiku dari persendiannya.Namun, alih-alih panik atau meronta, aku hanya menatapnya dengan sepasang mata Emas Kemerahan yang sedingin es.Aku mengalirkan Qi Purgatoriku ke bawah, memusatkannya ke kaki kananku yang masih bebas. Aku memanipulasi gravitasi di sekitarku, mengubah berat tubuhku dari delapan puluh kilogram menjadi seberat pilar gunung andesit.KRAAAK!Lantai marmer di bawah sepatu bot kananku ambles sedalam lima sentimeter. Tarikan raksasa Beruang Besi tertahan mutlak. Otot-otot di lengannya menonjol hingga nyaris meledak, namun dia tidak mampu menggeser tubuhku walau hanya satu milimeter."Pil murahan," ucapku datar, suaraku memotong raungannya yang putus asa. "Tidak akan pernah bisa mengubah seekor babi
"Masuklah, Pak Tua. Biar kutunjukkan padamu cara mengubur seekor beruang."Mendengar provokasiku, Beruang Besi tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggelegar seperti guntur yang terperangkap di dalam tong besi.Pria tua bertubuh raksasa itu menghentakkan kaki kanannya ke tanah.BOOM!Lantai marmer pelataran seketika hancur menjadi serpihan debu. Bersamaan dengan itu, seluruh kulit di tubuh dan lengannya yang terbuka berubah warna menjadi abu-abu kusam, memancarkan kilau logam yang sangat padat.Itu adalah teknik pelindung legendaris dari Ibukota, Baju Besi. Sebuah teknik pemadatan otot dan kulit tingkat ekstrim yang konon tidak bisa ditembus oleh peluru kaliber lima puluh milimeter sekalipun."Mulut yang besar, Nak!" raungnya, melesat ke arahku layaknya sebuah lokomotif seberat dua ton yang kehilangan rem.Dia tidak menggunakan jurus rumit. Dia merentangkan kedua lengannya yang sebesar batang pohon pinus, berniat menangkap tubuhku dalam sebuah kuncian mematikan, Bear Hug. Jika aku terta







