Share

Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku
Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku
Penulis: Falisha Ashia

Hasrat Tersembunyi

Penulis: Falisha Ashia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-12 19:24:47

“Aahh… aku mau sampai…” desahku, tubuhku menegang ketika gelombang kenikmatan hampir meledak dari dalam.

Gerakan pinggulku makin cepat, tapi pandanganku terhenti ketika melihat wajah Amanda. Istriku hanya terpejam, pasif, tanpa gairah seperti biasanya. Tidak ada lenguhan. Tidak ada balasan. Seolah aku sedang bercinta dengan tubuh tanpa jiwa.

Aku menahan gerakan. “Kamu… mau keluar juga nggak?” tanyaku, suaraku tertahan di antara napas berat.

Amanda menggeleng pelan, matanya tetap terpejam. “Nggak… kamu aja.”

Aku tercekat mendengar jawabannya. Jawaban itu, tidak seperti biasanya.

“Serius?” Aku bahkan menghentikan gerakan, berharap dia mengubah jawabannya.

“Iya. Cepat! Kamu aja yang keluar!” suaranya datar, dingin.

Aku terdiam sebentar. Namun getaran di bawah sana, membuat tubuhku bergerak sendiri.

Aku pun kembali mengguncang pinggul. Hanya beberapa hentakan kemudian, aku tak lagi bisa menahan.

Gelombang itu pecah, tubuhku menegang saat telah sampai di puncak kenikmatan dan kemudian lunglai. Nafasku terengah, namun belum sempat aku merasakannya sampai tuntas, Amanda segera mendorongku menjauh dari tubuhnya.

Tanpa menatapku, dia bangkit, mengambil handuk, dan masuk ke kamar mandi.

Aku terbaring di kasur, pandanganku kosong menatap langit-langit. Dadaku naik-turun. Aku berusaha meyakinkan diri—mungkin Amanda hanya tidak tahan ingin buang air kecil. Tapi… aku berpikir lagi. Kenapa ekspresinya begitu dingin? Kenapa dia tidak ikut larut seperti biasanya?

Aku berusaha berpikir positif. Mungkin dia lelah dengan pekerjaannya di kantor.

Namun kini, sepuluh menit telah berlalu. Amanda tak kunjung keluar dari kamar mandi. Aku pun sudah tak tahan ingin buang air kecil sekaligus membersihkan diri.

Dengan langkah berat, aku mendekati kamar mandi. Tapi baru saja tanganku hendak menyentuh gagang pintu…

Aku mendengar sesuatu.

Desahan.

Suara lirih, samar, tapi jelas… itu suara Amanda.

Aku membeku. Jantungku berdegup kencang, seperti ada palu menghantam dada. Perlahan, hampir tanpa sadar, aku menempelkan telinga ke pintu. Suara itu semakin nyata—helai napas terputus, desahan yang mencoba ditahan tapi justru makin erotis.

Apa… apa yang sedang dia lakukan di dalam? Apakah dia sedang berselingkuh?

Tanganku mengepal pada gagang pintu, keringat dingin merembes di pelipis. Pikiran buruk menabrak kepalaku satu per satu.

Apakah Amanda sedang melakukan video call dengan pria lain?

Aku tidak bisa hanya berdiam. Dengan hati-hati, aku mendorong pintu, menciptakan celah kecil. Dari celah itu, pantulan cermin kamar mandi menyingkap sesuatu yang membuat darahku seketika mendidih.

Amanda duduk di kloset, tubuhnya masih tanpa busana. Ponsel di tangan kirinya, sementara tangan kanannya… bergerak cepat di antara pangkal pahanya.

Dunia seperti runtuh di mataku. Nafasku tercekat. Ada amarah, kecewa, sekaligus rasa tertusuk.

Aku tak bisa menahan diri. Pintu kubuka lebar. “Amanda!”

Dia terperanjat, matanya membelalak. “Rey!” teriaknya panik.

Aku melangkah cepat, merebut ponselnya. Aku harus tahu siapa pria itu. Aku harus tahu kebenaran. Namun layar ponsel itu menampilkan hal yang berbeda.

Film dewasa.

Aku terpaku beberapa detik, baru kemudian mendongak. “Jadi… kamu bukan selingkuh. Kamu nonton ini?”

Amanda menunduk, wajahnya merah, napasnya masih belum stabil. “A-aku… aku juga mau keluar, Rey…”

Kata-kata itu menusukku lebih dalam. “Kenapa harus dengan cara begini? Kenapa bukan denganku? Tadi aku tanya, kamu mau keluar juga atau nggak, dan kamu jawab ‘nggak’. Sekarang… malah begini.” Suaraku gemetar, antara marah dan kecewa.

Amanda menggigit bibirnya. “Tadi aku nggak bisa…”

Keningku berkerut. “Kenapa? Bukankah selama ini kamu selalu bisa bersamaku? Atau… aku udah nggak cukup buatmu? Aku nggak menarik lagi?”

Dia menggeleng cepat. “Bukan itu. Cuma… rasanya beda.”

“Beda?” ulangku, tajam.

Amanda terdiam lama. Aku menatapnya tanpa berkedip, menunggu jawaban yang bisa menenangkan batinku. Tapi yang keluar justru kalimat yang membuatku terdiam kaku.

“Aku bosan, Rey… Bukan sama kamu. Tapi caranya. Kita selalu begitu-begitu aja. Lembut. Pelan. Terlalu… biasa.”

Aku merasakan dadaku dihantam sesuatu yang berat. Bosan? Selama ini aku berpikir aku suami yang cukup, memberi cintaku seutuhnya. Ternyata, bagi Amanda, semua itu hambar.

“Terus… aku harus bagaimana agar kamu nggak bosan?” tanyaku lirih, hampir seperti memohon.

Dia menelan ludah, lalu menunjuk ponselnya. “A-aku… ingin seperti di video itu…”

Aku kembali menatap layar ponsel yang masih menyala, untuk memastikan apa yang Amanda inginkan. Dan… di video itu…

“Kamu… mau melakukan ini?” tanyaku, suaraku serak, penuh keterkejutan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Aku Datang Tidak Untuk Berdebat

    Kalimatku menggantung di udara, dingin dan tajam, memotong kebisingan musik yang samar-samar terdengar dari lantai bawah.Madam Rosa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan gelas wine-nya perlahan, lalu menatapku dengan sorot mata yang menyelidik. Senyum mengejek di bibirnya perlahan berubah menjadi seringai licik.Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku seperti seekor kucing yang sedang mempermainkan tikus yang terjebak di sudut."Kamu pikir aku bodoh, Rey?" kekehnya pelan, suara seraknya terdengar menjijikkan. "Atau kamu pikir aku wanita pikun yang tidak punya mata dan telinga di kota ini?"Aku diam, membiarkannya bicara.Rosa berdiri perlahan, memutari meja marmer itu sambil memainkan kipas bulu di tangannya."Awalnya, aku memang mengira kamu cuma pelayan hotel miskin yang beruntung menikahi putri Wijaya," ucapnya sambil berjalan mendekatiku. "Tapi setelah insiden di klinikku, dan caramu lolos dari anak buahku... aku mulai mencari tahu."Dia berhenti tepat di sampingku, memb

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Ke Markas Madam Rosa

    Aku melangkah keluar dari lobi The Royal Crown. Setiap langkahku meninggalkan jejak "Rey si Suami Penyayang" di belakang. Wajahku yang tadi penuh kehangatan saat mencium kening Amanda, kini berubah menjadi topeng batu yang dingin. Tatapanku lurus, tajam, dan memancarkan aura membunuh yang selama ini kusembunyikan di balik senyum ramah room service.Di depan lobi, sebuah sedan hitam matte sudah menunggu. Mesinnya menderu halus. Ini bukan mobil mewah Jonathan yang biasa kupakai. Ini adalah mobil taktis berlapis baja anti-peluru milik operasional Veleno.Pintu belakang terbuka. Guntur duduk di kursi pengemudi, wajahnya serius."Ke markas Alfonso," perintahku singkat saat aku menghempaskan tubuh di jok belakang."Siap, Tuan Muda," jawab Guntur tegas, langsung menginjak pedal gas. "Alfonso sudah mengumpulkan 'anak-anak'. Mereka siap bergerak."Mobil melaju membelah malam kota Lunaris. Kami meninggalkan kerlap-kerlip lampu kota, menuju kawasan bisnis di pinggiran yang lebih sepi.Kami berhe

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bantuan Dari Livia

    Tok. Tok. Tok.Suara ketukan halus di pintu menyentakku dari lamunan gelap tentang Madam Rosa.Amanda yang masih menggeliat di atas kasur dengan tubuh polos langsung menegakkan kepala. Matanya yang tadi sayu kini kembali menyala terang."Itu siapa, Rey?" tanyanya antusias, suaranya serak dan penuh harap. "Livia bukan? Dia udah dateng?"Aku tidak langsung menjawab. Aku bangkit dari tepi ranjang, merapikan celana boxer-ku seadanya, lalu melangkah cepat menuju pintu. Aku mengintip lewat lubang peephole.Livia berdiri di sana. Wajahnya tenang, tapi ada kilatan antisipasi di matanya. Di tangannya, dia menggenggam erat kotak beludru kecil, obat penawar.Aku membuka pintu sedikit, cukup untuk bicara tapi menghalangi pandangan ke dalam."Obatnya?" tanyaku langsung.Livia menyodorkan kotak itu. "Ini, Tuan. Guntur baru saja memberikannya."Di belakangku, suara Amanda terdengar lagi, lebih nyaring. "Rey! Siapa itu? Livia kan? Suruh masuk dong!"Aku menghela napas panjang, menatap Livia lekat-lek

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Tidak Puas

    Mobilku melaju cepat membelah jalanan Lunaris, menuju kawasan elit di pusat kota. Di sampingku, Amanda tidak bisa duduk tenang. Tangannya terus bergerak, sesekali meremas pahaku, sesekali memainkan ujung roknya sendiri. Napasnya memburu halus, seperti anak kecil yang tidak sabar menunggu mainan baru."Masih lama, Rey?" tanyanya manja. "Lama banget sih lampu merahnya.""Sabar, Sayang. Sebentar lagi sampai," jawabku sambil menepuk tangannya, berusaha menenangkannya.Lima menit kemudian, kami tiba di lobi megah The Royal Crown. Hotel bintang tujuh yang kini menjadi simbol kekuasaan keluargaku di kota ini.Begitu kami turun dari mobil, belasan staf berseragam rapi langsung berbaris di depan pintu lobi."Selamat siang, Tuan. Selamat siang, Nyonya!" sapa mereka serempak sambil membungkuk sembilan puluh derajat.Amanda yang biasanya akan merasa risih diperlakukan seperti ratu, kali ini malah tersenyum lebar. Dia mengibaskan rambutnya dengan percaya diri."Wah, hebat banget," bisik Amanda sam

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Semakin Di Luar Kendali

    Jantungku berhenti berdetak. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas paru-paruku hingga aku kesulitan bernapas.Amanda mengenali mereka.Ingatan visual istriku, yang dipacu oleh rangsangan obat B-25, bekerja dengan presisi yang mengerikan. Dia baru saja melihat wajah-wajah itu di layar ponsel sejam yang lalu, dalam adegan yang penuh keringat dan desahan. Dan sekarang, dia melihat versi aslinya berjalan ke arah kami."Rey..." Amanda berbisik lagi, matanya tidak lepas dari sosok Bram dan Siska. "Benar kan? Itu mereka?"Aku ingin menyangkal membawa Amanda keluar dari sini secepat mungkin. Tapi terlambat.Bram sudah melihat kami. Senyum seringai muncul di wajahnya yang sok tampan itu."Rey!" sapa Bram dengan suara lantang, tidak mempedulikan tatapan orang-orang di lobi. Dia merangkul pinggang Siska dengan posesif, gaya khas pria hidung belang yang merasa dirinya raja.Mereka berdua berhenti tepat di depan kami. Aroma parfum Siska yang menyengat langsung menusuk hidung, berc

  • Hasrat Terlarang: Gairah Tersembunyi Istriku   Bertemu Bram Dan Siska

    Amanda berdiri dengan tangan bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi. Tatapannya menuntut, tajam, dan... sedikit liar. Efek obat itu membuat emosinya tidak stabil."Jawab, Rey!" desak Amanda lagi, suaranya bergema di lobi marmer itu. "Dari mana uang 15 Miliar itu? Kamu rampok bank? Atau kamu bandar judi?"Di sampingnya, Alex terlihat seperti orang yang ingin menghilang ditelan bumi. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya. Dia sadar dia baru saja menyulut api di dalam rumah tangga orang lain dan mungkin membangunkan macan tidur jika identitas asliku terbongkar.Hanya ada satu jalan keluar. Menggunakan otoritas yang tidak bisa dibantah."Oke," ucapku tenang, mengangkat kedua tanganku tanda menyerah. "Aku akan buktikan. Tapi bukan dengan kata-kataku."Aku merogoh saku celana, mengeluarkan ponselku."Kamu mau tahu siapa pemilik uang itu? Kita tanya langsung sama orangnya."Tanpa ragu, aku menekan kontak Jonathan dan langsung mengaktifkan mode pengeras suara.Tuuut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status