LOGINSuara gesekan logam dari kenop pintu yang diputar paksa itu memicu amarah murni di dalam Dantian-ku.Dalam seperseribu detik, aku melepaskan Amanda dan Livia. Tubuhku melesat ke arah pintu tebal itu dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata. Hawa panas Purgatori meledak dari telapak tanganku, melelehkan kunci baja di dalam pintu tersebut seketika. Aku menarik gagang pintu dan membantingnya terbuka, bersiap meremukkan leher siapa pun yang berdiri di baliknya.Namun, koridor di luar ruang ganti VIP itu kosong melompong.Tidak ada pria berjas putih. Tidak ada topeng besi. Hanya ada gema tawa mendesis yang perlahan memudar ke udara, menyisakan sebuah tabung silinder kecil seukuran lipstik yang menggelinding masuk ke atas karpet bulu di dekat ujung sepatuku."Hanya sebuah hadiah kecil dari tuanku untuk menghangatkan kencan Anda, Tuan Muda Morales..." bisik suara yang entah berasal dari mana itu.TSSSHHH!Sebelum aku sempat menginjak tabung itu, katupnya terbuka. Sebuah kabut tebal berwa
“Seorang pria berjas putih dengan topeng besi rata menutupi seluruh wajahnya," bisik Julian ngeri dari seberang telepon. "Dia mengaku sebagai utusan dari 'Hakim Tanpa Wajah'."Langkahku terhenti di tengah koridor Verdansk Grand Mall. Udara di sekitarku seolah membeku sesaat. Peringatan ibuku tadi pagi tentang penguasa distrik bawah tanah Ibukota itu kembali terngiang di telingaku. Orang ini bukan bagian dari Aliansi, tapi kehadirannya jelas bukan sekadar kebetulan.Aku menatap Amanda dan Livia yang kini ikut berhenti melangkah, menatapku dengan sorot mata penuh tanya."Di mana dia sekarang?" tanyaku datar, menjaga ekspresi wajahku agar tidak merusak mood istri-istriku."Di lounge VIP lantai dasar, Tuan. Dia duduk sendirian, tapi... seluruh insting tempur anak buah saya berteriak bahwa pria ini sangat berbahaya. Apa yang harus kami lakukan? Apakah kami harus mengepungnya?" tanya Julian, nada suaranya terdengar sangat tegang.Sebuah seringai tipis yang penuh dengan arogansi perlahan ter
Pintu kamarku tertutup rapat, menyisakan tawa kecil ibuku yang menggema di lorong.Aku berdiri mematung di tengah kamar, menatap kedua istriku yang kini sedang membongkar lemari pakaian raksasa dengan antusiasme yang jauh lebih mengerikan daripada pasukan bayaran Ibukota."Meja makan utama kita butuh kayu mahoni padat," gumam Amanda, menempelkan sebuah gaun hijau zamrud ke tubuhnya di depan cermin. "Dan lampu kristalnya... aku ingin model vintage dari Italia."Livia mengangguk setuju sambil menarik sebuah mantel musim gugur yang elegan. "Kita juga harus mencari karpet Persia baru. Karpet di aula sudah tidak bisa diselamatkan dari noda darah Beruang Besi semalam."Aku menghela napas panjang, memijat pangkal hidungku. Tiran yang semalam membelah peluru tank dengan tangan kosong, pagi ini harus menyerah di bawah tirani daftar belanjaan.Satu jam kemudian, kami tiba di Verdansk Grand Mall, pusat perbelanjaan paling mewah dan eksklusif di seluruh provinsi, tempat di mana para elit menghamb
Suara baling-baling helikopter penjemput Veleno memecah keheningan langit fajar.Aku duduk bersandar di kursi kulit kabin penumpang, menatap keluar jendela kaca.Aku menunduk menatap kondisiku sendiri. Jas three-piece hitam yang kupakai dengan penuh kebanggaan semalam kini hancur lebur. Kainnya robek di berbagai tempat, basah kuyup oleh air sungai es Ngarai Merah, dan berlumuran lumpur serta sisa noda darah dari Beruang Besi.Namun, bukannya marah, aku justru tersenyum tipis. Tidak ada satu pun luka fatal di tubuhku. Aku pulang sebagai pemenang mutlak.Di seberang kursiku, Paman Julian dan kelima komandan Ghost Unit tertidur karena kelelahan ekstrem, meski tangan mereka masih menggenggam senapan dengan erat. Mereka adalah pejuang sejati.Helikopter perlahan turun dan mendarat di landasan helipad cadangan di sayap timur Mansion Morales.Begitu pintu kabin terbuka, udara pagi yang segar menyapaku. Aku melompat turun, membiarkan Julian dan pasukannya diurus oleh tim medis keluarga yang s
[SATU...]Suara sistem otomatis itu menjadi vonis kematian bagi jembatan gantung raksasa Ngarai Merah.Dalam seperseribu detik sebelum detonator C4 di bawah aspal meledak, otakku bekerja melampaui batas nalar fana. Berlari kembali ke arah Verdansk adalah mustahil. Melangkah maju menuju daratan Ibukota sama saja dengan bunuh diri di tengah kobaran api.Hanya ada satu jalan keluar. Ke bawah."Pegang mobilnya! SEKARANG!" raungku membelah malam.Aku melompat turun dari kap mobil "Banteng Hitam", mencengkeram kerah jas Paman Julian dengan tangan kiriku, dan menggunakan tangan kananku yang terbalut Obsidian Knuckles untuk meninju pilar baja di sisi jembatan hingga hancur.Kelima komandan Ghost Unit yang sangat terlatih tidak membuang sedetik pun. Mereka melompat keluar dari kabin dan mencengkeram sasis baja mobil SUV kami erat-erat.DUUUAAARRR!Ratusan ton bahan peledak C4 meledak secara serempak. Gelombang panas yang luar biasa menyapu punggungku. Seluruh struktur jembatan gantung seharga
Kilatan cahaya dari moncong meriam kaliber 120mm itu menyilaukan seluruh pandangan di atas jembatan gantung.Di mataku, waktu melambat menjadi kepingan milidetik. Sebuah peluru pelontar baja penembus zirah meluncur membelah udara dingin malam dengan kecepatan hipersonik, menciptakan gelombang kejut berupa cincin asap putih di sekelilingnya. Moncong meriam itu telah mengunci tepat ke tengah-tengah kap mesin mobil kami.Paman Julian di sebelahku memejamkan mata, pasrah menyambut kematian yang tak terhindarkan.Baja berlapis obsidian milik "Banteng Hitam" mungkin kebal terhadap rentetan peluru senapan mesin, namun benturan kinetik murni dari peluru tank seberat belasan kilogram dengan kecepatan suara ini pasti akan meremukkan mobil kami beserta isinya menjadi besi tua berdarah.Menghindar ke kiri atau kanan adalah bunuh diri; kami akan terjun bebas ke dasar Ngarai Merah. Mengerem juga sudah terlambat.Hanya ada satu cara untuk seorang Tiran bertahan hidup. Maju dan hancurkan ancaman itu.







