/ Romansa / Hasrat Terlarang Sang Pelakor / Pertarungan Di Atas Ranjang

공유

Pertarungan Di Atas Ranjang

작가: Nona Lee
last update 게시일: 2025-12-27 22:57:46
Malam merayap sunyi di kediaman Pratama. Setelah makan malam yang penuh kepura-puraan bersama Sarah, Andra merasakan kegelisahan yang tak tertahankan. Meskipun Sarah kini lebih waspada, hasrat Andra kepada Sri telah menjadi candu yang mengalahkan rasa takutnya. Dengan langkah yang sangat berhati-hati, menghindari setiap derit lantai kayu, ia menyelinap menuju paviliun pelayan.

"Sri... buka pintunya," bisik Andra sambil mengetuk pelan, nyaris tak terdengar.

Pintu terbuka sedikit, dan Andra se
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Ketahuan Basah

    Pagi itu, udara di dalam rumah utama terasa begitu statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh rahasia yang menyesakkan. Sarah bangun dengan perasaan yang aneh. Mimpi buruk semalam tentang surat-surat kosong yang ia tanda tangani terus menghantuinya. Dengan langkah yang sedikit gontai, ia menuju ruang kerja pribadi Andra, berniat mencari berkas investasi yang suaminya sebutkan semalam. Ia hanya ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Andra sedang berada di kamar mandi saat Sarah mulai memeriksa laci meja jati yang biasanya terkunci. Namun, entah karena kecerobohan atau rasa percaya diri yang terlalu tinggi setelah kemenangan semalam, Andra lupa mencabut kuncinya. Tangan Sarah gemetar saat ia menarik sebuah map cokelat tebal dari tumpukan paling bawah. Begitu ia membukanya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kertas-kertas yang ia tanda tangani semalam kini tidak lagi kosong. Di atas sana, tertera barisan kalimat hukum yang dingin dan

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Apa Yang Akan Kau Lakukan?

    Malam itu, angin berembus cukup kencang, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa kegelisahan yang menyelimuti paviliun belakang. Sri berdiri di teras kecil, menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu yang dingin. Matanya menatap hamparan langit malam yang hitam pekat, tanpa bintang, seolah-olah langit itu sedang memantulkan kekosongan yang ada di dalam jiwanya sendiri. Ia memegangi perutnya yang kini terasa hampa, sebuah pengingat fisik akan harga mahal yang telah ia bayar demi sebuah rencana. Langkah kaki yang ringan dan sangat ia kenali terdengar mendekat. Arka muncul dari balik bayang-bayang, mengenakan jaket tipis untuk menghalau dingin. Ia berdiri di samping Sri, ikut menatap ke arah yang sama, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada wanita di sampingnya. "Kau seharusnya tidak berada di luar sedini ini, Sri. Udara malam tidak baik untuk pemulihanmu," ucap Arka dengan nada suara yang rendah dan penuh perhatian. Sri tidak menoleh. "Langit malam ini sangat gelap, Arka. Begitu gel

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Dilema Perasaan

    Malam semakin larut saat Andra duduk di tepi ranjang paviliun, tempat Sri masih dalam masa pemulihan. Cahaya lampu tidur yang temaram membiaskan bayangan mereka di dinding, menciptakan suasana yang intim namun sarat akan rahasia gelap. Dengan suara rendah yang penuh kepuasan, Andra menceritakan segalanya, tentang surat anonim Bi Minah yang berhasil ia gagalkan, ancaman yang ia berikan pada pelayan tua itu, hingga keberhasilannya mendapatkan tanda tangan Sarah di atas dokumen-dokumen kosong. "Segalanya sudah hampir selesai, Sri," ucap Andra sambil menggenggam tangan Sri, matanya berbinar dengan kegilaan yang ia sebut sebagai cinta. "Semua aset, rumah ini, saham perusahaan... sebentar lagi semuanya akan berpindah ke namaku. Sarah tidak akan punya apa-apa lagi. Kita akan bebas. Kita akan memulai hidup baru tanpa ada yang menghalangi." Sri terdiam, matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat. Ia benar-benar terkejut. Ia tahu Andra adalah pria yang licik, namun ia tidak me

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Rahasia Dalam Genggaman

    Suasana kamar utama yang dingin mendadak terasa mencekam. Sarah menggeliat di balik selimut sutranya, matanya perlahan terbuka karena mendengar suara gesekan kain yang tidak wajar. Di bawah remang lampu tidur, ia melihat siluet suaminya sedang membungkuk, tangannya merogoh ke dalam tas kerja miliknya dengan gerakan yang terburu-buru. "Andra? Apa yang kau lakukan?" suara Sarah yang serak karena baru bangun tidur memecah kesunyian.Andra tersentak hebat, jantungnya seakan melompat ke tenggorokan. Namun, dengan kecepatan seorang pembohong ulung, jemarinya sudah lebih dulu meremas selembar kertas kecil yang baru saja ia temukan di kantong dalam tas itu. Ia berbalik dengan senyum tenang yang dipaksakan. "Ah, kau terbangun, Sayang?" ucap Andra sambil memasukkan kertas itu ke saku celananya dengan gerakan yang sangat halus. "Aku hanya mencari korek api gas yang kupinjam darimu tadi siang. Aku ingin merokok di balkon tapi tidak menemukannya di laci." Sarah menyipitkan mata, menatap suaminy

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Surat Anonim

    Malam itu, kegelapan di rumah besar keluarga Pratama terasa lebih pekat dari biasanya. Di dapur yang sunyi, Bi Minah duduk bersimpuh di lantai, bersembunyi di balik meja kayu besar agar bayangannya tidak terlihat dari jendela luar. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia memegang selembar kertas kusam dan sebuah pena murah. Setiap goresan pena yang ia buat terasa seperti taruhan nyawa. Ia tidak berani menuliskan namanya, ia hanya ingin nuraninya tenang. "Nyonya Sarah yang baik, tolong berhati-hatilah. Jangan percaya pada apa pun yang terlihat manis di depan mata Nyonya. Ada musuh di dalam selimut yang ingin merampas segalanya dari Nyonya. Jangan tandatangani apa pun. Periksa semua harta Nyonya sebelum terlambat. Suami Nyonya tidak seperti yang Nyonya kira." Bi Minah melipat kertas itu hingga menjadi bagian terkecil, menyembunyikannya di dalam saku celemeknya. Ia berencana menyelipkan surat itu ke dalam tas kerja Sarah yang biasanya tergeletak di meja rias sebelum fajar menyingsing. Ia

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Benih Pengkhianatan Di Balik Senyum

    Pagi itu, kediaman keluarga Pratama tampak begitu tenang, seolah tragedi pendarahan dan duka beberapa hari lalu hanyalah mimpi buruk yang lekas menguap. Matahari menyinari ruang makan dengan hangat, namun bagi Bi Minah, cahaya itu justru terasa menyilaukan dan menyesakkan. Dari balik sekat dapur, Bi Minah berdiri mematung sambil memegang serbet yang sudah lecek karena terus ia remas. Matanya tertuju pada pemandangan di meja makan. Di sana, Sarah sedang tertawa kecil sambil menyuapkan sepotong roti ke mulut Andra. Andra menyambutnya dengan senyuman yang terlihat sangat manis, sesekali mengusap jemari istrinya dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana bisa Tuan Andra bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?" batin Bi Minah gemetar. Hanya beberapa jam yang lalu, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria itu berlutut di kaki Sri, memohon-mohon seperti pengemis cinta yang hilang akal. Bi Minah tahu, kemesraan di depan meja makan itu hanyalah panggung sandiwara. Andra sedang mema

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kematian Dalam Keheningan

    Koridor rumah sakit itu terasa begitu dingin dan berbau antiseptik yang menyengat. Lampu neon yang berkedip di atas kepala seolah menambah ketegangan yang menyelimuti tiga orang yang sedang menunggu di depan ruang operasi darurat. Andra duduk di kursi tunggu dengan tangan yang terus gemetar, noda d

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tumbal Pengampunan

    Hari demi hari bergulir seperti pasir yang jatuh di jam kaca. Waktu seolah berpihak pada kebohongan yang terpelihara rapi di rumah besar itu. Kandungan Sri kini telah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang dulu rata kini menonjol dengan nyata, sebuah gundukan kehidupan yang menjadi pusat semesta b

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap di antara celah pepohonan besar di halaman belakang. Arka sedang membantu Sri mengangkat keranjang cucian yang berat. Sri jadi mudah lelah, membuat Arka tidak tega membiarkan wanita itu bekerja sendiri. Di antara mereka, ada keheningan yang berbeda dari biasanya.

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Di Balik Topeng Kebencian

    Malam itu, paviliun terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Suara jangkrik di luar jendela seolah menonjolkan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar kecil tersebut. Arka duduk di kursi kayu, matanya tak lepas dari punggung Sri yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin rias sederhana. Pikir

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status