LOGINMalam itu, angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan di halaman belakang rumah keluarga Pratama. Namun, kegelisahan yang dirasakan Andra jauh lebih hebat daripada badai mana pun. Sejak Nyonya Lydia dan Sarah mengusulkan pernikahan antara Arka dan Sri, Andra tidak bisa tenang. Pikirannya terus berputar pada satu kemungkinan yang menakutkan. Bagaimana jika sandiwara ini menjadi nyata? Bagaimana jika Arka, pemuda yang jauh lebih muda dan tampak tulus itu, benar-benar jatuh cinta pada Sri? Dan yang lebih buruk, bagaimana jika Sri, wanita yang kini menjadi candunya mulai merasa nyaman dalam perlindungan Arka? Andra merasa seperti seorang penjudi yang baru saja mempertaruhkan seluruh hartanya pada satu kartu yang salah. Di sudut garasi yang remang, jauh dari jangkauan telinga Nyonya Lydia dan Sarah, tiga orang itu berdiri melingkar. Suasana terasa sangat kaku, dipenuhi dengan kecurigaan dan rahasia yang menyesakkan. "Mungkin dalam waktu dekat, kalian akan aku nikahkan," ucap Andra
Pagi itu, suasana di kediaman Pratama terasa sangat asing bagi Bi Minah. Baru saja ia menginjakkan kaki di dapur setelah beberapa hari pulang kampung, ia sudah disuguhi pemandangan yang tak masuk akal. Di depan wastafel, seorang pemuda asing berpakaian rapi namun tampak canggung sedang sibuk mencuci piring kotor. "Loh, siapa ya? Supir baru?" tanya Bi Minah dengan dahi berkerut, meletakkan tas jinjingnya di atas meja dapur. Arka menoleh, wajahnya memerah karena malu. Ia menghentikan kegiatannya dan mencoba memberi salam dengan sopan. "Eh, bukan. Aku... itu... aku..." Sebelum Arka sempat menyelesaikan kalimatnya, langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Nyonya Lydia muncul dengan tatapan tajamnya yang biasa. "Pacarnya Sri, Bi. Masa Bibi tidak tahu?" sahut Lydia dengan nada bicara yang datar namun mengandung sindiran halus. Bi Minah ternganga. "Pacar? Sri punya pacar, Nyonya?" "Iya, dan dia sedang bertanggung jawab sekarang karena Sri sedang mengandung," lanjut
Malam itu, paviliun belakang terasa jauh lebih sesak. Atas perintah Nyonya Lydia, Arka diwajibkan untuk tetap tinggal di rumah itu sementara waktu demi membuktikan keseriusannya bertanggung jawab pada Sri. Lydia ingin melihat sejauh mana pasangan ini berinteraksi. Arka duduk di ujung ranjang kayu milik Sri dengan tubuh kaku. Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur yang remang, menciptakan suasana yang sangat intim namun canggung. Arka, yang hanyalah seorang pemuda jujur dari desa, merasa sangat tertekan. Ia hanya bisa menunduk, menatapi ujung sepatunya yang kusam, tidak berani menatap Sri yang sejak tadi duduk tak jauh darinya sambil terus memperhatikan gerak-geriknya. "Maaf, kau jadi harus ikut terseret ke dalam masalah pelik ini. Aku jadi merasa benar-benar bersalah padamu, Arka," ucap Sri dengan nada yang sangat lembut, seolah ia adalah wanita paling malang yang butuh perlindungan. Arka perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Sri yang tampak begitu cantik di bawah caha
Malam merayap sunyi di rumah besar itu, namun di paviliun belakang, udara terasa begitu berat. Andra menyelinap masuk ke kamar Sri dengan napas yang memburu. Tanpa suara, ia langsung menghampiri ranjang dan mendekap tubuh Sri dari belakang. Pelukannya terasa posesif, seolah ia sedang mendekap harta karun yang nyaris hilang. "Sri... kau membuatku hampir mati berdiri tadi," bisik Andra di ceruk leher Sri. Suaranya bergetar antara rasa takut dan gairah yang masih tersisa. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Jika kau tidak menyebutkan nama, Mama Lydia benar-benar akan menyeretmu keluar besok pagi." Sri berbalik perlahan dalam pelukan Andra, menatap wajah pria itu dengan mata yang tampak sayu namun penuh perhitungan. "Tuan tidak perlu terburu-buru menikahi saya. Saya tahu posisi saya. Saya hanya ingin Tuan melindungi saya... biarkan saya tetap di sini, di dekat Tuan. Jangan biarkan Nyonya Lydia mengusir saya dan calon anak kita." Mendengar kata "anak kita", jantung Andra seolah mele
Suasana di kamar pelayan yang sempit itu berubah menjadi ruang sidang yang menyesakkan. Sri sudah duduk bersandar di ranjangnya, wajahnya masih pucat, namun matanya menatap lantai dengan penuh sandiwara. Di depannya, Nyonya Lydia berdiri tegak seperti algojo, sementara Sarah tampak terguncang di samping Andra yang mematung dengan rahang yang mengeras. "Katakan padaku, Sri," suara Nyonya Lydia memecah keheningan dengan nada yang tajam seperti sembilu. "Siapa laki-laki yang sudah berbuat bejat denganmu di rumah ini? Siapa ayah dari janin itu?" Sri meremas ujung selimutnya, tubuhnya sedikit berguncang seolah ia sedang terisak ketakutan. "Saya... saya minta maaf, Nyonya Besar. Saya benar-benar minta maaf karena telah mengotori rumah ini dan membuat Nyonya Sarah malu. Saya pantas dihukum..." "Aku tidak butuh permintaan maafmu!" bentak Lydia, membuat Sarah berjengit. "Aku butuh nama! Apa kau pikir aku akan membiarkan seorang pelayan hamil tanpa kejelasan di bawah atap keluargaku? Ini mem
Pagi itu, dunia seolah berputar bagi Sri. Sejak membuka mata, rasa mual yang hebat terus mengaduk perutnya, dan kepalanya terasa seberat batu. Namun, ia tidak punya pilihan. Bi Minah sedang pulang ke kampung untuk urusan keluarga selama beberapa hari, meninggalkan seluruh tanggung jawab dapur dan pelayanan di pundaknya. Sri berjalan tertatih, memegang dinding koridor pelayan untuk menjaga keseimbangannya. Ia tahu tubuhnya sedang memberi sinyal, namun ada bagian dari dirinya yang justru ingin ledakan ini terjadi di depan semua orang. Ia memaksakan diri memasak, mencuci, dan menyiapkan meja makan malam dengan sisa-sisa tenaganya yang kian menipis. Malam itu, suasana di ruang makan sangat formal. Nyonya Lydia duduk di kepala meja, sementara Andra dan Sarah duduk berhadapan. Mereka makan dalam keheningan yang tegang, sisa dari pertengkaran hebat masalah kalung yang hilang. Sri muncul dari dapur dengan nampan berisi mangkuk sup hangat. Langkahnya gontai, wajahnya sepucat kertas. Saat ia







