Compartilhar

Bab 78

Autor: Ipak Munthe
last update Data de publicação: 2026-10-30 00:56:06

Di tempat lainnya.

Adrian menatap ponselnya, kepalanya hampir meledak karena memikirkan Indah yang jauh darinya. Padahal baru saja ia sampai di jakarta.

Bahkan Robby tidak bisa tenang dibuatnya.

"Apa dia tidak menanyakan aku padamu?" tanya Adrian.

"Tidak, Pak. Lagi pula Ibu Indah sudah tidak punya ponsel."

"Ck!" Adrian merasa kejadian kemarin hanya membuat dirinya sulit sendiri, sekarang bahkan ia tidak bisa meskipun hanya berkirim pesan menanyakan kabar Indah saja.

Ia pun mengacak
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 89

    Adrian terus melangkah di lorong panjang itu, tujuannya sekarang tentu saja Indah. Tapi kemudian ia pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Robby. "Ada sesuatu, Bos?" tanya Robby was-was. "Buat dia lenyap dari industri hiburan!" perintahnya. "Hah?" Robby terkejut mendengarnya, masalah benar-benar semakin besar sekarang. Adrian kemudian kembali melanjutkan langkah kakinya dan Robby segera mengejarnya karena sudah tertinggal cukup jauh. "Bos, kalau itu terjadi bagaimana dengan film ini. Bagaimana dengan Ibu Indah?" tanyanya dengan suara nyaris berisik, bahkan matanya mengedar karena takut ada yang mendengar. Adrian pun menghentikan langkah kakinya. Robby juga tentunya ikut menghentikan langkah kakinya, tapi tentunya ada perasaan waspada sekarang. Apa yang akan terjadi padanya sekarang, 'Bu Indah, tolong...' batinnya menjerit. "Kalau begitu lupakan!" Adrian pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Namun, Robby merasa lebih lega paling tidak ia tidak terkena

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 88

    Syuting hari akhirnya selesai menjelang sore. Satu per satu kru mulai membereskan peralatan, sementara para pemain berkumpul untuk membicarakan jadwal syuting berikutnya. Indah masih sibuk memeriksa hasil rekaman bersama Ara. Sesekali ia tersenyum puas melihat beberapa adegan yang berhasil direkam dengan baik. "Sepertinya hari ini cukup memuaskan," ujar Ara. Indah mengangguk. "Iya. Besok kita harus lebih siap lagi. Ada beberapa adegan yang perlu diperbaiki." "Bu Sutradara sudah mulai cerewet rupanya." Indah tertawa kecil. "Daripada hasilnya berantakan." Ara terkekeh sebelum akhirnya berpamitan untuk mengurus beberapa keperluan kru. Indah kembali menunduk, merapikan lembaran naskah yang berserakan di atas meja. Namun, ketika ia mengangkat kepala, seseorang sudah berdiri tidak jauh darinya. . "Belum selesai juga?" Indah mengenali suara itu. Lagi, si pria ini lagi. Indah harus bersikap tenang "Sebentar lagi." Adrian melirik tumpukan kertas di hadapannya. "Kamu t

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 87

    Indah berdiri di dekat meja monitor sambil memeriksa beberapa lembar naskah yang akan digunakan hari ini. "Ra, jadi Rio bisa acting, ya?" tanya Indah bingung. "Setelah aku tanya-tanya ternyata dia ini punya keinginan menjadi artis, dan kemarin tim coba lihat actingnya dan ternyata lumayan," jelas Ara. "O," Indah pun mengangguk paham. "Semoga film ini sukses, artinya kamu udah naik satu tangga dan ini bisa jadi awal kesuksesan," kata Ara memberikan semangat. Indah pun mengangguk pelan, tapi tiba-tiba bayangan Adrian langsung melintas di kepalanya. Senyum pria itu, cara bicara, cara memeluk, menatapnya. Entah mengapa Indah merasa ada kenangan yang tak bisa dijelaskan, ada rasa terlindungi dan rasa aman yang tak terungkapkan. 'Rasa apa ini? Aku nggak boleh suka sama dia, dia punya istri sah. Aku tidak seharusnya menghancurkan pernikahan orang lain, aku cuma simpanan dan kapanpun harus siap untuk dibuang,' batinnya. Menepikan semua perasaan yang membuatnya mulai merasa sec

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 86

    Setelah Indah kembali ke kamarnya, Adrian mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan. Adrian: ada yang belum bilang selamat malam. Tidak lama kemudian, ponsel Indah bergetar. Indah yang baru saja merebahkan tubuh di tempat tidur mengambil ponselnya. Begitu membaca pesan itu, dia langsung tersenyum. "Kan tadi sudah," balasnya. Adrian membalas cepat. "Itu secara langsung. Sekarang lewat pesan." Indah tertawa kecil sebelum mengetik lagi. "Selamat malam, produser menyebalkan." Beberapa detik kemudian, balasan Adrian masuk. "Selamat malam, calon sutradara kesayanganku. Jangan lupa mimpiin aku." Indah menutup wajahnya dengan bantal, menahan tawa agar tidak terdengar oleh penghuni kamar lain. Bahkan Ara yang sedang berbaring di ranjangnya pun jangan sampai tau. Sementara itu, Adrian masih berdiri di depan pintu kamar Indah, tapi akhirnya meninggalkan dengan senyum puas. Mungkin keinginan awalnya ia ingin masuk, tapi urung ia lakukan karena takut Indah marah. "Ndah?"

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 85

    Indah melangkah pelan menyusuri lorong vila. Sesekali matanya melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorang pun yang melihatnya. Bahkan, langkahnya sengaja diperlambat ketika melewati beberapa kamar kru yang masih menyala. Setelah memastikan keadaan cukup aman, dia segera menuju balkon belakang seperti yang diminta Adrian melalui pesan singkat. Baru saja Indah menginjakkan kaki di balkon, sebuah tangan tiba-tiba menarik pinggangnya. Refleks, dia hampir saja berteriak. Namun, sebuah lengan lebih dulu melingkari tubuhnya, menariknya ke dalam dekapan seseorang. "Mas Adrian!" bisiknya terkejut. Adrian tersenyum tipis. Satu tangannya masih melingkar di pinggang Indah, sementara tangan lainnya terangkat menyentuh bibir gadis itu. "Pelan-pelan. Mau membangunkan semua orang?" bisiknya menggoda. Indah langsung menatapnya kesal. "Aku hampir saja jantungan. Kenapa Mas menarikku seperti itu?" "Karena aku sudah menunggu cukup lama." "Kalau ada yang melihat bagaimana?" "

  • Hasrat Terlarang Suami Orang   Bab 84

    Mita pun memilih untuk pergi, ia tidak ingin Rio membocorkan semuanya. Memberitahu apa yang ia lakukan karena tau Adrian begitu membela Indah. "Kau menyukai Indah?" Ulang Adrian. "Mana mungkin, itu tidak benar." Adrian menatap Rio semakin tajam penuh curiga. Rio merasa tidak baik-baik saja, ia langsung mengangkat kedua tangannya, "Sebenarnya Indah pernah menyelamatkan Ibuku, waktu itu Ibu kecelakaan mobil dan Indah membawanya ke rumah sakit, bahkan rela mendonorkan darahnya," jelas Rio. Adrian menakutkan alisnya menatap Rio tapi tak ada kata yang keluar dari mulutnya. 'Jangan sampai tiba-tiba rumah sakitku tutup,' batinnya, "Jadi sebenarnya saat aku tiba di rumah sakit, Indah sudah lebih dulu pergi dan tidak sempat bertemu aku. Setelah diselidiki ternyata orang itu dia, makanya aku merasa berhutang nyawa dan menganggapnya seperti adikku sendiri," jelas Rio panjang lebar. "Cih! Apa maksudmu menganggapnya sebagai adik? Hah, aku harus memanggilmu Kakak?" cibir Adrian. "He

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status