MasukSambil menunggu Adrian menebus vitamin di bagian farmasi, Olivia duduk sendiri di kursi ruang tunggu lantai tiga First Hospital. Jemarinya pelan mengusap lembar hasil USG 4 dimensi yang tadi diberikan dokter.Meski sudah sering melihat kertas itu, rasanya tetap asing di matanya. Garis-garis samar yang tak ia pahami membentang di sana, namun di salah satu sudut terlihat wajah mungil dengan hidung kecil yang membuat dada Olivia tiba-tiba penuh haru.Bibirnya melengkung tanpa sadar.Matanya perlahan menurun ke perutnya yang semakin membulat. “Sehat-sehat ya, Nak…” bisiknya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. “Tiga bulan lagi, kamu akan ketemu Mama sama Papa…”Suara bising rumah sakit mendadak terasa jauh. Yang tersisa hanya debar hangat di dadanya saat membayangkan tangisan bayi yang akan memenuhi rumahnya. Ada tangan kecil yang menggenggam jarinya. Ada seseorang yang akan memanggilnya Mama. Ada makhluk kecil yang begitu bergantung padanya.Matanya sedikit berkaca.“Jangan naka
“Tante, minum dulu.”Suara Olivia memecah sunyi ruang keluarga yang sejak tadi hanya dipenuhi suara detik jam dinding dan gemerisik hujan di luar rumah.Ruby mengangkat wajahnya perlahan. Matanya sembab, rambutnya masih sedikit acak-acakan setelah kejadian kebakaran tadi malam. Saat melihat secangkir teh hangat di tangan Olivia, bibirnya langsung melengkung tipis.“Makasih, Via,” ucapnya lirih.Uap tipis mengepul dari cangkir keramik berwarna putih itu ketika Ruby menerimanya dengan kedua tangan. Olivia lalu duduk di sofa seberang sambil mengeratkan tali kimono satin yang membungkus tubuh hamilnya.Padahal seharusnya dia sudah tidur sejak satu jam lalu.Tapi bayangan Ruby yang kehilangan rumah sekaligus kios kecilnya terus mengusik pikirannya. Karena itu, Olivia diam-diam turun dari kamar hanya untuk memastikan tantenya baik-baik saja.Ruby meniup permukaan teh perlahan sebelum menyesapnya, matanya langsung terpejam. “Ya ampun…” napasnya keluar panjang. “Udah lama Tante nggak minum te
“Siapa, Mas?” suara Olivia bergetar pelan saat ia merapat ke sisi Adrian. Jemarinya refleks menggenggam lengan suaminya ketika melihat perubahan raut wajah Adrian sejak laki-laki bernama Stevan itu datang. “Kamu kenal dia?”Tatapan Adrian belum lepas dari pria muda yang kini berdiri di dekat Ruby. Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya menegang samar, menandakan sesuatu yang tak nyaman.“Stevan Utomo,” Adrian menjawab lirih, suaranya nyaris berbisik. “Itu nama aslinya.”Alis Olivia mengernyit, ada tanda tanya besar di matanya. “Maksud kamu?”Adrian menunduk sedikit, suaranya makin pelan. “Dia sepupu jauh Gista. Dulu Gista pernah cerita… Stevan sempat kena kasus berat, bahkan dipenjara.”Mata Olivia melebar, suaranya tercekat, “Hah?! Serius, Mas? Gila…”Adrian tetap fokus pada Stevan yang sekarang mengusap lembut pundak Ruby. “Sebenarnya aku belum pernah ketemu langsung dengan dia, tapi Gista pernah tunjukin fotonya. Aku yakin ini orang yang sama. Aku nggak akan lupa wajahnya. Dia punya
“Tante butuh bantuan kamu, Via... rumah tante hangus, kebakaran…”Suara di seberang telepon pecah oleh isak panik, napas tersengal-sengal, dan riuh orang yang saling berteriak di belakangnya.Olivia mendadak tegak di kursi penumpang, matanya membesar.“Apa!?” Suaranya tercekat, hampir terputus. “Kebakaran? Tante sekarang di mana?”Dari balik kemudi, Adrian melirik istrinya dengan wajah tegang. Jemarinya yang tadi santai kini mencengkeram setir lebih erat.“Tante di depan rumah...” suara Ruby bergetar, berusaha menahan tangis. “Api masih besar, Via... maaf ya, Tante nggak punya siapa-siapa lagi, makanya cuma kamu yang Tante hubungi...”Olivia menarik napas dalam, menutup mata sejenak. Jantungnya berdegup semakin kencang, tapi dia berusaha keras meredakan paniknya.“Tante, coba tenang dulu, ya? Aku sama Mas Adrian langsung ke sana sekarang.”Isak Ruby semakin pecah. “Makasih, Via... Tante tunggu...”Panggilan pun terputus.Beberapa saat mobil hanya dipenuhi suara napas Olivia yang belum
Gyan terdiam beberapa saat. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam punggung tangan Mariska, perlahan mengendur, matanya jatuh lurus ke wajah Mariska yang duduk di depannya.“Hubungan kita spesial, Ris,” ucapnya pelan, suaranya nyaris tertelan denting sendok dan riuh rendah pengunjung di sekitar. “Tapi… kamu yakin mau sama laki-laki kayak aku?”Mariska mengernyit kecil. “Maksudnya?”Gyan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sambil menyunggingkan senyum tipis yang terasa pahit. “Aku hidup biasa aja, nggak punya apa-apa buat dibanggain. Aku takut suatu saat kamu sadar kalau kamu salah pilih.”“Kita udah sedekat ini tapi kamu masih nanya begitu?” Nada kesal Mariska muncul tanpa bisa disembunyikan.“Bukan karena aku ragu sama perasaan kamu,” sahut Gyan cepat, matanya penuh gelisah. “Aku cuma takut kamu nantinya kecewa. Aku nggak bisa janjiin hidup mewah—”“Kamu cinta sama aku?” suara Mariska tiba-tiba menyela, lembut tapi penuh harap.Gyan terdiam, pandangannya melembut, jemariny
Aroma kopi dan cokelat memenuhi udara di salah satu kafe bergaya industrial itu ketika Olivia mendorong paper bag ke arah Mariska.Mariska yang sejak tadi menikmati cappuccino-nya mengangkat alis. “Apa itu?”“Oleh-oleh,” jawab Olivia ringan, dagunya sedikit terangkat. “Dari pantai kemarin.”Gerakan tangan Mariska terhenti sesaat di udara. Ia menyipitkan mata, lalu senyum tipis mulai mengembang. “Ooh… yang liburan sama Mas Adrian itu?” Ia menyesap lagi kopinya, sengaja pelan, memberi jeda untuk menggoda. “Pantesan dari tadi mukanya bersinar banget.”Olivia terkekeh, “Ya iyalah. Mas Adrian balik romantis lagi.” Ia menyandarkan punggung, matanya berbinar seperti menyimpan potongan-potongan kenangan yang belum habis diputar ulang. “Empat hari di sana tuh… kayak cuma lewat sebentar. Lo nanti juga bakal ngerti, kalau udah nikah.“Ah… menikah…” gumam Mariska. Tatapannya justru melayang ke luar jendela, mengikuti garis hujan yang mulai membentuk jalur-jalur tipis di kaca.Olivia mengernyit, b
Adrian berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja yang masih rapi meski kainnya tampak kusut, dan rambutnya tak setertata biasanya. Ia langsung masuk dengan langkah tergesa, dalam sekejap sudah berada di sisi ranjang.Sebelum Olivia sempat berkata apa pun, Adrian memeluknya erat. Tangannya melingka
Aroma jagung manis yang direbus bersama kaldu ayam mengisi seluruh sudut dapur. Olivia berdiri di depan kompor, tangannya perlahan mengaduk krim sup dengan sendok kayu yang berputar membentuk pusaran kecil di permukaannya. Matanya menatap kosong ke arah sup itu, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ula
Olivia merapikan kembali kain gaun tidurnya. Bahan lembut itu mengikuti lekuk tubuhnya saat ia mengusapnya pelan, seolah sedang menenangkan debar yang tak ia pahami sepenuhnya. Ada sesuatu di dadanya malam ini dan itu bukan gelisah, bukan pula sekadar rindu. Perasaan itu datang bergelombang, kadang







