LOGINAdrian melajukan mobilnya perlahan menuju Puncak, menembus jalanan hijau yang berliku. Di kursi depan sedan itu, dua hati yang baru sehari disatukan dalam pernikahan menikmati perjalanan pertama mereka sebagai suami istri. “Mas, habis dari Puncak, ada rencana ke tempat lain?” tanya Olivia. Adrian menoleh sekilas, lalu meraih tangan Olivia dan meletakkannya di depan dadanya. “Sejauh ini belum ada, Sayang. Kamu masih pengen jalan-jalan?” “Pengen sih, tapi aku cuma cuti satu minggu, Mas,” jawab Olivia. Adrian tersenyum hangat. “Lain kali kita atur waktu, ya.” “Iya, Mas. Tempat yang lebih jauh, gimana? Aku mau ke Nusa Penida,” bisik Olivia. “Boleh. Aku juga pengen banget ke sana.” “Asiiik! Nanti aku coba cari tahu trip ke sana.” Mereka terus berbincang ringan sepanjang perjalanan. Udara cerah meski langit Bogor sempat meneteskan gerimis di atas kaca mobil Adrian. Tak lama, mobil yang membawa mereka akhirnya melambat, lalu berhenti mulus di depan sebuah bangunan kecil yang tersemb
Olivia terbangun perlahan, bukan oleh suara atau cahaya, melainkan oleh sensasi lembut yang menyusup di sela tidurnya. Hembusan napas hangat menyentuh kulit, disusul kecupan ringan di pundaknya yang terbuka. Ia meremang, jari-jarinya refleks mencengkeram seprai.“Eungh…” lenguhnya lirih, kelopak matanya bergetar.Ia membuka mata pelan dan mendapati Adrian sedang mencium lembut pundaknya yang terbuka. Tatapannya hangat, bibirnya masih menyisakan senyum kecil seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang sangat ia nikmati.Tatapan mereka bertemu, "Apa aku membangunkanmu?"“Iya, Mas.”Adrian tertawa pelan. “Maaf … aku nggak bisa menahan diri.”Tangannya melingkar di pinggang Olivia, menarik tubuh itu lebih dekat ke dadanya. Pelukan Adrian terasa kokoh, menenangkan, membuat Olivia kembali ingin menutup mata.“Ciuman kamu bikin aku kegelian, Mas,” gumamnya, wajahnya bersandar di dada Adrian.“Tidur lagi,” bisik Adrian sambil mengusap rambut Olivia dengan gerakan yang sabar, nyaris protektif.
Olivia menaruh air putih yang disiapkan Adrian setelah dia selesai mengisi perutnya. Rasa nyaman segera menjalar setelah perutnya kosong sejak resepsi pernikahannya siang tadi.Olivia mengeratkan tali handuk kimononya kemudian bergerak ke depan wastafel untuk mencuci tangan sementara suaminya merapikan meja makan di depan sofa.Ketika Olivia keluar dari kamar mandi, Adrian yang juga terbalut handuk kimono, berdiri di tepi jacuzzi sambil memutar tombol air. Seketika suara gemericik air memenuhi kamar. Olivia menelan salivanya, sebentar lagi momen panas akan dia lalui bersama suaminya."Kenapa, Sayang?" Adrian menoleh dengan tatapan penasaran saat melihat Olivia gugup."Eh, e-enggak, Mas," jawab Olivia, suaranya terdengar ragu.Adrian tersenyum tipis, menggoda. "Pengen buru-buru ya?""Kata siapa?""Aku barusan. Pasti kamu habis ini nggak mau buka handuk," ledek Adrian.Merasa tertantang, Olivia tersenyum samar dan membuka handuk kimononya. Dia mendekat dengan langkah yang dibuat menggod
Musik romantis dari band akustik di sudut venue mengalun lembut, menyatu dengan cahaya matahari yang perlahan turun. Pernikahan intimate antara Adrian dan Olivia memang hanya dirancang hingga pukul empat sore, tanpa perlu hiruk-pikuk berlebihan, dan keramaian yang melelahkan.Para tamu masih bertahan, menikmati hidangan istimewa yang tersaji rapi di meja prasmanan. Aroma sate, sup bening, dan roti hangat bercampur dengan wangi bunga segar, menciptakan suasana yang membuat siapa pun betah berlama-lama.Di atas pelaminan, Olivia tetap berdiri anggun meski tubuhnya mulai terasa ringan sekaligus berat. Senyum di bibirnya tak pernah lepas, walau matanya sesekali berkilat menahan lelah. Sejak pagi, ia menyambut ucapan selamat, menyalami tangan-tangan asing yang sebagian besar adalah rekan bisnis Adrian. Ia mendengarkan dengan sabar, mengangguk, tertawa kecil di waktu yang tepat, meski kakinya nyeri tertahan sepatu hak tinggi.Di sisi lain pelaminan, Ibra akhirnya menyerah pada usia dan stam
Langit Jakarta pagi itu begitu bersih, seolah semesta sengaja menarik awan-awan kelabu menjauh. Matahari naik perlahan, cahayanya lembut, tak menyengat. Pohon-pohon bergoyang pelan. Seolah seluruh alam tahu hari ini adalah hari yang diberkati.Pukul delapan lewat empat puluh lima menit, rombongan keluarga Olivia tiba.Mobil berhenti perlahan di area belakang restoran Solaire, yang hari itu tertutup rapat untuk umum, dan disulap menjadi tempat akad pernikahan sekaligus resepsi. Bagian outdoor-nya dipasangi tenda putih besar. Kainnya menjuntai lembut seperti kelopak bunga yang baru membuka diri. Di ujung-ujung tenda, pita satin berwarna champagne berkibar halus terkena angin tipis.Di sisi kiri dan kanan jalur menuju tempat akad, karpet merah panjang digelar dengan rapi. Karpet itu seakan menjadi garis takdir yang menuntun Adrian dan Olivia menuju kehidupan baru.Di pinggirnya, rangkaian bunga mawar putih, baby’s breath, dan eucalyptus menghiasi tiang-tiang kayu kecil. Masing-masing tia
Dengan wajah yang masih mengantuk, Olivia duduk di depan cermin besar yang dikelilingi lampu-lampu terang, membuat matanya semakin silau. Tepat pukul empat pagi, dia harus bertemu dengan MUA yang akan membuatnya tampil mempesona di hari spesialnya.Untuk akad nikah, Olivia tidak ingin riasannya terlalu bold. Dia hanya ingin terlihat seperti dirinya sendiri—versi paling tenang, paling siap, dan paling jujur.Di sekelilingnya, dua asisten sibuk membantu Lulu, MUA terkenal yang menjadi pilihan utama Olivia, mempersiapkan berbagai alat make-up. Lulu berdiri di hadapannya, menatap wajah Olivia seolah sedang membaca kanvas mahal.“Mbak, kalau mau merem sebentar, nggak apa-apa,” ucap Lulu dengan pengertian.Olivia tersenyum kecil, hampir tak bergerak. “Nggak bisa, Mbak. Deg-degan.”Lulu terkekeh pelan. Kapas pembersih menyentuh kulit Olivia dengan hati-hati, dingin, membawanya kembali sepenuhnya ke kenyataan.“Memangnya ada, Mbak, calon pengantin yang bisa tidur saat sedang di-make-up?” tany







