LOGIN“Hoek!” Suara itu tiba-tiba pecah dari arah kamar mandi, kecil tapi cukup membuat dada Adrian berdenyut kencang. Pisau yang tadi bergerak pelan saat mengupas apel langsung ia letakkan di atas talenan. Tanpa pikir panjang, langkahnya bergegas menuju kamar mandi untuk memeriksa istrinya. Pintu kamar mandi terbuka perlahan. “Sayang?” Suaranya turun satu nada, lembut tapi penuh kecemasan. “Kamu muntah lagi?” Olivia berdiri membungkuk di depan wastafel, satu tangan mencengkeram pinggirannya, bahunya naik turun menahan sisa mual. Ia menoleh sedikit, berusaha tersenyum meski wajahnya masih pucat. “Iya, Mas… aku kira udah mendingan,” ucapnya pelan, napasnya belum sepenuhnya teratur. “Tapi nggak separah biasanya, kok. Padahal dari tadi semalam, aku itu udah nggak mual…” Adrian sudah berdiri di sampingnya sebelum kalimat itu selesai. Satu tangannya refleks menyingkirkan rambut Olivia ke belakang, merapikannya agar tak jatuh ke depan. Tangan yang lain naik perlahan ke tengkuk Olivia, memij
Olivia duduk diam di kursinya. Di depannya, sebuah kotak bening sudah terbuka. Di dalamnya, sepotong cheesecake blueberry tersusun rapi—lembut, mengilap, dengan saus yang perlahan menetes di sisi kue, hampir jatuh ke alas kertas. Manis dan sangat menggoda.Di sampingnya, terlipat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat dikenalnya.‘Waktu di rumah sakit, kamu sempat bilang ingin kue ini. So, enjoy.’ —Bastian.Olivia membaca sekali, jemarinya tanpa sadar menekan ujung kertas itu.Matanya kembali menatap kue. Perutnya terasa kosong. Lidahnya seolah sudah bisa membayangkan rasa lembut yang meleleh di mulut, perpaduan manis dan sedikit asam yang biasa ia suka.Ia menelan salivanya pelan. “Apa harus aku makan?”Tangannya sempat terangkat, lalu berhenti di udara sebelum turun kembali.“Ya Tuhan…” ia menghela napas, menutup mata sejenak. “Makan… nggak… makan?”“Eh? Kue dari mana, Via?” suara Ayu yang baru saja memasuki ruang kerja memecah kebimbangannya.Olivia menoleh. “Dari P
Bastian duduk dengan tubuh tegak, namun pikirannya tak sepenuhnya hadir di ruang meeting itu. Di depannya, layar proyektor masih menampilkan grafik dan angka-angka performa bulanan. Suara Laras terdengar jelas, sistematis, dan profesional, tapi entah mengapa semua itu hanya berlalu begitu saja di telinganya.Yang justru terus menarik perhatiannya adalah Olivia. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding beberapa waktu lalu.Perempuan itu duduk sedikit menyerong darinya, jari-jarinya lincah mengetik di atas keyboard laptop. Sesekali ia berhenti, membaca ulang, lalu kembali menulis dengan fokus penuh menjalankan tugasnya sebagai notulen meeting.Tangannya yang tadi memegang pulpen perlahan berhenti bergerak. Ia hanya menatap Olivia, lama sekali, sampai suara Laras tiba-tiba memotong lamunannya.“Jadi, Pak. Ada yang ingin ditanyakan?”Bastian tersentak kecil.“Eh? Oh…” Ia berdeham, buru-buru menegakkan duduknya. “Eum… cukup, Ras.”Laras mengangguk, “Baik, Pak. Kalau masih ada yang kurang, f
“Sayang… bisa tolong ambilkan dasi?”Suara Adrian terdengar pelan, tapi cukup membuat Olivia yang sedang merapikan selimut di ujung tempat tidur berhenti. Tangannya masih menahan lipatan kain, sementara matanya perlahan beralih ke arah suaminya.“Dasi?” ulangnya pelan, lalu tersenyum tipis. “Sebentar, Mas.”Ia bangkit, langkahnya santai tapi hati-hati karena masih menyesuaikan diri dengan tubuhnya yang belakangan mudah lelah. Laci kedua lemari kecil ditarik perlahan. Jarinya menyusuri beberapa helai kain sebelum akhirnya memilih satu dasi hitam yang rapi tergulung.Olivia kembali mendekat, berdiri tepat di hadapan Adrian.“Tumben pakai dasi,” gumamnya sambil mulai melingkarkan kain itu ke leher suaminya.Adrian menatapnya, ada sorot hangat yang kembali ia berikan. “Hari ini aku ketemu investor. Pak Robin. Dia yang dulu sempat nawarin bantu Solaire waktu awal berdiri.”“Ternyata ketemu lagi?” Olivia menaikkan alis, tangannya mulai membentuk simpul.“Iya.” Adrian menghela napas kecil, “
“Pelan-pelan saja, Sayang…”Suara Adrian terdengar sangat dekat dan hangat, seperti sesuatu yang sudah lama tak didengar Olivia.Tangannya menggenggam siku Olivia dengan hati-hati saat wanita itu menuruni anak tangga kecil di depan rumah sakit. Gerakannya penuh kesabaran.Olivia menoleh sejenak. Entah sejak kapan perhatian kecil seperti itu terasa begitu langka.Begitu sampai di depan mobil, Adrian langsung membuka pintu. Olivia duduk perlahan di kursi penumpang.Saat tubuhnya menyentuh jok, Adrian membungkuk sedikit, menyesuaikan posisi kursinya.Klik.Sandaran kursi bergerak sedikit ke belakang.“Gimana?” tanya Adrian, matanya menatap wajah istrinya dengan saksama. “Nyaman? Atau senderannya perlu aku turunkan lagi?”Olivia menggeleng pelan. “Eum… udah cukup segini, Mas.”“Kalau nggak nyaman, bilang ya,” ujarnya lembut.Tanpa sadar, tangannya terangkat, merapikan helaian rambut Olivia yang keluar dari kuncirannya.Gerakannya sederhana, tapi Olivia merasakan sesuatu yang lama hilang k
Adrian berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja yang masih rapi meski kainnya tampak kusut, dan rambutnya tak setertata biasanya. Ia langsung masuk dengan langkah tergesa, dalam sekejap sudah berada di sisi ranjang.Sebelum Olivia sempat berkata apa pun, Adrian memeluknya erat. Tangannya melingkari bahu Olivia dengan kuat.“Maaf. Aku minta maaf…” Suaranya teredam di rambut Olivia.Olivia kaku beberapa saat, lalu perlahan mengangkat tangan dan membalas pelukan itu.“Aku nggak tau kamu sampai dibawa ke rumah sakit,” Adrian melanjutkan pelan. “Aku baru liat pesan setelah meeting selesai.”Napasnya terasa berat di telinga Olivia.“Aku biarin kamu berjuang sendirian.”Olivia menutup mata sejenak. “Mas… aku nggak apa-apa.”Adrian sedikit menjauh, tapi tangannya masih menyentuh bahu istrinya. Ia menelusuri wajah Olivia dengan tatapan penuh cemas.“Tapi kamu pucat.”“Aku cuma pingsan sebentar.”Tatapan Adrian beralih ke arah lain dalam ruangan itu, tepatnya ke Bastian.Pria itu masih berdir
Aroma jagung manis yang direbus bersama kaldu ayam mengisi seluruh sudut dapur. Olivia berdiri di depan kompor, tangannya perlahan mengaduk krim sup dengan sendok kayu yang berputar membentuk pusaran kecil di permukaannya. Matanya menatap kosong ke arah sup itu, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
Malam itu, ruang kerja Adrian tampak gelap, seolah mencerminkan perasaannya yang suram beberapa hari terakhir. Entah kenapa, layar laptop di depannya terasa begitu menyilaukan.Ia duduk tegak di kursi, rahangnya mengeras menahan emosi. Di layar, video klarifikasi dari akun resmi Solaire diputar ula
Begitu pintu kamar tertutup rapat, keheningan langsung merambat di udara. Olivia dengan hati-hati melepaskan blazer dari bahunya, perlahan meletakkannya di tepian kasur. Ia berdiri di depan cermin rias, memiringkan wajah ke kanan, lalu ke kiri. Ujung jarinya tak sengaja menyentuh satu benjolan keci
Olivia merapikan kembali kain gaun tidurnya. Bahan lembut itu mengikuti lekuk tubuhnya saat ia mengusapnya pelan, seolah sedang menenangkan debar yang tak ia pahami sepenuhnya. Ada sesuatu di dadanya malam ini dan itu bukan gelisah, bukan pula sekadar rindu. Perasaan itu datang bergelombang, kadang







