Mag-log inPagi itu, langit kelabu seolah mencerminkan kondisi hati Beni. Di atas motor menuju lokasi syuting, dia terus mengusap lembut kamera ayahnya sambil berusaha meyakinkan diri sendiri.
Ini hanya sekali. Aku Cuma akan memegang kamera, merekam, lalu pergi. Uangnya bisa untuk biaya Ibu seminggu ke depan. Ayah, maafkan aku... Lokasi syuting yang diberikan Rendra ternyata bukan studio profesional, melainkan sebuah apartemen mewah di kawasan yang sama dengan tempat mereka bertemu kemarin. Saat pintu terbuka, suasana remang-remang langsung menyergapnya. “Masuk, masuk!” sambut Rendra dengan ramahnya yang terasa palsu. “Kami sudah menunggumu.” Beni melangkah pelan, matanya menyapu ruangan. Hanya ada beberapa lampu video yang menyala, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding. Kru-nya pun hanya terdiri dari dua orang: seorang pria kurus yang mengatur pencahayaan dengan ekspresi datar, dan seorang wanita yang sedang merias wajah seorang pria muda di sofa. “Kok... seperti ini tempatnya?” tanya Beni ragu-ragu. “Saya kira ada set profesional.” Rendra tertawa pendek sambil menepuk punggung Beni. “Ah, zaman sekarang tidak perlu repot-repot. Apartemen mewah seperti ini justru lebih natural. Santai saja, ini Cuma proyek kecil.” Dia mendekat dan berbisik, “Dan bayaran tunainya sudah siap di sini. Besar, kan? Seperti yang saya janjikan.” Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka tasnya dan mengeluarkan kamera SLR tua peninggalan ayahnya. Saat jari-jarinya menyentuh body kamera, hatinya tersentak. Ayah, dulu kau gunakan kamera ini untuk mengabadikan kebahagiaan. Maafkan aku... Rendra memperhatikan dengan mata tajam. “Kamera kuno? Tidak masalah, yang penting hasilnya bagus.” Kemudian wajahnya berubah lebih serius. “Sekarang, tentang konsep hari ini...” Beni mengangkat kepalanya. "Konsep? Bukannya saya hanya perlu merekam dari belakang kamera?" "Ah, tentang itu..." Rendra menyeringai. "Kita akan menggunakan gaya POV. Point of View." "P-POV?" tanya Beni, jantungnya mulai berdebar kencang. "Maksudnya?" "Kamu yang akan memegang kamera," jelas Rendra. "Bukan dipasang di tripod. Kamu yang bergerak, mengambil angle dari sudut pandang... lebih personal.” Beni masih terlihat bingung. "Jadi... saya hanya perlu memegang kamera dan mengambil shot dari berbagai angle?" "Tepat sekali!" kata Rendra sambil tersenyum. "Tapi ingat, karena ini gaya POV, kadang kameranya harus dekat sekali dengan... aksi para aktris.” Rendra mengeluarkan kontrak dari saku celananya. “Ini semua sesuai perjanjian. Kamu sudah tanda tangan, Beni. Kalau mundur sekarang, harus bayar denda... sepuluh kali lipat dari nilai kontrak.” Denda? Bayangan itu membuat Beni limbung. Dia memegang erat kamera ayahnya, berkeringat dingin. Rendra mendekat sekali lagi. “Percayalah, ini hanya pekerjaan. Banyak yang memulai dari sini. Gajinya besar, kan? Kamu pasti butuh uang itu untuk sesuatu.” Dengan suara parau yang hampir tak terdengar, Beni berbisik, “Saya... saya akan coba.”Tak berselang lama, seorang aktris yang akan tampil di depan kamera memasuki ruangan itu. Wanita cantik itu mendekat dan tersenyum genit pada Beni. “Halo, aku Maya. Kamu kameramen yang baru, ya?”
Beni hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya memerah. Tuhan, dia terlalu dekat.
“Ya, ini Maya,” kata Rendra. “Dia akan menjadi talent utama hari ini. Dan kamu, Beni, akan menjadi... mata bagi penonton.”
Mata bagi penonton? Batin Beni. Aku hanya di balik kamera. Ini demi Ibu. Hanya merekam, lalu pergi.
“Oke, mari kita mulai!” perintah Rendra. Beni menyalakan kamera, tangannya masih sedikit gemetar. Melalui viewfinder, dia melihat Maya mulai bergerak mendekati kamera. “Lebih dekat, Beni!” teriak Rendra. “Jangan terlalu jauh! Ingat, penonton harus merasa mereka yang ada di posisimu!” Maya tersenyum menggoda sambil mendekatkan wajahnya hingga hampir menutupi lensa. “Jangan malu-malu,” bisiknya. Ini hanya angle kamera, batin Beni berusaha meyakinkan diri sambil perlahan mendekat. Aku hanya di balik kamera. “Bagus! Pertahankan!” sahut Rendra dari belakang. “Sekarang ikuti kemana dia pergi...” Beni masih berusaha fokus, mengikuti gerakan Maya dengan kameranya seperti yang diinstruksikan Rendra. Keringat dingin membasahi pelipisnya. “Bagus, terus ikuti!” teriak Rendra dari belakang. “Sekarang ambil angle dari sini!” Maya tersenyum menggoda, mendekatkan diri hingga wajahnya hampir menyentuh lensa. Beni berusaha menjaga jarak, terus bergumam dalam hati, Hanya angle, hanya angle. Aku Cuma di balik kamera. Ini untuk Ibu. Tiba-tiba, sebelum Beni menyadari apa yang terjadi, Maya meraih tangannya yang memegang kamera. Dengan gerakan cepat dan terampil, dia menarik tangan Beni—bersama dengan kamera yang masih merekam—dan meletakkannya di pinggangnya yang nyaris tak berbaju. “Whoa! Jangan begitu!” teriak Beni kaget, mencoba menarik kembali tangannya. Dari belakang, terdengar Rendra tertawa kecil, suaranya penuh kemenangan. “Iya, bagus! Tahan di posisi itu!” “Tunggu, ini... ini bukan yang kita bicarakan!” protes Beni, suaranya gemetar. Dia mencoba melepaskan genggamannya, tapi Maya justru menahan tangannya lebih erat. Rendra mendekat, wajahnya tampak puas. “Tadi aku sudah bilang, kan? Konsepnya POV.” Dia berjongkok di samping Beni, suaranya berbisik tapi jelas terdengar. “Point of View. Artinya, kamera ada di tanganmu...” Dia jeda, menatap Beni dengan mata penuh arti. “...dan kau ikut main di dalamnya.” Kalimat itu menghantam Beni seperti pukulan di ulu hati]. Dunia seakan berhenti berputar. Kamera di tangannya bergetar hebat, gambarnya pasti goyah tak karuan. “Apa...?” suara Beni tercekat, matanya terbelalak. “Maksudmu... aku juga harus ikut?!” Rendra hanya tersenyum lebar, sambil berdiri dan membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara. Maya masih memegangi pergelangan tangannya, senyumnya sekarang terlihat seperti senyum seorang predator. Di tangan Beni, kamera peninggalan ayahnya tiba-tiba terasa berat bagai batu nisan.Satu jam kemudian, hasil keluar. Seorang petugas membawa selembar kertas kepada hakim. Wajah hakim berubah serius saat membacanya. Ia melirik ke arah Beni dengan pandangan yang kini penuh dengan penghakiman dan kecurigaan.“Berdasarkan hasil tes laboratorium cepat,” ucap hakim dengan berat, “sampel urin terdakwa positif mengandung opioid sintetis jenis Fentanyl analog. Ini adalah zat terlarang yang sangat kuat.”Ruang sidang kembali gemuruh. Pengacara korban tersenyum tipis, sebuah kemenangan kecil. Gunawan menutup mata sejenak, berusaha tetap tenang.“Dalam keadaan seperti ini,” lanjut hakim, “sikap dan pengakuan terdakwa selama ini dipertanyakan validitasnya. Namun, bukti penggunaan narkoba justru memperkuat gambaran perilaku tidak bertanggung jawab dan berbahaya. Sidang akan saya lanjutkan, tetapi dengan pertimbangan baru ini.”Pak Gunawan lalu berdiri dan dengan suara yang terdengar membela, namun sebenarnya justru mengukuhkan narasi dakwaan: “Yang Mulia, ini sangat disayangkan. K
Petugas medis itu mengangguk, wajahnya tetap tak terbaca. "Istirahatlah. Kamu membutuhkannya untuk besok."Dia membereskan peralatannya dan pergi. Saat pintu tertutup, Beni terbaring dalam keadaan baru. Rasa sakitnya hampir hilang, digantikan oleh rasa berat yang nyaman di anggota tubuh dan ketenangan pikiran yang belum pernah ia rasakan sejak semua ini dimulai.Yang tidak Beni tahu adalah bahwa cairan bening itu bukan sekadar pereda nyeri biasa. Itu adalah opioid sintetis yang sangat adiktif, dirancang untuk memberikan ketergantungan fisik dan psikologis dengan cepat.Ketenangan yang ia rasakan sekarang adalah awal dari sebuah perangkap baru yang lebih dalam dan lebih personal. Besok, setelah efeknya habis, tubuhnya akan mulai merindukannya. Dan ketika itu terjadi, ia akan menjadi jauh lebih patuh, lebih mudah dikendalikan, dan lebih diam daripada sekadar seorang tahanan yang patah semangat.Keesokan paginya, Beni bersiap untuk persidangan. Rasa sakit fisiknya masih teredam, tapi kin
“Jangan sentuh mereka!” teriak Beni, dorongan adrenalin mengalahkan rasa sakit sejenak.“Tergantung kamu. Tergantung bagaimana kasus ini berakhir,” sahut Bos. “Kalau kamu kooperatif, mereka aman. Kalau kamu bikin masalah sampai ke persidangan, bikin berisik... kami tidak bisa jamin keselamatan mereka. Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja.”Siksa fisik dan teror psikologis itu bekerja sama seperti bor yang tak henti-hentinya menggerus batu karang ketahanan Beni. Setiap gelombang rasa sakit baru menghapus sedikit lagi ingatannya akan kebenaran. Setiap ancaman terhadap ibu dan Lintang melenyapkan sedikit lagi keberaniannya. Dunia menyempit hanya menjadi pilihan antara: bertahan dan membahayakan nyawa orang yang dicintai, atau menyerah dan menyelamatkan mereka.Jam-jam berlalu dalam kabut penderitaan. Tubuh Beni sudah lemas, gemetar tak terkendali. Kepalanya berdenyut-denyut, pikiran menjadi kabur, tidak bisa lagi membedakan antara fakta dan ancaman. Satu-satunya hal yang tetap jernih
Krang...Tiba-tiba, kunci sel berbunyi keras.Beni terbangun dari tidurnya saat melihat dua petugas berbadan besar yang bukan petugas jaga biasa, memasuki sel tanpa sepatah kata.Sebelum Beni bisa protes, sebuah karung kain hitam yang kasar ditaruh paksa menutupi kepalanya. Dunia menjadi gelap pekat dan pengap. Nafasnya sendiri yang panas memantul ke wajahnya.“Apa yang—?!” ucapnya tercekik, sebelum sebuah dorongan kasar membuatnya tersandung keluar sel. Mereka menyeretnya, bukan membimbing. Kakinya menyentuh tangga, bahunya terbentur dinding. Ia kehilangan arah.Setelah perjalanan yang terasa lama, ia didorong masuk ke sebuah ruangan. Suara pintu besi berdecit lalu tertutup rapat. Karung dicabut.Cahaya lampu neon yang menyilaukan langsung menyerang matanya. Ia berada di sebuah ruangan kosong, dinding beton tanpa jendela. Dua pria lain sudah menunggu. Mereka tidak berseragam lengkap, hanya mengenakan kaus polos, tapi aura mereka adalah aura petugas—seseorang yang terbiasa dengan inti
“Aku akan membantumu,” tekad Nadia, suaranya kini mantap. “Aku akan hubungi pengacara kenalan ayahku. Dia yang terbaik. Dan soal Catherine...” Nadia menatap tajam. “Aku akan lebih berhati-hati. Tapi aku tidak akan berhenti, Ben. Justru karena mereka menjebakmu seperti ini, artinya kita semakin dekat dengan kebenaran. Aku akan lanjutkan untuk kita berdua.”“Jangan, Nad—!”“Ini sudah bukan pilihanmu lagi,” potong Nadia dengan lembut tapi tegas. “Kau fokus keluar dari sini. Biarkan aku yang mengurus yang di luar.” Dia meletakkan tangan di kaca, seolah ingin menyentuh bahu Beni. “Kita tim. Aku tidak akan meninggalkanmu.”Waktu kunjungan habis. Petugas membimbing Beni pergi. Saat berbalik, dia melihat Nadia masih duduk, matanya penuh tekad baja yang tak tergoyahkan. Dia merasa lega sekaligus ngeri. Lega karena Nadia masih percaya dan akan membantunya. Ngeri karena dia tahu, dengan memperingatkan Nadia tentang Bu Catherine, dia mungkin justru telah mendorong rekannya itu masuk lebih dalam k
Di sebuah sel tahanan yang kecil, lembap, dan berbau disinfektan yang menyengat bercampur keringat serta ketakutan. Beni duduk di dipan kayu keras yang ditempelkan ke tembok, kedua tangannya menyangga kepala yang terasa mau pecah. Suara gemerincing kunci, langkah kaki, dan teriakan dari sel lain menjadi soundtrack yang tak henti-hentinya mengganggu.“Apakah ini jebakan, atau murni kesalahanku sendiri?” Pikiran Beni berputar-putar seperti tikus dalam roda, terjebak dalam pertanyaan yang sama.Skenario Kesalahan Murni: Logikanya sederhana dan memalukan. Dia dalam keadaan emosional kacau. Seorang wanita masuk ke kamarnya. Dia bertindak gegabah, berdasarkan nafsu dan kebutuhan pelarian. Wanita itu, karena takut kehilangan pekerjaan atau malu, berbalik menyudutkannya. Itu adalah rangkaian keputusan bodoh yang berujung bencana. Semua ini adalah konsekuensi alami dari kelemahannya. Ini murni kesalahanku.“Tapi, benarkah sesederhana itu?” Sebuah suara lain, lebih dalam dan lebih paranoid, ber







