Home / Urban / Hasrat Terpendam Sang Kameramen / Bab 5 - Pertanyaan Menggoda

Share

Bab 5 - Pertanyaan Menggoda

Author: Frands
last update Last Updated: 2025-10-29 19:12:02

“Tunggu... tunggu dulu!” protes Beni, suaranya serak dan nyaris tercekik. Tubuhnya menegang bagai batu, setiap otot memberontak. Tangan Maya masih mencengkeram pergelangannya, menariknya lebih dalam ke dalam frame kamera yang justru dia pegang sendiri. Getaran di tangannya semakin menjadi, membuat gambar yang tertangkap lensa bergoyang liar.

“Aku... aku Cuma kameramen!” bantahnya, mencoba menarik lengannya, namun cengkeraman Maya kuat dan berpengalaman.

Rendra, yang mengawasi dari belakang monitor, tidak terkesan. Suaranya terdengar datar dan dingin, seperti mesin, “Sudah kubilang, perhatikan gerakanmu. Buat seakan-akan penonton yang merasakan apa yang kau rasakan! Ingat, konsepnya adalah POV. Kau adalah mata mereka.”

Kata-kata itu seperti pentungan. 'POV, Kau adalah mata mereka.' Artinya, dia tidak bisa lagi bersembunyi di balik lensa. Dia harus menjadi bagian dari adegan yang menjijikkan ini.

"Lari." Itu satu-satunya kata yang berteriak dalam kepalanya. "Lepaskan kamera ini dan larilah!"

Tapi tepat saat nalurinya menyuruhnya untuk kabur, sebuah bayangan menghantam pikirannya dengan keras: wajah ibunya yang pucat dan lemah di balik kaca ICU, terbaring tak berdaya dengan selang infus di tangan.

Napas Beni tersengal-sengal. Pertarungan batin yang menghancurkan berkecamuk dalam dirinya.

Di satu sisi, setiap serat keberadaannya menjerit menolak, merasa terhinakan. Di sisi lain, tanggung jawabnya sebagai anak, ketakutan akan kehilangan ibu, dan beban finansial yang mustahil ditanggung sendiri, mengurungnya di tempat itu.

Dia memejamkan mata sejenak, mencoba menelan rasa mual yang naik ke kerongkongannya. Tangannya yang memegang kamera perlahan-lahan, dengan getaran yang masih jelas, berhenti melawan. Tubuhnya, meski masih kaku, tak lagi menarik diri.

“Jangan tegang-tegang, sayang,” bisik Maya di telinga Beni, napasnya hangat dan sengaja dihembuskan pelan. Tangannya yang bebas mulai meraba pundak Beni, membuatnya merinding. “Santai saja... anggap ini sebagai bonus dalam bekerja.”

Kehangatan sentuhan Maya, bisikan rayuannya yang tak henti, dan atmosfer ruangan yang dipenuhi aura erotis mulai mempengaruhi fisiologinya. Darahnya mengalir cepat, jantungnya berdebar kencang membuat kameranya mulai goyah lagi.

"Konsentrasi, Beni!" hardik Rendra dari belakang, suaranya tajam. "Jangan lupa, kalau berhenti sekarang, tidak ada bayaran sepeser pun.”

Kata-kata itu seperti cambuk. Beni memejamkan mata sejenak, menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. Dia mengangguk pelan, isyarat menyerah yang membuat Rendra tersenyum puas.

Maya, melihat reaksi ini, semakin berani. “Nah, gitu dong...” bisiknya lagi, sambil mendekatkan tubuhnya. “Kamera tetap merekam ya, sayang. Biar penonton merasakan semuanya...”

Beni tak bisa lagi berpikir jernih. Pelajaran moral, harga dirinya, kenangan akan ayahnya—semuanya tenggelam dalam kepanikan dan keputusasaan.

Dalam hati yang remuk, dia membiarkan dirinya terseret dalam arus adegan yang semakin tak terkendali, sambil terus menggenggam erat kamera ayahnya—seolah-olah benda itu adalah satu-satunya penanda bahwa dia masih punya sisa-sisa kemanusiaan.

Segalanya terjadi dalam gerakan lambat yang menyiksa bagi Beni. Maya, dengan senyum tipis penuh arti, perlahan-lahan berlutut tepat di hadapannya. Posisinya begitu intim, begitu menguasai, membuat Beni merasa seperti mangsa yang terjebak.

“Shhh... tenang saja,” bisik Maya, suaranya seperti belaian sekaligus ancaman. “Lihat, tidak susah kok.”

Sebelum Beni sempat bereaksi, tangan Maya sudah bergerak cepat. Dengan gerakan mahir, ia membuka kancing atas bajunya, lalu yang berikutnya, hingga akhirnya membuka seluruh bagian depan.

Maya terus berlenggak lenggok di depan Beni dengan gerakan erotis yang menggoda. Dua bukit kembar yang padat terguncang seirama dengan hentakan kaki–seolah mengundang setiap tangan pria untuk menjamahnya.

“Ka–kamu terlalu dekat dengan kamera.” Beni memalingkan wajahnya ke samping.

Maya tak menghiraukan ucapan Beni. Kedua tangannya justru membelai pipi pria polos itu dan mengarahkan pandangannya kembali ke depan.

Beni terengah, matanya terpaksa menatap pemandangan yang membuatnya semakin bingung antara rasa malu dan sebuah hasrat purba yang mulai membara di lubuk hatinya.

Ini adalah pertama kali baginya melihat keindahan tubuh wanita secara langsung. Biasanya dia hanya melihat dari sebuah film dewasa di laptopnya.

“Tidak usah malu,” goda Maya, menangkap kebingungan di mata Beni. “Kamera masih merekam, kan? Biar penonton juga lihat betapa cantiknya aku untukmu.”

Jemari Maya yang terampil lalu bergerak mendekati gesper sabuknya. Ujung jari itu menyentuh logam dingin, menahannya di sana, memberikan tekanan yang cukup untuk membuat Beni semakin gemetar.

Napasnya tersangkut, dadanya sesak. Kamera di tangannya nyaris terlepas, digenggamnya erat-erat bagai tongkat penyelamat. Detak jantungnya berdebar kencang, memekakkan telinganya sendiri, menenggelamkan segala suara di sekitarnya kecuali desisan napas Maya dan bisikan Rendra di kejauhan.

Lalu, Maya mengangkat wajahnya. Matanya yang berbedak tebal menatap langsung ke mata Beni, menembus lapisan pertahanan terakhirnya. Senyum samar mengembang di bibirnya yang merah.

Dengan suara berbisik yang hanya bisa didengar Beni, dia menggoda, “Mau... kalau aku buka sekarang?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 128 - Puzzle yang Tidak Lengkap

    Maya menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca tapi berusaha tegar. “Semuanya berawal dari adikku, Beni. Beberapa tahun lalu, dia tertabrak mobil. Biaya rumah sakitnya... selangit. Kami nyaris putus asa. Lalu Bagas muncul, entah dari mana. Dia yang menanggung semua biayanya, tanpa banyak bicara. Menyelamatkan nyawa adikku.” Dia menatap kosong ke dinding. “Aku... aku merasa punya hutang yang tak terbayar. Aku tak punya uang, tak punya apa-apa. Yang kupunya Cuma... tubuhku. Maka, suatu malam, kudatangi kamarnya. Kukatakan, aku mau membalas budinya dengan cara itu.” “Bagas menolak,” lanjut Maya, dan sedikit senyum getir muncul. “Dia bilang, pertolongannya tulus, tidak perlu dibayar. Tapi aku... aku memaksa. Aku merasa itu satu-satunya yang bisa kuberi, satu-satunya cara agar aku tidak merasa terus-menerus menjadi pengemis. Aku mendesak, merayu, hingga akhirnya... dia menyerah.” Maya mengusap wajahnya. “Awalnya, aku takut. Tapi lama-kelamaan... aku mulai menyukainya. Bukan karena ci

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 127 - Rahasia Terbuka! Dia Bukan Kekasihku

    Rafael masih ingin membantah, wajahnya merah padam. “Tapi dia—!” “RAFAEL!” suara Irwan akhirnya pecah, keras dan penuh peringatan. Ia memotong anaknya. Wajah Irwan masih tegang, tetapi amarahnya telah berubah menjadi kalkulasi bisnis yang dingin. Dia melihat Bagas, lalu melihat Beni yang masih berdiri dengan amplop di panggung, dan akhirnya melihat kerumunan tamu yang menyaksikan. Dia menarik napas dalam-dalam. Dalam sekejap, topeng profesionalnya kembali, meski terpaksa dan retak. Dia mengambil mikrofon. “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat,” ucapnya, memaksakan senyum. “Tampaknya telah terjadi sedikit... kesalahpahaman yang disebabkan oleh prosedur verifikasi kami yang kurang lancar. Mari kita akhiri diskusi ini dan kembalikan fokus kita pada semangat kerja sama dan kemajuan.” Dia memberi isyarat pada band untuk memainkan musik lagi. “Silakan nikmati hidangan dan hiburan. Terima kasih.” Security mundur. Musik mulai mengalun, mencoba menutupi suara bisikan yang masih

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 126 - Satu-satunya Pembela

    Beni, dengan jantung berdebar kencang hampir ke tenggorokan, menyadari kata-kata tidak akan cukup. Di bawah tatapan menghina Irwan dan senyum penuh kemenangan Rafael, ia merogoh saku dalam jasnya. Tangannya yang sedikit gemetar mengeluarkan amplop karton tebal berwarna gading itu—satu-satunya benda nyata yang menghubungkannya dengan legitimasi. “Ini,” ucap Beni, suaranya berusaha tegas sambil mengangkat amplop terbuka agar logo Media Metropolitan dan tulisan namanya terlihat. “Undangan resmi untuk PT Gemilang Abad yang diberikan langsung oleh Pak Bimo pada saya.” Dia mengulurkan amplop itu ke arah Irwan. Untuk sepersekian detik, ruangan terasa hening. Lalu, Rafael menyambar amplop itu dari tangan Beni sebelum ayahnya sempat mengambilnya. Dengan cepat, matanya menyapu isinya. Terlihat sedikit keraguan di wajahnya—semua detail undangan itu tampak sah—tetapi kebencian dan keinginannya untuk menjatuhkan Beni jauh lebih kuat. “Cuih!” ejek Rafael, mengangkat amplop tinggi-tinggi seolah

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 125 - Terjepit dalam Ketegangan

    Beni terus berjalan, merasakan ratusan pasang mata itu menusuknya. Dia mencapai tangga panggung kecil dan naik. Saat berdiri di sana, di bawah sorotan lampu yang terang benderang, kontrasnya semakin jelas: dia yang masih muda, dengan wajah yang tidak dikenal (atau dikenal karena alasan salah), berdiri di tempat yang seharusnya ditempati seorang direktur terhormat. Irwan Wijaya berbalik. Senyumnya menghilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat mencengangkan. Matanya yang tajam mengamati Beni dari ujung kepala hingga kaki, memproses, mengkalkulasi. Tidak ada kemarahan yang terlihat, hanya evaluasi dingin yang jauh lebih menakutkan. “Dan... siapa kau?” tanya Irwan akhirnya, suaranya halus namun mematikan, terdengar jelas melalui mikrofon ke seluruh ruangan yang kini sunyi senyap. Di panggung itu, hanya ada mereka berdua. Beni, yang mewakili rahasia warisan ayahnya dan misi Pak Bimo. Dan Irwan, yang mungkin adalah musuh yang paling berbahaya. Beni berdiri tegak di bawah s

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 124 - Perwakilan

    Beni tidak bisa lagi menahan diri. Amarah, rasa bersalah, dan naluri melindungi yang mendidih mendorongnya maju. Tangannya mencengkeram kerah kemeja sutra Rendra dengan erat, menarik pria itu hingga wajah mereka hampir bertemu. “Kau dengar aku, Rendra. Jangan sentuh dia. Sekali pun kau coba dekatinya—“ suara Beni mendesis, penuh getaran amarah yang tertahan. Rendra tidak terlihat takut sama sekali. Matanya justru berbinar menikmati reaksi ini. Dengan suara rendah dan penuh racun, dia membalas, “Silahkan. Cubit aku sekali saja. Buat satu goresan di wajahku.” Senyumnya semakin lebar. “Dan aku berjanji, hari ini juga, ‘adik kecil’ mu dan ibunya akan kucari. Mereka akan kuhadiahkan pengalaman yang jauh lebih ‘mendidik’ daripada sekedar syuting. Kau tahu aku bisa.” Kata-katanya seperti bensin yang disiram ke bara. Penglihatannya menyala merah. Tangan Beni yang lain terkepal dan terangkat, siap untuk menghantam. Segala logika telah hilang, hanya ada dorongan purba untuk menghancurkan

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 123 - Ancaman Orang dari Masa Lalu

    Keesokan paginya, Beni tiba di hotel Grand Kartika sesuai dengan waktu yang tertera dalam undangan. Dalam setelan jas hitam sederhana namun rapi yang dipinjamkan Pak Bimo, Beni merasa seperti penyusup. Setiap langkahnya terasa berat ketika dia mendekati pintu masuk. Tapi suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang. “Well, well, well... lihat siapa yang datang di sini?” Beni berbalik. Rafael berdiri beberapa langkah darinya, dengan pose santai namun penuh kesombongan. Pria itu tampak semakin tampan dengan setelan jasnya yang jelas sangat mahal, dasi bermerek, dan senyum yang mencibir. “Rafael,” sapa Beni pendek, mencoba berjalan menghindar. “Tunggu dulu, jangan buru-buru,” Rafael melangkah menghalangi. Matanya menyapu Beni dari ujung kepala hingga ujung kaki, seperti menilai barang loakan. “Apa yang dilakukan oleh orang miskin sepertimu di sini?” ledeknya, diikuti tawa kecil. “Apa kau mendapat tugas untuk meliput acara ulang tahun Metropolitan, si kameramen amatir?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status