LOGINTak ada satu pun pegawai yang berhasil melerai amarah Erfan. Tenaganya begitu besar, setiap kali ada yang mencoba menariknya, justru pegawai itu yang terdorong hingga terlempar."Tuan... Jangan bertindak gegabah... kalau tidak, anda juga akan terkena hukuman!" pegawai itu memperingatkan Erfan.Erfan melirik pegawai itu, lalu dia berkata dengan penuh dominasi. "Apa menurutmu... petugas hukum akan peduli, jika aku menghabisi orang rendahan sepertinya?" "Sana telepon polisi! Aku ingin melihat, apa mereka berani menangkapku!" perintah Erfan, lalu dia lanjut menghajar pria itu.Salah satu pegawai, buru-buru menghubungi kepolisian setempat.BUGHH! BUGHH!ARGGHH! ARGHHH!Suara-suara pukulan dan ringisan kesakitan terus terdengar di tempat itu.Para menonton merasa ngeri, saat melihat ke ganas Erfan. Setelah Erfan puas menghajar pria itu, dia melepaskannya. Dia melap darah yang melumuri tangannya me
"Sial! Gimana ini… Sayang, cepat datang!" gumam Bu Susan dalam hati, paniknya semakin menjadi.Engsel kunci itu mulai berderit keras, tampak sudah tak mampu menahan tekanan. Setiap dobrakan dari pria di luar membuat pintu bergetar hebat, seolah bisa jebol kapan saja.Keringat dingin mengalir di pelipis Bu Susan. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Dia tahu, waktunya hampir habis.Pria itu menambah tenaga dobrak kan nya. BRAKK!Pintu itu terbuka, Bu Susan terpental ke belakang, sampai menabrak dinding, lalu dia terduduk di toilet.Tampak wajah wanita itu sangat pucat. Jelas, dia sangat ketakutan.Pria itu menatap Bu Susan dengan tatapan penuh hasrat. Dia berjalan perlahan menuju Bu Susan."Nona... kau benar-benar sangat cantik," ucap pria itu. Pandangannya berkenalan di tubuh Bu Susan."Jangan mendekat! Pergi.... pergi!" Bu Susan berteriak, mencoba mengusir."Hehehe...." pria itu
Terlihat, tubuh keduanya saling berpelukan erat di atas kasur. Keringat deras membanjiri tubuh keduanya. Saat ini, penampilan keduanya, tampak sangat berantakan. "Tuan Muda... aku belum pernah merasa sepuas ini! kamu sangat perkasa, tuan," ucap Bu Dita dengan suara lemas, namun ada kepuasan di nada suaranya dan juga di raut wajahnya. "Semua wanita yang tidur denganku... pasti ku pastikan mereka puas!" ucap Erfan dengan nada bangga. "Sepertinya... aku akan ketagihan," ucap Bu Dita dengan nada manja. "Kalau kamu mau... hubungi saja aku!" balas Erfan sambil mengelus wajah cantik wanita itu. "Aku gak akan nolak, menidurimu," lanjutnya. Bu Dita mengangguk, senyuman nakal tersungging di bibir ranum nya. "Apa kamu gak akan meminta apapun kepadaku? Setelah bercinta denganku?" tanya Erfan. Bu Dita menggelengkan kepalanya. "Aku bercinta bukan untuk meminta apapun darimu. Aku hanya ingin merasakan tidur denganmu," bala
Erfan bisa merasakan, kalau apem wanita itu masih sangat sempit. Rasanya, masih sangat nikmat, tidak jauh lebih buruk, dari para wanitanya yang belum pernah melahirkan. "Bu Dita, vaginamu... masih sangat sempit!" ucap Erfan sambil terus mendorong batangnya ~ secara perlahan. "Ahhh... itu... karena batang Tuan Muda, terlalu besar!" balas Bu Dita dengan suara berat. Ekspresinya tampak mengernyit, seperti sedang menahan rasa sakit. Setelah batang itu masuk setengahnya, Erfan menghentak kuat, sehingga dengan cepat ~ batang itu masuk sepenuhnya. "Ahhhh...." desahan nikmat keluar dari mulut keduanya, ketika sensasi nikmat dari penyatuan sempurna itu, bisa mereka rasakan."Shh... ahh, sangat sesak! mentok di dalam lagi," ucap Bu Dita dengan nada penuh kenikmatan.Erfan tak mengatakan apapun. Dia tampak memejamkan matanya, sedang fokus menikmati.Setelah cukup menikmati sensasi itu, Erfan mulai menggerakkan batangnya di dala
Bu Dita langsung saja mengulum batang itu dengan ganas. Tampak, batang besar itu keluar masuk ke dalam mulut Bu Dita dengan gerakan cepat."Ahhh... kuluman-mu sangat enak, ahh..." Erfan di buat ke enakan oleh permainan Bu Dita.Mendengar itu, Bu Dita bermain lebih ganas lagi. Dia menyertakan jilatan, di sela-sela mengulumnya.Erfan meremas payudara Bu Dita semakin keras, serta dia meremas-remas rambutnya dengan tangan lainnya.Setelah cukup lama mengulum, Bu Dita mengeluarkan batang itu dari mulutnya."Tuan Muda sangat kuat!" puji Bu Dita. "Apa Tuan Muda mau terus di kulum sampai keluar?" tanyanya."Terserah kamu. Kalau kamu mau, silakan!" balas Erfan dengan nada main-main."Kalau sampai keluar, nanti gak bisa lanjut ke permainan inti dong," ucap Bu Dita dengan nada ragu."Tenang saja, aku bisa keluar berkali-kali!" balas Erfan meyakinkan.Walaupun telah mendengar pernyataan itu, Bu Dita tetap saja mera
Beberapa saat kemudian, kenikmatan puncak itu berlalu. Erfan membalikkan tubuh Mira, menekannya di bawah tubuhnya kembali. "Ayo, lanjut!" ajak Erfan. "Masih kuat?" tanya Mira dengan heran. "Tentu saja masih kuat! lihat, batangku masih sangat keras!" ucap Erfan sambil menunjuk batangnya. Mira melirik sekilas batang Erfan. Benar saja, batang itu masih sangat keras. "Tuan Muda, aku tidak mengira... kamu sekuat ini," ucap Mira dengan nada takjub. "Keluar sekali atau dua kali gak cukup untukku. Aku bisa keluar berkali-kali! bahkan aku mampu meniduri beberapa wanita sekali gus," ucap Erfan dengan nada bangga, sambil memosisikan batang kerasnya itu di lubang apem itu. "Kalau itu benar... ayo tiduri aku sampai aku lemas," ujar Mira dengan nada provokatif. "Oke. Aku pastikan kamu akan lemas!" balas Erfan, sambil mendorong masuk batangnya. Tak lama kemudian, suara-suara menggairahkan itu kembali bergema
Erfan mengangguk sambil tersenyum, Tesa pun turun dari pelukan Erfan, lalu dia pergi bermain komputer, tanpa melirik Verona.Verona tersenyum pahit, melihat sikap Tesa kepadanya."Sudah jangan dipikirkan!" ucap Erfan, saat melihat ekspresi pahit Verona.Verona mengangguk, lalu duduk di pangkuan Erf
Erangan nikmat dan suara benturan kulit bergema di dalam kamar, malam ini sangat dingin tapi berbeda di kamar tersebut. Suhu di kamar sangat panas, sampai keringat pun bercucuran. Erfan bergerak semakin cepat dan menghentak semakin keras. Dewi semakin menikmati permainan Erfan, sampai wanita itu t
Satpam itu memegang uang itu dengan gemetar. Bukannya dia senang atau pun marah karena tindakan Erfan, Tapi dia lebih merasa takut, dengan identitas Erfan. Tindakan Erfan melempar uang satu gepok dengan santai, menandakan identitasnya tidak lah sederhana.Semua orang yang melihat kejadian, Erfan me
Kembali ke vila, Terlihat Erfan dan Dewi sedang berciuman dengan panas. Tangan Erfan meremas dada wanita itu, sampai berubah bentuk. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, yang datang dari belakang vila. Erfan dan Dewi menghentikan permintaan mereka. Erfan bangkit berdiri, lalu pergi melihat