FAZER LOGINDi sisi lain.
Bu Nana tampak sedang duduk di ruang depan rumah. Mendengar suara-suara menggairahkan itu kembali bergema, membuat wanita itu merasa tubuhnya panas kembali."Ahh... Tuan Muda, batangmu emang yang terbaik! mentok di dalam Tuan Muda... Sangat sesak, ahh.." Terdengar suara racauan liar Bu Sumi.Mendengar racauan itu, membuat Bu Nana menjadi penasaran."Apa senikmat itu bercinta dengannya? Tapi... Kalau di lihat dari ukurannya sih... Itu sudah pasErfan meraih celananya yang tergeletak di bawah, lalu mengeluarkan ponselnya yang ada di dalam kantung celana tersebut.Saat dia melihat layar ponsel, ternyata yang menelepon adalah kakak iparnya yang menggoda itu. Siapa lagi kalau bukan, Kak Gisel.Erfan melirik Bu Nana. "Kamu lanjutin goyang aja!" perintahnya."Tuan Muda gak angkat dulu telepon?" tanya Bu Nana."Aku angkat kok, ini wanitaku, gak masalah kalau menelepon sambil bercinta," balas Erfan dengan nada main-main."Emang... gak masalah? Gimana kalau wanita Tuan Muda tau?" tanya Bu Nana dengan ragu."Mereka udah terbiasa, jadi gak masalah," balas Erfan, lalu dia mengangkat telepon itu.Setelah mendengar perkataan Erfan, Bu Nana pun tak banyak berpikir lagi. Dia langsung melanjutkan goyangannya yang sempat terhenti. Namun, dia bergoyang tidak seliar sebelumnya, dan juga dia menahan desahannya.•••"Halo, sayang," terdengar suara sapaan genit Kak Gisel di seberang telepon."Halo, sayang... ada apa?" tanya Erfan."Sayang, kamu la
Bu Nana mengambil ponselnya yang ada di tasnya. Kemudian, dia melihat siapa yang meneleponnya. Setelah melihatnya, ternyata itu adalah panggilan video dari suaminya. Tanpa ada rasa takut ataupun khawatir, Bu Nana menyingkirkan ponselnya, tidak ada niat untuk mengangkat panggilan video tersebut. "Siapa? Kenapa kamu gak mengangkatnya?" tanya Erfan sambil mengangkat alisnya. "Suamiku!" balas Bu Nana dengan nada santai, sambil kembali berbaring, dan membuka lebar kakinya. Erfan berlutut di antar kakinya, lalu menempelkan batangnya di apem wanita itu. "Kenapa kamu gak mengangkatnya?" tanya Erfan. "Kalau mau angkat, angkat saja ~ gak apa-apa, Aku nanti ngumpat di depan," lanjutnya. "Aku malas! Dia pasti cuma mau teleponan sama aku! Kalau di angkat, pasti gak akan boleh di matikan sampai dia puas," balas Bu Nana. "Puas? Maksudmu..." kata puas yang di maksud Bu Nana, membuat pikiran Erfan mengarah ke hal-hal nakal. Bu Nana seakan tahu, apa yang sedang di pikirkan oleh Erfan. "
Tanpa banyak basa basi lagi, Erfan mendaratkan bibirnya di bibir wanita itu, lalu dia melumat bibir merah ranum itu dengan ganas. Mendapatkan lumatan itu, tentu saja Bu Nana yang sudah sangat berhasrat ~ membalas dengan lumayan yang tidak kalah ganas dari pria itu. Pada akhirnya, mereka berciuman dengan panas, meluapkan hasrat yang sedang bergejolak itu. Tangan Erfan menurun Bra renda yang menutupi payudara Bu Nana, sampai kedua payudara wanita itu menyembul keluar dari sana. Setelah itu, Erfan meremas payudara itu, sampai berubah bentuk sesuai dengan remasannya. "Emm... emm..." Desahan tertahan keluar dari mulut Bu Nana, saat rasa kenikmatan dari remasan pria itu ~ menjalar ke seluruh tubuhnya. Erfan menarik bibirnya dari bibir pria itu, lalu bibirnya menyerang leher wanita itu kembali. Kali ini, bukan hanya kecupan ringan! Dia mendaratkan jilatan ganas dan isapan basah di leher wanita itu. "A
Ternyata Erfan kembali ke tempat mobilnya di parkir. Setibanya di sana, dia masuk ke dalam mobil, menyalakannya, memutar arah mobil, lalu dia melajukannya ke arah jalan raya. Beberapa saat kemudian, terlihat mobil Erfan berhenti di depan seorang wanita dewasa cantik ~ berpakaian dinas desa. Wanita itu adalah adik Bu Sumi, yaitu Bu Nana. Ternyata sebelumnya, Erfan sudah janjian dengan wanita itu. Erfan membuka kaca mobil, lalu dia memberi kode agar wanita itu masuk ke kursi depan. Dengan penuh senyuman, Bu Nana langsung beranjak masuk ke dalam mobil. Setelah pintu mobil kembali di tutup, Erfan langsung melajukan mobilnya ~ meninggalkan tempat tersebut. Di dalam mobil, Bu Nana tampak menyandarkan kepalanya di bahu Erfan. Sikapnya saat ini, tampak sangat manja. "Tuan Muda, aku kangen banget sama kamu," ucap Bu Nana dengan nada genit. "Kangen aku, atau kangen bercinta sama aku?" tanya Erfan dengan nada mai
Kak Rita menghela nafas, sebelum akhirnya dia menjelaskan alasannya."Soalnya, aku pikir kalau buka toko aksesoris, pasti bakalan laku. Soalnya, para pengunjung pasti membutuhkan itu, apalagi pengunjung wanita. Kalau toko pakaian, itu sudah pasti di gemari pengunjung, para pengunjung pasti butuh hal seperti itu buat oleh-oleh, atau buat kebutuhan pribadi.Semua orang di sana mengangguk-anggukkan kepalanya ~ tanda paham dengan maksud dari penjelasan Kak Rita."Dua bisnis itu sangat bagus, kenapa kamu sulit memutuskan? Kedua bisnis itu sudah pasti menguntungkan," ucap Kak Gisel.Semua orang mengangguk ke arah Kak Rita, tanda setuju dengan ucapan Kak Gisel.Kak Rita menghela nafas."Huh... aku lagi mempertimbangkan... apa aku gabungkan saja kedua bisnis itu, atau aku kelola satu saja," balas Kak Rita."Gabungkan saja!" sahut Tuan Gubernur dengan tegas ~ tanpa banyak berpikir."Benar kata ayah! Kamu gabungkan saja dua bisnis itu!" Kak Gisel setuju. "Nih.. misalnya, ada pengunjung yang tad
Saat ini, terlihat Erfan yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di sela jarinya. Terlihat di pelukannya, terbaring Riana yang tampak kelelahan. Tubuh keduanya di banjiri oleh keringat hangat. Meski penampilan mereka sekarang tampak berantakan, namun visual yang tercipta tampak sangat menggairahkan. "Sayang, kamu pasti belum puas! Maaf yah... aku gak bisa bikin kamu puas," ucap Riana dengan nada meminta maaf. "Gak apa-apa sayang. Aku emang terlalu kuat, bahkan kalau bercinta sama beberapa wanita pun, aku gak akan merasa puas," balas Erfan dengan nada riang. "Tapi... pelayananku masih sangat buruk kalau di banding para wanitamu yang lain. Aku janji, bakalan banyak belajar," ucap Riana dengan serius. "Udah... gak usah di pikirkan, nanti kamu juga bakalan sehebat mereka," ucap Erfan. Dia tak ingin Riana merasa kurang percaya diri dan tertekan gara-gara hal itu. Riana membalas dengan anggukan pelan. Riana sangat menyadari, kala
Erfan kembali ke vila terlebih dahulu. Sampai di vila, Erfan langsung berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan. Erfan tidak mampir untuk sarapan di warung Bu Susan, karena dia sudah sarapan tadi bersama Dewi.Sampai di perusahaan, Erfan seperti biasa saling sapa dengan para karyawan perusahaan.
Tiba-tiba di luar, terdengar Sirene mobil polisi. Beberapa polisi langsung menyerbu masuk ke dalam rumah Wandi yang semakin membuat ketakutan Lusi.Para warga kampung tersebut, berdatangan, termasuk keluarga Lusi, karena mereka di beri tahu oleh warga, ada polisi yang mencari Wandi. "Sialan, lepas
Erfan menjelaskan tentang Serina, yang mendapatkan kekerasan dari suaminya, dan ingin mengumpulkan bukti, agar Serina bisa cerai dari suaminya."Sial, si Deni itu dia memang buka manusia!" umat Bi Ayu."Ketiga gadis itu sekolah?" tanya Erfan."Iyah, mereka belum pulang, nanti jam 3 sore pulangnya,"
Mereka pun melakukan pemanasan terlebih dahulu, sebelum pertempuran di mulai. "Sayang, milikmu ini membuat ku candu," ucap Anne sambil bermain dengan senjata Erfan. "Em. enak sayang," Erfan menikmati permainan Anne. Setelah dirasa penasaran cukup, dan Erfan juga, sudah membuat Anne mencapai pu







