Se connecterDiva berhenti terkikik, lalu dia berkata. "Sayang, ayo jangan bersembunyi lagi! Tunjukkan wajah kamu."Mendengar perkataan Diva itu, Kak Gisel dan Kak Rita sangat terkejut. Gadis itu sangat tenang saat berkata, tak ada kemarahan sama sekali. Hanya Erfan yang tampak sama sekali tidak terkejut.Erfan mengambil ponsel Kak Gisel, lalu dia mengarahkan kamera ponsel ke wajahnya dan ke wajah Kak Gisel."Sayang, kenapa kamu gak marah?" tanya Erfan sambil menyunggingkan senyuman."Hihi ternyata benar kamu. Aku gak bisa marah, kalau prianya kamu," balas Diva dengan nada manja. "Tapi... kamu benar-benar nakal plus jahat! Kakakku udah punya suami dan anak, kamu malah lahap dia. Rumah tangga dia udah pasti bakalan kacau," lanjut Diva."Hehe, maaf. Lagian... kakakmu ini... sangat menggoda, aku gak tahan sama godaannya," balas Erfan sambil meremas payudara Kak Gisel. "Sudah ku duga. Pasti kamu sama Kak Gisel udah lama berhubungan," ucap Diva."Iya... udah beberapa kali kita main," balas Erfan denga
Saat ini, terlihat Erfan yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur, sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di antara jarinya. Di kiri dan kanannya, terlihat Kak Gisel dan Kak Rita. Kepala kedua wanita itu terbaring di dada bidang Erfan, dengan tangan yang memeluk tubuh Erfan. "Fan, kamu kuat banget! Udah habis dua wanita... tapi batangmu ini masih sangat keras," ucap Kak Rita dengan nada tenang, sambil mengelus batang Erfan dengan telapak tangannya. "Hehe, cuma dua wanita gak ada apa-apanya bagiku," balas Erfan dengan nada bangga. "Kamu benar-benar monster!" ucap Kak Rita sambil menatap Erfan dengan sorot mata kagum. "Awalnya, aku gak habis pikir, kenapa kamu punya begitu banyak wanita! Tapi sekarang, semua itu sudah terjawab. Kalau kamu punya satu wanita, wanitamu itu pasti bakalan cepat mati kehabisan energi," lanjutnya. "Jangankan satu... kalau dia cuma dua atau tiga wanita. Pasti ketiganya mati cepat," sahut Kak Gisel. "Hei... apa aku se mengerikan itu?" tanya E
Erfan terus menekan masuk, sampai batang besar dan panjangnya itu ~ mentok di dalam sana. Setelah mentok, dia mendiamkannya terlebih dahulu, tidak langsung menggerakkannya.Dari awal sampai akhir proses penyatuan, Kak Rita diam-diam menyaksikan. Matanya tertuju ke arah apem kakaknya dan batang Erfan yang kini sudah saling bertautan."Walau Kak Gisel udah punya anak... tapi, miliknya itu, kelihatannya masih sangat ketat. Dia memang sangat pandai merawat tubuh! Aku harus banyak belajar dari dia," gumam Kak Rita di dalam hati, lalu dia menarik pandangan ~ fokus kembali ke layar ponsel.Setelah keduanya merasa cukup menikmati sensasi penyatuan, Erfan perlahan mulai menggerakkan pinggangnya.Terlihat, batang besar itu, bergerak maju-mundur perlahan di dalam lubang apem itu."Ahh... ahh, langsung kerasin aja sayang!" perintah Kak Gisel dengan nada penuh kenikmatan."Oke, kalau itu yang kamu mau," Erfan langsung meningkatkan intensitas gempurannya ke tingkat yang tinggi."Ahhh... ahh, iya be
Setelah batang Erfan mentok di dalam apemnya, Kak Rita mulai bergerak. Awalnya, dia bergerak naik turun, setelah itu barulah dia mengeksekusi goyangannya. Rasa nikmat yang sangat hebat, bisa di rasakan oleh Erfan. "Ahhh... ahh... enak, terus... kak... ahh.." Erfan mendesah lantang ~ mengungkapkan seberapa nikmat yang dia rasakan. Melihat Erfan yang tampak sangat menikmati, Kak Rita merasa lebih bersemangat. "Nikmati Fan... nikmati! Aku bakalan keluarin semua keterampilanku!" ucap Kak Rita dengan nada genit. Ekspresi nakal wanita itu kembali menggantikan ekspresi dinginnya. "Ahhh... bagus... keluarkan semuanya, aku ingin tahu seberapa nikmat itu." Semakin lama, goyangan Kak Rita semakin lincah. Berbagai kombinasi goyangan dia lakukan, yang membuat rasa nikmat yang dirasakan Erfan semakin besar. Namun, di bandingkan dengan Kak Gisel, goyangan Kak Rita masih sedikit kurang. Keterampilan goyangan Kak Rita, menurut Erfan sebanding dengan Diva adiknya. Meski begitu, goyangan Kak Rita
Setelah pintu itu terbuka, Kak Gisel perlahan masuk ke dalam kamar, dengan langkah pelan ~ agar tidak menimbulkan suara. "Untung saja mereka gak mengunci pintu," gumam Kak Rita. Setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, Kak Rita akhirnya bisa melihat dengan jelas pemandangan di atas tempat tidur. Terlihat, saat ini Erfan yang sedang memacu keras Kak Rita dari belakang, dengan posisi Kak Rita yang masih menungging. Erfan dan Kak Rita, tak menyadari ~ kalau Kak Gisel sedang mengintip mereka. "Ahhh... ahhh... kamu sangat hebatnya, Fan.... enak banget, ahh..." racau Kak Rita. Ekspresi wanita itu tampak sangat menikmati dan ada ekspresi nakal di wajahnya. Kak Gisel merasa sedikit terkejut, saat melihat ekspresi adiknya itu. Dia menutupi mulutnya, yang sedikit terbuka."Apa dia masih adikku yang dingin itu?" gumam Kak Gisel di dalam hatinya.Erfan secara tidak sengaja melirik ke arah tempat Kak Gisel berada. Saat melihat kepala Kak Gisel yang menjulur di sisi tembok, dia mengedip
Perlahan Erfan membuka matanya, lalu menatap kakak iparnya itu. "Punya kakak... sangat enak! Gak kalah sama sekali... sama wanita yang baru di jebol segelnya," ucap Erfan sambil perlahan menurunkan tubuh bagian atasnya. "Kamu enak! Aku yang sakit ~ udah kayak di pecahkan segel lagi," gerutu Kak Rita. "Nanti juga enak!" balas Erfan dengan nada main-main. Kak Rita melingkarkan tangannya di leher Erfan, lalu dia menariknya ke bawah, sampai wajahnya dan wajah Erfan hanya berjarak tidak lebih dari dua senti. "Cium aku dulu! Jangan mulai dulu, sampai rasa sakit aku hilang!" ucap Kak Rita. Tanpa basa basi, Erfan langsung saja memberikan apa yang di inginkan wanita itu. Mereka berciuman dengan panas, sampai suara decak lidah terdengar cukup jelas. Ciuman itu berlangsung cukup lama. Pada akhirnya bibir mereka terpisah, saat Kak Rita sudah tak merasa sakit lagi. "Kamu boleh mulai!" ucap Kak Rita. "Oke.. aku mulai!" Erfan bangkit ke posisi tegak, tangannya memegang kedua kaki wan
Erfan dan para wanita sampai di hotel. Mereka tidak langsung bermain, karena perut mereka semua merasakan lapar, dan akhirnya mereka memesan makanan terlebih dahulu. "Sambil menunggu makanan, aku akan menepati taruhan tadi!" ucap Shara, sambil berjalan menuju Erfan. "Kamu beneran mau putus denga
Tidak lama Erfan kembali, membawa beberapa tas belanja. Dia membagi rata tas belanjaan itu. Dewi tidak melihat belanjaan lainnya, dia hanya fokus mencari pesanannya. Setelah menemukannya, Dewi mengeluarkannya. Melihat barang di tangan Dewi, membuat Bu Evi membelalak. "Itu dalam? sangat seksi," u
Bu Susan yang mendengar suaminya di gigit ular sangat cemas. "Mereka mereka bercinta di dalam hutan, lalu digigit ular!" jawaban Anne, membuat Erfan dan Bu Susan seketika terdiam.Wajah Bu Susan seketika memucat, yang perasaan khawatirnya di gantikan dengan amarah."Bajingan! ternyata begitu kelak
Erfan menarik Geya, dan ingin bermain dengannya, tapi Geya buru-buru menghentikannya."Sayang, gua aku masih sakit! jangan di masukin dulu yah," ucap Geya, dengan nada memohon.Sebelum Erfan menjawab, Shara berkata."Geya gimana kalo aku menggantikanmu?" ucap Shara, dengan nada penuh hasrat."Aku j







