ログインDemi sekaleng susu formula khusus untuk bayinya, Rania, Arka Malik rela membuang egonya sebagai mantan preman jalanan untuk menjadi kuli bangunan. Namun, prinsip hidupnya diuji saat dia nekat mendobrak kamar hotel dan menyelamatkan Gisella—seorang nyonya kaya yang sedang dijebak oleh rekan bisnis suaminya. Kehilangan pekerjaan akibat aksi tersebut, Gisel justru merekrut Arka sebagai supir dan pengawal pribadi dengan bayaran lima kali lipat. Dari balik kemudi, Arka menyaksikan kepalsuan hidup sang bos. Adrian, suami Gisel yang parlente, ternyata seorang monster manipulatif yang hobi bermain gila dengan jalang, melakukan kekerasan pada istri, namun berakting suci seolah tanpa dosa saat pulang ke rumah. Arka tahu posisinya hanya pekerja kasar. Namun, ego jantannya menolak diam melihat wanita setulus Gisel diinjak-injak oleh keluarga parasit. Menggunakan naluri jalanannya, Arka bergerak dalam senyap, mengumpulkan "kartu as" berupa rekaman perselingkuhan Adrian dan video skandal mertua Gisel di spa remang-remang. Di saat yang sama, kehadiran Rania perlahan mencairkan dinding es di antara mereka. Kini, Arka tidak hanya bertugas melindungi raga Gisel, tapi juga menuntun sang Nyonya untuk meruntuhkan takhta palsu suaminya sampai ke akar-akarnya.
もっと見る“Arka, ini upahmu buat minggu ini. Makasih ya, kamu selalu royal dan nggak pernah hitung-hitungan tenaga di lapangan,” ucap Bu Marta, mandor proyek, sambil menyodorkan amplop cokelat tebal ke depan Arka.
Arka Malik, cowok berusia 35 tahun dengan tubuh tegap berbalut kaos pudar yang masih penuh debu semen, menerima amplop itu.
Wajah tampannya yang terkesan dingin khas anak jalanan mendadak melunak saat mengintip isinya. “Wah, Bu Marta. Ini kayaknya kebanyakan deh. Nggak salah hitung?”
Bu Marta tersenyum hangat, membenarkan posisi kacamata minusnya. “Gajimu tetap sama, Arka. Itu bonus kecil dari saya buat beli susu formula khusus anakmu, Rania. Bukan buat kamu. Sana cepetan beberes, kamu ada sif malam lagi di warung burger, kan?”
“Makasih banyak ya, Bu Marta. Semoga kebaikan Ibu dibalas berlipat ganda,” jawab Arka tulus.
Sebagai ayah tunggal bagi bayinya yang baru berumur 4 bulan, Arka tidak punya waktu mengeluh. Dua minggu lalu, Viona—istri Arka sekaligus ibu Rania, memilih kabur bersama pengusaha kaya luar kota.
Bermodal mengirim pesan singkat, lalu meninggalkan bayi mereka begitu saja di tempat penitipan, kekasih Arka itu minggat.
Alih-alih hancur, insting preman jalanan Arka yang sempat mati kini bangkit demi satu tujuan. Yaitu menghidupi putri kecilnya yang alergi susu formula biasa. Kondisi itu memaksa Arka harus membanting tulang di dua tempat sekaligus.
Pukul delapan malam tepat, atmosfer riuh kedai burger cepat saji tempat Arka kerja paruh waktu terasa menyesakkan.
“Arka, antaran terakhir ke Grand Tulip Hotel kamar 502. Habis ini kamu bisa langsung absen pulang, Bro!” teriak teman kerjanya sambil menaruh kantong pesanan.
Arka mengangguk cepat lalu menyambar jaketnya. Di sela lampu merah jalanan Metro City yang padat, tatapannya teralih ke layar ponsel. Menatap foto Rania yang menggemaskan sebagai wallpapernya, terulas senyum tipis di bibir tegasnya, membuat rasa lelahnya menguap begitu saja.
Begitu tiba di lorong sunyi lantai lima Grand Tulip Hotel, Arka mengetuk pintu kamar yang dituju. “Permisi, pengantaran makanan dari Burger-Maknyus.”
Pintu terbuka, menampilkan pria paruh baya berkepala botak dengan perut buncit berbalut kimono mandi. Wajahnya langsung berkerut masam menatap Arka. “Lama banget sih! Saya komplain ke tokomu, ya! Bintang 1, tau!” gertaknya kasar.
Arka menurunkan pandangan, menahan egonya demi pekerjaan. “Mohon maaf atas keterlambatannya, Pak. Ada pengalihan arah di jalan utama,” jawab Arka tenang.
Pria botak itu mendengus, tapi matanya yang menyipit tiba-kira mengenali Arka. “Tunggu... kamu Arka, kan? Kuli bangunan di proyek Metro-Hub? Kamu kroco yang sering dipuji Marta?”
Arka tertegun. Dia mengenali pria di depannya sebagai Pak Bram, manajer regional divisi konstruksi tempatnya bekerja pagi hari—atasan dari Bu Marta. “Benar, Pak Bram. Saya—”
“T-tolong... siapa pun... tolong saya...”
Sebuah rintihan lirih, parau, dan sarat ketakutan memotong kalimat Arka. Suara itu jelas berasal dari dalam kamar hotel.
Ekspresi Bram langsung berubah panik. Tubuh tambunnya bergerak cepat mencoba menutup pintu. “Bukan apa-apa. Ambil uang kembaliannya dan cepat pergi dari sini, brengsek!”
Namun, gerakan refleks Arka jauh lebih cepat. Sepatu bot kulitnya langsung menahan celah pintu sebelum tertutup rapat. Tenaga kuli Arka membuat dorongan panik Bram terasa tidak ada apa-apanya.
“Pak, ada cewek yang minta tolong di dalam. Bapak nggak dengar?” tanya Arka, matanya kini berkilat tajam penuh selidik.
“Saya suruh pergi ya pergi! Ini urusan pribadi saya, sialan!” Bram memaki, wajah botaknya memerah menahan pintu.
Prank!!!
Suara pecahan benda berbahan kaca terdengar dari dalam kamar, disusul sesosok wanita cantik berambut panjang yang berjalan terhuyung. Gaun malamnya yang berkelas tampak kusut dan berantakan, wajahnya pucat dengan peluh dingin menetes di pelipisnya.
Tatapan matanya yang sayu beradu dengan manik mata Arka. “Bawa... bawa saya pergi... dia menjebak saya... tolong...”
Melihat mangsanya hampir lepas, Bram berteriak murka pada Arka, “Minggat kamu! Dia istri saya dan ini urusan kami! Kalau kamu berani melangkah masuk, saya bikin mampus kamu!”
Wanita itu menggeleng lemah, meremas ujung jaket Arka yang menembus celah pintu dengan sisa tenaganya. “Bukan... saya bukan istrinya... tolong saya, Mas...”
Arka Malik tahu konsekuensinya. Pria botak di depannya ini memegang kendali atas mata pencaharian utamanya untuk membeli susu khusus Rania. Kalau dia masuk, besok dia tidak akan punya pekerjaan.
Tapi, melihat seorang wanita tidak berdaya yang kesuciannya terancam direnggut secara paksa, nalar maskulin dan harga diri Arka sebagai pria berprinsip mendadak bergejolak.
‘Persetan sama si Botak!’ pikir Arka.
Dengan satu hentakan bertenaga, Arka mendorong pintu sampai Bram terhuyung ke belakang. Arka melangkah masuk dengan santai, mengabaikan Bram, lalu dengan sigap menyelimuti tubuh wanita itu menggunakan jaket kerjanya sebelum mengangkat tubuh ringkihnya ke dalam gendongan ala bridal style.
“Arka bangsat! Kamu saya pecat dari proyek! Kamu saya pecat malam ini juga!” teriak Bram histeris, tidak berani mendekat karena melihat postur intimidatif Arka yang bak monster jalanan.
“Kamu bakal mengemis di jalanan, dasar gembel miskin nggak guna!”
Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan senyum miring yang meremehkan. “Pecat aja, Pak Bram yang terhormat. Seenggaknya saya nggak perlu kerja di bawah perintah bajingan botak yang otaknya di antara dua paha.”
“Rambut aja ogah tumbuh di kepala Bapak, apalagi saya? Besok-besok fokus numbuhin rambut aja, Pak, jangan simpenan terus. Nggak takut sama bini di rumah?”
Arka kemudian “Mau saya viralin, nih?”
Wajah Bram seketika pucat pasi, mulutnya ternganga tanpa bisa membalas.
Dengan langkah tegap dan wibawa penuh, Arka berjalan menyusuri lorong hotel sambil mendekap erat wanita asing yang terus menggigil di pelukannya.
Langkah kaki Arka terasa ringan, meskipun dia tahu, malam ini hidupnya akan berubah total tanpa pekerjaan.
Suasana tegang di dalam lift hotel yang sunyi mendadak terasa canggung bagi Arka. Wanita asing yang ada di gendongannya ini perlahan mulai sadar akibat embusan AC yang dingin, membuat cengkeramannya di leher Arka sedikit mengendur.
Dengan jarak sedekat ini, wangi parfum mahal bercampur peluh dari tubuh si Nyonya mau tak mau langsung menusuk indra penciuman Arka—sebuah aroma kemewahan yang sangat asing bagi hidung seorang kuli bangunan.
Arka yang awalnya memasang tampang sangar bin intimidatif, perlahan mulai salah tingkah sendiri. Niatnya tadi memang murni kepahlawanan, tapi pergerakan perempuan itu mulai mengganggu.
Digendong dengan posisi seintim ini oleh pria asing rupanya membuat si wanita refleks bergerak gelisah hingga resleting gaun malamnya yang memang sudah agak melorot akibat ulah Pak Bram tadi, kini semakin merosot ke bawah.
‘Waduh, apaan tuh yang ngintip?’ spontannya merutuk dalam hati, ‘Ampun, Ndoro… kalau dilihat dosa, nggak dilihat mubazir!’
Sambil terus melangkah keluar dari lobi hotel dengan wajah sekaku papan tripleks proyek, Arka berdehem pelan untuk memecah keheningan, lalu berbisik dengan nada super lempeng tanpa dosa.
"Nyonya, maaf nih, mendingan pelukannya agak kencangan dikit deh. Itu... kismis Nyonya main mata ke saya terus."
“Maling! Pergi kamu gembel!” teriaknya."Mama, dia Arka. Supir baru dan Adrian juga udah tau.” potong Gisel cepat, sebelum suara nyaring ibu mertuanya mengundang reaksi tetangga unit sebelah, “Dia di sini karena aku suruh bantu beres-beres rumah," sambungnya mencoba menjaga harga diri karyawannya.Nyonya Endang langsung mendengkus remeh, melirik Arka dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. "Oh... supir baru toh. Mama kira maling.” Cercanya, “Besok-besok jangan biarin sembarangan orang masuk seenaknya gini. Auranya jelek, nggak cocok di sini. Ngerusak pemandangan banget!”Arka tetap berdiri tegak bak batu karang, dengan wajahnya sedatar tembok tanpa ekspresi. Namun di balik saku celananya, kedua tangan kekar laki-laki itu sudah mengepal kencang.Bukan karena dia sakit hati dihina sebagai supir rendahan. Percayalah, meskipun usianya tidak lebih dari Nyonya Endang, tapi pengalaman hidupnya membuat bacotan perempuan tua norak ini hanyalah… abab. Arka marah karena kepeduliannya beron
"Nyonya mau nangis sampai kapan? Kita nggak jadi ke kantor Nyonya?”Pertanyaan datar Arka seketika menarik Gisel kembali ke realitas yang kejam. Wanita itu menyeka sisa air mata di pipinya dengan jemari yang gemetar, menatap kosong ke arah dasbor SUV mewah miliknya. Gema desahan menjijikkan Adrian dan wanita bernama Mila di telepon tadi masih terngiang jelas, meremukkan sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang istri.Arka tidak memaksanya menjawab. Dengan pengertian khas pria jalanan yang tahu kapan harus diam, dia menyalakan mesin mobil, membiarkan AC dingin meredam atmosfer kabin yang mencekam."Kita... pulang ke apartemen aja, Arka," ucap Gisel akhirnya dengan suaranya yang parau. "Aku mau batalin semua jadwalku hari ini.""Siap, Nyonya," jawab Arka pendek.Arka memilih mengemudikan mobil dengan kecepatan normal, memberikan ruang bagi Gisel untuk menata hatinya yang hancur lebur di kursi penumpang. Namun, ketenangan yang baru saja mereka bangun di dalam kabin langsung hancur ketika
Mendengar pertanyaan karyawan barunya itu, Gisel menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ketegangan tadi. Dia menatap Arka, lalu tersenyum tipis. "Semalam kamu bilang anakmu, Rania, ada di penitipan, kan? Antar aku ke sana. Aku mau lihat anakmu. Boleh?"Arka agak terkejut mendengar permintaan bos barunya, namun dia tetap mengangguk tenang dan segera membukakan pintu apartemen.Tiga puluh menit kemudian, mobil SUV mewah milik Gisel sudah terparkir di depan yayasan penitipan anak sederhana di pinggiran kota. Begitu masuk ke dalam ruang bayi, Arka langsung menghampiri box bayi tempat putrinya yang berusia empat bulan sedang terbangun dan mengerjap-ngerjap lucu."Rania, lihat siapa yang datang," bisik Arka, suaranya mendadak melunak drastis. Itu merupakan sisi lain dari sang mantan preman yang belum pernah Gisel lihat sebelumnya.Gisel melangkah mendekat, matanya berbinar melihat bayi mungil itu. Tanpa canggung, Gisel meminta izin untuk menggendong Rania
“Siapa kamu, hah?! Berani-beraninya kamu masuk menerobos ke dalam unit pribadi saya! Nggak ketuk pintu pula?!"Arka buru-buru menundukkan kepalanya, membungkuk sopan berkali-kali ke arah Adrian sembari memasang senyum ramah yang kelewat lebar, syarat akan sebuah topeng sempurna yang sengaja dipasang demi mengamankan posisinya di rumah itu."Aduh, maaf seribu maaf, Tuan. Kenalin, nama saya Arka. Saya ini sopir pribadi yang baru saja disewa dan mulai dipekerjakan Nyonya Gisel. Ini hari pertama saya, Tuan." “Berani sumpah. Saya tadi baru mau ngetuk pintu buat laporan tugas pertama saya hari ini, Tuan, tapi sialnya kaki saya malah nggak bisa diajak kompromi dan terpeleset duluan."Mendengar kata 'sopir baru', Adrian seketika mengalihkan pandangan matanya yang tajam ke arah Gisel, menuntut penjelasan langsung dari istrinya dengan raut wajah yang tidak suka. "Sopir baru? Gisel, apa-apaan lagi ini?! Kamu berani menyewa seorang sopir buluk dan nggak jelas asal-usulnya begini tanpa minta per






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.