เข้าสู่ระบบMelihat Rania, CEO Cantik itu diselingkuhi dan tak pernah diberi kepuasan batin, Arka sang Duda mendadak iba. Rania yang awalnya tak percaya, hanya bisa ternganga melihat skandal suaminya dan mertuanya sendiri. Lebih gilanya, sadar akan status duda Arka yang sayang anaknya, Rania menawari kesepakatan. "Suamiku selingkuh dan kamu butuh sosok ibu untuk anakmu. Jadikan aku istrimu dan berikan apa yang tidak bisa diberikan suamiku!"
ดูเพิ่มเติม“Arka, ini upahmu buat minggu ini. Makasih ya, kamu selalu royal dan nggak pernah hitung-hitungan tenaga di lapangan,” ucap Bu Marta, mandor proyek, sambil menyodorkan amplop cokelat tebal ke depan Arka.
Arka Malik, cowok berusia 35 tahun dengan tubuh tegap berbalut kaos pudar yang masih penuh debu semen, menerima amplop itu.
Wajah tampannya yang terkesan dingin khas anak jalanan mendadak melunak saat mengintip isinya. “Wah, Bu Marta. Ini kayaknya kebanyakan deh. Nggak salah hitung?”
Bu Marta tersenyum hangat, membenarkan posisi kacamata minusnya. “Gajimu tetap sama, Arka. Itu bonus kecil dari saya buat beli susu formula khusus anakmu, Rania. Bukan buat kamu. Sana cepetan beberes, kamu ada sif malam lagi di warung burger, kan?”
“Makasih banyak ya, Bu Marta. Semoga kebaikan Ibu dibalas berlipat ganda,” jawab Arka tulus.
Sebagai ayah tunggal bagi bayinya yang baru berumur 4 bulan, Arka tidak punya waktu mengeluh. Dua minggu lalu, Viona—istri Arka sekaligus ibu Rania, memilih kabur bersama pengusaha kaya luar kota.
Bermodal mengirim pesan singkat, lalu meninggalkan bayi mereka begitu saja di tempat penitipan, kekasih Arka itu minggat.
Alih-alih hancur, insting preman jalanan Arka yang sempat mati kini bangkit demi satu tujuan. Yaitu menghidupi putri kecilnya yang alergi susu formula biasa. Kondisi itu memaksa Arka harus membanting tulang di dua tempat sekaligus.
Pukul delapan malam tepat, atmosfer riuh kedai burger cepat saji tempat Arka kerja paruh waktu terasa menyesakkan.
“Arka, antaran terakhir ke Grand Tulip Hotel kamar 502. Habis ini kamu bisa langsung absen pulang, Bro!” teriak teman kerjanya sambil menaruh kantong pesanan.
Arka mengangguk cepat lalu menyambar jaketnya. Di sela lampu merah jalanan Metro City yang padat, tatapannya teralih ke layar ponsel. Menatap foto Rania yang menggemaskan sebagai wallpapernya, terulas senyum tipis di bibir tegasnya, membuat rasa lelahnya menguap begitu saja.
Begitu tiba di lorong sunyi lantai lima Grand Tulip Hotel, Arka mengetuk pintu kamar yang dituju. “Permisi, pengantaran makanan dari Burger-Maknyus.”
Pintu terbuka, menampilkan pria paruh baya berkepala botak dengan perut buncit berbalut kimono mandi. Wajahnya langsung berkerut masam menatap Arka. “Lama banget sih! Saya komplain ke tokomu, ya! Bintang 1, tau!” gertaknya kasar.
Arka menurunkan pandangan, menahan egonya demi pekerjaan. “Mohon maaf atas keterlambatannya, Pak. Ada pengalihan arah di jalan utama,” jawab Arka tenang.
Pria botak itu mendengus, tapi matanya yang menyipit tiba-kira mengenali Arka. “Tunggu... kamu Arka, kan? Kuli bangunan di proyek Metro-Hub? Kamu kroco yang sering dipuji Marta?”
Arka tertegun. Dia mengenali pria di depannya sebagai Pak Bram, manajer regional divisi konstruksi tempatnya bekerja pagi hari—atasan dari Bu Marta. “Benar, Pak Bram. Saya—”
“T-tolong... siapa pun... tolong saya...”
Sebuah rintihan lirih, parau, dan sarat ketakutan memotong kalimat Arka. Suara itu jelas berasal dari dalam kamar hotel.
Ekspresi Bram langsung berubah panik. Tubuh tambunnya bergerak cepat mencoba menutup pintu. “Bukan apa-apa. Ambil uang kembaliannya dan cepat pergi dari sini, brengsek!”
Namun, gerakan refleks Arka jauh lebih cepat. Sepatu bot kulitnya langsung menahan celah pintu sebelum tertutup rapat. Tenaga kuli Arka membuat dorongan panik Bram terasa tidak ada apa-apanya.
“Pak, ada cewek yang minta tolong di dalam. Bapak nggak dengar?” tanya Arka, matanya kini berkilat tajam penuh selidik.
“Saya suruh pergi ya pergi! Ini urusan pribadi saya, sialan!” Bram memaki, wajah botaknya memerah menahan pintu.
Prank!!!
Suara pecahan benda berbahan kaca terdengar dari dalam kamar, disusul sesosok wanita cantik berambut panjang yang berjalan terhuyung. Gaun malamnya yang berkelas tampak kusut dan berantakan, wajahnya pucat dengan peluh dingin menetes di pelipisnya.
Tatapan matanya yang sayu beradu dengan manik mata Arka. “Bawa... bawa saya pergi... dia menjebak saya... tolong...”
Melihat mangsanya hampir lepas, Bram berteriak murka pada Arka, “Minggat kamu! Dia istri saya dan ini urusan kami! Kalau kamu berani melangkah masuk, saya bikin mampus kamu!”
Wanita itu menggeleng lemah, meremas ujung jaket Arka yang menembus celah pintu dengan sisa tenaganya. “Bukan... saya bukan istrinya... tolong saya, Mas...”
Arka Malik tahu konsekuensinya. Pria botak di depannya ini memegang kendali atas mata pencaharian utamanya untuk membeli susu khusus Rania. Kalau dia masuk, besok dia tidak akan punya pekerjaan.
Tapi, melihat seorang wanita tidak berdaya yang kesuciannya terancam direnggut secara paksa, nalar maskulin dan harga diri Arka sebagai pria berprinsip mendadak bergejolak.
‘Persetan sama si Botak!’ pikir Arka.
Dengan satu hentakan bertenaga, Arka mendorong pintu sampai Bram terhuyung ke belakang. Arka melangkah masuk dengan santai, mengabaikan Bram, lalu dengan sigap menyelimuti tubuh wanita itu menggunakan jaket kerjanya sebelum mengangkat tubuh ringkihnya ke dalam gendongan ala bridal style.
“Arka bangsat! Kamu saya pecat dari proyek! Kamu saya pecat malam ini juga!” teriak Bram histeris, tidak berani mendekat karena melihat postur intimidatif Arka yang bak monster jalanan.
“Kamu bakal mengemis di jalanan, dasar gembel miskin nggak guna!”
Arka menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan senyum miring yang meremehkan. “Pecat aja, Pak Bram yang terhormat. Seenggaknya saya nggak perlu kerja di bawah perintah bajingan botak yang otaknya di antara dua paha.”
“Rambut aja ogah tumbuh di kepala Bapak, apalagi saya? Besok-besok fokus numbuhin rambut aja, Pak, jangan simpenan terus. Nggak takut sama bini di rumah?”
Arka kemudian “Mau saya viralin, nih?”
Wajah Bram seketika pucat pasi, mulutnya ternganga tanpa bisa membalas.
Dengan langkah tegap dan wibawa penuh, Arka berjalan menyusuri lorong hotel sambil mendekap erat wanita asing yang terus menggigil di pelukannya.
Langkah kaki Arka terasa ringan, meskipun dia tahu, malam ini hidupnya akan berubah total tanpa pekerjaan.
Suasana tegang di dalam lift hotel yang sunyi mendadak terasa canggung bagi Arka. Wanita asing yang ada di gendongannya ini perlahan mulai sadar akibat embusan AC yang dingin, membuat cengkeramannya di leher Arka sedikit mengendur.
Dengan jarak sedekat ini, wangi parfum mahal bercampur peluh dari tubuh si Nyonya mau tak mau langsung menusuk indra penciuman Arka—sebuah aroma kemewahan yang sangat asing bagi hidung seorang kuli bangunan.
Arka yang awalnya memasang tampang sangar bin intimidatif, perlahan mulai salah tingkah sendiri. Niatnya tadi memang murni kepahlawanan, tapi pergerakan perempuan itu mulai mengganggu.
Digendong dengan posisi seintim ini oleh pria asing rupanya membuat si wanita refleks bergerak gelisah hingga resleting gaun malamnya yang memang sudah agak melorot akibat ulah Pak Bram tadi, kini semakin merosot ke bawah.
‘Waduh, apaan tuh yang ngintip?’ spontannya merutuk dalam hati, ‘Ampun, Ndoro… kalau dilihat dosa, nggak dilihat mubazir!’
Sambil terus melangkah keluar dari lobi hotel dengan wajah sekaku papan tripleks proyek, Arka berdehem pelan untuk memecah keheningan, lalu berbisik dengan nada super lempeng tanpa dosa.
"Nyonya, maaf nih, mendingan pelukannya agak kencangan dikit deh. Itu... kismis Nyonya main mata ke saya terus."
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden kritis yang hampir merenggut nyawa Adrian. Setelah melewati masa pemantauan ketat di ruang perawatan intensif, kondisinya perlahan menunjukkan stabilitas yang signifikan. Tim medis akhirnya memberikan izin untuk memindahkan Adrian ke ruang perawatan biasa.Di dalam ruangan yang jauh lebih tenang tersebut, kedua orang tua Adrian telah berkumpul. Meskipun di masa lalu mereka dikenal sangat keras dan kaku dalam mendidik Adrian, melihat putra tunggal mereka terbaring lemah di antara batas hidup dan mati berhasil meruntuhkan seluruh dinding ego mereka. Sang ibu beberapa kali tampak mengusap air mata penyesalan sewaktu mendampingi di samping brankar.Gisel turut berada di ruangan itu, didampingi oleh sang ayah, Tuan Vale. Dengan kelapangan hati yang luar biasa, Gisel berupaya mengurai benang kusut masa lalu. Ia menceritakan seluruh kebenaran secara jujur, meluruskan kesalahpahaman besar terkait isu kemandulan yang di masa lalu sempat merusak hubunga
Arka menghentikan langkahnya tepat di hadapan Gisel dan Tuan Vale. Ia berusaha menyunggingkan senyum, namun di balik itu, matanya menyiratkan kepedihan yang luar biasa dalam. Ia harus terlihat tegar. Ia harus terlihat ikhlas melepas Gisel, meski setiap helaan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca yang melukai tenggorokannya."Pa," sapa Arka singkat, suaranya sedikit parau namun berusaha ia buat senormal mungkin.Tuan Vale memicingkan mata. Sebagai seorang ayah, instingnya sangat tajam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal—sebuah ketegangan yang kaku dan dingin di antara anak serta menantunya. Aura di antara mereka bukanlah aura pasangan suami istri yang baru saja melewati badai, melainkan aura dua orang asing yang terpaksa berdiri di satu garis yang sama."Arka, Gisel... Papa tanya sekali lagi, kalian benar-benar baik-baik saja? Papa merasa ada yang disembunyikan di sini," cecar Tuan Vale, matanya bergantian menatap Arka dan Gisel.Gisel menunduk, tangannya secara tida
Pagi-pagi sekali, Gisel sudah terbangun. Tubuhnya masih terasa begitu lemah, namun ia memaksa diri untuk membasahi wajah dan mengganti pakaiannya dengan baju bersih yang dibawakan oleh Arka dari apartemen.Setelah menyelesaikan urusan kamar mandi, Gisel melangkah pelan keluar ruangan bersama Arka di sampingnya. Tujuan mereka satu: ruang perawatan intensif tempat Adrian terbaring.Suara denting halus peralatan medis menyambut langkah mereka. Di atas brankar, Adrian tampak masih memejamkan mata, namun sapuan gerakan halus pada jemarinya menunjukkan respons yang kian intens."Adrian?" panggil Gisel lembut. Tangannya terulur, menggenggam jemari Adrian yang terasa begitu dingin."Hmm..." sebuah erangan tipis terdengar dari bibir pria itu."Hai... Kamu bisa mendengar suaraku, kan?" tanya Gisel lagi, mendekatkan wajahnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.Menatap wajah Adrian yang pucat pasi memicu denyut perih di dada Gisel. Pria itu hampir saja kehilangan nyawanya hanya karena kekejaman
"Gisel, kamu gak apa-apa? Apa yang kamu rasain sekarang, Sayang? Bagian mana yang sakit?"Arka langsung menyambar jemari Gisel dengan panik begitu melangkah mendekati brankar. Matanya tak lepas menatap bulir-bulir bening yang terus mengalir dari sudut mata istrinya, membasahi bantal tempat kepala Gisel bersandar.‘Arka, aku hamil... Aku sedang mengandung anakmu. Rasanya sekarang aku ingin melompat dari ranjang ini, memelukmu seerat mungkin, dan menangis sekuat tenaga buat meluapkan rasa syukurku.’‘Tapi semua itu gak mungkin lagi, Arka. Kamu yang sudah membawa hubungan kita sampai ke titik kritis ini. Kita gak bakal pernah bisa kembali seperti dulu…’Gisel hanya bisa menatap Arka dalam diam, membiarkan rahasia itu mengendap di balik rapatnya bibirnya.‘Ada Adrian dan Clarissa di tengah-tengah kita sekarang. Kita berdua gak mungkin menutup mata dan mengabaikan mereka cuma demi mempertahankan keegoisan hubungan kita…’‘Jadi gimana caranya aku memberitahu anak ini kalau kamu adalah ayahn






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น