Se connecter"Punya kamu... masih sempit banget!" ucap Erfan sambil terus mendorong masuk batangnya. "Ahh... itu gara-gara punya Tuan Muda terlalu besar. Ahh... pelan-pelan saja, agak sakit!" ringis Citra. Setelah batang besar itu masuk agak dalam, Erfan menghentak keras ~ sampai batang itu mentok di dalam. "Ahhh..." Citra mendesah keras, dengan tubuh yang menegang hebat, dan mata membelalak. Erfan memejamkan matanya ~ fokus menikmati sensasi yang diberikan apem wanita itu ke batangnya. "Tuan Muda... dalam banget, sampai nabrak dinding rahimku," ucap Citra dengan suara serak. Mata wanita itu perlahan tertutup dan tubuhnya kembali rileks. Erfan membuka matanya, lalu melirik Tuan Muda Wings. "Punya pacarmu ini sangat nikmat. Sayangnya kamu gak akan bisa menikmatinya lagi," ucap Erfan. Tuan Muda Wings tak menjawab, dia hanya menatap Erfan dengan penuh kebencian. Citra membuat matanya, lalu dia berkata. "Tuan Muda, ayo mulai!" Erfan menatap Citra. "Mau main keras mau pelan?" "Terserah Tuan
Erfan menarik bibirnya dari ciuman panas itu. "Kamu wanita kesayangan dia, yah?" tanya Erfan. "Iya. Walau dia suka bercinta sama banyak wanita, tapi dia sangat mencintai aku. Bahkan, dia sangat memanjakan aku!" balas Citra. Erfan menoleh ke Tuan Muda Wings. "Terus tonton, biar kamu tahu, bagaimana cara aku menikmati wanita kesayanganmu ini." "Erfan, Citra, kalian pasti mati menyedihkan!" Tuan Muda Wings mengutuk. "Aku gak takut!" balas Erfan. "Tuan Muda, ayo ciuman lagi! Ciuman sama Tuan Muda enak banget," ucap Citra dengan nada manja. "Abaikan dia!" Mereka berdua kembali berciuman dengan panas, penuh gairah. Bibir mereka saling mengisap ganas dan lidah mereka saling bertarung sengit. Tangan Erfan meraih payudara wanita itu, lalu dia meremas-remasnya dengan keras. "Mmm... mmm..." desahan tertahan keluar dari mulut Citra dengan tubuh yang sedikit bergetar.Tangan Erfan masuk ke dalam celah keras dress Citra, lalu tangannya itu bergerak mengeluarkan kedua payudara Citra dari san
"Keluarga Wings, pernah... pernah membakar satu desah, yang ada di pinggir ibu kota, buat... di bangun pabrik. Ayahku juga... menyuruh orang membunuh para polisi, yang menyelidiki masalah kebakaran itu," ucapan Tuan Muda Wings terhenti. "Cepat, katakan semuanya!" bentak Erfan. "Sudah... cuma itu!" ucap Tuan Muda Wings. "Jangan bohong! Cepat katakan... atau aku kuliti kau lagi!" Karena desakan dan ancaman, akhirnya Tuan Muda Wings mengatakan kembali keburukan keluarganya. "Pamanku pernah memerkosa pegawai perusahaannya sampai hamil, lalu dia membunuhnya. Narkotika yang beredar di ibu kota ini, semuanya berasal dari Keluargaku. Ayahku juga... banyak memasukkan mata-mata ke militer negara, untuk mengetahui kekuatan militer dan rahasia militer, yang nantinya di jual kepada Keluarga Rex Negara A." "Siapa saja mata-mata itu? Katakan!" perintah Erfan. Tuan Muda Wings menyebutkan setiap
"Nyonya... goyang yang bagus! Biar anakmu itu menikmati permainanmu," ucap Erfan dengan nada main-main. Wanita itu mulai kegoyangan pinggulnya. Terlihat batang Rizal, keluar masuk di dalam apem itu. "Mmm... mmm... mm.." Hanya suara desahan-desahan lembut yang keluar dari mulut wanita itu. Rizal hanya bisa pasrah di bawah sana. Namun, tak dapat di pungkiri, dia masih merasakan rasa nikmat yang di alirkan batangnya. Meski begitu, tetap saja rasa sakit yang lebih dominan. Erfan menghembuskan asap rokok. "Rizal... kau harus berterima kasih kepadaku. Sebelum mati, kau menikmati kenikmatan dulu," ucap Erfan dengan nada main-main. Goyangan wanita itu semakin lama semakin lincah. Sehingga, suara benturan kulit pun tercipta di sana. "Mantap sekali! Bagus... terus!" ucap Erfan dengan nada memuji. Suara-suara itu mungkin terdengar indah bagi orang lain. Namun, tida
Setibanya di sana, suami Viona dan keluarganya langsung berbicara dengan putus asa. "Tuan Muda, tolong... jangan sekejam ini. Kasih aku kesempatan!" ucap Rizal, suami Viona. "Hmm... aku gak bisa memberi kesempatan kepada musuhku," ucap Erfan sambil menghampiri Rizal. Dia berjongkok di hadapan pria itu, lalu menghantam kan botol anggur ke lantai. PRAKK! Botol itu pecat, hanya menyisakan pegangan atas botolnya saja. Terlihat, ujung bawahnya lancip, itu pastilah sangat tajam. Semua keluarga Rizal pucat pasi, dengan tubuh yang bergetar hebat. "Tuan Muda... anda... anda mau apa," ucap ayahnya Rizal. Erfan tak menjawab. Dia menjambak Rizal, lalu menghantamkan wajahnya ke area pecahan kaca botol. KRASS! "Arghhh..." Rizal berteriak kesakitan, saat serpihan botol itu menancap ke wajahnya. Melihat kekejaman itu, semua orang di s
Beberapa saat kemudian, Erfan sampai di sebuah bangunan tinggi, yang terlihat dari luar tampak terbengkalai. Namun, saat Erfan masuk ke dalam, terlihat di dalam bangunan itu banyak sekali orang.Saat melihat Erfan, orang-orang itu langsung menyapanya dengan hormat."Tuan Muda," ucap mereka serentak."Gak perlu begitu sopan!" balas Erfan sambilmelambaikan tangannya."Tuan Muda, para bajingan itu sudah di tempat eksekusi," ucap seorang pria bertubuh tinggi kekar."Oke. Remon sama yang lainnya ada di sini?" tanya Erfan."Mereka semua ada di sana, lagi minum-minum," balas pria itu.Erfan mengangguk, lalu dia melangkah pergi ke ruangan yang di maksud pria kekar tadi.Setibanya di sana, terlihat belasan orang yang sedang berlutut, dengan tubuh yang di ikat kuat. Semua orang itu tampak menyedihkan, dengan luka memar yang memenuhi wajah mereka.Dari semua orang itu, terus meronta dan berteriak meminta di lepaskan."Apa maksudnya ini? Aku gak pernah menyinggung kalian, kenapa kalian melakukan
Matahari tenggelam, datanglah kegelapan malam. Erfan dan para wanitanya menunggu kabar dari Bayu dengan penuh kesabaran.Para gadis Shara, Diva, dan Yesi, sedang fokus ke laptop mereka masing-masing. Mereka sedang mencatat pembelajaran yang mereka dapat tadi saat kunjungan.Dosen Ratna memperhat
Beralih ke tempat Shara dan wanita lainnya berada. Para wanita itu, terlihat sedang berjalan beriringan dengan mahasiswa lainnya. Mereka mengikuti seorang staf pergi ke suatu tempat dia dalam perusahaan tersebut. Shara berjalan sambil mengobrol dengan Diva. Seperti biasa yang mereka bahas hanyalah
"Sayang, malam ini aku tidur sama kamu yah!" ucap Yesi, karena malam ini gilirannya.Erfan tersenyum, lalu menarik gadis cantik dan seksi itu ke pangkuannya."Malam ini giliranmu kan?" goda Erfan."Iya. Kau sudah menahannya, kamu harus membuatku puas!" balas Yesi dengan tegas."Tentu saja, aku akan
Seorang wanita dewasa cantik berpenampilan anggun, berjalan menghampiri Erfan. Senyuman indah terlukis di bibir merah wanita itu. Senyumannya itu membuat siapa saja yang melihatnya pasti sulit untuk melupakannya. "Tuan Muda! saya Rita, manajer PT Coleri," ucap wanita cantik itu dengan sopan. "Ha