Se connecterPerjalanan kembali dari rumah sakit berlangsung dalam keheningan yang amat menenangkan.Edgar membimbing Selina melangkah masuk ke dalam mansi utama dengan tingkat kehati-hatian yang masih sama protektifnya.Usai memastikan istrinya merebahkan diri di atas ranjang kamar tidur utama, berselimut sutra hangat dengan bantal penopang yang baru saja tiba dari Italia, Edgar mendaratkan kecupan lembut di kening Selina hingga wanita itu terlelap dalam tidur siang yang nyenyak.Namun, kedamaian di mansi itu tidak bertahan lama.Saat Edgar melangkah turun menelusuri tangga pualam, ponsel khusus berkode enkripsi tinggi di saku jasnya bergetar hebat secara berkali-kali.Edgar merogoh benda tersebut, menatap layar yang menampilkan nama Samuel disertai tanda bahaya berwarna merah."Bicaralah," perintah Edgar dingin seraya melangkah menuju ruang kerjanya di lantai bawah."Edgar, kau harus segera ke kantor sekarang," suara Samuel di seberang telepon terdengar begitu rapat, tanpa ada nada celetukan jen
Mobil sedan mewah keluaran Eropa milik Edgar membelah jalanan utama kota dengan kecepatan yang teramat stabil.Mengabaikan keberadaan sopir pribadinya, Edgar memilih untuk memegang kemudi sendiri.Pria penguasa bursa saham itu mengemudikan kendaraannya dengan tingkat kehati-hati yang konyol, menjaga jarak minimal sepuluh meter dari mobil di depannya dan berbelok dengan kelembutan yang luar biasa seolah-olah membawa porselen yang paling ringkih di dunia."Edgar, kita ini sedang naik mobil sedan berkategori keselamatan tertinggi, bukan sedang mendorong kereta bayi di atas kerikil," celetuk Selina seraya menahan tawa dari kursi penumpang depan."Jalanan kota penuh dengan pengemudi tak bertanggung jawab, Selina," sahut Edgar kaku tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca depan.Kedua tangannya mencengkeram kemudi di posisi jam sembilan dan tiga secara presisi. "Satu guncangan keras bisa memicu kontraksi dini."Selina hanya menggelengkan kepala dengan senyum mengembang, memilih menikmati pe
Sinar matahari pagi menembus celah tirai sutra kamar tidur utama, membiaskan pendar keemasan di atas ranjang berukuran king-size.Edgar menggeliat pelan, kelopak matanya berkedip berat saat kesadarannya perlahan terkumpul.Tubuhnya terasa agak pegal, efek dari percumbuan intens dan posisi terlentang dalam kungkungan dominan Selina semalam. Napasnya masih menghela panjang, menyisakan sisa-sisa rasa lelah yang wajar.Namun, saat lengan kekarnya terulur untuk merengkuh tubuh istrinya, area di sampingnya sudah kosong dan dingin.Edgar seketika terbelalak kaget. Kepanikan refleks menyambar benaknya. Ia melompat duduk di tepi ranjang. "Selina?!""Kenapa berteriak pagi-pagi begitu, Edgar?"Suara renyah nan jernih itu terdengar dari arah sofa santai di dekat jendela. Edgar menoleh cepat dan seketika membeku.Di sana, Selina duduk bersilang kaki dengan anggun dalam balutan gaun katun longgar berwarna biru muda.Wajah cantiknya tampak begitu segar, merona alami, dan dipenuhi pendar energi gembi
Napas Edgar tertahan di tenggorokan.Sorot mata elangnya yang biasa memancarkan dominasi mutlak kini meredup oleh campur aduk antara rasa terperanjat, pendar gairah yang membakar, dan kecemasan liar yang mendadak menyerang benaknya.Pria penguasa itu refleks mengulurkan kedua tangannya yang kekar, mencengkeram lembut kedua sisi pinggul Selina yang kini bertengger anggun tepat di atas panggul tegapnya."S-Selina. Tunggu, Sayang," bisik Edgar dengan suara bariton yang terputus-putus, dadanya yang telanjang naik-turun memburu."Posisi ini… kau sedang hamil tua. Jangan bertindak nekat, aku takut gerakanmu membahayakan anak kita."Selina tidak sedikit pun menyurutkan posisinya.Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang teramat manis, penuh godaan, dan sarat akan rasa percaya diri mekar sempurna di wajah mewahnya.Rambut panjangnya yang terurai mengacak di bahu bergoyang pelan seiring napasnya yang hangat menetes di dada bidang Edgar."Dokter sudah bilang kandungan aku sangat kuat dan posisi i
Permintaan bermanja yang meluncur lirih dari bibir Selina seketika menyulut pendar kehangatan yang amat pekat di mata elang Edgar.Senyuman tipis yang teramat memikat terbit di wajah tampannya. Pria penguasa itu merendahkan posisinya, menyatukan kening mereka seraya mengusap lembut pipi Selina yang mulai merona hangat."Apapun yang kamu inginkan, Sayang. Malam ini seluruh tubuh dan jiwaku milikmu," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang serak, sarat akan gairah yang terikat rapi oleh kelembutan.Dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh penghormatan, jemari tegap Edgar merayap ke tali gaun tidur sutra berwarna krem yang melekat di tubuh Selina.Ia melucuti kain halus itu melintasi bahu mulus istrinya, membiarkan gaun tersebut meluncur turun tanpa tergesa-gesa.Di bawah pendar redup lampu tidur bernuansa warm gold, tubuh polos Selina terekspos sempurna, begitu bersinar, ranum, dan memikat di usia kehamilan tuanya.Edgar menahan napas sejenak, mengagumi keindahan istrinya den
Sensasi tendangan balasan dari dalam perut Selina masih menyisakan getaran hangat yang meluap-luap di dada Edgar.Pria penguasa bursa saham itu tidak langsung berdiri.Dengan ketelitian dan ketenangan yang bertolak belakang dari sosoknya yang dingin di meja direksi, Edgar melonggarkan ikatan dasinya, melepas kancing teratas kemejanya, lalu melipat lengan kemeja putih mewahnya hingga sebatas siku."Sudah cukup duduknya, Sayang. Kakimu mulai terlihat membengkak lagi," ujar Edgar dengan suara bariton rendahnya yang teramat lembut.Tanpa menunggu persetujuan, Edgar membimbing Selina secara perlahan untuk menyandarkan punggungnya di sudut sofa panjang yang paling empuk.Dengan kehati-hatian ekstra, ia mengangkat kedua kaki Selina yang sedikit membengkak khas usia kehamilan trimester akhir, lalu meletakkannya di atas pangkuannya sendiri."Edgar, tidak usah. Kaki aku kotor, nanti kemeja mahalmu ternoda," bisik Selina canggung, hendak menarik kembali kakinya.Edgar menahan pergelangan kaki Se
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar







