ANMELDENJam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.
Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara bariton yang berat dan dalam memecah kesunyian, membuat jantung Selina mencelos hingga ke lambung.
“Belum tidur, Selina?”
Selina tersentak hebat, lalu tubuhnya berputar cepat ke arah sudut ruangan di mana sebuah mini bar bernuansa kayu gelap berada. Di sana, di atas salah satu kursi tinggi, duduk Edgar Anthony.
Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang kancing teratasnya sudah terbuka, yang berhasil memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Di bawah temaram lampu gantung mini bar, siluet wajah Edgar tampak begitu tegas, dingin, dan mengintimidasi.
Selina meremas ujung kaus tidurnya yang longgar, mencoba menguasai rasa gugup yang mendadak menyerang. “A-apa yang sedang Paman lakukan di sini?” tanya Selina dengan suara setengah berbisik, takut suaranya akan menggema hingga ke lantai atas.
Edgar tidak langsung menjawab. Jari-jarinya yang panjang bergerak memutar perlahan gelas kristal di genggamannya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan, beradu dengan cairan amber pekat di dalamnya. P
ria itu mengangkat gelas berisi wiski tersebut ke arah Selina, memperlihatkannya sekilas sebelum kembali menatap lurus ke dalam manik mata sang gadis.
“Mencari ketenangan,” jawab Edgar pendek, lalu meletakkan kembali gelasnya ke atas meja bar, dan menopang dagunya dengan satu tangan. “Sekarang aku yang bertanya, apa yang sedang dilakukan istri keponakanku di dapur pada jam seperti ini?”
Selina menelan saliva dengan susah payah sebelum melangkah mendekati dispenser. “Aku hanya haus, Paman. Aku lupa membawa sebotol air ke dalam kamar tadi malam,” lirihnya sembari menuangkan air ke dalam gelas kaca.
Dengan gerakan cepat, Selina meneguk air putih itu hingga tandas, berharap rasa dingin dari air tersebut bisa meredakan debaran jantungnya yang kian tak beraturan akibat tatapan intens Edgar.
Rasa canggung dan kilasan memori saat dia tak sengaja menarik handuk Edgar dua hari lalu kembali berputar di kepalanya, membuat wajah Selina perlahan memanas.
Setelah meletakkan gelas kosongnya di atas konter, Selina buru-buru membalikkan badan. “Kalau begitu, aku permisi kembali ke kamar dulu, Paman.”
Namun, baru saja Selina mengambil satu langkah, sebuah gerakan kilat menghentikannya. Telapak tangan Edgar yang besar, hangat, dan kokoh mendadak mencengkeram pergelangan tangan Selina dari belakang. Sentuhan fisik yang tiba-tiba itu mengirimkan sengatan listrik yang aneh ke seluruh tubuh Selina.
Selina mematung, pandangannya perlahan turun, menoleh ke arah tangan Edgar yang tengah menggenggam erat pergelangan tangannya. Kulit kasar pria itu terasa begitu kontras dengan kulit lembutnya yang bergetar. Kepanikan seketika melanda pikiran Selina.
“P-paman, tolong lepaskan,” bisik Selina dengan nada memohon, matanya bergerak gelisah menatap ke arah pintu keluar dapur. “Aku mohon, lepaskan. Aku takut ... aku takut jika Ibu atau Bibi Gretha tiba-tiba turun dan melihat kita seperti ini.”
Mendengar nama dua wanita itu disebut, Edgar justru terkekeh rendah. Sebuah tawa sinis yang terdengar sangat seksi namun berbahaya. Cengkeramannya pada tangan Selina tidak melonggar sedikit pun, justru terasa semakin mantap.
“Kenapa kau harus takut pada mereka?” tanya Edgar, nadanya beralih menjadi dingin dan tajam. Pria itu menegakkan tubuhnya, menatap punggung Selina yang tegang.
“Toh, seingatku, mereka berdua tidak pernah sedikit pun menghargai atau menganggapmu sebagai manusia di rumah ini. Jadi, kenapa kau masih memedulikan pandangan mereka?”
Deg.
Kata-kata Edgar menghantam tepat di ulu hati Selina. Gadis itu menelan salivanya dengan pelan, merasa seluruh luka batinnya yang coba dia sembunyikan kembali dikuliti oleh pria di hadapannya ini. Kenyataan bahwa Edgar menyadari posisinya yang menyedihkan membuat Selina merasa telanjang di depan sang paman.
Edgar perlahan menarik tangan Selina, memaksa gadis itu untuk memutar tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan, meski Selina masih menundukkan kepalanya, menolak menatap mata elang itu.
“Aku tahu masalah apa yang sedang kau hadapi di rumah neraka ini, Selina,” ujar Edgar dengan suara rendah dan berbisik bagai desau angin malam yang memikat.
“Kau harus segera memberikan keturunan untuk keluarga Theodore jika ingin ayahmu tetap aman, bukan?”
Selina merasa napasnya tercekat. Dia tidak menyangka Edgar akan mengetahui detail ancaman Luna di ruang tengah tadi siang. Tanpa bisa ditahan, rasa sedih yang mendalam kembali merayapi dadanya. Selina mengangguk dengan sangat pelan, membiarkan satu helai rambutnya jatuh menutupi pipinya yang pias.
“Ya,” lirih Selina. Karena rasa frustrasi yang sudah menumpuk di puncak kepala, pertahanan akal sehatnya mendadak runtuh.
“Tapi ... tapi bagaimana mungkin aku bisa hamil jika Rafael sendiri enggan menyentuhku sama sekali? Mana mungkin rahimku terisi jika suamiku sendiri tidak sudi menatapku!”
Deg!
Selina tersentak hebat, matanya seketika membola sempurna saat menyadari apa yang baru saja keluar dari bibirnya.
Dia keceplosan! Rahasia paling memalukan dalam rumah tangganya yang dia jaga setengah mati, kini mengudara begitu saja di depan paman suaminya.
Selina dengan refleks langsung mengangkat tangannya, menutup mulutnya sendiri dengan rapat sembari menatap Edgar dengan pandangan penuh horor dan penyesalan.
Di hadapannya, Edgar Anthony tidak meledak marah. Pria itu justru menaikkan satu alis tebalnya perlahan. Sepasang matanya yang sehitam obsidian berkilat tajam, memancarkan ketertarikan yang begitu dalam dan berbahaya. Edgar tampak sangat terkejut sekaligus puas mendengar pengakuan tak terduga dari bibir manis istri keponakannya itu.
“Oh?” Edgar bergumam rendah, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh arti. “Jadi, keponakanku yang bodoh itu belum pernah menyentuhmu sama sekali selama satu bulan ini?”
“A-aku ... bukan itu maksudku, Paman! Aku harus kembali ke kamar!” Selina panik setengah mati.
Dia menyentak tangannya dengan kuat, mencoba melepaskan diri dari kungkungan Edgar. Dia harus lari dari dapur ini sekarang juga sebelum situasi berubah menjadi semakin tidak terkendali.
Namun, kekuatan Selina tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan otot-otot kekar milik Edgar. Alih-alih terlepas, tangan Edgar yang satu lagi justru bergerak cepat mencengkeram pinggang Selina, lalu menarik tubuh mungil gadis itu dengan satu sentakan kuat.
Bruk!
Selina terpekik pelan saat tubuhnya menabrak dada bidang Edgar yang keras laksana batu karang. Jarak di antara mereka seketika mengikis habis hingga tak bersisa.
Selina bisa merasakan deru napas Edgar yang hangat dan beraroma wiski menerpa permukaan wajahnya, sementara detak jantung pria itu berdegub konstan dan kuat di balik kemeja hitamnya.
Dalam posisi yang begitu intim itu, kedua mata mereka saling bertatapan lurus. Edgar menundukkan kepalanya sedikit, mengunci netra Selina yang dipenuhi ketakutan dan getaran hasrat yang mulai tersulut, sementara cengkeramannya di pinggang Selina terasa kian posesif, seolah enggan membiarkan mangsanya lepas lagi.
“Beritahu aku lebih jelas, Selina,” bisik Edgar.
Tepat setelah sidang keluarga yang memuakkan di ruang tengah itu berakhir, Edgar tidak membiarkan Selina berada di rumah utama Theodore satu detik pun lebih lama.Edgar tahu betul tabiat licik Thomas dan amarah buta Rafael yang bisa sewaktu-waktu membahayakan keselamatan Selina serta janin di dalam rahimnya.Tanpa membuang waktu, Edgar menggandeng tangan Selina menuju kamar atas, menyambar tas serta beberapa barang pribadi milik Selina secara cepat, lalu menuntunnya kembali turun menuju pintu keluar.Di halaman depan kediaman Theodore, Luna berdiri mengadang dengan wajah merah padam akibat histeria yang belum reda."Edgar! Kau tidak bisa membawa wanita murahan itu pergi begitu saja!" teriak Luna histeris, melangkah maju berusaha menghentikan langkah mereka."Dia masih istri sah Rafael secara hukum! Apa kau sudah tidak punya malu membawa kabur istri keponakanmu sendiri?!"Edgar sama sekali tidak menghentikan langkahnya.Dengan satu ges
Atas perintah mutlak dari Anthony, seluruh anggota keluarga dikumpulkan tanpa terkecuali.Thomas berdiri di sisi kanan meja dengan raut wajah cemas, sementara Luna duduk kaku di sofa dengan bibir terkatup rapat.Di samping ibunya, Rafael duduk bersedekap, matanya terus bergerak gelisah menantikan tujuan pengumpulan mendadak yang diinstruksikan langsung oleh sang patriark tua tersebut.Namun, suasana tenang yang tegang itu seketika pecah saat langkah kaki terdengar dari arah lorong samping.Selina melangkah masuk ke dalam ruangan.Namun kali ini, dia tidak lagi berjalan mengekor di belakang Rafael sebagai seorang istri yang tertindas.Selina berjalan tegap, berdampingan rapat di sebelah Edgar.Yang membuat seluruh ruangan terperanjat kaget adalah fakta bahwa Edgar tanpa ragu sedikit pun mengunci rapat jemari Selina di dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat, memperontonkan keintiman dan perlindungan mutlak tersebut tepat di had
"Duduklah, Edgar," ujar Anthony usai meminta Edgar untuk datang menemuinya di ruang kerja.Edgar melangkah masuk tanpa keraguan sedikit pun.Pria itu menyilangkan tangannya di balik punggung, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di sofa kulit di hadapan sang ayah.Raut wajah tampannya tetap datar, tak memancarkan sedikit pun kepanikan meskipun dia tahu betul alasan di balik panggilan mendadak ini.Anthony memajukan tubuhnya, menatap Edgar dengan pandangan mata elang yang amat menekan."Tangan kananku baru saja memberikan laporan yang sangat menarik dari rumah sakit kota. Ada kejanggalan pada aktivitas medis Selina beberapa hari lalu. Dia mendatangi spesialis kandungan secara diam-diam."Anthony sengaja menghentikan kalimatnya sejenak, memberikan tekanan psikologis yang berat untuk menguji ketahanan mental anak laki-lakinya."Aneh sekali, bukan? Selina pergi tanpa didampingi Rafael. Dan yang lebih menarik lagi, kau menunjukkan perhatian yang terlalu jauh atas urusan rumah tangga mereka bela
Kepanikan luar biasa menyelimuti Thomas dan Rafael di dalam ruang kerja pribadi mereka.Keputusan Anthony membekukan seluruh aliran dana operasional Theodore Group telah menghentikan denyut finansial mereka.Tagihan utang pribadi, biaya investasi yang gagal, dan kebutuhan gaya hidup yang mendesak membuat kedua pria itu terdesak ke ujung jurang kebangkrutan."Kita tidak punya waktu lagi, Rafael!" bentak Thomas seraya menghentakkan tangannya ke atas meja kerja.Wajah paruh bayanya memerah padam."Bank menolak pengajuan kredit atas nama Theodore Group karena audit sialan dari Kakekmu itu. Kita harus mencari jaminan lain hari ini juga!"Rafael mengepalkan tangannya dengan gusar, memijat keningnya yang berdenyut nyeri."Tapi aset atas nama kita semua sudah dibekukan, Ayah. Tidak ada lagi aset bersih yang bisa kita pakai!"Thomas menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum licik yang teramat dingin."Kau lupa pada bisnis manufaktur milik ayah Selina? Perusahaannya sekarang sudah stabil, arus
Pagi hari di kediaman utama Theodore disambut oleh atmosfer yang teramat berat dan dingin.Sinar matahari yang menembus kaca jendela ruang makan mewah tidak mampu mencairkan suasana kaku di antara para penghuninya.Anthony Theodore duduk di kepala meja makan, memimpin suasana dengan wajah tua yang keras dan penuh dominasi.Sementara Selina duduk di salah satu kursi kayu berukir di samping Rafael.Wajah Selina tampak agak pucat, dan dia harus berjuang keras menahan gejolak mual hebat yang tiba-tiba membumbung tinggi di dasar perutnya.Aroma olahan daging panggang dan mentega di atas meja makan terasa sangat menyengat, memicu gejala morning sickness yang menusuk kerongkongannya.Selina mengepalkan jemarinya di balik serbet kain di pangkuannya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat demi meredam gejolak di lambungnya agar tidak memancing kecurigaan orang-orang di ruangan itu.Di seberangnya, Rafael duduk dengan raut wajah yang sangat keruh.Lingkaran hitam membingkai matanya, akibat stres bera
Edgar masih berdiri mematung di tengah ruangan temaram itu.Manik mata elangnya terpaku pada kertas cetakan hitam-putih di dalam genggamannya.Di sana, di bawah nama Selina yang tertera jelas, terdapat satu titik kecil sebesar biji jagung.Angka yang tertera di sampingnya seolah menghantam kesadaran Edgar dengan kekuatan penuh: usia kandungan tujuh minggu.Edgar menghitung dengan cepat di dalam kepalanya.Tujuh minggu yang lalu. Itu adalah malam pertama di mana dia pertama kali menyeret Selina ke dalam lingkarannya, malam di mana dia menanamkan benihnya tanpa ampun di rahim wanita itu.Janin ini adalah buah dari sentuhan pertamanya.Seketika itu juga, raut amarah dingin yang tadinya memenuhi wajah Edgar luntur total.Pendar matanya berubah drastis.Kilat posesif yang teramat pekat, bercampur dengan kelembutan yang tak pernah dia tunjukkan kepada siapa pun sebelumnya, menguasai seluruh raut wajah tampannya.Edgar mendongak, menatap Selina yang masih gemetar di hadapannya.Hiks...Isaka
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan







