LOGINSelina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.
Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.
Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil memainkan ponsel dan Gretha yang bersedekap dada dengan wajah angkuh.
Belum sempat Selina duduk, suara melengking Luna sudah lebih dulu menggelegar, memotong keheningan ruangan.
“Dengar, Selina! Aku memanggilmu ke sini karena kesabaranku sudah habis!” Luna menunjuk wajah Selina dengan jarinya yang dihiasi cincin berlian besar.
“Jangan menunda-nunda kehamilan lagi! Segera hamil dan berikan pewaris untuk keluarga Theodore. Jika sampai bulan depan rahimmu itu masih kosong, aku akan menyeret ayahmu kembali ke penjara hari itu juga!”
Selina terperanjat kaget. Wajahnya seketika pias, kehilangan seluruh rona darahnya. Tanpa sadar, dia melangkah maju dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap sang ibu mertua dengan mata yang berkaca-kaca.
“Ibu, aku mohon ... jangan berikan ancaman seperti itu. Tolong kasihanilah ayahku,” pinta Selina dengan suara yang bergetar hebat. Jantungnya bertalu-talu membayangkan sang ayah yang sudah renta harus mendekam di balik jeruji besi yang dingin.
Luna mendengus sinis, sama sekali tidak tersentuh oleh air mata menantunya.
“Kasihan? Kau meminta kasihan padaku? Sadar diri, Selina! Suamiku sudah melunasi seluruh utang ayahmu yang menggunung itu sampai bersih. Lalu, kenapa sekarang kau merasa berat hati untuk memberikan kami seorang cucu? Kau ingin menjadi parasit gratisan di rumah ini, hah?”
Selina terdiam seribu bahasa. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin, menatap jemarinya yang saling bertautan dan meremas satu sama lain dengan gelisah. Dadanya terasa begitu sesak hingga untuk bernapas pun terasa menyakitkan.
Di dalam hatinya, Selina menjerit pahit. ‘Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Bagaimana bisa rahimku terisi, sementara Rafael saja enggan menyentuhku?’
Selama satu bulan penuh pernikahan mereka berjalan, kamar tidur mewah itu tak lebih dari sebuah sangkar penyiksaan bagi Selina. Mereka memang tidur di dalam satu ruangan yang sama, di atas ranjang King Size yang empuk.
Namun, Rafael memperlakukannya seolah-olah dia adalah wabah penyakit yang menular. Jangankan melakukan hubungan suami istri, menyentuh ujung jarinya atau memeluk tubuhnya dalam tidur pun Rafael tidak pernah.
Pria itu selalu membelakanginya, menyisakan jarak dingin yang tak tertembus di antara mereka.
Namun, Selina tidak punya keberanian untuk membongkar aib itu di depan Luna dan Gretha. Dia tahu, jika dia mengadu, Rafael pasti akan mencari cara yang lebih kejam untuk menyiksanya.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Selina mendongak perlahan, mencoba menguasai suaranya yang serak. “A-aku ... aku akan berusaha, Ibu,” lirihnya sambil melirik sekilas ke arah Rafael yang duduk di sofa seberang.
Pria itu tampak sangat santai. Rafael meliriknya dengan sudut mata yang dingin, mengunyah permen karet dengan rahang yang bergerak konstan, seolah-olah perdebatan yang mempertaruhkan nyawa ayah Selina ini hanyalah sebuah tontonan komedi yang menjemukan. Tidak ada beban, tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajah tampannya.
Mendengar jawaban Selina, Gretha yang sejak tadi menyimak langsung menimpali dengan nada suara yang tak kalah sinis. Dia menoleh ke arah keponakannya.
“Rafael, kau juga harus lebih tegas pada perempuan ini. Suruh dia minum jamu penyubur atau obat apa pun yang diperlukan. Jangan biarkan dia santai-santai sementara keluarga kita menunggu kepastian!”
Rafael menghela napas kasar. Dia lalu melempar ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi brakk yang cukup keras, membuat Selina tersentak mundur satu langkah. Rafael menegakkan tubuhnya, menatap ibunya dan Gretha dengan wajah yang sengaja dibuat frustrasi.
“Ibu, Bibi, kalian jangan hanya menyalahkanku!” tuduh Rafael dengan suara lantang, matanya berkilat penuh kelicikan saat menunjuk tepat ke arah Selina.
“Kalian tidak tahu saja bagaimana tabiat asli gadis kampung ini di dalam kamar. Dialah yang sering menolakku jika aku sedang menginginkannya! Dia selalu beralasan lelah setelah bekerja, lalu tidur membelakangiku!”
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh sendi di tubuh Selina mendadak lemas. Matanya membola sempurna menatap suaminya sendiri.
Rasa tidak percaya dan syok yang luar biasa menghantam dadanya hingga dia merasa sulit untuk bernapas. Bagaimana bisa ada manusia sekejam Rafael?
Pria itu yang menolaknya, pria itu yang menghinanya jijik, dan sekarang pria itu memutarbalikkan fakta dengan begitu keji di depan keluarganya sendiri.
“Rafael ... apa yang kau katakan? Bukan begitu—”
“Tutup mulutmu, Selina!” potong Luna dengan lengkingan yang memekakkan telinga. Wajah wanita paruh baya itu memerah padam akibat amarah yang tersulut oleh kebohongan putranya.
Luna bangkit berdiri dari sofanya, melangkah cepat dan langsung mencaci maki Selina tepat di depan wajahnya. “Kurang ajar sekali kau! Sudah miskin, tidak tahu diuntung! Berani-beraninya kau menolak anakku? Kau pikir kau ini ratu di rumah ini, hah?”
“Dasar perempuan tidak tahu diri!” Gretha ikut memanasi suasana dengan menatap Selina dengan pandangan paling menjijikkan yang bisa dia tunjukkan.
“Masuk ke keluarga Theodore itu sebuah anugerah untuk orang melarat sepertimu. Harusnya kau melayani Rafael layaknya pelacur yang memohon belas kasihan, bukan malah berlagak jual mahal!”
Hinaan demi hinaan beracun itu menghujam bertubi-tubi, menguliti habis seluruh harga diri yang coba Selina pertahankan sebulan ini. Rasanya Selina ingin menjerit sekuat tenaga di depan muka mereka semua.
Dia ingin berteriak bahwa anak laki-laki kebanggaan mereka adalah seorang pembohong besar yang bahkan memintanya melacurkan diri dengan pria lain demi harta warisan!
Namun, sekeras apa pun badai di dalam dadanya, Selina tahu dia tidak memiliki kekuatan apa pun di rumah ini. Satu kata bantahan yang keluar dari bibirnya bisa berarti tiket kematian bagi sang ayah. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pias.
Selina menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang hancur berantakan. “Maaf ... maafkan aku. Aku minta maaf,” bisiknya berulang kali bagai kaset rusak, merendahkan dirinya sedalam mungkin ke dalam tanah.
Rafael yang melihat itu hanya tersenyum miring, merasa menang karena berhasil membersihkan namanya sekaligus menyudutkan Selina ke posisi paling bawah.
Luna mendengus kasar, lalu memberikan tatapan final yang begitu dingin mematikan. Dia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Selina dengan nada yang dipenuhi ancaman mutlak.
“Ini adalah peringatan terakhir dariku, Selina Cassandra. Jika bulan depan kau tak kunjung hamil, aku tidak akan main-main dengan ucapanku!” Luna menjeda kalimatnya, tengah memberikan penekanan yang mengerikan di setiap kata.
“Ayahmu akan langsung kumasukkan ke dalam sel paling gelap, dan dia akan membusuk di dalam penjara itu sampai dia mati!”
"Ayahku... masih hidup?!" bisik Selina dengan suara tercekat di tenggorokan. "Samuel, tolong katakan padaku kalau kau tidak sedang bercanda!""Aku tidak pernah bercanda tentang hal seluar biasa ini, Selina," jawab Samuel tegas seraya condong ke depan, menatap lurus mata Selina. "Ayahmu, Harry, masih hidup dan sehat."Selina memegangi dadanya yang berombak kencang, berusaha mencerna rentetan informasi yang seolah memutarbalikkan dunia kenyataannya dalam sekejap mata."Beberapa tahun lalu, bisnis pengembangan milik Harry sempat dihantam sabotase besar-besaran oleh pesaingnya," lanjut Samuel menjelaskan secara detail. "Perusahaannya berada tepat di ambang kebangkrutan total.""Lalu apa yang terjadi pada Ayah saat itu?" cecar Selina dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya."Di saat semua investor membelakangi Harry, Edgar datang secara diam-diam menyuntikkan dana segar dan menghancurkan para sabotase itu," tutur Samuel meluapkan fakta. "Edgar menyelamatkan seluruh bisnis
"Wah, lihat calon Nyonya Anderson kita ini," panggil Samuel seraya bertepuk tangan pelan di area lounge penthouse. "Kau tampak sangat memukau, Selina!"Selina memutar tubuhnya perlahan di atas podium bundar berpijakan beludru, menatap pantulan dirinya di cermin besar.Gaun pengantin eksklusif berwarna putih gading itu melekat sempurna, memperlihatkan siluet tubuhnya yang amat anggun."Jangan menggoda terus, Samuel," cicit Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona akibat malu. "Aku malah jadi makin gugup sekarang.""Kenapa harus gugup, Selina?" terkekeh Samuel seraya bersedekap dada menatap Selina yang tampak cemas. "Edgar tidak akan membiarkan ada satu pun debu yang mengganggu acaramu!"Tim perancang busana ternama dan para pengawal pribadi memenuhi area penthouse megah milik Edgar tersebut. Mereka bekerja dengan sangat cekatan, membetulkan setiap lipatan renda dan memastikan keamanan lokasi terjaga ketat.Edgar berdiri tidak jauh dari podium, mengawasi setiap detail keamanan da
"Aku sudah menyerahkan seluruh rahasia aset Theodore Group kepadamu, Raymond!" bentak Thomas seraya membanting berkas dokumen ke atas meja."Mana dana ganti rugi yang kau janjikan?!"Di sebuah ruang rapat privat serba tertutup di lantai teratas gedung pencakar langit, Raymond Vance duduk tenang seraya memutar-mutar cangkir wiskinya.Pimpinan utama Vance Corp itu menatap Thomas dengan pendar mata dingin yang sarat akan dominasi internasional."Tenangkan dirimu, Thomas, kau tidak sedang bicara dengan bawahanmu," tegur Raymond dengan suara bariton yang amat tenang namun menekan."Uangmu akan cair setelah aku memverifikasi seluruh data ini.""Aku tidak bisa tenang sementara anakku membusuk di sel tahanan dan namaku hancur total!" jerit Thomas dengan raut wajah merah padam dan napas tersengal-sengal."Iblis bernama Edgar Anderson itu telah merampas segalanya dariku!"Raymond tersenyum sinis, meletakkan cangkirnya perlahan sebelum membuka map dokumen rahasia yang diserahkan Thomas.Sosok da
"Edgar, lihatlah bagaimana cincin berlian ini melingkar sempurna di jari manisku," bisik Selina seraya memandangi jemarinya di bawah pendar cahaya lampu rooftop.Edgar mengusap lembut punggung tangan Selina, menatap mata wanita itu dengan pendar kasih sayang yang teramat pekat."Cincin itu memang diciptakan khusus untuk melengkapi dirimu, Selina," sahut Edgar dengan suara bariton hangat."Aku masih merasa seperti bermimpi bisa berdiri di sini bersamamu," tutur Selina seraya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Edgar.Momen lamaran yang teramat manis dan penuh kehangatan itu memicu kepenuhan emosional di dalam dada Selina saat ini."Ini bukan mimpi, Selina, ini adalah kenyataan baru yang akan kita jalani bersama," tegas Edgar penuh kepastian."Dulu aku selalu dibayangi rasa takut dan keraguan yang amat menyiksa," aku Selina seraya menatap lurus ke dalam mata elang Edgar.Selina menyadari bahwa seluruh rasa takut, keraguan, dan trauma masa lalunya telah terkikis habis oleh konsistensi
"Apakah ini semua sengaja kau siapkan untuk malam ini, Edgar?" tanya Selina terpana seraya melangkah ke area rooftop garden penthouse.Edgar tersenyum tipis, kemudian merangkul lembut pinggang Selina untuk menuntunnya menuju meja makan privat yang dihiasi pendar cahaya lampu hangat."Ini malam istimewamu, Selina, kau berhak mendapatkan kebahagiaan murni tanpa ada bayang-bayang tekanan," bisik Edgar lembut."Cahaya lampu dan alunan musik klasik ini sangat indah," puji Selina seraya duduk di kursi beludru yang telah disiapkan.Kebebasan Selina tidak ditanggapi Edgar sebagai kesempatan untuk memaksakan status baru secara gegabah atau terburu-buru."Aku ingin menciptakan momen yang murni untuk kita berdua saja," sahut Edgar seraya mendaratkan kecupan hangat di kening Selina."Terima kasih untuk makan malam yang teramat elegan ini, Edgar," tutur Selina seraya menyesap minuman jus buahnya.Pria penguasa Anderson Group itu sengaja merancang malam yang privat ini jauh dari ingar-bingar media
"Apakah sidang putusan perceraian kita akan dimulai sekarang, Edgar?" tanya Selina seraya meremas jemari tangan Edgar di dalam ruang tunggu pengadilan.Edgar menatap wanita di sampingnya dengan pandangan hangat dan penuh kepastian."Benar, Selina, hari ini adalah langkah terakhirmu untuk melepaskan seluruh ikatan kelam itu," jawab Edgar mantap."Mari kita masuk ke dalam ruang sidang utama sekarang, Nyonya Selina," ajak Edward seraya membukakan pintu kayu jati pengadilan.Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Selina akhirnya tiba saat majelis hakim Pengadilan Agama menggelar persidangan putusan akhir."Aku akan selalu menggenggam tanganmu di dalam sana," bisik Edgar seraya menuntun Selina melangkah masuk."Di mana posisi tergugat Rafael Theodore saat ini, Pak Pengacara?" tanya Ketua Majelis Hakim seraya membetulkan posisi kacamata bacanya."Tergugat masih mendekam di sel tahanan kepolisian dan menolak hadir dalam persidangan ini, Yang Mulia," jawab Edward dengan tegas.Tanpa kehadiran
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus







