Home / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 4: Tuduhan yang Keji

Share

Bab 4: Tuduhan yang Keji

last update publish date: 2026-06-03 23:19:30

Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.

Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.

Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil memainkan ponsel dan Gretha yang bersedekap dada dengan wajah angkuh.

Belum sempat Selina duduk, suara melengking Luna sudah lebih dulu menggelegar, memotong keheningan ruangan.

“Dengar, Selina! Aku memanggilmu ke sini karena kesabaranku sudah habis!” Luna menunjuk wajah Selina dengan jarinya yang dihiasi cincin berlian besar.

“Jangan menunda-nunda kehamilan lagi! Segera hamil dan berikan pewaris untuk keluarga Theodore. Jika sampai bulan depan rahimmu itu masih kosong, aku akan menyeret ayahmu kembali ke penjara hari itu juga!”

Selina terperanjat kaget. Wajahnya seketika pias, kehilangan seluruh rona darahnya. Tanpa sadar, dia melangkah maju dan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, menatap sang ibu mertua dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ibu, aku mohon ... jangan berikan ancaman seperti itu. Tolong kasihanilah ayahku,” pinta Selina dengan suara yang bergetar hebat. Jantungnya bertalu-talu membayangkan sang ayah yang sudah renta harus mendekam di balik jeruji besi yang dingin.

Luna mendengus sinis, sama sekali tidak tersentuh oleh air mata menantunya.

“Kasihan? Kau meminta kasihan padaku? Sadar diri, Selina! Suamiku sudah melunasi seluruh utang ayahmu yang menggunung itu sampai bersih. Lalu, kenapa sekarang kau merasa berat hati untuk memberikan kami seorang cucu? Kau ingin menjadi parasit gratisan di rumah ini, hah?”

Selina terdiam seribu bahasa. Dia menundukkan kepala sedalam mungkin, menatap jemarinya yang saling bertautan dan meremas satu sama lain dengan gelisah. Dadanya terasa begitu sesak hingga untuk bernapas pun terasa menyakitkan.

Di dalam hatinya, Selina menjerit pahit. ‘Bagaimana mungkin aku bisa hamil? Bagaimana bisa rahimku terisi, sementara Rafael saja enggan menyentuhku?’

Selama satu bulan penuh pernikahan mereka berjalan, kamar tidur mewah itu tak lebih dari sebuah sangkar penyiksaan bagi Selina. Mereka memang tidur di dalam satu ruangan yang sama, di atas ranjang King Size yang empuk.

Namun, Rafael memperlakukannya seolah-olah dia adalah wabah penyakit yang menular. Jangankan melakukan hubungan suami istri, menyentuh ujung jarinya atau memeluk tubuhnya dalam tidur pun Rafael tidak pernah.

Pria itu selalu membelakanginya, menyisakan jarak dingin yang tak tertembus di antara mereka.

Namun, Selina tidak punya keberanian untuk membongkar aib itu di depan Luna dan Gretha. Dia tahu, jika dia mengadu, Rafael pasti akan mencari cara yang lebih kejam untuk menyiksanya.

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Selina mendongak perlahan, mencoba menguasai suaranya yang serak. “A-aku ... aku akan berusaha, Ibu,” lirihnya sambil melirik sekilas ke arah Rafael yang duduk di sofa seberang.

Pria itu tampak sangat santai. Rafael meliriknya dengan sudut mata yang dingin, mengunyah permen karet dengan rahang yang bergerak konstan, seolah-olah perdebatan yang mempertaruhkan nyawa ayah Selina ini hanyalah sebuah tontonan komedi yang menjemukan. Tidak ada beban, tidak ada rasa bersalah sedikit pun di wajah tampannya.

Mendengar jawaban Selina, Gretha yang sejak tadi menyimak langsung menimpali dengan nada suara yang tak kalah sinis. Dia menoleh ke arah keponakannya.

“Rafael, kau juga harus lebih tegas pada perempuan ini. Suruh dia minum jamu penyubur atau obat apa pun yang diperlukan. Jangan biarkan dia santai-santai sementara keluarga kita menunggu kepastian!”

Rafael menghela napas kasar. Dia lalu melempar ponselnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi brakk yang cukup keras, membuat Selina tersentak mundur satu langkah. Rafael menegakkan tubuhnya, menatap ibunya dan Gretha dengan wajah yang sengaja dibuat frustrasi.

“Ibu, Bibi, kalian jangan hanya menyalahkanku!” tuduh Rafael dengan suara lantang, matanya berkilat penuh kelicikan saat menunjuk tepat ke arah Selina.

“Kalian tidak tahu saja bagaimana tabiat asli gadis kampung ini di dalam kamar. Dialah yang sering menolakku jika aku sedang menginginkannya! Dia selalu beralasan lelah setelah bekerja, lalu tidur membelakangiku!”

Deg!

Bagai disambar petir di siang bolong, seluruh sendi di tubuh Selina mendadak lemas. Matanya membola sempurna menatap suaminya sendiri.

Rasa tidak percaya dan syok yang luar biasa menghantam dadanya hingga dia merasa sulit untuk bernapas. Bagaimana bisa ada manusia sekejam Rafael?

Pria itu yang menolaknya, pria itu yang menghinanya jijik, dan sekarang pria itu memutarbalikkan fakta dengan begitu keji di depan keluarganya sendiri.

“Rafael ... apa yang kau katakan? Bukan begitu—”

“Tutup mulutmu, Selina!” potong Luna dengan lengkingan yang memekakkan telinga. Wajah wanita paruh baya itu memerah padam akibat amarah yang tersulut oleh kebohongan putranya.

Luna bangkit berdiri dari sofanya, melangkah cepat dan langsung mencaci maki Selina tepat di depan wajahnya. “Kurang ajar sekali kau! Sudah miskin, tidak tahu diuntung! Berani-beraninya kau menolak anakku? Kau pikir kau ini ratu di rumah ini, hah?”

“Dasar perempuan tidak tahu diri!” Gretha ikut memanasi suasana dengan menatap Selina dengan pandangan paling menjijikkan yang bisa dia tunjukkan.

“Masuk ke keluarga Theodore itu sebuah anugerah untuk orang melarat sepertimu. Harusnya kau melayani Rafael layaknya pelacur yang memohon belas kasihan, bukan malah berlagak jual mahal!”

Hinaan demi hinaan beracun itu menghujam bertubi-tubi, menguliti habis seluruh harga diri yang coba Selina pertahankan sebulan ini. Rasanya Selina ingin menjerit sekuat tenaga di depan muka mereka semua.

Dia ingin berteriak bahwa anak laki-laki kebanggaan mereka adalah seorang pembohong besar yang bahkan memintanya melacurkan diri dengan pria lain demi harta warisan!

Namun, sekeras apa pun badai di dalam dadanya, Selina tahu dia tidak memiliki kekuatan apa pun di rumah ini. Satu kata bantahan yang keluar dari bibirnya bisa berarti tiket kematian bagi sang ayah. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh, membasahi pipinya yang pias.

Selina menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang hancur berantakan. “Maaf ... maafkan aku. Aku minta maaf,” bisiknya berulang kali bagai kaset rusak, merendahkan dirinya sedalam mungkin ke dalam tanah.

Rafael yang melihat itu hanya tersenyum miring, merasa menang karena berhasil membersihkan namanya sekaligus menyudutkan Selina ke posisi paling bawah.

Luna mendengus kasar, lalu memberikan tatapan final yang begitu dingin mematikan. Dia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di telinga Selina dengan nada yang dipenuhi ancaman mutlak.

“Ini adalah peringatan terakhir dariku, Selina Cassandra. Jika bulan depan kau tak kunjung hamil, aku tidak akan main-main dengan ucapanku!” Luna menjeda kalimatnya, tengah memberikan penekanan yang mengerikan di setiap kata.

“Ayahmu akan langsung kumasukkan ke dalam sel paling gelap, dan dia akan membusuk di dalam penjara itu sampai dia mati!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
wieanton
rafael playing victim...ah semuanya agak lain emang mereka itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 151

    Edgar Anderson—seorang CEO konglomerat bernilai miliaran dolar yang biasanya berdiri di balik meja kaca megah untuk mengatur pergerakan bursa saham global, kini terpaksa berlari-lari kecil di atas pasir pantai yang lembut dengan raut wajah yang amat sangat serius.Ia melakukan itu semua hanya demi mengejar seekor burung camar lokal yang bertubuh gemuk dan menatapnya penuh tantangan dari atas batu karang.Burung itu seolah paham bahwa targetnya adalah seorang miliarder, sehingga ia sengaja mematuk-matuk topi pantai bertepi lebar milik Selina dengan pongah setiap kali Edgar mendekat."Hei, burung bodoh, kembalikan topi istriku sekarang juga!" ancam Edgar dengan suara bariton beratnya yang biasa membuat para direktur perusahaan merinding ketakutan.Burung camar itu justru mengepakkan sayapnya ribut, mencabik sedikit pita hiasan topi tersebut, lalu terbang rendah melintasi ombak.Edgar menggeram pelan, melangkah dengan kepalan tangan erat, hingga akhirnya ia melempar sebuah kerikil kecil

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 150

    Cahaya matahari pagi Yunani menyusup lembut melintasi celah tirai sutra vila privat, menyiram kamar utama dengan rona keemasan yang hangat.Selina perlahan menggerakkan jemarinya, terbangun oleh harum manis wafel panggang dan aroma kopi yang menggugah selera.Di samping peraduan, Edgar sudah berdiri rapi dalam balutan kemeja putih kasual yang tergulung hingga siku.Senyum tipis yang teramat langka terhias di wajah tegap sang penguasa Anderson Group."Selamat pagi, Istriku. Waktunya menyambut pagi pertama kita di sini," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Edgar meraih tangan Selina secara perlahan, membantu istrinya yang sedang mengandung itu untuk beranjak dari kasur empuk.Edgar membimbing Selina melangkah keluar menuju pelataran kolam renang infinity yang membelah tebing dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.Di permukaan air kolam yang bening bagai kristal, sebuah nampan kayu raksasa berbentuk hati sudah terapung dengan anggunnya.Di atas floating bre

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 149

    Edgar merangkak naik ke atas peraduan megah yang dilapisi kain sutra halus, mengurung tubuh Selina di bawah dominasi tubuh tegapnya.Tanpa memberikan waktu bagi Selina untuk mengatur napasnya yang mulai memburu, jemari besar Edgar bergerak sigap meraup ritsleting gaun malam merah marun yang dikenakan istrinya, melucutinya tanpa ragu hingga gaun indah itu terhempas ke lantai.Edgar menunduk dan langsung menguasai bibir Selina dalam sebuah ciuman yang teramat panas, dalam, dan memabukkan.Tidak ada jeda untuk bernapas; lidah Edgar menerobos masuk, melilit dan memanjakan lidah Selina dengan keliaran yang menuntut penuh.Ciuman yang penuh ketegangan dan rasa kepemilikan mutlak itu seketika merampas sisa kesadaran Selina, membakar seluruh ketahanan dirinya hingga hanya bisa pasrah meremas bahu tegap suaminya.Aura dominasi Edgar makin tak terbendung di bawah pendar redup lilin aromaterapi yang menari-nari di dinding kamar.Jemari besarnya mulai mengeksplorasi area-area sensitif tubuh Selin

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 148

    Pintu kamar ganti perlahan terbuka, memancarkan pesona anggun Selina yang melangkah keluar dengan langkah penuh kehati-hatian.Gaun malam sutra berwarna merah marun itu melekat sempurna di tubuh mulusnya, menjatuhkan siluet keindahan yang memikat dan memperlihatkan lekuk perutnya yang membuncit manis di trimester kedua.Edgar yang sudah menunggu di area ruang tengah dalam balutan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi seketika terpaku.Tatapan mata elangnya menggelap, dipenuhi kepemilikan mutlak dan rasa kagum tanpa cela saat memandangi sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya tersebut."Kau tampak begitu menakjubkan, Selina," puji Edgar dengan suara bariton rendah seraya melangkah mendekat dan merengkuh jemari wanita itu."Terima kasih, Edgar... gaun pilihanmu ini sungguh sangat indah," balas Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona di bawah tatapan intens suaminya.Edgar menuntun Selina melangkah keluar dari vila utama, menelusuri tangga kayu yang membawa mereka menu

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 147

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden tebal, menyinari area kamar utama apartemen mewah.Selina perlahan membuka matanya, merasakan usapan lembut di bahunya dan kehangatan dada bidang yang menjadi tempat kepalanya bersandar.Pria penguasa Anderson Group itu sudah terbangun lebih dulu, dan menatapnya dengan pendar mata elang yang dipenuhi kelembutan murni."Selamat pagi, Istriku," bisik Edgar seraya mendaratkan kecupan hangat di kening Selina yang baru saja terbangun."Selamat pagi, Suamiku," sahut Selina seraya tersenyum manis, membalas pelukan tegap Edgar dan merasakan sisa-sisa kehangatan malam pertama mereka yang begitu pekat.Edgar bergeser sedikit, meraih sebuah nampan perak yang sudah tertata rapi di samping peraduan.Edgar menyajikan sarapan mewah berupa sup hangat pilihan peracik gizi, buah-buahan segar, dan segelas susu khusus ibu hamil tepat di atas ranjang untuk istrinya."Kau tidak boleh beranjak dari kasur sebelum menghabiskan sarapan ini, S

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 146

    Tanpa menunggu jawaban atau celah penolakan dari bibir Selina, Edgar membalikkan tubuh istrinya dengan satu pergerakan tegas yang mendominasi.Pria itu menyangga panggul Selina yang masih terengah-engah, lalu menyejajarkan posisinya dari belakang.Tanpa memberikan jeda untuk penyesuaian, Edgar langsung menekan panggulnya maju, melesakkan kejantanannya yang membentang tegang masuk sepenuhnya ke dalam liang intim Selina yang sudah terbalur basah dan hangat."Ahhh! Edgar!" Selina mengerang kenikmatan yang teramat tajam saat merasakan sensasi pekat dan sesak mengisi liang dalamnya tanpa menyisakan ruang sedikit pun.Perlahan tapi pasti, Edgar menarik sedikit panggulnya sebelum mendorong kembali tubuhnya secara penuh, menghantamkan dirinya masuk menembus dinding intim Selina hingga ke batas terdalam.Selina melengkungkan punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat seraya mengeratkan pegangannya pada kain sprei yang kini terkoyak acak akibat remasan tangannya yang gemetar.Edgar tidak membiark

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 1: Bukan Menantu Idaman

    “Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

    Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status