แชร์

Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

ผู้เขียน: Salwa Maulidya
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-11 13:12:48

Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran.

 Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa.

“T-tidak, Paman. Apa yang kukatakan tadi ... itu tidak benar,” ucap Selina terbata-bata, sambil terus mencoba melepaskan tatapan mengunci dari sepasang mata elang di hadapannya.

Dia sengaja memundurkan kepalanya sedikit, lalu berpura-pura menguap pelan sambil menepuk mulutnya dengan tangan yang bebas. “Aku hanya melantur karena masih sangat mengantuk. Ya, kepalaku agak pusing jadi aku bicara sembarangan.”

Namun, sandiwara kecil itu sama sekali tidak berguna di hadapan pria secerdas Edgar Anthony. Sebab pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya barang satu milimeter pun.

Senyum miring yang tipis dan sarat akan dominasi justru terukir di sudut bibirnya yang tegas. Cengkeraman tangan kasarnya di pinggang Selina justru semakin merapat, menarik tubuh molek itu hingga menempel sempurna pada dada bidangnya yang keras.

“Jangan membodohiku, Selina. Kau tahu betul kau sedang tidak melantur,” bisik Edgar tepat di depan bibir Selina yang mendadak kelu. Pria itu sedikit memiringkan kepalanya, lalu menatap dalam-dalam pada manik mata Selina yang bergetar hebat.

“Aku akan melepaskan tanganmu sekarang, jika kau mau menjelaskan lebih detail tentang ucapanmu tadi. Bagaimana? Adil, bukan?”

Selina menelan salivanya dengan pelan. Sentuhan hangat tangan Edgar di pinggangnya seolah menyontek seluruh kekuatannya untuk memberontak.

Kebingungan, rasa takut, dan rasa lelah yang bertumpuk selama sebulan ini mendadak bergolak di dalam dadanya.

Dia menatap rahang tegas Edgar yang kokoh, mencoba mencari celah untuk melarikan diri, namun tidak ada. Pria ini telah menguncinya sepenuhnya di sudut mini bar.

“Aku ... aku takut, Paman,” lirih Selina akhirnya. Suaranya mencicit, nyaris tenggelam oleh deru mesin pendingin dapur. Dia pun memberanikan diri menatap mata Edgar dengan pandangan memohon.

“Aku takut Paman akan memberitahu keluargamu soal ini. Aku takut jika Paman bicara pada Ibu atau Rafael bahwa aku mengadu padamu. Hidupku pasti akan jauh lebih mengerikan dari sekarang.”

Edgar terkekeh rendah, sebuah tawa kering yang terdengar sangat dingin dan penuh luka lama. Dia sedikit melonggarkan cengkeramannya di pinggang Selina, namun tidak benar-benar melepaskannya.

“Memberitahu mereka?” Edgar menaikkan alisnya seraya menatap Selina dengan kilat mata yang berubah sinis, namun sinis itu bukan ditujukan untuk Selina.

“Kau pikir aku peduli pada mereka? Asal kau tahu, Selina ... keluarga itu sama sekali tak pernah berpihak padaku. Sejak ayah dan ibuku meninggal, mereka merampas semuanya. Di rumah ini, aku tidak pernah dianggap oleh mereka hanya karena saat itu aku memulai bisnis dalam skala kecil yang menurut mereka tidak ada harganya.”

Edgar menjeda kalimatnya, untuk menunduk lebih dalam hingga ujung hidungnya nyaris bersentuhan dengan pelipis Selina. “Posisi kita sama, Selina. Kita berdua adalah orang asing yang tidak pernah dianggap di rumah mewah yang dingin ini. Jadi, untuk apa aku membela mereka?”

Mendengar pengakuan jujur dari Edgar, Selina kembali menelan ludahnya dengan berat. Perasaan asing yang hangat mendadak menyelimuti hatinya.

Rasa senasib sebagai orang yang terbuang di kediaman Theodore membuat benteng pertahanan Selina perlahan runtuh. Rasa terkekang dan penderitaan yang dia pendam sendirian selama tiga puluh hari ini mendadak menuntut untuk dikeluarkan.

Dengan mata yang kembali berkaca-kaca, Selina akhirnya menyerah. Dia menghela napas panjang dan mulai bercerita.

“Rafael ... dia benar-benar tidak pernah menyentuhku sejak malam pertama kami menikah, Paman,” ucap Selina dengan suara yang mulai serak menahan tangis.

“Dia bilang dia jijik padaku karena aku gadis kampung yang miskin. Kami memang tidur di kamar yang sama, tapi dia memperlakukanku tak lebih dari seonggok sampah pajangan.”

Selina menjeda, lalu setitik air mata murni meluncur bebas menuruni pipinya yang pias. Edgar bergerak refleks, menggunakan ibu jarinya yang kasar untuk mengusap air mata itu dengan kelembutan yang tak terduga, membiarkan Selina melanjutkan ceritanya yang menyayat hati.

“Dan yang paling menyakitkan, siang tadi setelah pertemuan di ruang tengah, dia memarahiku di kamar. Tiba-tiba ponselnya berdering dan dia menerima telepon dari seseorang yang dia panggil 'Sayang' dengan suara yang begitu lembut. Paman, dia pergi tengah malam ini hanya untuk menemui wanita itu,” ratap Selina, dadanya naik turun menahan sesak yang teramat sangat.

“Dia menyembunyikan kekasihnya di luar sana, sementara aku di sini dijadikan pembantu oleh ibunya. Dan sekarang ... Rafael justru menyuruhku mencari pria mana saja di luar sana, memintaku tidur dengan orang asing dan membayarnya mahal agar aku bisa hamil demi memberikan cucu palsu untuk ayahnya. Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa, Paman. Aku benar-benar buntu.”

Selina menyembunyikan wajahnya di dada bidang Edgar, terisak pelan di sana sembari meremas kemeja hitam pria itu. Dia merasa dunianya sudah kiamat. Kehormatan dirinya sebagai wanita telah dihargai dengan nominal uang oleh suaminya sendiri.

Edgar terdiam sambil mendengarkan setiap isakan Selina dengan rahang yang mengeras sempurna.

Edgar memegang kedua bahu Selina, lalu memaksa gadis itu untuk menegakkan tubuh dan kembali menatapnya. Perlahan, sebuah senyuman miring yang penuh teka-teki dan gairah tersembunyi terukir di wajah tampan Edgar yang kaku.

Dia menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Selina, lalu berbisik dengan suara bariton yang begitu berat, rendah, dan penuh dengan intimidasi yang memikat.

“Jangan bingung, Selina. Kau tidak perlu mencari pria asing di luar sana untuk memuaskan tuntutan kakakku,” bisik Edgar, setiap katanya dikemas dengan kehangatan yang memabukkan sekaligus berbahaya.

“Ma-maksud Paman?” tanya Selina yang tampak tidak paham dengan ucapan Edgar barusan.

Pria itu kembali menyunggingkan senyum dan kembali menatap lurus ke dalam mata Selina yang membola sempurna. “Kau bisa melakukannya ... denganku.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
wieanton
tenang edgar berbeda, dan kyknya gk akur jg sm klrga yg lain
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 185 - Tamat

    Suasana di dalam ruang tengah mansi utama Anderson Group tampak begitu damai pada Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos hangat melalui dinding kaca raksasa, membias di atas karpet bulu tebal tempat Little Lysander yang kini berusia enam bulan sedang asyik menelungkup.Namun, kedamaian itu mendadak terusik saat Selina melangkah keluar dari dapur bersih dengan secangkir teh chamomile di tangannya.Begitu matanya menangkap pemandangan di ruang tengah, langkah kaki Selina seketika terhenti.Kelopak matanya membelalak lebar, bibirnya terbuka kaku, dan teh hangat di cangkirnya hampir saja tumpah."Edgar Anderson... apa-apaan ini?" gumam Selina dengan nada tak percaya.Di tengah ruangan, Edgar berdiri tegap dalam balutan hoodie kasual dan celana kargo.Namun, yang membuat Selina geleng-geleng kepala adalah penampilan suaminya: Edgar mengenakan rompi taktis khusus lengkap dengan jajaran piringan sensor digital di dadanya, kacamata hitam berdesain futuristic, serta sebuah sarung bayi (baby ca

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 184

    Keheningan malam yang syahdu menyelimuti seluruh sudut kediaman megah itu.Di kamar bayi yang berbatasan langsung dengan peraduan utama, Little Lysander telah tertidur lelap di dalam boks jati mewahnya usai disusui.Di bawah pengawasan telaten dua perawat senior yang bersiaga tanpa suara, sang putra mahkota terlelap dalam buaian mimpi yang damai.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dipenuhi ketegangan konflik korporasi, intrik musuh, dan drama persalinan yang mendebarkan, Edgar dan Selina akhirnya memiliki ruang privat murni milik mereka berdua.Di balkon luas kamar tidur utama yang menghadap langsung ke arah hamparan taman mawar dan gemerlap pendar lampu kota di kejauhan, angin malam berembus sangat lembut.Edgar melangkah keluar dari pintu kaca yang terbuka separuh. Pria tegap itu membawa sehelai selimut wol kasmir berwarna putih bersih.Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh perlindungan, Edgar menyelimutkan kain hangat itu ke bahu mulus Selina, membungkus tubuh is

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 183

    Edgar melangkah mendekat, membawa sebuah map kulit berwarna hitam eksklusif yang berisi draf dokumen akta kelahiran resmi.Pria tegap itu melayangkan tatapan tajam nan mengintimidasi ke arah Samuel yang sedang berdiri di sudut ruangan, memberi isyarat agar sang asisten memberikan ruang privat bagi mereka.Samuel mengangguk paham, melangkah keluar pintu secara perlahan tanpa menimbulkan suara.Edgar menarik kursi berbusa empuk, duduk tepat di sisi ranjang Selina. Jemari tegapnya merayap menyusuri jemari halus sang istri, menggenggamnya rapat dengan kehangatan murni."Dokumennya sudah siap, Sayang," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang teramat lembut.Pria itu kemudian merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Selina. "Nama yang sudah kita sepakati bersama... hari ini resmi terukir untuk penerus kita."Selina mendongak, mengukir senyuman manis yang memancar indah dari bibirnya yang mulai memerah alami. "Sebutkan namanya lagi, Edgar. Aku ingin mendengarnya langsung

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 182

    Suara tangisan nyaring yang tadinya memenuhi ruang bersalin perlahan mereda begitu tubuh mungil berwarna kemerahan itu dibersihkan dengan kain steril dan diletakkan di atas dada telanjang Selina.Proses inisiasi menyusu dini dimulai.Begitu kulit halus bayi itu menyentuh kehangatan dada ibunya, naluri alaminya seketika bekerja. Bayi mungil itu berhenti menangis, jemari kecilnya yang halus menyambar erat kain jubah rumah sakit yang dikenakan Selina.Selina memejamkan mata sejenak, meresapi getaran kehangatan murni yang menjalar hingga ke sudut jiwanya.Air mata bahagianya terus menetes tipis, mengalir melintasi pipinya yang pucat namun memancarkan aura keibuan yang luar biasa anggun.Edgar membungkuk di samping ranjang tindakan, matanya tak berkedip menatap sosok mungil di atas dada istrinya.Dahi bayi itu memiliki garis yang sangat halus, hidungnya menjulang mancung sejak lahir, dan struktur garis rahangnya sudah tampak tegas meski baru berusia hitungan menit."Tatap dia, Edgar..." bi

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 181

    Bau antiseptik menyengat memenuhi udara dingin di dalam ruang bersalin utama. Di bawah sorotan pendar lampu operasi yang terang benderang, Edgar duduk berlutut di sebelah kiri kepala Selina.Pria penguasa bursa saham itu telah mengenakan jubah hijau steril dan masker medis, namun keangkuhan serta aura dinginnya telah menguap sepenuhnya.Tangan tegapnya yang biasa memaraf transaksi triliunan rupiah kini gemetar hebat, menggenggam erat telapak tangan Selina yang membasah oleh peluh dingin.Selina memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya kempas-kempis memburu. Rambut cantiknya lepek menempel di dahi akibat keringat yang terus mengucur deras."Nyonya Selina, dengarkan instruksi saya," ujar Dr. Arisandi tegas di ujung ranjang tindakan, memosisikan diri di antara kedua kaki Selina."Pembukaan sudah lengkap sepuluh! Saat kontraksi berikutnya datang, tarik napas dalam-dalam, tahan di dada, lalu mengejan dengan kuat ke arah bawah!""Edgar... ahh... Sakit sekali..." rintih Selina dengan suara se

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 180

    Sisa kehangatan dari percumbuan membara di atas sofa empuk ruang tengah masih membekas manis di udara. Edgar masih merengkuh erat tubuh lemas Selina dalam dekapan dada bidangnya. Selimut sutra membungkus tubuh polos mereka berdua dari terpaan angin malam.Detak jantung Edgar yang perlahan menyatu stabil dengan deru napas Selina menyajikan ketenangan sempurna di tengah remang pendar lilin aroma terapi."Kamu lelah, Sayang?" bisik Edgar lembut tepat di pelipis Selina, jemari tegapnya merayap halus mengusap bahu mulus sang istri."Ayo, aku bopong kembali ke kamar utama supaya istirahatmu lebih nyaman."Selina tersenyum tipis, mengangguk pelan dalam dekapan suaminya. "Iya, Edgar. Panggulku terasa agak pegal—"Kalimat Selina terputus seketika. Tubuh anggunnya mendadak menegang kaku di dalam dekapan Edgar.Jemari halusnya menyambar cengkeraman kencang pada lengan tegap suaminya, meremas kulit Edgar hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Nngghh... A-Ah!" rintihan kesakitan yang amat tajam m

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 3: Ada yang Membelanya

    Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status