تسجيل الدخول"Cek CCTV semua sudut rumah, ke mana dia sebenarnya!"Edgar memberikan perintah tegas pada Kevin dengan suara bariton yang menusuk dingin.Meski ekspresi wajahnya sengaja dijaga tetap datar dan rapat khas seorang pemimpin yang tak terimbas emosi, kepalan tangan yang mengeras di dalam saku celananya serta kilat tajam di mata elangnya memancarkan rasa panik yang luar biasa.Selina mendadak hilang tanpa jejak tepat setelah Anthony selesai menguliti Thomas dan Rafael di ruang tengah.Teleponnya yang dialihkan tanpa jawaban makin menyulut kecemasan terpendam di dada Edgar.Kevin bergerak cepat membawa laptop tebal yang telah terhubung langsung dengan sistem keamanan kediaman utama Theodore. Jarinya menari lincah di atas keyboard."Saya menemukannya, Tuan," ujar Kevin.Namun, dahi pria kepercayaan Edgar itu mendadak mengerut dalam saat matanya meneliti rekaman visual dari koridor lantai bawah."Nyonya Selina terlihat berlari tergesa-gesa ke kamar mandi lantai bawah... lalu tak lama setelahn
"Usianya sudah memasuki tujuh minggu, Nyonya Selina," ujar dokter spesialis kandungan berparas ramah itu seraya mengusapkan gel dingin di atas perut rata Selina.“Tu-tujuh minggu, Dok?” tanya Selina terkejut.Dokter itu mengangguk. "Ya. Mengingat hari terakhir Anda menstruasi, maka usia kandungannya memang sudah mencapai tujuh minggu."Dokter itu mengarahkan monitor kecil di samping ranjang pemeriksaan agar bisa dilihat oleh Selina."Lihat di sini, ini adalah kantung kehamilan Anda. Dan titik kecil ini adalah janin Anda. Ukurannya saat ini masih sebesar biji jagung, namun detak jantungnya sudah mulai berdenyut dengan sangat baik."Dokter tersenyum hangat dan memberikan ucapan selamat yang tulus. "Selamat ya, Nyonya. Janin Anda berkembang sangat sehat."Sementara sang dokter menjelaskan dengan antusias, Selina justru membeku di atas ranjang pemeriksaan.Sepasang matanya menatap kosong ke arah layar kecil USG di hadapannya. Titik kecil sebesar biji jagung itu mendadak menjadi pusat dari
Tubuh Selina bergetar hebat saat berdiri membungkuk di depan wastafel kamar mandi.Rasa mual yang tak tertahankan itu memuncak, memaksa cairan kuning yang pekat keluar dari tenggorokannya.Sensasi terbakar dan rasa pahit yang luar biasa seketika memenuhi kerongkongan dan mulutnya, menyisakan lemas yang luar biasa di sekujur tubuh.Huekk!Selina memutar keran air, membilas bekas muntahannya seraya membasuh wajahnya yang pucat pasi dengan air dingin.Jemarinya yang gemetar bergerak perlahan mengusap keningnya yang dipenuhi keringat dingin.Dia lalu mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya.Matanya membelalak sayu, memancar penuh ketakutan dan kebingungan yang teramat sangat."Apa yang ... apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku?" bisik Selina lirih pada pantulan dirinya sendiri.Pikiran Selina berputar gila-gilaan, mencoba mencari alasan di balik rasa mual yang mendadak menghantamnya secara beruntun belakangan ini.Pikiran itu seketika tertuju pada satu hal
Tiga hari kemudian, kediaman utama keluarga Theodore tenggelam dalam suasana yang teramat tegang dan mencekam.Anthony Theodore—sang patriark utama yang ditakuti oleh seluruh anggota keluarga telah tiba di rumah.Dari balik pilar kayu besar di balik lorong lantai bawah, Selina berdiri kaku dan bersembunyi.Matanya mengintip ke arah ruang tengah yang megah, tempat di mana Thomas, Edgar, Luna, dan Rafael kini dikumpulkan dan berdiri dalam satu garis lurus di hadapan sofa utama.Di sana, duduk Anthony Theodore di atas kursi kebesarannya, menopang tangan pada tongkat berkepala perak dengan raut wajah tua yang begitu keras, dingin, dan sarat akan dominasi tanpa tanding."Jelaskan padaku sekarang, Thomas," suara bariton Anthony yang dalam meluncur kaku, memotong keheningan ruangan bagaikan bilah pisau."Kenapa selama dua tahun terakhir ini kau selalu gagal mendapatkan tender besar? Kenapa kolega-kolega lama kita kehilangan kepercayaan pada Theodore Group hingga mereka memilih untuk mengalih
"Tender dimenangkan oleh Anderson Group?!"Mata Thomas seketika menyalang lebar, dipenuhi kilat amarah yang membakar.Suaranya menggelegar memenuhi seluruh sudut ruang kerja megahnya di lantai atas gedung Theodore Group.BRAK!Thomas menggebrak meja kerja kayunya dengan telapak tangan hingga beberapa berkas, pena emas, dan cangkir kopi di atasnya berguncang hebat.Mukanya merah padam, napasnya memburu kasar bagaikan banteng yang siap mengamuk."Bangsat! Sialan! Keparat!" umpat Thomas bertubi-tubi dengan deretan kata-kata kotor yang meluncur kasar dari mulutnya."Bagaimana bisa perusahaan bajingan itu merebut proyek sektor utara dari tangan kita?!"Rafael yang duduk di sofa tamu ruangan itu menatap ayahnya yang sedang berada dalam puncak emosi tergelapnya.Aura di dalam ruangan terasa teramat mencekam dan memuakkan. Rafael sendiri tidak kalah terpukul dan frustrasi.Proyek pengembangan kawasan bisnis terpadu sektor utara adalah proyek raksasa terakhir yang dia awasi dan kejar mati-mati
"Apa tanganmu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, hah?!" bentak Edgar dengan suara baritonnya yang menggelegar dan sarat akan amarah yang meluap.Edgar terpaksa melepaskan Selina dari kurungannya, menatap Samuel dengan pandangan mata yang seolah siap menguliti sahabatnya itu hidup-hidup.Suasana erotis nan tegang yang baru saja terbangun di antara Edgar dan Selina seketika buyar tak berbekas.Selina yang posisinya mendadak terbebas langsung memundurkan langkahnya cepat-cepat. Wajahnya memerah padam hingga ke balik kerah kemejanya.Dia selalu merasa teramat malu setiap kali berhadapan dengan Samuel, apalagi posisi mereka beberapa detik lalu sungguh sangat absurd dan berani untuk ukuran sebuah ruang kerja di lokasi proyek.Selina merapikan kemejanya yang agak kusut dengan jemari yang gemetar hebat, berusaha keras menghindari kontak mata dengan siapa pun di dalam ruangan.Samuel yang berada di ambang pintu justru sama sekali tidak merasa
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me







