홈 / Romansa / Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku / Bab 2: Pertemuan yang Mengejutkan

공유

Bab 2: Pertemuan yang Mengejutkan

last update 게시일: 2026-06-03 23:06:00

“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.

Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan hari ini.

“Bukankah kamar ujung tidak ada penghuninya, Ibu?” tanyanya kemudian.

“Jangan banyak bertanya! Lakukan saja apa yang kukatakan, dasar tidak berguna!” semprot Luna, lalu memutar tubuh dan melenggang pergi dengan ketukan sepatu hak tingginya yang angkuh.

Selina menghela napas panjang sambil meremas pegangan keranjang rotan untuk menyalurkan rasa sesak di dadanya. Sebab tak ingin ingin memicu keributan lagi, dengan langkah yang agak terseret, dia menyusuri lorong panjang menuju ujung bangunan sayap barat.

Selina memutar knop pintu perlahan, lalu melangkah masuk.

Kedua matanya seketika melebar. Kamar yang selama ini dia kira kosong dan berdebu itu ternyata sangat luas, bernuansa kelabu maskulin, dan dalam kondisi berantakan. Selimut tebal terkulai di lantai, beberapa botol wiski kosong berjejer di atas meja kerja, dan kemeja-kemeja mahal tercampak begitu saja di atas sofa kulit.

Sambil memunguti pakaian kotor itu satu per satu, Selina menggerutu pelan di dalam hati. ‘Mungkin semalam ada tamu penting yang menginap di sini, dan Luna sengaja menjadikanku tumbal untuk membereskannya.’

Selina berlutut untuk meraih sehelai kaus kaki di dekat ranjang King Size. Tepat saat dia menegakkan tubuh dan berbalik, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya mencelos hingga ke lambung.

Di ambang pintu kamar mandi yang baru saja terbuka, berdiri seorang pria. Uap hangat tipis masih mengepul di belakang tubuhnya yang tinggi tegap. Pria itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya yang kokoh.

Dadanya yang bidang terekspos sempurna, memperlihatkan otot-otot perut yang begitu ketat dan liat, basah oleh sisa-sisa tetesan air mandi. Ketampanannya sangat mencolok, namun aura yang dipancarkannya begitu pekat dan dominan.

“Aaaa!” Selina menjerit terkejut dan refleks menutup kedua matanya dengan telapak tangan yang gemetar. Hingga membuat keranjang di genggamannya merosot ke lantai.

Pria itu tidak bergerak setapak pun. Matanya hanya menatap dingin wajah Selina, tengah menilai keterkejutan gadis itu dengan sepasang mata elang yang tajam dan menusuk.

“Siapa kau?” tanya pria itu dengan suara bariton, berat, dan terdengar begitu berwibawa sekaligus tidak bersahabat.

Mendengar nada suara yang begitu dingin menjajah rungu, harga diri Selina yang terus-menerus diinjak-injak di rumah ini mendadak berontak.

Dia lantas menurunkan tangannya, menolak untuk terlihat lemah, meski wajahnya kini sudah memerah padam akibat salah tingkah melihat tubuh polos pria asing itu.

“Seharusnya aku yang bertanya, kau siapa?” Selina balik bertanya, dengan nada yang mencoba menantang tatapan intimidatif tersebut dengan sisa keberanian yang dia miliki.

Pria itu menaikkan satu alisnya tebalnya, tampak sedikit terkejut dengan kelancangan Selina. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. “Aku tidak tahu kalau di rumah ini ada pembantu baru yang begitu berani.”

Hinaan itu kembali membakar dada Selina. Apakah semua orang di keluarga ini memang dilahirkan untuk merendahkannya?

Selina langsung melengos dan memalingkan wajahnya ke arah dinding dan berkata dengan nada ketus, “Aku bukan pembantu. Aku istri Rafael. Namaku Selina.”

Hening tiba-tiba. Pria itu terdiam sejenak seraya menatap punggung Selina yang menegang. Matanya menyusuri sosok gadis itu, menyadari pakaian sederhana dan celemek yang melekat di tubuh wanita yang menyandang status sebagai keponakan menantunya.

“Oh, jadi kau gadis tidak beruntung itu.”

Suara bariton itu kini terdengar lebih pelan, namun mengandung penekanan yang membuat bulu kuduk Selina meremang. Gadis tidak beruntung? Jadi seluruh dunia sudah tahu betapa menyedihkannya posisi dia di rumah ini?

“Kenalkan,” pria itu melangkah maju dua kali dan memangkas jarak di antara mereka. “Aku Edgar Anthony. Paman suamimu.”

Selina terdiam membeku di tempatnya berdiri. Jadi, pria bertubuh atletis dan bermata tajam ini adalah paman misterius yang dibicarakan oleh Lucas dua hari yang lalu? Pria yang membuat Luna dan Rafael tegang hanya dengan mendengar namanya?

Didorong oleh rasa penasaran yang mendesak, Selina akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah Edgar. Namun, begitu pandangan mereka bertemu, Selina langsung terpaku.

Tatapan Edgar begitu tajam, mengunci manik matanya dengan intensitas yang begitu kuat.

Selina yang merasa terintimidasi langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir ketegangan yang mendadak mencekik lehernya. Dia buru-buru mengalihkan pandangan dari dada bidang Edgar yang masih basah.

“T-tolong segera kenakan pakaianmu, Paman Edgar,” ujar Selina terbata-bata, sambil terus merutuki lidahnya yang mendadak kelu.

“SELINA! MANA PAKAIAN KOTORNYA? CEPAT TURUN!”

Suara Luna kembali memanggil dari arah tangga, teriakan yang menggelegar itu memecah keheningan di antara Selina dan Edgar.

Selina pun tersentak. Kepanikan menjalar di seluruh tubuhnya. Jika Luna sampai tahu dia berlama-lama di kamar Edgar, wanita tua itu pasti akan menyiksanya habis-habisan.

Selina buru-buru berlutut untuk memunguti keranjang rotan dan pakaian yang berserakan. Namun, karena kaki Selina yang sudah luka lebam dan mati rasa akibat terlalu banyak bergerak sejak pagi, keseimbangannya goyah. Rasa nyeri yang menusuk dari pergelangan kakinya membuat tumpuannya runtuh.

Saat Selina hendak memutar tubuh untuk berlari keluar, tubuhnya terhuyung ke depan.

“Awas,” suara Edgar terdengar rendah saat pria itu mencoba menahan tubuh Selina.

Namun semuanya terlambat. Dalam kepanikan dan hilangnya keseimbangan, tangan Selina bergerak acak mencari pegangan untuk menyelamatkan diri dari jatuh. Jari-jarinya mencengkeram erat satu-satunya kain yang berada paling dekat dengan jangkauannya.

Srettt!

Selina jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, namun matanya seketika membola sempurna dengan rasa syok yang luar biasa. Di dalam genggaman tangannya yang gemetar, terdapat selembar handuk putih yang baru saja terlepas.

Selina mendongak perlahan dengan napas yang memburu, dan pemandangan di depannya membuat dunianya seolah berhenti berputar.

Edgar berdiri tepat di hadapannya, benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun, menatapnya dengan kilat mata yang semakin menggelap.

Edgar sama sekali tidak berusaha menutupi dirinya. Pria itu justru melangkah satu kali ke depan, yang membuat ujung jarinya hampir menyentuh wajah Selina yang mendongak kaku.

“Kau sudah mengambil pelindungku, Selina. Sekarang, bagaimana caramu membayarnya?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 171

    Usai meluapkan amukan dingin yang melumpuhkan jajaran direksi di ruang rapat internal, atmosfer di sekitar mereka berdua perlahan kembali tenang.Edgar melangkah tegap di depan dengan kedua tangan berada di dalam saku celana bahan mewahnya.Sementara itu, Samuel mengekor setengah tapak di belakang, jemarinya bergerak amat lincah menari di atas layar tablet digital untuk memastikan instruksi akuisisi dan surat pembekuan aset pelabuhan Surabaya meluncur tepat waktu ke tim hukum."Semua draf gugatan arbitrase Jenewa sudah terkirim ke email pribadi Olivia Vance lima menit lalu, Edgar," ujar Samuel seraya menggeser layar tabletnya, bermaksud memecah heheningan."Bisa kupastikan wanita pirang itu sedang mengamuk dan melemparkan cangkang kopi mahalnya di dalam jet pribadi sekarang."Edgar tidak menoleh, hanya sudut bibirnya yang terangkat sangat tipis. "Pastikan tim intelijen finansial kita memantau setiap pergerakan rekening entitas turunan Vance Corp hingga esok pagi.""Beres, Bos Besar! S

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 170

    Hanya butuh waktu lima belas menit setelah Olivia Vance dan rombongannya melangkah keluar dari gedung dengan wajah memerah menahan malu, ruang rapat utama Anderson Group kembali terisi penuh.Pintu ganda kayu jati ditutup rapat. Di dalam ruangan kedap suara itu, suasana mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, bukan lagi tegang oleh intrik musuh luar, melainkan membeku oleh teror internal yang siap menerjang.Belasan pemegang saham senior, dewan komisaris, dan seluruh jajaran manajer proyek ekspansi cabang duduk kaku di kursi kulit masing-masing.Tidak ada bisikan, tidak ada dentang cangkir kopi.Hanya ada helaan napas tertahan dari para petinggi korporasi yang menyadari bahwa sang penguasa tertinggi sedang berada di puncak amarahnya.Edgar berdiri tegap di kepala meja mahoni. Jas tiga lapis mewahnya masih melekat sempurna, namun dasi sutranya kini sedikit dilonggarkan.Pria itu tidak duduk. Mata elangnya yang tajam dan menusuk menyapu satu per satu wajah para direktur yang men

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 169

    Sinar matahari pagi membias dingin menembus dinding kaca tebal di lantai teratas gedung Anderson Group.Di dalam ruang rapat utama yang megah dan kedap suara, atmosfer terasa begitu pekat, kaku, dan mencekam.Meja mahoni berukuran raksasa membentang di tengah ruangan, memantulkan pendar lampu pualam yang elegan.Edgar berdiri tegap di ujung meja. Pria penguasa bursa saham itu tampil sempurna dalam balutan setelan three-piece suit berwarna abu-abu gelap buatan penjahit terbaik Savile Row.Aura dominasinya terpancar begitu pekat, dingin, dan membekukan, seolah setiap helai napas yang ia hembuskan sanggup memangkas suhu ruangan hingga ke titik didih terendah.Di sebelah kanannya, Samuel berdiri santai seraya merapikan ujung lengan kemeja mewahnya.Meski raut wajahnya dihiasi senyum tipis khas pria dandy, pendar mata kecerdasan taktisnya menyala tajam, siap mengeksekusi setiap perintah sang CEO.Klek.Pintu ganda berlapisan kayu jati tebal di ujung ruangan terbuka perlahan. Derap langkah

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 168

    Pintu besi tempa mansi utama terbuka perlahan saat sedan mewah Edgar memasuki pelataran.Di dalam kabin, Edgar menghela napas panjang, menatap sebentar pantulan dirinya di kaca spion tengah.Raut kaku dan beban intrik korporasi di wajahnya berusaha ia singkirkan rapat-rapat sebelum jemarinya mendorong pintu mobil.Langkah kaki Edgar bergema stabil di atas pualam lorong depan. Begitu memasuki area ruang keluarga utama, aroma vanila dan kayu cendana yang menenangkan seketika menyapa indra penciumannya.Di atas sofa empuk berbalut kain beledu, Selina tampak sedang duduk santai seraya membaca majalah desain interior.Ia mengenakan gaun tidur longgar berwarna merah muda lembut.Wajah cantiknya yang merona alami dipenuhi ketenangan, dan begitu mendengar derap langkah sepatu suaminya, Selina mendongak dengan senyuman hangat yang mekar sempurna."Kau sudah pulang, Edgar?" sapa Selina manis, gerakan tubuhnya hendak bergeser untuk berdiri."Jangan bangun, Sayang," potong Edgar cepat.Langkah ka

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 167

    Sisa aura panas bekas benturan kata-kata tajam di ruang kerja presiden direktur masih membubung tebal di udara.Tunjuk jari Edgar yang membunuh masih mengambang sejenak di depan wajah Samuel, sebelum akhirnya pria penguasa bursa saham itu menarik kembali tangannya secara perlahan.Edgar menghela napas panjang melalui hidungnya, mengalirkan oksigen dingin untuk meredakan gejolak emosi di dalam dadanya.Dengan ketenangan eksekutif yang kembali terkendali penuh, ia memutarkan tubuh, meraih dasi sutranya yang sempat agak miring, lalu merapikan simpulnya secara presisi di depan cermin dinding pualam."Keterampilanmu dalam memprovokasi orang memang belum berkurang sedikit pun, Samuel," ucap Edgar dengan suara bariton rendah yang kembali tenang, membelakangi asistennya.Samuel terkekeh pelan, melangkah mundur dua tapak lalu menyandarkan pinggulnya ke tepi meja kerja."Aku tidak memprovokasi, Edgar. Aku cuma menjalankan tugasku sebagai satu-satunya orang di perusahaan ini yang berani menepuk

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 166

    Brak!Edgar menghempaskan berkas tipis berisi foto dan rekam jejak Olivia Vance ke atas meja kaca mewahnya hingga terdengar dentum keras yang menggema di seluruh sudut ruangan.Pria itu berdiri tegap, membelakangi meja kerja seraya melepas kancing jas hitamnya dengan gerakan kasar. Ujung matanya membeku tajam menatap pemandangan pencakar langit dari balik dinding kaca tebal."Rombak total struktur pendanaan proyek kawasan selatan sekarang juga," perintah Edgar dengan intonasi bariton yang menusuk dingin."Ganti seluruh konsorsium investor Eropa dengan dana internal Anderson Group. Alokasikan likuiditas cadangan kita sebesar delapan triliun rupiah sore ini. Aku tidak sudi nama perusahaan kita terkoneksi satu milimeter pun dengan entitas milik Olivia Vance."Samuel yang berdiri santai di seberang meja tidak bergerak sedikit pun.Alih-alih buru-buru menyambar laptopnya untuk mengeksekusi perintah, asisten pribadi itu justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya.

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 7: Bisa Melakukannya denganku

    Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 6: Keceplosan

    Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 5: Sudah Kehilangan Akal Sehatnya!

    Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar

  • Hasrat dan Obsesi Paman Suamiku   Bab 4: Tuduhan yang Keji

    Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status