LOGIN“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.
Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan hari ini.
“Bukankah kamar ujung tidak ada penghuninya, Ibu?” tanyanya kemudian.
“Jangan banyak bertanya! Lakukan saja apa yang kukatakan, dasar tidak berguna!” semprot Luna, lalu memutar tubuh dan melenggang pergi dengan ketukan sepatu hak tingginya yang angkuh.
Selina menghela napas panjang sambil meremas pegangan keranjang rotan untuk menyalurkan rasa sesak di dadanya. Sebab tak ingin ingin memicu keributan lagi, dengan langkah yang agak terseret, dia menyusuri lorong panjang menuju ujung bangunan sayap barat.
Selina memutar knop pintu perlahan, lalu melangkah masuk.
Kedua matanya seketika melebar. Kamar yang selama ini dia kira kosong dan berdebu itu ternyata sangat luas, bernuansa kelabu maskulin, dan dalam kondisi berantakan. Selimut tebal terkulai di lantai, beberapa botol wiski kosong berjejer di atas meja kerja, dan kemeja-kemeja mahal tercampak begitu saja di atas sofa kulit.
Sambil memunguti pakaian kotor itu satu per satu, Selina menggerutu pelan di dalam hati. ‘Mungkin semalam ada tamu penting yang menginap di sini, dan Luna sengaja menjadikanku tumbal untuk membereskannya.’
Selina berlutut untuk meraih sehelai kaus kaki di dekat ranjang King Size. Tepat saat dia menegakkan tubuh dan berbalik, langkahnya mendadak terkunci. Jantungnya mencelos hingga ke lambung.
Di ambang pintu kamar mandi yang baru saja terbuka, berdiri seorang pria. Uap hangat tipis masih mengepul di belakang tubuhnya yang tinggi tegap. Pria itu hanya mengenakan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya yang kokoh.
Dadanya yang bidang terekspos sempurna, memperlihatkan otot-otot perut yang begitu ketat dan liat, basah oleh sisa-sisa tetesan air mandi. Ketampanannya sangat mencolok, namun aura yang dipancarkannya begitu pekat dan dominan.
“Aaaa!” Selina menjerit terkejut dan refleks menutup kedua matanya dengan telapak tangan yang gemetar. Hingga membuat keranjang di genggamannya merosot ke lantai.
Pria itu tidak bergerak setapak pun. Matanya hanya menatap dingin wajah Selina, tengah menilai keterkejutan gadis itu dengan sepasang mata elang yang tajam dan menusuk.
“Siapa kau?” tanya pria itu dengan suara bariton, berat, dan terdengar begitu berwibawa sekaligus tidak bersahabat.
Mendengar nada suara yang begitu dingin menjajah rungu, harga diri Selina yang terus-menerus diinjak-injak di rumah ini mendadak berontak.
Dia lantas menurunkan tangannya, menolak untuk terlihat lemah, meski wajahnya kini sudah memerah padam akibat salah tingkah melihat tubuh polos pria asing itu.
“Seharusnya aku yang bertanya, kau siapa?” Selina balik bertanya, dengan nada yang mencoba menantang tatapan intimidatif tersebut dengan sisa keberanian yang dia miliki.
Pria itu menaikkan satu alisnya tebalnya, tampak sedikit terkejut dengan kelancangan Selina. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. “Aku tidak tahu kalau di rumah ini ada pembantu baru yang begitu berani.”
Hinaan itu kembali membakar dada Selina. Apakah semua orang di keluarga ini memang dilahirkan untuk merendahkannya?
Selina langsung melengos dan memalingkan wajahnya ke arah dinding dan berkata dengan nada ketus, “Aku bukan pembantu. Aku istri Rafael. Namaku Selina.”
Hening tiba-tiba. Pria itu terdiam sejenak seraya menatap punggung Selina yang menegang. Matanya menyusuri sosok gadis itu, menyadari pakaian sederhana dan celemek yang melekat di tubuh wanita yang menyandang status sebagai keponakan menantunya.
“Oh, jadi kau gadis tidak beruntung itu.”
Suara bariton itu kini terdengar lebih pelan, namun mengandung penekanan yang membuat bulu kuduk Selina meremang. Gadis tidak beruntung? Jadi seluruh dunia sudah tahu betapa menyedihkannya posisi dia di rumah ini?
“Kenalkan,” pria itu melangkah maju dua kali dan memangkas jarak di antara mereka. “Aku Edgar Anthony. Paman suamimu.”
Selina terdiam membeku di tempatnya berdiri. Jadi, pria bertubuh atletis dan bermata tajam ini adalah paman misterius yang dibicarakan oleh Lucas dua hari yang lalu? Pria yang membuat Luna dan Rafael tegang hanya dengan mendengar namanya?
Didorong oleh rasa penasaran yang mendesak, Selina akhirnya memberanikan diri untuk menoleh ke arah Edgar. Namun, begitu pandangan mereka bertemu, Selina langsung terpaku.
Tatapan Edgar begitu tajam, mengunci manik matanya dengan intensitas yang begitu kuat.
Selina yang merasa terintimidasi langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir ketegangan yang mendadak mencekik lehernya. Dia buru-buru mengalihkan pandangan dari dada bidang Edgar yang masih basah.
“T-tolong segera kenakan pakaianmu, Paman Edgar,” ujar Selina terbata-bata, sambil terus merutuki lidahnya yang mendadak kelu.
“SELINA! MANA PAKAIAN KOTORNYA? CEPAT TURUN!”
Suara Luna kembali memanggil dari arah tangga, teriakan yang menggelegar itu memecah keheningan di antara Selina dan Edgar.
Selina pun tersentak. Kepanikan menjalar di seluruh tubuhnya. Jika Luna sampai tahu dia berlama-lama di kamar Edgar, wanita tua itu pasti akan menyiksanya habis-habisan.
Selina buru-buru berlutut untuk memunguti keranjang rotan dan pakaian yang berserakan. Namun, karena kaki Selina yang sudah luka lebam dan mati rasa akibat terlalu banyak bergerak sejak pagi, keseimbangannya goyah. Rasa nyeri yang menusuk dari pergelangan kakinya membuat tumpuannya runtuh.
Saat Selina hendak memutar tubuh untuk berlari keluar, tubuhnya terhuyung ke depan.
“Awas,” suara Edgar terdengar rendah saat pria itu mencoba menahan tubuh Selina.
Namun semuanya terlambat. Dalam kepanikan dan hilangnya keseimbangan, tangan Selina bergerak acak mencari pegangan untuk menyelamatkan diri dari jatuh. Jari-jarinya mencengkeram erat satu-satunya kain yang berada paling dekat dengan jangkauannya.
Srettt!
Selina jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, namun matanya seketika membola sempurna dengan rasa syok yang luar biasa. Di dalam genggaman tangannya yang gemetar, terdapat selembar handuk putih yang baru saja terlepas.
Selina mendongak perlahan dengan napas yang memburu, dan pemandangan di depannya membuat dunianya seolah berhenti berputar.
Edgar berdiri tepat di hadapannya, benar-benar telanjang tanpa sehelai benang pun, menatapnya dengan kilat mata yang semakin menggelap.
Edgar sama sekali tidak berusaha menutupi dirinya. Pria itu justru melangkah satu kali ke depan, yang membuat ujung jarinya hampir menyentuh wajah Selina yang mendongak kaku.
“Kau sudah mengambil pelindungku, Selina. Sekarang, bagaimana caramu membayarnya?”
Edgar Anderson—seorang CEO konglomerat bernilai miliaran dolar yang biasanya berdiri di balik meja kaca megah untuk mengatur pergerakan bursa saham global, kini terpaksa berlari-lari kecil di atas pasir pantai yang lembut dengan raut wajah yang amat sangat serius.Ia melakukan itu semua hanya demi mengejar seekor burung camar lokal yang bertubuh gemuk dan menatapnya penuh tantangan dari atas batu karang.Burung itu seolah paham bahwa targetnya adalah seorang miliarder, sehingga ia sengaja mematuk-matuk topi pantai bertepi lebar milik Selina dengan pongah setiap kali Edgar mendekat."Hei, burung bodoh, kembalikan topi istriku sekarang juga!" ancam Edgar dengan suara bariton beratnya yang biasa membuat para direktur perusahaan merinding ketakutan.Burung camar itu justru mengepakkan sayapnya ribut, mencabik sedikit pita hiasan topi tersebut, lalu terbang rendah melintasi ombak.Edgar menggeram pelan, melangkah dengan kepalan tangan erat, hingga akhirnya ia melempar sebuah kerikil kecil
Cahaya matahari pagi Yunani menyusup lembut melintasi celah tirai sutra vila privat, menyiram kamar utama dengan rona keemasan yang hangat.Selina perlahan menggerakkan jemarinya, terbangun oleh harum manis wafel panggang dan aroma kopi yang menggugah selera.Di samping peraduan, Edgar sudah berdiri rapi dalam balutan kemeja putih kasual yang tergulung hingga siku.Senyum tipis yang teramat langka terhias di wajah tegap sang penguasa Anderson Group."Selamat pagi, Istriku. Waktunya menyambut pagi pertama kita di sini," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang hangat.Edgar meraih tangan Selina secara perlahan, membantu istrinya yang sedang mengandung itu untuk beranjak dari kasur empuk.Edgar membimbing Selina melangkah keluar menuju pelataran kolam renang infinity yang membelah tebing dengan pemandangan langsung menghadap laut lepas.Di permukaan air kolam yang bening bagai kristal, sebuah nampan kayu raksasa berbentuk hati sudah terapung dengan anggunnya.Di atas floating bre
Edgar merangkak naik ke atas peraduan megah yang dilapisi kain sutra halus, mengurung tubuh Selina di bawah dominasi tubuh tegapnya.Tanpa memberikan waktu bagi Selina untuk mengatur napasnya yang mulai memburu, jemari besar Edgar bergerak sigap meraup ritsleting gaun malam merah marun yang dikenakan istrinya, melucutinya tanpa ragu hingga gaun indah itu terhempas ke lantai.Edgar menunduk dan langsung menguasai bibir Selina dalam sebuah ciuman yang teramat panas, dalam, dan memabukkan.Tidak ada jeda untuk bernapas; lidah Edgar menerobos masuk, melilit dan memanjakan lidah Selina dengan keliaran yang menuntut penuh.Ciuman yang penuh ketegangan dan rasa kepemilikan mutlak itu seketika merampas sisa kesadaran Selina, membakar seluruh ketahanan dirinya hingga hanya bisa pasrah meremas bahu tegap suaminya.Aura dominasi Edgar makin tak terbendung di bawah pendar redup lilin aromaterapi yang menari-nari di dinding kamar.Jemari besarnya mulai mengeksplorasi area-area sensitif tubuh Selin
Pintu kamar ganti perlahan terbuka, memancarkan pesona anggun Selina yang melangkah keluar dengan langkah penuh kehati-hatian.Gaun malam sutra berwarna merah marun itu melekat sempurna di tubuh mulusnya, menjatuhkan siluet keindahan yang memikat dan memperlihatkan lekuk perutnya yang membuncit manis di trimester kedua.Edgar yang sudah menunggu di area ruang tengah dalam balutan kemeja hitam yang lengannya tergulung rapi seketika terpaku.Tatapan mata elangnya menggelap, dipenuhi kepemilikan mutlak dan rasa kagum tanpa cela saat memandangi sosok wanita yang kini resmi menjadi istrinya tersebut."Kau tampak begitu menakjubkan, Selina," puji Edgar dengan suara bariton rendah seraya melangkah mendekat dan merengkuh jemari wanita itu."Terima kasih, Edgar... gaun pilihanmu ini sungguh sangat indah," balas Selina dengan pipi yang mendadak memerah merona di bawah tatapan intens suaminya.Edgar menuntun Selina melangkah keluar dari vila utama, menelusuri tangga kayu yang membawa mereka menu
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden tebal, menyinari area kamar utama apartemen mewah.Selina perlahan membuka matanya, merasakan usapan lembut di bahunya dan kehangatan dada bidang yang menjadi tempat kepalanya bersandar.Pria penguasa Anderson Group itu sudah terbangun lebih dulu, dan menatapnya dengan pendar mata elang yang dipenuhi kelembutan murni."Selamat pagi, Istriku," bisik Edgar seraya mendaratkan kecupan hangat di kening Selina yang baru saja terbangun."Selamat pagi, Suamiku," sahut Selina seraya tersenyum manis, membalas pelukan tegap Edgar dan merasakan sisa-sisa kehangatan malam pertama mereka yang begitu pekat.Edgar bergeser sedikit, meraih sebuah nampan perak yang sudah tertata rapi di samping peraduan.Edgar menyajikan sarapan mewah berupa sup hangat pilihan peracik gizi, buah-buahan segar, dan segelas susu khusus ibu hamil tepat di atas ranjang untuk istrinya."Kau tidak boleh beranjak dari kasur sebelum menghabiskan sarapan ini, S
Tanpa menunggu jawaban atau celah penolakan dari bibir Selina, Edgar membalikkan tubuh istrinya dengan satu pergerakan tegas yang mendominasi.Pria itu menyangga panggul Selina yang masih terengah-engah, lalu menyejajarkan posisinya dari belakang.Tanpa memberikan jeda untuk penyesuaian, Edgar langsung menekan panggulnya maju, melesakkan kejantanannya yang membentang tegang masuk sepenuhnya ke dalam liang intim Selina yang sudah terbalur basah dan hangat."Ahhh! Edgar!" Selina mengerang kenikmatan yang teramat tajam saat merasakan sensasi pekat dan sesak mengisi liang dalamnya tanpa menyisakan ruang sedikit pun.Perlahan tapi pasti, Edgar menarik sedikit panggulnya sebelum mendorong kembali tubuhnya secara penuh, menghantamkan dirinya masuk menembus dinding intim Selina hingga ke batas terdalam.Selina melengkungkan punggungnya, memejamkan mata rapat-rapat seraya mengeratkan pegangannya pada kain sprei yang kini terkoyak acak akibat remasan tangannya yang gemetar.Edgar tidak membiark
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina melangkah pelan mengekor di belakang Luna dengan langkahnya yang pincang akibat luka lebam yang belum sembuh sepenuhnya.Benar saja, begitu mereka menginjakkan kaki di ruangan luas itu, pemandangan di depannya membuat nyali Selina menciut.Di sana sudah ada Rafael yang duduk santai sambil me
Selina buru-buru bangkit berdiri dan mengabaikan rasa perih yang menjalar di pergelangan kakinya. Dia lalu melemparkan kain handuk di tangannya ke atas lantai dengan gerakan panik, dan memalingkan wajahnya sejauh mungkin hingga menyentuh bahunya sendiri.“M-maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, Pama
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus







