Mag-log inSuasana di dalam ruang tengah mansi utama Anderson Group tampak begitu damai pada Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos hangat melalui dinding kaca raksasa, membias di atas karpet bulu tebal tempat Little Lysander yang kini berusia enam bulan sedang asyik menelungkup.Namun, kedamaian itu mendadak terusik saat Selina melangkah keluar dari dapur bersih dengan secangkir teh chamomile di tangannya.Begitu matanya menangkap pemandangan di ruang tengah, langkah kaki Selina seketika terhenti.Kelopak matanya membelalak lebar, bibirnya terbuka kaku, dan teh hangat di cangkirnya hampir saja tumpah."Edgar Anderson... apa-apaan ini?" gumam Selina dengan nada tak percaya.Di tengah ruangan, Edgar berdiri tegap dalam balutan hoodie kasual dan celana kargo.Namun, yang membuat Selina geleng-geleng kepala adalah penampilan suaminya: Edgar mengenakan rompi taktis khusus lengkap dengan jajaran piringan sensor digital di dadanya, kacamata hitam berdesain futuristic, serta sebuah sarung bayi (baby ca
Keheningan malam yang syahdu menyelimuti seluruh sudut kediaman megah itu.Di kamar bayi yang berbatasan langsung dengan peraduan utama, Little Lysander telah tertidur lelap di dalam boks jati mewahnya usai disusui.Di bawah pengawasan telaten dua perawat senior yang bersiaga tanpa suara, sang putra mahkota terlelap dalam buaian mimpi yang damai.Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu dipenuhi ketegangan konflik korporasi, intrik musuh, dan drama persalinan yang mendebarkan, Edgar dan Selina akhirnya memiliki ruang privat murni milik mereka berdua.Di balkon luas kamar tidur utama yang menghadap langsung ke arah hamparan taman mawar dan gemerlap pendar lampu kota di kejauhan, angin malam berembus sangat lembut.Edgar melangkah keluar dari pintu kaca yang terbuka separuh. Pria tegap itu membawa sehelai selimut wol kasmir berwarna putih bersih.Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh perlindungan, Edgar menyelimutkan kain hangat itu ke bahu mulus Selina, membungkus tubuh is
Edgar melangkah mendekat, membawa sebuah map kulit berwarna hitam eksklusif yang berisi draf dokumen akta kelahiran resmi.Pria tegap itu melayangkan tatapan tajam nan mengintimidasi ke arah Samuel yang sedang berdiri di sudut ruangan, memberi isyarat agar sang asisten memberikan ruang privat bagi mereka.Samuel mengangguk paham, melangkah keluar pintu secara perlahan tanpa menimbulkan suara.Edgar menarik kursi berbusa empuk, duduk tepat di sisi ranjang Selina. Jemari tegapnya merayap menyusuri jemari halus sang istri, menggenggamnya rapat dengan kehangatan murni."Dokumennya sudah siap, Sayang," bisik Edgar dengan suara bariton rendahnya yang teramat lembut.Pria itu kemudian merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Selina. "Nama yang sudah kita sepakati bersama... hari ini resmi terukir untuk penerus kita."Selina mendongak, mengukir senyuman manis yang memancar indah dari bibirnya yang mulai memerah alami. "Sebutkan namanya lagi, Edgar. Aku ingin mendengarnya langsung
Suara tangisan nyaring yang tadinya memenuhi ruang bersalin perlahan mereda begitu tubuh mungil berwarna kemerahan itu dibersihkan dengan kain steril dan diletakkan di atas dada telanjang Selina.Proses inisiasi menyusu dini dimulai.Begitu kulit halus bayi itu menyentuh kehangatan dada ibunya, naluri alaminya seketika bekerja. Bayi mungil itu berhenti menangis, jemari kecilnya yang halus menyambar erat kain jubah rumah sakit yang dikenakan Selina.Selina memejamkan mata sejenak, meresapi getaran kehangatan murni yang menjalar hingga ke sudut jiwanya.Air mata bahagianya terus menetes tipis, mengalir melintasi pipinya yang pucat namun memancarkan aura keibuan yang luar biasa anggun.Edgar membungkuk di samping ranjang tindakan, matanya tak berkedip menatap sosok mungil di atas dada istrinya.Dahi bayi itu memiliki garis yang sangat halus, hidungnya menjulang mancung sejak lahir, dan struktur garis rahangnya sudah tampak tegas meski baru berusia hitungan menit."Tatap dia, Edgar..." bi
Bau antiseptik menyengat memenuhi udara dingin di dalam ruang bersalin utama. Di bawah sorotan pendar lampu operasi yang terang benderang, Edgar duduk berlutut di sebelah kiri kepala Selina.Pria penguasa bursa saham itu telah mengenakan jubah hijau steril dan masker medis, namun keangkuhan serta aura dinginnya telah menguap sepenuhnya.Tangan tegapnya yang biasa memaraf transaksi triliunan rupiah kini gemetar hebat, menggenggam erat telapak tangan Selina yang membasah oleh peluh dingin.Selina memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya kempas-kempis memburu. Rambut cantiknya lepek menempel di dahi akibat keringat yang terus mengucur deras."Nyonya Selina, dengarkan instruksi saya," ujar Dr. Arisandi tegas di ujung ranjang tindakan, memosisikan diri di antara kedua kaki Selina."Pembukaan sudah lengkap sepuluh! Saat kontraksi berikutnya datang, tarik napas dalam-dalam, tahan di dada, lalu mengejan dengan kuat ke arah bawah!""Edgar... ahh... Sakit sekali..." rintih Selina dengan suara se
Sisa kehangatan dari percumbuan membara di atas sofa empuk ruang tengah masih membekas manis di udara. Edgar masih merengkuh erat tubuh lemas Selina dalam dekapan dada bidangnya. Selimut sutra membungkus tubuh polos mereka berdua dari terpaan angin malam.Detak jantung Edgar yang perlahan menyatu stabil dengan deru napas Selina menyajikan ketenangan sempurna di tengah remang pendar lilin aroma terapi."Kamu lelah, Sayang?" bisik Edgar lembut tepat di pelipis Selina, jemari tegapnya merayap halus mengusap bahu mulus sang istri."Ayo, aku bopong kembali ke kamar utama supaya istirahatmu lebih nyaman."Selina tersenyum tipis, mengangguk pelan dalam dekapan suaminya. "Iya, Edgar. Panggulku terasa agak pegal—"Kalimat Selina terputus seketika. Tubuh anggunnya mendadak menegang kaku di dalam dekapan Edgar.Jemari halusnya menyambar cengkeraman kencang pada lengan tegap suaminya, meremas kulit Edgar hingga buku-buku jarinya memutih kaku."Nngghh... A-Ah!" rintihan kesakitan yang amat tajam m
“Pergi ke kamar paling ujung di sayap barat. Ambil semua pakaian kotor di sana dan cuci sampai bersih!” perintah Luna tanpa memandang wajah lelah menantunya.Selina mengerutkan keningnya sembari menahan rasa perih yang menjalar dari telapak kakinya karena terlalu banyak pekerjaan yang dia kerjakan
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara







