FAZER LOGIN"Kak Rafi!"Mendengar namanya dipanggil, Rafi yang sebelumnya fokus pada layar ponselnya perlahan mengangkat wajahnya dan tersenyum pada wanita yang kini berderap cepat ke arahnya.Dia sekarang duduk di salah satu meja cafe mewah di jantung kota Jakarta. Karena panggilan dari Clara tadi, dia langsung meninggalkan semua urusannya di perusahaan untuk menemui wanita itu."Kak Rafi, udah nunggu lama ya? Maaf tadi jalanan lagi macet," tukas Clara menyesal saat sudah berada di dekat Rafi. Dia lalu menarik salah satu kursi yang ada di seberang Rafi, dan mendudukkan dirinya pelan."Tidak apa-apa, Clara. Lagi pula aku juga baru saja sampai kok," balas Rafi seraya menggeser gelas kopinya yang sudah kosong ke belakang lengannya.Sebenarnya Rafi sudah ada di cafe ini tiga puluh menit yang lalu. Tapi, dia tidak mengatakan itu pada Clara karena tidak ingin wanita itu merasa bersalah."Benarkah? Syukurlah kalau begitu," ucap Clara lega. "Kalau gitu mau aku pesankan minuman apa?""Tidak perlu, Clara.
"Rasanya sungguh tidak nyaman," dengus Arthur seraya membolak-balikkan sebelah tangannya yang sekarang digips."Nanti Anda akan terbiasa, Pak Arthur," balas Surya yang sedang mengemudikan mobil, membawa mereka bertiga kembali ke perusahaan sebelum tadinya mereka berada di rumah sakit untuk mengobati tangan Arthur.Renata menahan senyumnya karena Arthur terus saja mengeluhkan tangannya. Pria itu tidak bisa diam, dan terus mengomel seperti anak kecil."Shit! Lebih baik aku lepas. Aku tidak bisa melakukan apa-apa kalau tanganku seperti ini." Arthur mendengus lagi. Kali ini dia juga mengumpat karena gips sialan yang membuat tangannya jadi sulit digerakkan.Namun, dia jadi berhenti mengomel saat tatapannya beralih pada Renata.Sebuah ide mendadak menghinggapi kepalanya.Kalau tangannya sedang sakit seperti ini, mungkin Arthur bisa mendapatkan lebih banyak perhatian dari Renata.Arthur akan menyuruh istri sepupunya itu untuk membantunya menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Arthur akan memp
"Hoamm ...." Renata meregangkan tubuhnya yang terasa sakit semua karena digagahi Arthur terus menerus semalaman suntuk. Dia menatap Arthur yang masih tertidur di sampingnya dengan seulas senyuman.Renata tidak menyangka jika atasannya itu benar-benar serius akan bercinta dengannya sebanyak sepuluh ronde. Hingga membuat sekujur tubuh Renata terasa remuk, apalagi kewanitaannya mungkin saja sudah bengkak sekarang.Perlahan Renata beranjak dari atas ranjang menuju ponselnya yang dia letakkan di meja nakas. Tubuhnya masih telanjang, tapi Renata tidak peduli. Dia ingin segera mengirimkan pesan pada Siti agar tetangganya itu membuatkan sarapan untuk Alvaro karena dia akan terlambat pulang nanti.[Maaf, Siti. Semalam aku harus lembur kerja. Setelah ini aku pulang sebentar untuk memandikan Alvaro dan membersihkan rumah. Minta tolong buatkan sarapan untuk Alvaro dulu ya. Buatkan sup dengan resep yang sudah aku tempelkan di kulkas ].Selepas mengirimkan pesan, Renata menghela napas lega. Lalu,
"Pak Arthur, lepas," pinta Renata berusaha melepaskan diri dari pelukan Arthur.Sekarang dia berada di atas dada pria itu. Wajahnya pun begitu dekat dengan wajah Arthur sehingga Renata bisa merasakan napas hangat Arthur berhembus pelan menerpa pipinya."Jangan ganggu tidurku, Renata," balas Arthur setengah meracau. Didekapnya tubuh Renata lebih erat lagi sampai wanita itu kesulitan bernapas.Renata menarik-narik tangan kekar Arthur dari pinggangnya, tapi berakhir sia-sia.Karena gagal lepas dari pelukan Arthur, Renata akhirnya memilih pasrah saja.Ditatapinya wajah tampan Arthur dalam diam.Hidung mancung, sepasang mata yang dibingkai bulu mata lentik, alis tebal, rahang tegas, serta bibir tipis yang mempesona.Sungguh melihat Arthur lama-lama seperti ini membuat Renata tidak bisa menguasai detak jantungnya sendiri.Jantungnya dengan kurang ajar berdetak lebih cepat dari biasanya. Hingga Renata takut Arthur mendengarnya dengan jarak sedekat ini.Untungnya Arthur sedang tertidur, jadi
"Renata, gawat!" "Ada apa, Pak Surya?" tanya Renata pada Surya di telepon. Suara pria paruh baya itu terdengar sangat panik. Sampai membuat Renata ikut gelisah.Tidak biasanya Pak Surya seperti ini. Karena pria itu selalu tenang dalam menghadapi setiap masalah.Pikiran Renata seketika langsung tertuju pada Arthur.Sejak Arthur pergi tadi siang sampai malam ini, atasannya itu belum juga kembali ke perusahaan. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya."Apa ini soal Pak Arthur, Pak?" tanya Renata dengan tidak sabaran.Surya yang ada di seberang telepon menggangguk mengiyakan, meski Renata tidak bisa melihatnya. "Iya, Renata.""Renata, minta tolong kamu jemput Pak Arthur sekarang di club. Saya akan kirim alamat clubnya ke kamu," tukas Surya pada Renata. "Pastikan Pak Arthur jangan sampai mabuk.""Memangnya kenapa kalau Pak Arthur sampai mabuk, Pak?" "Kamu tidak perlu tahu, Renata. Kamu juga pasti tidak ingin tahu," balas Surya yang tidak ingin memberitahukan soal rahasia atasannya yang per
"Pak Arthur, berhenti ...." Renata berusaha menghentikan Arthur dengan mendorong dada pria itu pelan.Tapi, bukannya Arthur berhenti. Pria itu justru semakin kalap menelanjangi Renata di atas meja kerjanya. Sampai semua barang yang ada di atas meja itu berjatuhan ke lantai karena gerakannya yang liar."Kenapa menyuruhku berhenti, kalau tubuhmu saja menginginkanku, Renata?" balas Arthur bertanya dengan suara beratnya yang menggoda.Kedua mata Arthur seketika dipenuhi gelora gairah yang berkobar begitu dia melihat tubuh telanjang Renata. Payudara wanita itu yang bulat sempurna, dengan puting merah muda. Serta, bagian intimnya yang bersih. Membuat Arthur tidak sabar untuk segera menggagahinya.Sementara, Renata bergeleng dengan berderai air mata. Dia marah dengan sikap kurang ajar Arthur. Tapi, dia lebih marah pada dirinya sendiri.Harusnya dia mendorong Arthur lebih keras lagi. Namun, sialnya tubuhnya justru menginginkan sentuhan pria itu."Tubuhmu sangat indah, Renata," puji Arthur den







