Share

Bab 118.

Author: BayS
last update Petsa ng paglalathala: 2025-02-09 11:31:07

"Wah, Bimo. Kamu memangnya tinggal di mana..?" tanya Budiman ramah.

"Saya tinggal di daerah Caiwi juga kok Pak. Dari sini hanya sekitar 3 km saja Pak Budiman."

"Kalau kau bukan teman kuliah Fira, terus pekerjaanmu apa Bimo..?" tanya Budiman lagi, diam-diam dia jadi penasaran dengan pemuda itu.

"Saya hanya seorang konsultan biasa Pak Budiman," sahut Bimo tenang.

"Wah..! Seorang konsultan rupanya. O ya, Fira. Masa ada teman datang kok nggak disuguhi minuman," ucap Budiman, seraya menegur putr
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 266.

    "Aku lawanmu Yoga..! Kalau kau bukan pengecut, ikuti aku..!" Splassh..! Bimo melesat bak kilat ke arah padang rumput luas Cubideg. Karena tentu saja Bimo tak ingin ada korban jiwa tak berdosa, akibat duelnya dengan Yoga. "Baik Bimo! Kuterima tantanganmu..! Dan markasmu ini akan kuhancur leburkan setelah kau mampus..!" Splash! Yoga berseru lantang penuh amarah, seraya langsung melesat mengejar Bimo. 'Hmm. Aku baru kerahkan sebagian powerku. Powernya ternyata masih berada dibawahku..!' bathin Yoga, setelah merasakan benturan pukulannya dengan Bimo barusan.Ya, Yoga mengira Bimo sudah kerahkan segenap powernya, untuk menahan pukulan Jari Petirnya tadi. Hal yang membuatnya sangat yakin menerima tantangan dari Bimo, dan akan bisa mengalahkannya! "Bos Bimo..! Menang dan kembalilah secepatnya..!" seru keras bergetar Denta penuh harap di bawah sana, saat melihat sosok Bimo muncul dan menantang Yoga. "Bos pasti menang..!" seru Parlan yakin, walau sebenarnya hatinya berdebar cemas. Ya, mer

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 265.

    "Baik! Aku berangkat sekarang..!" seru tegas Yoga, di tengah rasa galaunya. Ya, bagaimana Yoga tak merasa galau dan jengkel, karena tak ada satupun kabar mengenai keadaan markas Gank Shadownya di Pulau Duyung..? Tak lama kemudian sebuah helikopter pun take of dari heliport kediaman Prayoga, membawa serta Yoga yang tengah dicekam rasa amarahnya. Tak sampai limabelas menit kemudian, helikopter yang membawa Yoga sudah mengapung di atas Pulau Duyung. 'Hmm. Kemana tabir perisai yang tadi menghalangi pandanganku..?! Aneh..!' bathin Yoga bingung tapi juga kesal. Namun kini Yoga dapat melihat tembus dengan jelas dengan mata bathinnya, dari atas helikopter yang membawanya itu. Dan siratan bayangan peristiwa yang terjadi di pulau Duyung pun mulai bermunculann di benak dan bathinnya. Seiring tatapan tajam Yoga menelusuri kondisi markasnya, dari dalam helikopter yang ditumpanginya. "Bajingan..! Bedebah kau Bimo..!" Byarsshk..! Meledak sudah kemarahan Yoga, powernya meledak bersamaan dengan

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 264.

    "Bagus..! Rupanya memang harus aku sendiri yang menghadapi dan menghabisi Bimo keparat itu..!" desis tajam Yoga, seolah pada dirinya sendiri. Dan pada sore harinya, jet pribadi milik Prayoga pun kembali menuju ke Kajarta. 'Bimo kautunggulah pembalsanku..! Setelah aku berada dalam kondisi puncakku beberapa hari lagi. maka kehancuran markas Pijar Taruna adalah sebuah kepastian adanya..! Bedebah kau bangsat..!' bathin Yoga penuh amarah dan dendam berkobar. Ya, tanpa melihat kondisi markasnya di Pulau Duyung itu, Yoga seperti sudah bisa meraba, jika markas dan para anggota Gank Shadow telah terbantai di sana..! Karena pastinya, jika ada anggotanya yang selamat dari pulau itu. Maka anggota itu pasti akan menghubungi dan melaporkan kondisi markas dan para anggota Gank Shadow padanya..! *** Sore hari di teras villa Bimo. "Hayo silahkan diminum dan dicicipi sajiannya ya," ujar Bi Sum, istri Pak Adi yang biasa melayani Bimo dan Lidya di villa Gorbo itu. "Makasih Bi..!" ucap serentak De

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 263.

    Splassh..! Sukma Yoga pun lepas dan langsung melesat lenyap, menembus dinding kamar hotel itu. 'Bedebah sialan..! Siapa yang lancang memagari pulau ini..?!' bathin Yoga marah bukan main, saat melihat tabir selimut kebiruan menghalangi pandangannya.Ya, Pulau Duyung bagaikan lenyap tertutup tabir Perisai Bathin Bimo, yang berbentuk kubah setengah lingkaran itu. 'Pantas saja bathinku seolah putus hubungan dengan orang-orang kepercayaanku di markas ini..! Bangsat..!' bathin Yoga lagi murka. Kini jelas sudah, jika ada kejadian gawat dan besar di markas pusatnya dalam dua hari belakangan.Namun sukmanya juga tak mampu menembus tabir Perisai Bathin milik Bimo. Maka bulat sudah tekadnya untuk segera kembali ke Kajarta. Karena hanya dengan wujud fisiknya, Yoga baru mampu melenyapkan tabir Perisai Bathin yang dibuat oleh Bimo itu. Splassh..! Sukma Yoga pun melesat lenyap seketika, kembali menuju raganya di Mantankali..! *** Sementara di sofa balkon lantai dua kediaman Bimo."Mas Bimo, apa

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 262.

    "Hhh..! Kalian ini orang muda, memang paling bisa mendesak kami yang sudah tua! Jika kalian sudah memutuskan demikian, maka kami juga tak bisa bicara apa-apa lagi.Toh kalian juga yang akan menjalani kehidupan itu nantinya," ujar Baskara seraya mengerling ke arah istrinya. Dan Rini pun akhirnya mengangguk padanya, sebagai tanda setuju dengan pendapat suaminya itu. "Devi, Lidya. Ibu tak akan mempersulit langkah dan keinginan kalian. Devi, ibu merestui dan mengijinkan niat kalian bertiga. Kalian tentunya sudah dewasa dan mampu menentukan yang terbaik bagi jalan hidup kalian," ujar Rini akhirnya merestui, dengan mata beriak basah. Ya, baik Baskara maupun Rini memaklumi, jika Devi telah sejak lama mencintai Bimo. Bahkan puteri mereka itu rela mengorbankan pekerjaannya, untuk bisa bekerja di perusahaan konsultan Bimo. Dan mereka pun sangat mengerti, pada saat Devi nampak terguncang saat pernikahan Bimo dan Lidya. Hal yang membuat putri mereka Dev, bagai kehilangan semangat hidupnya. Ba

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 261.

    "Ehh..?!" sentak kaget Rini, saat melihat sosok wanita yang tengah hamil di sebelah Devi. 'Bukankah itu Lidya, putri dari Bos Winata Grup..?' bathin Rini. Keheranan yang sama juga dirasakan oleh Baskara. Tentu saja dia masih mengenali sosok Lidya, karena dia dan istrinya juga hadir pada pesta pernikahan Bimo dan Lidya dulu. Namun hal sebenarnya yang menjadi pertanyaan di benak kedua orangtua Devi itu adalah, 'Ada apa gerangan Lidya yang sedang hamil tua itu datang bersama Devi ke rumah..?' "Salam Ayah, Ibu! Tentunya kalian masih ingat dengan Kak Lidya kan..?" sapa Devi tersenyum ceria, pada kedua orangtuanya yang nampak masih tertegun itu. "Oalah! Ya masih dong Devi. Wah! Sudah berapa bulan kandungannya Lidya..?" sahut heboh Rini, yang langsung 'ngeh' kalau putrinya sedang dekat dengan Lidya. "Wah! Pastinya senang sekali Pak Hendra itu. Karena sebentar lagi dia akan menimang cucu! Hehe..!" Baskara pun ikut menimpali ucapan istrinya. "Salam Om Baskara, Tante Rini. Ini usia kandun

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 255.

    "Baiklah! Besok pagi, tim kita akan berkumpul di pantai Miranda Locna. Kita akan membooking beberapa speedboat, untuk menuju ke pulau Duyung. Sementara aku dan Evan akan naik helikopter menuju ke sana!" Demikianlah rencana penyerangan ke markas Gank Shadow yang diambil Bimo. "Siap Bos..!!" seru s

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 254.

    "Bos sudah datang..!" seru penjaga markas yang bertugas malam itu, saat dia melihat helikopter yang dikenalinya landing di belakang markas pijar Taruna. "Mari kita sambut Bos Bimo..!" ajak Denta pada semua rekannya, yang memang telah menanti di lobi markas. Mereka semua pun bergegas berdiri, untuk

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 253.

    Malam pun menjelang. "Uhhgsh..! T-terus lebih cepat lagi Mas Yoga sayang..sh!" desah keras Dewinda, seraya tangannya mencengkram sisi jendela kamar yang terbuka lebar.Semua adegan super hot itu terjadi di lantai 2 bangunan villa milik Prayoga, yang kini dijadikan markas sementara Gank Shadow.Ya,

  • Hasrat sang Konsultan Idaman   Bab 252.

    "Nah Devi adikku. Mari bicara soal rencana kita bersama Mas Bimo di dalam kamarku," ajak Lidya seraya tersenyum penuh arti. Devi pun akhirnya mengikuti langkah Lidya menuju kamarnya, dengan tangannya setengah ditark oleh Lidya. Sepertinya memang Lidya yang nampak antusias sekali saat itu. Bimo ya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status