Share

Demam Panas

Penulis: Lucyana
last update Tanggal publikasi: 2026-07-30 01:42:56

TERASA lemah untuk bangun dari tempat tidur. Kushaira berkedip-kedip beberapa kali. Dahi dan seluruh tubuhnya dipenuhi keringat.

Hari ini adalah hari ketujuh dia dikurung di dalam kamar oleh Puan Asnah. Makan dan minum pun hanya diantarkan oleh Kushaima.

"Ya Allah, aku sudah nggak kuat lagi, ya Allah."

Bibir Kushaira tak henti-hentinya menyebut nama Sang Pencipta. Dia benar-benar sudah tidak berdaya untuk bangun dari ranjang itu.

Air matanya mengalir deras. Dadanya terasa seperti ditusuk sembilu. Kepalanya mulai berputar, matanya kembali terpejam. Pikirannya pun melayang membayangkan sikap Puan Asnah terhadap dirinya. Ingin sekali hatinya menjerit, tetapi kondisi tubuhnya yang lemah membuatnya tak sanggup bersuara banyak.

Tenggorokannya terasa perih. Dengan sekuat tenaga dia berusaha bangun dari ranjang untuk meraih gelas kaca yang berisi sedikit air putih di meja kecil di samping tempat tidur. Namun, tubuhnya tidak mampu bergerak.

Dia hanya mampu memiringkan badan dan menggeser-geser ujung gelas itu dengan tangannya. Baru saja berhasil menggesernya, gelas itu bergerak terlalu cepat dan akhirnya jatuh ke lantai.

Suara kaca yang pecah menarik perhatian Kushaima yang sedang berada di anak tangga. Pandangannya langsung mengarah ke kamar adiknya. Sementara itu, di ruang tamu, Puan Zara, Zareef, dan Puan Asnah sedang mengobrol sejak satu jam yang lalu.

Kushaima bangkit dari anak tangga. Dia segera menghampiri pintu kamar adiknya.

"Adik..."

Dia memanggil sambil mengetuk pintu beberapa kali. Hatinya gelisah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Kushaira di dalam kamar.

Sejak hari pertama adiknya dikurung, ibu mereka tidak mengizinkannya berbicara lama dengan Kushaira. Puan Asnah hanya mengizinkannya masuk ke kamar itu untuk mengantarkan makanan.

Sekali lagi Kushaima mencoba memanggil karena tidak ada sahutan dari dalam.

"Dik... kamu nggak apa-apa? Apa yang jatuh tadi?"

Tetap tidak ada jawaban. Kushaima semakin gelisah. Baru saja dia hendak masuk ke kamar ibunya untuk mengambil kunci, tiba-tiba terdengar suara benda berat jatuh ke lantai.

Kushaima sudah tidak peduli lagi dengan akibat apa pun yang akan terjadi nanti. Dia hanya ingin tahu apakah adiknya baik-baik saja di dalam sana. Dia bergegas masuk ke kamar Puan Asnah lalu mencari-cari kunci cadangan gembok pintu kamar adiknya.

Setelah mendapatkan kunci itu, dia segera menghampiri pintu kamar Kushaira. Tangannya gemetar hebat sambil berusaha membuka gembok di pintu tersebut.

Begitu pintu terbuka, mata Kushaima langsung membelalak lebar. Tubuh adiknya sudah terjatuh ke lantai. Dahi Kushaira berdarah karena terkena serpihan kaca yang pecah tadi.

"Bu!"

Kushaima segera menghampiri Kushaira lalu memangku kepala adiknya.

"Bu! Ya Allah, Dik... badan kamu panas sekali. Bu! Bu! Bu!"

Tanpa memedulikan tamu yang ada di rumah, Kushaima berteriak sekuat tenaga memanggil Puan Asnah dari dalam kamar itu.

Sementara itu, di ruang tamu...

"Nah... aku dengar suara anakmu. Kenapa?" tegur Puan Zara. Matanya melirik ke arah Zareef.

Tujuan mereka datang ke rumah Puan Asnah juga karena Zareef telah menceritakan kepada ibunya semua yang dia dengar dari Suraya dan Marina tentang Kushaira.

Dia tidak ingin datang sendiri ke rumah Puan Asnah untuk memastikan keadaan Kushaira. Karena itu, dia meminta bantuan Puan Zara.

Sepanjang mereka mengobrol, Zareef sempat melihat Kushaima duduk di anak tangga. Namun, dia sama sekali tidak melihat sosok Kushaira. Sedikit banyak dia mulai khawatir pada gadis itu. Ke mana sebenarnya Kushaira Ratika? Sudah seminggu gadis itu tidak muncul di kampus. Bahkan, ibunya mengatakan Kushaira masih belum pulang dari kampus.

Puan Asnah mengernyitkan dahi.

"Tunggu ya, Zara. Aku lihat dulu ada apa."

Dia segera bangkit meninggalkan ruang tamu.

Begitu Puan Asnah bergegas menaiki anak tangga, Puan Zara mencolek lutut anak lelakinya.

"Kamu yakin Kushaira nggak ada di kampus? Tadi Tante Asnah bilang dia belum pulang juga."

Zareef menghela napas panjang. Kepalanya terasa berat memikirkan Kushaira. Dia hanya khawatir kalau apa yang diceritakan Suraya kemarin bukan sekadar perasaan seorang anak yang merasa disisihkan ibunya, melainkan sesuatu yang jauh lebih serius.

"Nggak tahu, Mommy. Zareef juga nggak yakin. Jadi bingung."

Jawab Zareef apa adanya.

Baru saja dia hendak menyesap sedikit minuman, sosok Kushaima muncul dengan wajah panik di depan ruang tamu.

"Zareef... tolong adik saya."

Permintaan Kushaima membuat Zareef langsung tersentak.

Tanpa membuang waktu, mereka bertiga segera menaiki anak tangga dan masuk ke kamar Kushaira. Betapa terkejutnya mereka melihat tubuh Kushaira menggigil di lantai dengan dahi yang berlumuran darah.

Puan Asnah yang berdiri di dekat pintu hanya memandang dengan wajah penuh amarah. Dahinya berkerut dalam. Tatapannya seolah menyala-nyala seperti api yang sedang berkobar.

"Ya Allah! Mommy..."

Zareef tidak mampu berkata apa-apa.

"Ayo bawa dia ke rumah sakit. Asnah, Kushaima. Ayo... Zareef angkat dia."

Zareef mengangguk cepat. Tanpa banyak bicara, tubuh Kushaira yang sudah lunglai itu segera digendong dan dibawa turun menuju mobil yang terparkir di garasi rumah Puan Asnah.

Tak lama kemudian, mereka semua meninggalkan rumah dan masuk ke mobil milik Puan Zara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Rindu

    "KUSHAIRA!"Dari jauh, sosok dua orang teman dekat Kushaira sedang berlari kecil untuk mendekati gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Marina dan Suraya.Kushaira pula sudah tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Bagaimana tidak, seorang sedang memimpin tangan seorang lagi sambil mencoba memaksa berlari. Walaupun tahu Suraya tinggal menunggu waktu untuk melahirkan, Marina peduli apa? Dia tidak sabar hendak mendapatkan Kushaira, bahkan Suraya juga sama. Hanya saja, tidak mungkin dia mau meninggalkan ibu hamil itu di belakang pula? Nanti dikatakan pula, teman meninggalkan teman."Aduh, aduh... Megahlah aku ini, Marina. Capek aku mengejar langkah panjangmu itu." Rengek Suraya sambil menekan-nekan pinggangnya. Aduh, kasihan Kushaira melihat sahabatnya seperti itu."Itulah, aku mau meninggalkanmu saja tadi. Tapi khawatir pula kamu bilang aku lupa teman. Jadi, ya berlarilah sekali walaupun seperti tidak berlari haha." Marina tertawa sendiri. Lucu juga ket

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Masih Ada Perhatian

    HARI terasa nyaman di luar, namun tidak dengan hati Kushaira. Sejak dia pulang dari rumah sakit siang kemarin, dia masih belum bertemu muka dengan Puan Asnah. Entah, wanita itu tahu atau tidak bahwa dia sudah pulang ke rumah.Mungkin trauma dikurung oleh Puan Asnah masih bergelora di dadanya. Siapa pula yang tidak mengalami trauma? Sampai demam tinggi pun dia dikurung di dalam kamar tidurnya sendiri.Bahkan, sejak dia bangun tadi hingga sekarang. Dia masih gemetar di depan cermin, dada terasa berombak, keringat juga turut bercucuran di dahinya."Haruskah aku keluar hari ini? Ke kampus?" Kushaira tidak tenang. Dia ingin pergi ke kampus bertemu teman-teman yang sudah mulai dia rindukan.Marina dan Suraya, bagaimana kabar mereka berdua. Namun, di waktu yang sama dia takut untuk berhadapan dengan ibunya sendiri.Ibu yang selama ini, tidak pernah ada untuk suka dan duka, susah maupun senangnya."Adik." Suara Kushaima di depan pintu terdengar sedang memanggil sambil pintu diketuk perlahan.

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Tutor Tidak Berbayar

    SEPANJANG perjalanan pulang ke rumah, Kushaira duduk di tempat duduk belakang hanya diam. Begitu juga dengan kakaknya yang duduk di sebelah Zareef di bagian depan.Sejak mengemudi keluar dari halaman rumah sakit tadi, Zareef tidak henti-hentinya melirik ke arah Kushaira di belakang. Hingga membuat gadis itu tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Dahi Kushaira berkerut-kerut memikirkan tatapan Zareef itu.Ada apa-apa di wajahnya atau ada kotoran hidung yang menempel di pipi? Mau mengorek hidung di dalam mobil, khawatir pula diperhatikan lebih dari dua tiga kali oleh lelaki itu.Hampir satu jam juga mereka terjebak di jalan raya karena sedang jam sibuk dengan anak-anak pulang sekolah, para pekerja beristirahat.Kushaira hanya membuang pandang ke luar jendela mobil. Tidak mau memandang ke depan. Setiap kali dia melihat, pasti terlihat wajah Zareef di kaca spion sedang memandang. Tidak pasti dia memandang ke mana, tetapi hal itu benar-benar membuat Kushaira tidak nyaman.Setelah lama mere

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Hati Bercampur-Baur

    ZAREEF bangkit dari kursi. “Dokter bilang tadi, kamu sudah boleh keluar hari ini. Kakakmu pulang mengambilkan pakaian bersih. Nanti dia datang lagi. Saya mau menemui dokter sebentar.”Usai berbicara, Zareef langsung meninggalkan kamar rawat. Sementara Kushaira masih duduk bersandar di kepala tempat tidur. Hanya melihat gerak langkah lelaki itu hingga menghilang dari pandangan matanya.Setelah Zareef benar-benar tidak ada lagi di sana, barulah Kushaira mengembuskan napas kuat melalui mulut. Sejak tadi dia menahan napas. Khawatir jika dia salah bicara atau memberikan reaksi wajah. Gugup juga sama, ya, bagaimana tidak calon kakak iparnya terus menatapnya dari kursi di sisi tempat tidur itu.Mau melakukan apa pun terasa tidak nyaman. Untung saja dia sudah keluar dari kamar rawat itu. Tidak perlu lagi Kushaira khawatir salah tingkah.Cepat-cepat dia meraih air putih lalu meneguknya dengan rakus. Sebenarnya sejak tadi dia benar-benar haus. Ingin meminta bantuan terasa sulit, malu dengan Zar

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Ingin Menjaga Kamu

    KUSHAIRA terbangun ketika bahunya ditepuk oleh seorang perawat. Entah tiada angin, tiada ribut seorang perawat muncul di sisi ranjang pasien lalu menepuk bahunya dengan kasar.“Bangun, pergi kencing.”Kushaira terpinga-pinga. Terkejut pun ada, sebelum dia tidur tadi. Memang ada salah seorang perawat datang ke kamar rawat itu lalu memberikan sebuah botol kecil kepadanya untuk diambil sampel urine. Namun, sudah diberitahu bahwa sampel itu diambil sebelum jam enam pagi.Sekarang, dia merasa belum lagi pukul enam pagi. Dalam keadaan mengantuk, Kushaira bangun dari ranjang lalu menggapai botol kecil itu. Terasa aneh ketika melihat ke arah jam yang ada di dinding luar kamar rawat itu baru pukul tiga pagi.“Awalnya dia menyuruh ambil sampel? Bukannya sebelum pukul enam?” Kushaira bergumam sendiri sambil melangkah masuk ke toilet.Botol itu digunakan untuk menyimpan sampel urine. Setelah selesai segala aktivitas di toilet, dia pun melangkah keluar. Saat itu, dia terpaksa berjalan perlahan kar

  • Hati-Hati, Nanti Abang Sayang Kamu   Kesedaran Mulai Muncul

    ZAREEF pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Seharian dia berada di kampus, mengawasi mahasiswa yang sedang menghadapi ujian di laboratorium. Setelah selesai waktu di kampus, dia dan Puan Zara langsung pergi ke rumah Puan Asnah untuk mencari tahu tentang Kushaira. Akhirnya, terbukti Kushaira memang dikurung oleh ibunya.Pelan-pelan daun pintu ditutup lalu dia berbalik ke arah ruang tamu. Dia melirik jam yang tergantung di dinding rumah sekilas. Sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia mengembuskan napas perlahan. Kakinya melangkah menuju anak tangga.Belum sempat dia menaikinya, suara Puan Zara terdengar memanggil dari arah dapur. Zareef menoleh sekilas lalu mengubah langkahnya. Dia mengurungkan niat naik ke lantai atas dan berjalan menuju dapur.Begitu tiba di meja dapur, sosok Puan Zara yang sedang mengunyah biskuit menyambut pandangannya."Mommy belum tidur?" sapa Zareef sambil melirik ke dalam cangkir kaca di atas meja dapur. Dia ingin melihat minuman apa yang sedang diminum ibun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status