Masuk"IYA... kamu ada telepon Shaira nggak? Sudah lama banget aku nggak lihat dia."
Nampan makanan diletakkan di atas meja. Marina mengambil tempat duduk di depan Suraya yang sedang mengunyah nasi goreng. Suraya memonyongkan bibir. "Nggak sih. Aku kira dia aja yang bolos kelas bisnis karena ada ujian di laboratorium sainsnya." Kata Suraya sambil menelan sisa nasi goreng yang dikunyahnya sebelum kembali makan. "Nggak juga. Aku sudah cek sama anak-anak sains. Mereka juga bilang nggak lihat Shaira." tambah Marina. "Loh, terus anak Shaira ini ke mana? Sakit ya?" Suraya bertanya bertubi-tubi. Rasa khawatir mulai muncul di hatinya. Bukan apa, sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu Shaira di kampus. Telepon juga tidak diangkat. Entah sehat atau tidak teman mereka yang satu itu, mereka sama sekali tidak tahu. "Menurutmu kenapa ya?" Marina masih belum puas. Dia juga khawatir karena tidak melihat sosok Shaira di mana pun. Kangen juga, biasanya gadis itulah yang paling suka bikin heboh di kampus. Sekarang, suasana langsung terasa sepi. "Coba saja kamu telepon dia." Suraya memberi saran. "Sudah. Aku sudah telepon berkali-kali. Nggak diangkat." Wajah Marina langsung murung. Dia ingin bertemu Kushaira, ingin bertanya apakah temannya itu baik-baik saja atau tidak. "Eh, jangan-jangan dia disiksa sama Ibunya ya? Waktu itu dia bilang Ibunya menampar dia, kan?" tebak Suraya. Dia teringat pertemuan terakhir mereka, saat Kushaira bercerita tentang ibunya yang marah karena dia dianggap kurang ajar. Namun, ceritanya tidak sempat dijelaskan lebih jauh karena mereka lebih sibuk menasihatinya daripada mendengarkan curahan hatinya. "Masa sih Ibunya sampai nyiksa dia. Kamu ini, nggak masuk akal." Marina membantah. Dia tidak percaya ada ibu kandung sekejam itu di dunia. Karena itulah dia tidak suka Kushaira terus-menerus mengeluh tentang ibunya. Namun, jauh di lubuk hati Marina, dia juga takut kalau tebakan Suraya benar. Bagaimana kalau memang ada ibu kandung yang benar-benar kejam di zaman modern ini dan Kushaira menjadi salah satu korbannya? Ah! Marina menggeleng cepat. Khayalannya terlalu jauh sampai membayangkan wajah dan tubuh Kushaira penuh lebam di sana-sini. "Tapi bukan nggak mungkin, Na. Aku curiga dia sakit atau Ibunya mengurung dia..." Suraya berbisik sambil matanya melirik ke kiri dan kanan. Khawatir kalau ada yang mendengar percakapan mereka. "Maksudmu apa, Ya? Aku nggak paham." Kerutan muncul di dahi Marina. Dia mencoba mencerna ucapan Suraya, tetapi tetap tidak mengerti. "Aku dengar kabar, ada dosen baru di kampus sains. Dosen itu laki-laki yang kita lihat waktu Shaira nyemburin bihun kemarin." Marina mengangguk. Dia mendengarkan perkataan Suraya dengan saksama. Kejadian Kushaira yang hampir menabrak dada lelaki tampan itu kembali terputar di dalam ingatannya. "Aku cuma nebak aja. Dosen itu calon kakak iparnya Shaira. Soalnya di kelas sains ada yang bilang dosen itu lebih memperhatikan Shaira sampai Shaira nggak perlu memperkenalkan diri waktu semua orang diminta menyebutkan nama masing-masing." "Serius, Ya? Dari mana kamu tahu cerita ini?" Marina semakin tidak percaya. Dosen baru itu adalah lelaki tampan yang sedang terbayang di pikirannya, dan lelaki itu juga calon kakak ipar Kushaira? "Serius! Aku tahu dari anak-anak sains. Soalnya aku tanya mereka lagi sibuk apa. Mereka bilang lagi ada ujian laboratorium. Makanya aku kira Shaira bolos kelas kita karena lagi fokus ujian itu." Marina mulai mengangguk-angguk tanda mengerti. "Tapi..." Belum sempat Marina melanjutkan ucapannya, sebuah nampan makanan diletakkan di atas meja mereka. Kedua sahabat itu langsung menoleh. Betapa terkejutnya mereka ketika lelaki yang baru saja menjadi bahan gosip kini berdiri di samping Marina. Marina dan Suraya saling berpandangan. Mata mereka saling memberi isyarat. Tubuh mereka mendadak kaku. Itulah lelaki tampan yang tadi mereka bicarakan. Satu kampus sedang heboh membahas dosen muda yang tampan dan bergaya itu, dan sekarang dosen tersebut malah duduk di samping Marina. Gila banget! "Saya dengar kalian berdua sedang membicarakan Kushaira..." Zareef tidak memperkenalkan dirinya karena dia tahu mereka berdua sudah mengenalnya lebih dari cukup. Bagaimana tidak, dia mendengar mereka menyebut "lelaki itu", "dosen baru itu", "calon kakak iparnya Shaira". Siapa lagi kalau bukan dirinya? Suraya dan Marina hanya diam. Tatapan mereka tertuju pada Zareef, menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya. "Dikurung sama Ibunya?" Kini kedua sahabat itu sama-sama menelan ludah. Mereka tiba-tiba merasa serba salah. Masa iya mereka harus menceritakan kehidupan Kushaira kepada dosen baru? Tapi, dosen itu adalah calon kakak ipar gadis tersebut. Kalau mereka menceritakan kisah Kushaira, bukankah itu sama saja membuka aib keluarganya? Atau justru Zareef memang seharusnya tahu tentang Kushaira sebelum menjadi bagian dari keluarga gadis itu? Tetapi, statusnya hanya calon kakak ipar! Suraya dan Marina saling bertukar kode lewat tatapan mata. Mereka saling mendorong satu sama lain agar mulai bercerita tentang sahabat mereka. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Zareef memperhatikan tingkah mereka. "Ehem." Akhirnya lelaki itu berdeham. Barulah Suraya membuka mulut. "Err... begini. Kami juga nggak yakin benar atau nggaknya Shaira dikurung. Cuma, dia itu jarang banget bolos kuliah. Biasanya kalau sakit pun dia tetap datang." Marina mengangguk setuju. "Betul." "Boleh kalian berdua cerita ke saya tentang Kushaira?" Sekali lagi kedua sahabat itu saling berpandangan. "Saya rasa kalian berdua sudah tahu siapa saya, kan?" tambah Zareef. Suraya langsung mengangguk cepat. "Sebenarnya, Shaira itu selalu dibanding-bandingkan sama Ibunya. Kami juga nggak tahu benar atau nggak, tapi memang biasanya masalah dia sama Ibunya susah banget diselesaikan dengan baik." "Betul." Marina mendukung semua perkataan Suraya. Dia sendiri sudah kehabisan kata-kata karena Zareef duduk tepat di sampingnya. Pesona lelaki berdarah manis itu memang luar biasa. Jantung Marina berdebar hebat melihat Zareef dari jarak sedekat itu. "Lagi? Saya ingin tahu lebih banyak lagi..." kata Zareef. Akhirnya, Suraya menceritakan semuanya tentang Kushaira kepada Zareef. Tanpa ada satu pun yang tertinggal.“KAMI... tidak melakukan sesuatu yang melanggar peraturan kampus, pun.” Kushaira menjawab pertanyaan Profesor Akma tentang ‘hubungan romantis’ di kampus mereka.“Jadi, apa yang sedang beredar saat ini... kalian berdua mau mengatakan bahwa itu sebuah kebohongan?” Profesor Akma kembali menekankan nada suaranya sambil menunjuk layar ponsel yang sedang menyala kepada Kushaira.“Ya! Saya difitnah. Sejak kapan saya berpacaran dengan dosen sendiri? Dan lagi, Pak Zareef ini calon kakak ipar saya. Bisa mati saya dipukuli keluarga kalau sampai mencoba menggoda calon kakak ipar sendiri. Plus, Profesor Akma mengira ini seperti cerita Ipar Adalah Maut? Saya bukan seperti itu!”Zareef dan Profesor Akma terkedu. Mereka saling berpandangan sejenak sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Kushaira.“Saya tidak mengatakan seperti itu, hanya saja saya tidak suka gosip seperti ini menyebar di area kampus. Kamu tahu, mahasiswa seharusnya belajar dan dosen seharusnya mengajar. Bukan berpacaran.” Profeso
"KUSHAIRA!"Dari jauh, sosok dua orang teman dekat Kushaira sedang berlari kecil untuk mendekati gadis itu. Siapa lagi kalau bukan Marina dan Suraya.Kushaira pula sudah tersenyum melihat tingkah mereka berdua. Bagaimana tidak, seorang sedang memimpin tangan seorang lagi sambil mencoba memaksa berlari. Walaupun tahu Suraya tinggal menunggu waktu untuk melahirkan, Marina peduli apa? Dia tidak sabar hendak mendapatkan Kushaira, bahkan Suraya juga sama. Hanya saja, tidak mungkin dia mau meninggalkan ibu hamil itu di belakang pula? Nanti dikatakan pula, teman meninggalkan teman."Aduh, aduh... Megahlah aku ini, Marina. Capek aku mengejar langkah panjangmu itu." Rengek Suraya sambil menekan-nekan pinggangnya. Aduh, kasihan Kushaira melihat sahabatnya seperti itu."Itulah, aku mau meninggalkanmu saja tadi. Tapi khawatir pula kamu bilang aku lupa teman. Jadi, ya berlarilah sekali walaupun seperti tidak berlari haha." Marina tertawa sendiri. Lucu juga ket
HARI terasa nyaman di luar, namun tidak dengan hati Kushaira. Sejak dia pulang dari rumah sakit siang kemarin, dia masih belum bertemu muka dengan Puan Asnah. Entah, wanita itu tahu atau tidak bahwa dia sudah pulang ke rumah.Mungkin trauma dikurung oleh Puan Asnah masih bergelora di dadanya. Siapa pula yang tidak mengalami trauma? Sampai demam tinggi pun dia dikurung di dalam kamar tidurnya sendiri.Bahkan, sejak dia bangun tadi hingga sekarang. Dia masih gemetar di depan cermin, dada terasa berombak, keringat juga turut bercucuran di dahinya."Haruskah aku keluar hari ini? Ke kampus?" Kushaira tidak tenang. Dia ingin pergi ke kampus bertemu teman-teman yang sudah mulai dia rindukan.Marina dan Suraya, bagaimana kabar mereka berdua. Namun, di waktu yang sama dia takut untuk berhadapan dengan ibunya sendiri.Ibu yang selama ini, tidak pernah ada untuk suka dan duka, susah maupun senangnya."Adik." Suara Kushaima di depan pintu terdengar sedang memanggil sambil pintu diketuk perlahan.
SEPANJANG perjalanan pulang ke rumah, Kushaira duduk di tempat duduk belakang hanya diam. Begitu juga dengan kakaknya yang duduk di sebelah Zareef di bagian depan.Sejak mengemudi keluar dari halaman rumah sakit tadi, Zareef tidak henti-hentinya melirik ke arah Kushaira di belakang. Hingga membuat gadis itu tidak nyaman diperhatikan seperti itu. Dahi Kushaira berkerut-kerut memikirkan tatapan Zareef itu.Ada apa-apa di wajahnya atau ada kotoran hidung yang menempel di pipi? Mau mengorek hidung di dalam mobil, khawatir pula diperhatikan lebih dari dua tiga kali oleh lelaki itu.Hampir satu jam juga mereka terjebak di jalan raya karena sedang jam sibuk dengan anak-anak pulang sekolah, para pekerja beristirahat.Kushaira hanya membuang pandang ke luar jendela mobil. Tidak mau memandang ke depan. Setiap kali dia melihat, pasti terlihat wajah Zareef di kaca spion sedang memandang. Tidak pasti dia memandang ke mana, tetapi hal itu benar-benar membuat Kushaira tidak nyaman.Setelah lama mere
ZAREEF bangkit dari kursi. “Dokter bilang tadi, kamu sudah boleh keluar hari ini. Kakakmu pulang mengambilkan pakaian bersih. Nanti dia datang lagi. Saya mau menemui dokter sebentar.”Usai berbicara, Zareef langsung meninggalkan kamar rawat. Sementara Kushaira masih duduk bersandar di kepala tempat tidur. Hanya melihat gerak langkah lelaki itu hingga menghilang dari pandangan matanya.Setelah Zareef benar-benar tidak ada lagi di sana, barulah Kushaira mengembuskan napas kuat melalui mulut. Sejak tadi dia menahan napas. Khawatir jika dia salah bicara atau memberikan reaksi wajah. Gugup juga sama, ya, bagaimana tidak calon kakak iparnya terus menatapnya dari kursi di sisi tempat tidur itu.Mau melakukan apa pun terasa tidak nyaman. Untung saja dia sudah keluar dari kamar rawat itu. Tidak perlu lagi Kushaira khawatir salah tingkah.Cepat-cepat dia meraih air putih lalu meneguknya dengan rakus. Sebenarnya sejak tadi dia benar-benar haus. Ingin meminta bantuan terasa sulit, malu dengan Zar
KUSHAIRA terbangun ketika bahunya ditepuk oleh seorang perawat. Entah tiada angin, tiada ribut seorang perawat muncul di sisi ranjang pasien lalu menepuk bahunya dengan kasar.“Bangun, pergi kencing.”Kushaira terpinga-pinga. Terkejut pun ada, sebelum dia tidur tadi. Memang ada salah seorang perawat datang ke kamar rawat itu lalu memberikan sebuah botol kecil kepadanya untuk diambil sampel urine. Namun, sudah diberitahu bahwa sampel itu diambil sebelum jam enam pagi.Sekarang, dia merasa belum lagi pukul enam pagi. Dalam keadaan mengantuk, Kushaira bangun dari ranjang lalu menggapai botol kecil itu. Terasa aneh ketika melihat ke arah jam yang ada di dinding luar kamar rawat itu baru pukul tiga pagi.“Awalnya dia menyuruh ambil sampel? Bukannya sebelum pukul enam?” Kushaira bergumam sendiri sambil melangkah masuk ke toilet.Botol itu digunakan untuk menyimpan sampel urine. Setelah selesai segala aktivitas di toilet, dia pun melangkah keluar. Saat itu, dia terpaksa berjalan perlahan kar







