Compartir

Bab 2

Autor: Orenji
Aku menantikan sepasang tangan yang besar itu mendorongku ke tempat tidur. Jari-jari tangan yang kasar mengait tali lingeriku, lalu godaan perlahan meruntuhkan pertahanan terakhirku.

Akhirnya, kejantanan pria menguasai tubuh dan akal sehatku. Aku takut disiksa kepuasan sampai hilang kendali. Namun, aku juga menantikan kenikmatan saat mencapai klimaks.

Begitu memikirkan hal ini, aku menjepit kakiku dengan perasaan malu. Aku merasakan kain yang menutupi organ intimku mulai basah. Reaksi tubuhku ini membuatku makin malu.

Sebelum itu, mungkin aku perlu mengumpulkan tenaga. Aku mematikan lampu di kamar. Kelelahan yang kurasakan tadi pagi dan hasratku yang bergelora setelah dirangsang mulai membuatku kehilangan fokus.

Aku makin mengantuk. Aku merasakan ada yang aneh saat terlelap. Sepasang tangan yang besar terus menggerayangi tubuhku dengan tenaga yang pas.

Apa Stefan sudah kembali? Tubuhku gemetaran, lalu aku bangun dari mimpiku. Akan tetapi, reaksi dari tubuhku muncul sebelum aku sempat berpikir jernih. Aku mendesah dengan suara serak.

Suaraku lembut dan bergetar saat berucap, "Jangan sentuh aku seperti itu .... Aku nggak tahan lagi ...."

Aku merasakan napasnya yang panas di leherku. Sensasi panas itu menyebar ke bawah sehingga tubuhku gemetaran.

Aku mendengar suara tawa ringan. Suaranya serak. Dia bertanya sembari tersenyum, "Ternyata kamu begitu sensitif?"

Sensasi panas menggerogoti akal sehatku dan aku refleks melihat ke atas. Bahkan air liur menetes dari sudut bibirku.

Aku meraih tangannya yang tidak berhenti bergerak. Aku tanpa sadar ingin mengarahkannya ke bagian lebih dalam.

Namun, tangannya malah berhenti. Dia tidak mengikuti kemauanku. Aku hampir menangis saat memelas, "Kumohon ...."

Kemudian, napas yang panas terasa di bagian dalam pahaku. Bagian kulitku yang paling lembut seketika menegang, lalu jilatan yang basah terus merangsang bagian dalam kulitku yang bergetar.

Aku merasakan kenikmatan sampai ke ubun-ubun. Aku yang tidak tahan lagi berseru.

Tiba-tiba, terdengar suara yang familier di luar pintu. "Siapa di dalam? Ravenna, apa kamu di dalam?"

Orang yang berbicara adalah pacarku, Stefan! Jantungku hampir copot. Hasratku yang bergelora langsung padam.

Aku hanya memikirkan satu hal. Kalau pacarku di luar, siapa pria yang berada di tempat tidur?

Sebelum sempat menemukan jawabannya, aku diterjang dengan kenikmatan yang baru lagi. Sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan menyebar ke sekujur tubuhku.

Sensasi itu terus menerjangku tanpa henti. Rasanya juga benar-benar intens dan berbeda dengan kenikmatan saat menggunakan alat.

Aku menggigit bibirku dengan kuat untuk menahan desahan yang hampir keluar dari mulutku. Aku mengulurkan tangan untuk mendorong kepala pria itu, tetapi aku tidak bertenaga. Aku memprotes, "Jangan ...."

Suaraku bergetar. Aku memohon lagi, "Jangan begitu ...."

Pria itu tertawa lagi. Suaranya berat dan menggoda. Dia bertanya, "Maksudnya bagaimana?"

Namun, pria itu tetap tidak menghentikan aksinya. Dia menambahkan, "Kamu berbaring di tempat tidurku dengan berpakaian seperti ini. Bukannya kamu ingin aku melakukan hal ini padamu?"

Rasa malu dan nafsu bertentangan di dalam tubuhku. Kulitku sangat panas dan memerah.

Napasku makin memburu dan berat. Pria itu juga mendengarnya, jadi gerakannya makin intens dan cepat.

Suara Stefan di ruang tamu terdengar tidak sabar. "Ravenna? Kamu pergi ke mana?"

Rasa malu meliputi hatiku. Aku ingin mendorong pria asing ini, tetapi reaksi tubuhku malah bertentangan dengan keinginanku. Sebaliknya, aku makin antusias setelah tahu pria ini bukan pacarku.

Plak! Terdengar suara yang nyaring. Pria itu menepuk bokongku dengan kuat.
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 9

    Aku berseru dan tubuhku menegang. Aku bisa merasakan dengan jelas lengannya yang hangat dan bertenaga biarpun dihalangi pakaian."Kamu nggak mau?" tanya Damian. Dia menunduk, napasnya yang hangat berembus di telingaku.Entah kenapa hatiku bergejolak. Kakiku juga lemas."Aku jauh lebih kuat daripada Stefan," kata Damian. Suaranya bak mantra yang membuatku tergoda.Tangan Damian yang lain membelai leherku dengan lembut. Sensasi panas menyebar dari tulang punggung hingga ke ubun-ubun.Damian sangat dekat denganku. Bibirnya hampir menempel dengan telingaku saat dia berujar, "Kalau kamu menolak, aku akan kirim foto yang aku ambil malam itu kepada Stefan."Darah di sekujur tubuhku seakan-akan membeku. Aku menegur, "Beraninya kamu memfotoku!""Memangnya kenapa?" tanya Damian dengan ekspresi acuh tak acuh. Bahkan, dia mengusap bibirku dengan ibu jarinya seraya menambahkan, "Kamu begitu cantik. Jadi, aku memfotomu untuk dijadikan kenang-kenangan."Dasar pria berengsek! Mataku memerah saking kes

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 8

    Aku paling tidak tahan kalau Stefan bermanja-manja seperti ini. Aku masih ragu-ragu, lalu Tara mulai membujukku, "Ravenna, ayo kita pergi sama-sama! Empat orang pas banget!"Aku merasa gugup, ternyata Damian juga pergi? Aku langsung melihat Damian, sedangkan Damian melirikku dengan tatapan tenang.Akan tetapi, jantungku berdebar saat aku bertatapan dengannya. Aku merasa seperti melihat sesuatu yang misterius dari tatapannya yang tenang.Stefan masih menggoyang lenganku sambil membujuk, "Sayangku, ayo kita pergi .... Aku tahu kamu paling sayang aku."Aku tidak berdaya menghadapi bujukan Stefan, jadi aku terpaksa mengangguk dan menyahut dengan asal, "Ya sudah."Begitu menyetujui ajakan Tara, aku merasakan tatapan Damian padaku membuatku makin tertekan. Dadaku terasa sesak.Taman bermain untuk pasangan dipenuhi balon berwarna merah muda dan dekorasi berbentuk hati. Aroma manis dari popcorn menyeruak di udara.Tara sangat ceria. Dia mempelajari peta taman bermain bersama Stefan. Mereka mem

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 7

    Orang itu mendekati telingaku. Aku bisa mendengar dari suaranya dia tersenyum nakal.Kakiku benar-benar lemas. Pikiranku semrawut.Beberapa teman Stefan bertatapan, lalu mereka perlahan mengerumuniku. Ruangan terasa makin sempit. Jantungku berdegup sangat kencang.Damian yang berdiri di depan pintu menegur, "Sudahlah. Cepat keluar kalau sudah selesai mengantar Stefan. Untuk apa kalian mengerumuni pacarnya?"Aku langsung tersadar. Melihat wajah Damian yang tegang, aku benar-benar malu. Tadi ... apa yang kupikirkan?Perasaan canggung meliputi hatiku. Aku buru-buru menutup pintu kamar.Sekarang hanya tersisa aku dan Stefan yang mabuk berat di kamar tidur. Aku merasa gusar saat melihat Stefan yang tertidur pulas.Dulu aku merasa Stefan cukup menarik. Sekarang aku malah merasa dia tidak menarik sedikit pun.....Setelah bangun, Stefan sangat lengket denganku seperti biasanya. Tubuhnya yang panas menempel di tubuhku. Tangannya juga masuk ke dalam baju tidurku.Napas Stefan berembus di leherk

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 6

    Kepalaku pusing. Aku menabrak dada yang kekar dan panas. Aku tidak mencium bau keringat Stefan, melainkan aura yang lebih dominan. Orang yang menangkapku adalah Damian.Aku bahkan tidak perlu membuka mataku. Ingatanku sudah memberiku jawaban.Pengaruh alkohol membuatku tidak bisa berpikir jernih. Wajahku menempel pada kemeja Damian. Biarpun dihalangi kemeja, aku tetap bisa merasakan detak jantungnya yang kuat. Dug, dug, dug .... Suara detak jantungnya membuat hatiku bergejolak.Seruan teman-teman Stefan terdengar dari kejauhan. Aku tidak bisa mendengar suara mereka dengan jelas."Astaga! Kakak Ipar baik-baik saja, 'kan?""Kak Stefan, pacarmu mabuk!"Aku mendengar suara Stefan yang cemas. "Ravenna, kamu nggak apa-apa, 'kan?"Stefan mengulurkan tangannya untuk menarikku dari pelukan Damian, tetapi lengan Damian tidak bergerak sedikit pun. Damian berkomentar, "Kamu sudah limbung, tapi masih memaksakan diri."Jantungku berdebar dan wajahku merah padam. Stefan berujar dengan canggung, "Teri

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 5

    Sebelum sempat merespons, aku melihat seorang wanita yang tinggi datang dari seberang jalan. Dia langsung merangkul lengan Damian dan melirikku dengan tatapan dingin. Wanita itu bertanya, "Siapa dia?"Damian berbicara terlebih dahulu sebelum aku sempat menjawab. Nada bicaranya sangat santai seolah-olah kami memang hanya tidak sengaja bertemu. "Dia datang untuk mencari Stefan. Dia itu pacarnya Stefan."Wanita itu menurunkan kewaspadaannya. Dia yang penasaran mengamatiku.Senyum wanita itu sangat manis dan dia memperkenalkan dirinya. Namanya Tara Rahman, dia adalah pacarnya Damian. Tara khusus datang dari luar kota untuk menemani Damian merayakan natal.Hatiku terasa sakit saat mendengar Tara adalah pacarnya Damian. Jelas-jelas Damian sudah memiliki pacar, kenapa tadi dia masih ....Aku langsung mengurungkan niat untuk melakukan perbuatan yang salah itu. Aku merasa jijik dengan pemikiranku sendiri.Perbuatan kami memang salah. Aku juga memiliki pacar, jadi aku tidak boleh mengincar pria

  • Hati Terbagi Dua, Pacarku Atau Sahabatnya?   Bab 4

    Aku memelas dengan lirih melalui celah di antara bibir kami. Namun, pria itu mengabaikan permohonanku. Dia berhenti mencium bibirku, lalu perlahan turun ke leherku dan menggigit bagian tulang selangkaku yang paling sensitif.Sensasi yang intens menyebar dari tulang punggungku hingga ke ubun-ubun. Aku menggigit punggung tanganku dengan kuat untuk mencegah diriku mengeluarkan suara yang memalukan itu.Tiba-tiba, gagang pintu diputar lagi. Krek! Pintu dibuka.Pria itu menyingkap selimut dan menyelubungi tubuhku. Wajahku ditekan ke bagian bawah perutnya yang panas.Suara pria itu terdengar serak seperti baru bangun tidur. "Siapa? Ribut sekali."Pacarku bertanya, "Damian, kamu sudah pulang?"Stefan yang malu menjelaskan, "Aku nggak tahu kamu lagi tidur. Aku cari pacarku."Aku bersembunyi di balik selimut. Jantungku berdegup sangat kencang.Di tengah kegelapan, aku hanya bisa mencium wangi sabun di tubuh pria itu, juga aura maskulin yang dominan.Tangan pria itu tetap bergerak di balik selim

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status