LOGIN
Aku berseru dan tubuhku menegang. Aku bisa merasakan dengan jelas lengannya yang hangat dan bertenaga biarpun dihalangi pakaian."Kamu nggak mau?" tanya Damian. Dia menunduk, napasnya yang hangat berembus di telingaku.Entah kenapa hatiku bergejolak. Kakiku juga lemas."Aku jauh lebih kuat daripada Stefan," kata Damian. Suaranya bak mantra yang membuatku tergoda.Tangan Damian yang lain membelai leherku dengan lembut. Sensasi panas menyebar dari tulang punggung hingga ke ubun-ubun.Damian sangat dekat denganku. Bibirnya hampir menempel dengan telingaku saat dia berujar, "Kalau kamu menolak, aku akan kirim foto yang aku ambil malam itu kepada Stefan."Darah di sekujur tubuhku seakan-akan membeku. Aku menegur, "Beraninya kamu memfotoku!""Memangnya kenapa?" tanya Damian dengan ekspresi acuh tak acuh. Bahkan, dia mengusap bibirku dengan ibu jarinya seraya menambahkan, "Kamu begitu cantik. Jadi, aku memfotomu untuk dijadikan kenang-kenangan."Dasar pria berengsek! Mataku memerah saking kes
Aku paling tidak tahan kalau Stefan bermanja-manja seperti ini. Aku masih ragu-ragu, lalu Tara mulai membujukku, "Ravenna, ayo kita pergi sama-sama! Empat orang pas banget!"Aku merasa gugup, ternyata Damian juga pergi? Aku langsung melihat Damian, sedangkan Damian melirikku dengan tatapan tenang.Akan tetapi, jantungku berdebar saat aku bertatapan dengannya. Aku merasa seperti melihat sesuatu yang misterius dari tatapannya yang tenang.Stefan masih menggoyang lenganku sambil membujuk, "Sayangku, ayo kita pergi .... Aku tahu kamu paling sayang aku."Aku tidak berdaya menghadapi bujukan Stefan, jadi aku terpaksa mengangguk dan menyahut dengan asal, "Ya sudah."Begitu menyetujui ajakan Tara, aku merasakan tatapan Damian padaku membuatku makin tertekan. Dadaku terasa sesak.Taman bermain untuk pasangan dipenuhi balon berwarna merah muda dan dekorasi berbentuk hati. Aroma manis dari popcorn menyeruak di udara.Tara sangat ceria. Dia mempelajari peta taman bermain bersama Stefan. Mereka mem
Orang itu mendekati telingaku. Aku bisa mendengar dari suaranya dia tersenyum nakal.Kakiku benar-benar lemas. Pikiranku semrawut.Beberapa teman Stefan bertatapan, lalu mereka perlahan mengerumuniku. Ruangan terasa makin sempit. Jantungku berdegup sangat kencang.Damian yang berdiri di depan pintu menegur, "Sudahlah. Cepat keluar kalau sudah selesai mengantar Stefan. Untuk apa kalian mengerumuni pacarnya?"Aku langsung tersadar. Melihat wajah Damian yang tegang, aku benar-benar malu. Tadi ... apa yang kupikirkan?Perasaan canggung meliputi hatiku. Aku buru-buru menutup pintu kamar.Sekarang hanya tersisa aku dan Stefan yang mabuk berat di kamar tidur. Aku merasa gusar saat melihat Stefan yang tertidur pulas.Dulu aku merasa Stefan cukup menarik. Sekarang aku malah merasa dia tidak menarik sedikit pun.....Setelah bangun, Stefan sangat lengket denganku seperti biasanya. Tubuhnya yang panas menempel di tubuhku. Tangannya juga masuk ke dalam baju tidurku.Napas Stefan berembus di leherk
Kepalaku pusing. Aku menabrak dada yang kekar dan panas. Aku tidak mencium bau keringat Stefan, melainkan aura yang lebih dominan. Orang yang menangkapku adalah Damian.Aku bahkan tidak perlu membuka mataku. Ingatanku sudah memberiku jawaban.Pengaruh alkohol membuatku tidak bisa berpikir jernih. Wajahku menempel pada kemeja Damian. Biarpun dihalangi kemeja, aku tetap bisa merasakan detak jantungnya yang kuat. Dug, dug, dug .... Suara detak jantungnya membuat hatiku bergejolak.Seruan teman-teman Stefan terdengar dari kejauhan. Aku tidak bisa mendengar suara mereka dengan jelas."Astaga! Kakak Ipar baik-baik saja, 'kan?""Kak Stefan, pacarmu mabuk!"Aku mendengar suara Stefan yang cemas. "Ravenna, kamu nggak apa-apa, 'kan?"Stefan mengulurkan tangannya untuk menarikku dari pelukan Damian, tetapi lengan Damian tidak bergerak sedikit pun. Damian berkomentar, "Kamu sudah limbung, tapi masih memaksakan diri."Jantungku berdebar dan wajahku merah padam. Stefan berujar dengan canggung, "Teri
Sebelum sempat merespons, aku melihat seorang wanita yang tinggi datang dari seberang jalan. Dia langsung merangkul lengan Damian dan melirikku dengan tatapan dingin. Wanita itu bertanya, "Siapa dia?"Damian berbicara terlebih dahulu sebelum aku sempat menjawab. Nada bicaranya sangat santai seolah-olah kami memang hanya tidak sengaja bertemu. "Dia datang untuk mencari Stefan. Dia itu pacarnya Stefan."Wanita itu menurunkan kewaspadaannya. Dia yang penasaran mengamatiku.Senyum wanita itu sangat manis dan dia memperkenalkan dirinya. Namanya Tara Rahman, dia adalah pacarnya Damian. Tara khusus datang dari luar kota untuk menemani Damian merayakan natal.Hatiku terasa sakit saat mendengar Tara adalah pacarnya Damian. Jelas-jelas Damian sudah memiliki pacar, kenapa tadi dia masih ....Aku langsung mengurungkan niat untuk melakukan perbuatan yang salah itu. Aku merasa jijik dengan pemikiranku sendiri.Perbuatan kami memang salah. Aku juga memiliki pacar, jadi aku tidak boleh mengincar pria
Aku memelas dengan lirih melalui celah di antara bibir kami. Namun, pria itu mengabaikan permohonanku. Dia berhenti mencium bibirku, lalu perlahan turun ke leherku dan menggigit bagian tulang selangkaku yang paling sensitif.Sensasi yang intens menyebar dari tulang punggungku hingga ke ubun-ubun. Aku menggigit punggung tanganku dengan kuat untuk mencegah diriku mengeluarkan suara yang memalukan itu.Tiba-tiba, gagang pintu diputar lagi. Krek! Pintu dibuka.Pria itu menyingkap selimut dan menyelubungi tubuhku. Wajahku ditekan ke bagian bawah perutnya yang panas.Suara pria itu terdengar serak seperti baru bangun tidur. "Siapa? Ribut sekali."Pacarku bertanya, "Damian, kamu sudah pulang?"Stefan yang malu menjelaskan, "Aku nggak tahu kamu lagi tidur. Aku cari pacarku."Aku bersembunyi di balik selimut. Jantungku berdegup sangat kencang.Di tengah kegelapan, aku hanya bisa mencium wangi sabun di tubuh pria itu, juga aura maskulin yang dominan.Tangan pria itu tetap bergerak di balik selim







