Short
Kehidupan Fotografiku

Kehidupan Fotografiku

By:  NandoCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“Benar-benar … nikmat sekali! Kamu sangat tahu cara memperlakukan wanita .…” Aku adalah seorang fotografer anatomi tubuh. Lewat lensa kamera, aku telah menangkap ribuan ekspresi wanita yang menggoda dan liar. Wanita di dalam jepretanku, tidak peduli seperti apa mereka sebelumnya, akan menjelma menjadi model kelas satu yang luar biasa cantik. Itu semua karena mereka adalah hasil "didikanku" sendiri. Di dalam kamar yang temaram, seorang wanita berlutut telanjang di atas ranjang dengan napas yang memburu. Pipinya merona merah, tatapannya sayu kehilangan arah, sementara bokongnya yang sintal tetap menungging tinggi di bawah cengkeraman tanganku.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Antara aku dan suamimu, siapa yang lebih hebat?”

Dia menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang menggoda. “Sepuluh orang seperti dia pun nggak akan bisa menandingimu .…”

Namaku Vincen Darko. Sejak kuliah, aku sudah terobsesi dengan fotografi anatomi.

Tak disangka, keahlian ini justru menjadi tiket bagiku untuk meniduri banyak wanita cantik dengan kedok pemotretan artistik.

Awalnya, aku sering mondar-mandir di berbagai pameran cosplay untuk mengasah teknik. Seiring meningkatnya kemampuanku, mulai banyak model yang mengajakku bekerja sama. Bahkan mereka menawarkan sistem "barter" alias tanpa biaya.

Saat itulah aku baru tahu bahwa dalam pemotretan foto-foto seksi, ada istilah "barter" di mana model bersedia tidur dengan fotografer sebagai ganti biaya jasa foto yang gratis.

Setelah itu, petualanganku tak terbendung lagi. Hampir semua model ternama di negeri ini sudah pernah aku "cicipi".

Suatu hari, sahabat baikku, Willy Tisna, mengajakku makan dan berpesan secara khusus agar aku membawa perlengkapan kamera .

Begitu aku tiba di restoran dan duduk, sebuah aroma harum semerbak mendekat. Seorang wanita seksi berjalan dari belakangku, payudaranya yang lembut sempat bergesekan pelan dengan lenganku sebelum dia duduk tepat di hadapanku.

Wanita itu adalah Jesika Martha, tunangan sekaligus teman masa kecil Willy. Dia adalah wanita tercantik yang pernah kutemui.

Jesika mengenakan gaun panjang berwarna kuning muda yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Belahan dadanya agak rendah, memperlihatkan sebagian payudaranya yang putih bersih yang memantul mengikuti gerakannya. Di bawahnya, terdapat pinggang ramping yang seolah bisa dipeluk dengan satu tangan, serta bokong bulat yang sintal bak buah persik.

Siapa pun yang melihatnya pasti akan membatin, 'Kalau wanita ini melepaskan bajunya, seliar apa dia jadinya?'

Baru setelah aku menyadari Willy memperhatikanku dengan tatapan penuh arti, aku tersadar aku telah kehilangan kendali diri. Aku segera menunduk dan minum air untuk menutupi rasa canggung.

Setelah hidangan tersaji lengkap, Willy memesan sebotol minuman keras. Aku melambaikan tangan padanya untuk menolak. “Aku bawa mobil.”

“Nggak apa-apa, nanti biar Jesika yang mengantarmu.”

Karena Willy berkata begitu, aku tidak menolak lagi.

“Kak, bagaimana menurutmu tentang Jesika?”

Di tengah silih bergantinya denting gelas, setengah botol minuman sudah habis. Jesika berdiri untuk menuangkan minuman untukku.

Saat itulah aku menyadari dia ternyata tidak memakai bra. Dia hanya mengenakan penutup puting. Payudaranya yang putih dan kenyal, terlihat jelas dari balik kerah gaunnya yang agak melonggar saat dia membungkuk.

Meskipun sudah agak mabuk, aku berusaha tidak menatap terlalu lama. Aku segera mengalihkan pandangan dan bercanda, “Dia seperti bidadari turun ke bumi. Kamu benar-benar beruntung bisa dapat 'daging berkelas' sepertinya.”

Willy merangkul bahu Jesika sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kak, tolong foto Jesika,” kata Willy dengan nada serius setelah gurauan tadi berakhir.

“Ah, aku kira ada apa. Tenang saja, sekarang juga aku hubungi studio. Kusiapkan penata cahaya terbaik dan kupotret tunanganmu dengan spesifikasi tertinggi,” kataku sambil meneguk minuman.

Namun, Willy menahan tanganku yang hendak mengambil ponsel. Dia pun berkata dengan agak sungkan, “Jangan, jangan di sana. Cuma kita bertiga saja.”

Aku menatapnya dengan tatapan bingung. “Maksudmu foto privat?”

Jesika yang berada di sampingnya, tampak merona merah dan tetap diam.

“Nanti kamu juga akan tahu. Aku sudah sewa vila di pinggiran kota. Peralatanmu kamu bawa, ‘kan?” Willy memberiku kode dengan matanya.

Aku memberi isyarat bahwa semua alat ada di mobil. Meski merasa ada yang aneh dengan kedipan matanya, aku tetap menyetujuinya.

Selesai makan, Willy memanggil sopir pengganti untuk dirinya sendiri, tetapi meminta Jesika menyetir mobilku untuk membawaku ke lokasi pemotretan.

Di dalam mobil, hanya ada aku dan Jesika. Dari sudut mataku, aku bisa melihat sabuk pengaman yang melintang di antara kedua payudaranya. Gaun tipis itu membungkus tubuh moleknya dengan sangat ketat, membuat siapa pun yang melihat ingin sekali meremasnya dengan kasar.

Menyadari tatapanku, Jesika bukannya malu, malah sengaja membusungkan dadanya, membiarkanku puas memandangnya.

Aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres, tapi aku tidak bisa menjelaskan alasannya.

Pertama kali aku bertemu Jesika adalah saat kuliah. Dia menempuh perjalanan ribuan km untuk merayakan ulang tahun Willy. Sampai sekarang, aku masih ingat betapa terpukaunya aku melihat kecantikannya. "Kecantikan yang tiada tara" adalah kalimat yang tepat untuk menjelaskan kecantikannya.

Aku juga masih ingat momen di kontrakan dulu, aku melakukan masturbasi sambil mendengarkan suara desahan mereka saat bercinta di kamar sebelah.

“Sudah sampai, Kak Vincen.”

Suara Jesika menarikku kembali ke realita. Aku melihat ke sekeliling dan menyadari kami sudah sampai di depan sebuah bangunan tiga lantai.

Aku pun turun dari mobil dan menghampiri Willy yang baru saja turun dari mobil sopir penggantinya.

Willy tidak terburu-buru masuk. Dia menarikku ke sebuah paviliun di depan pintu, menyodorkanku sebatang rokok, lalu bergumam seolah bicara pada dirinya sendiri, “Seenak apa pun makanan, kalau dimakan terus pasti akan bosan. Secantik apa pun wanita, kalau ditiduri terus pasti akan bosan juga.”

Aku benar-benar bingung, tapi aku tetap diam menunggunya melanjutkan.

“Kak, sudah berapa lama kita berteman?” tanya Willy.

“Kurang lebih sepuluh tahun.”

“Kak, aku mau memberitahumu sesuatu, tapi jangan tertawa, ya.” Willy mematikan rokoknya, seolah sudah memantapkan hati.

“Akhir-akhir ini, aku selalu kehilangan gairah saat melihat Jesika. Tapi, begitu aku membayangkan dia ditelanjangi dan ditiduri oleh pria lain, hatiku langsung terasa panas dan sangat bergairah. Menurutmu, aku ini kenapa?”

Aku baru menyadari betapa serius masalah ini. Sahabatku ini sepertinya memiliki kecenderungan senang melihat pasangannya berhubungan dengan orang lain.

“Ya sudah, jangan dibayangkan saja, ‘kan?” tanyaku mencoba mengetesnya.

“Masalahnya lebih parah dari itu.” Willy tampak frustrasi. “Sekarang otakku penuh dengan gambaran dia sedang ditiduri pria lain. Aku sampai nggak bisa tidur nyenyak, dan sudah lama aku nggak bercinta dengannya .…”

“Lalu, bagaimana aku bisa membantumu?”

“Apa kamu mau tidur dengan Jesika?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status