Heartlock “Millions are watching…but only one heart is real.

Heartlock “Millions are watching…but only one heart is real.

last updateLast Updated : 2026-07-06
By:  Doriella RayCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
113Chapters
648views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When twenty-four-year-old law intern Selena Vale joins the hit reality dating show The Soulmate Experiment, she isn’t looking for fame or fairy-tale romance. Still grieving the sudden death of her best friend, Selena only wants one thing: to feel alive again. But everything changes the moment she meets Cassian Blake. Mysterious, dangerously attractive, and emotionally unreadable, Cassian is the breakout star of the show—and somehow Selena’s nearly perfect soulmate match. Their explosive chemistry instantly turns them into HeartLock Island’s favorite couple, capturing the attention of millions watching around the world. At first, Selena tries to ignore the connection growing between them. The stolen glances. The late-night conversations. The way Cassian understands parts of her she keeps hidden from everyone else. But inside HeartLock, love is never simple. The producers manipulate emotions for ratings. Secrets are exposed publicly. Trust becomes a competition. And as tensions inside the villa grow, Selena begins noticing cracks in Cassian’s perfect image. Because Cassian is hiding something. Something connected to his past. Something powerful enough to destroy everything between them. Then anonymous footage leaks during a live broadcast, showing Cassian with his famous ex-girlfriend only weeks before filming began. Suddenly, the internet turns against him. Contestants begin questioning him. And Selena no longer knows what’s real. In a place built on cameras, manipulation, and lies, Selena must decide whether her connection with Cassian is genuine… or just another carefully created illusion for television. Because on HeartLock Island, falling in love might be the most dangerous game of all.

View More

Chapter 1

Lights & Soulmates

Langit sore itu mendung. Awan menggantung rendah di atas kompleks perumahan padat di daerah Cibinong. Bau hujan menggantung di udara saat Arven menarik koper hitamnya melewati jalan kecil yang dipenuhi pohon mangga, jemuran, dan suara burung murai yang dikurung di teras rumah warga.

Di ujung jalan, berdiri rumah dua lantai berwarna hijau pucat dengan pagar besi sederhana. Plang kayu kecil tergantung di sisi gerbang:

“Kos Eksklusif Putra – Ny. Ravika”

Arven berhenti sejenak, mengusap peluh dari keningnya. Ia mengenakan hoodie abu-abu, celana jeans pudar, dan ransel hitam. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap awas. Ia menekan bel yang terdengar nyaring di dalam rumah.

Tak lama kemudian, pintu kayu terbuka.

Dan di sanalah ia berdiri. Ravika.

Perempuan muda berambut sebahu, pirang karamel, dengan kulit bening dan tatapan yang sulit ditebak. Ia mengenakan daster abu-abu tipis dengan motif bunga samar. Daster itu menggantung longgar di tubuhnya, namun tidak sepenuhnya menyembunyikan lekuk-lekuk yang membuat Arven refleks menundukkan pandangan. Ada getaran aneh di dadanya yang belum pernah ia rasakan pada pertemuan pertama dengan siapa pun.

“Arven, ya?” tanyanya lembut.

“Iya, Bu.” Suaranya agak serak.

“Jangan panggil saya ‘Bu’. Saya masih 29 tahun, bukan nenek-nenek,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Senyum itu seperti menyambar langsung ke dada Arven, membuatnya kehilangan kata-kata sesaat sebelum akhirnya mengangguk kaku.

“Mari, saya antar ke kamar.”

Mereka berjalan menyusuri lorong kecil menuju kamar di paling ujung. Rumah itu terasa sepi, hanya terdengar suara jam dinding berdetak dan angin sore yang menyelusup lewat ventilasi. Langkah Ravika yang tenang di depannya entah kenapa membuat Arven memperhatikan setiap gerakannya—daster abu-abu itu bergoyang pelan mengikuti irama langkahnya, seolah tanpa sengaja memancing pikirannya.

“Kamar kamu ini agak jauh dari kamar penghuni lain. Di lantai bawah cuma ada dua kamar: satu kosong, satu lagi ini,” kata Ravika sambil membuka pintu.

Ruangan itu bersih. Ada tempat tidur single, lemari kayu, meja belajar, dan jendela yang menghadap ke taman kecil di belakang rumah. Sepintas sederhana, tapi nyaman.

“Kalau mau air panas, pakai pemanas di kamar mandi luar. Jangan lupa matikan setelah pakai. Dan kalau kamu dengar suara-suara aneh dari dapur malam-malam…” Ravika menatapnya agak lama, bibirnya terangkat sedikit seperti menahan senyum. “Abaikan saja.”

Arven sempat menatapnya penuh tanya, tapi tak bertanya lebih lanjut.

“Ada penghuni lain?” ia akhirnya bertanya.

“Cuma dua lagi. Anak magang dari bengkel dekat sini, dan satunya kuliah malam. Mereka jarang di rumah. Biasanya kamu bakal sering sendirian di lantai ini.”

Arven mengangguk pelan.

Setelah Ravika meninggalkan kamar, ia mulai menata barangnya. Namun pikirannya belum tenang. Ada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya—dan itu bukan cuma dari daster tipis ibu kosnya.

---

Malamnya, Arven memutuskan keluar membeli makan. Saat kembali, rumah sudah gelap. Hanya lampu di dekat dapur yang menyala samar.

Ia berjalan pelan melewati lorong menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti.

Suara. Seperti kursi yang ditarik pelan. Dari arah dapur.

Ia menoleh. Dapur berada di pojok rumah, hanya diterangi lampu temaram. Tak ada orang. Tapi suara itu jelas tadi.

Ia berjalan pelan mendekat.

Di atas meja makan, sebuah gelas tampak bergeser sendiri. Tidak jauh. Tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

“Arven?” suara lembut itu mengejutkannya dari belakang.

Ia menoleh cepat. Ravika berdiri tak jauh dari sana. Masih mengenakan daster abu-abu, rambutnya kini terurai lebih longgar, matanya redup.

“Kamu ngapain?” tanyanya pelan.

“Tadi… saya dengar suara.”

Ravika tersenyum samar. “Oh. Kamu memang bisa dengar, ya…”

Arven mematung. “Maksudnya?”

Ravika tidak menjawab. Ia hanya berjalan pelan ke arah dapur, mengambil gelas, dan mencucinya di wastafel seolah tak terjadi apa-apa.

“Kamar kamu cukup hangat?” tanyanya sambil membelakangi Arven.

“Iya,” jawab Arven, meski kini tengkuknya terasa dingin.

“Bagus. Tidurlah. Besok kamu pasti lelah.”

Ia menoleh sebentar. Senyumnya tetap ada, tapi tatapannya mengarah ke luar jendela dapur. Kosong. Diam.

Arven berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah hati-hati. Setiba di kasur, ia merebahkan diri, tapi matanya tetap terbuka menatap langit-langit.

Ibu kos ini… bukan perempuan biasa. Bukan hanya karena misterinya, tapi juga karena setiap senyumnya seolah menyimpan rahasia yang membuat Arven ingin memecahkannya—meski itu berarti ia harus semakin dekat dengannya.

---

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
113 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status