LOGINBy the way thanks ya teman-teman udah dukung Hello, Husband! Kalo ada tipo bertebaran maafkan ya, karena kejar-kejaran sama kerjaan wkwk. Jangan lupa simpan cerita ini di library biar dapat notif update. ❤️
Bagi Wima tidak ada yang berubah dari seorang Yaksa Sagara. Garis wajahnya sangat mirip dengannya. Tingginya pun sama persis. Sekali lihat, orang mungkin akan mengira mereka adalah ayah dan anak. Ya, akhirnya dia tahu alasan kenapa dirinya yang mencintai kakaknya dengan tulus tidak mendapat balasan perasaan yang sama. Kemiripannya dengan Yaksa, yang membuat Ratih manis di depan, busuk di belakang. Di salah satu galeri Dinasty Art yang berada di kawasan Jimbaran, Wima menemui pamannya itu. Dia langsung bisa mengenali pria tinggi berambut perak begitu turun dari mobil. Seperti biasa, pria tua itu selalu bergaya santai dengan celana pendek serta kaos longgar bergambar. Dari dulu gaya Om Yaksa selalu ikonik dan aura independent-nya sangat bisa dirasakan orang-orang di sekitarnya. “Om!”Panggilan itu membuat adik dari Malik Sagara yang tengah menatap sebuah lukisan menoleh. Dari posisinya, Yaksa tersenyum saat melihat kedatangan Wima. “Wima. Akhirnya kamu jenguk om-mu yang sudah tua in
“Kenapa dilepas?!”“Aku keluarin di luar, takutnya kamu hamil.”“Masukin lagi nggak?!”“Tapi—”“Masukin!!! Bentar lagi aku sampe, Anjirrr!”Brina memukul bantal dengan kesal. Membuat Rafli buru-buru masuk lagi. Keduanya kembali berlomba mencapai kepuasan. “Ngeselin! Tadi itu bentar lagi!” “Sori, Sayang.” Rafli menarik tubuh Brina, memangkunya secara berhadapan. “Ayo, kamu yang kontrol,” ucapnya seraya meremas pinggul Brina. Selagi wanita itu mulai bergerak. Rafli meraup dada sisi kiri Brina dan mengulum puncaknya. Sementara sisi lainnya, dia remas dan sesekali memilinnya. Brina mendesah panjang dengan kepala mendongak. Dua tangannya menekan bahu lebar Rafli sementara pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan brutal.“Se-sebentar lagi,” erangnya. Tangannya merambat ke belakang kepala Rafli, sedikit menekannya. Meminta pria itu tetap di sana. Memanjakan payudaranya.“Aku bantu, Honey,” desah Rafli, menarik tubuh Brina merapat tanpa jarak. Kulit keduanya saling bergesekan tanpa ce
“Bagus nggak, Sayang?”Rafli sedang memijat pangkal hidung saat mendapat pertanyaan itu dari kekasihnya. Dia baru saja mengecek keadaan cctv yang dia pasang di depan pintu unit penthouse milik Wima. Semua aman terkendali. Wajahnya otomatis terangkat dan matanya langsung menemukan Brina tengah berpose di ambang pintu walk in closet dengan mengenakan—lingerie? Tatapan Rafli kontan terkunci melihat begitu seksinya tubuh molek Brina dibalut kain tipis dan menerawang itu. Brina memang senang mengenakan gaun tidur seksi, tapi tidak seperti sekarang yang begitu berani dan menggairahkan. Rafli menelan ludah, dan tanpa sadar menggeser posisi duduk. “Ini aku beli siang tadi sama Jeevi. Dia juga aku pilihkan beberapa yang bagus.”Kembali Rafli menelan ludah saat wanita itu mendekat. Setiap gerakan Brina seolah mengirim getar ke tubuhnya. Sialan, tiap hari wanita itu membuatnya tak bisa menahan diri. Brina mengenakan gaun tidur renda hitam. Gaun tidur tipis dengan motif bintik- bintik yang t
“Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap
“A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du
“Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan







