Beranda / Romansa / Hello, Husband! / 17. Ganteng Kebangetan

Share

17. Ganteng Kebangetan

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-08-08 12:12:39
Wima tidak mengerti lagi perut Jeevi terbuat dari apa. Sebelum ke rumah nenek wanita itu sudah membabat makan malamnya tanpa sisa. Dan sekarang ngeluh lapar di jam sebelas malam. Wima paham itu waktu rentan perut orang keroncongan. Tapi Jeevi…

Wima mengalah dan akhirnya meminta Rafli menepikan mobil ke salah satu kedai dimsum yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan arah kepulangannya.

Kedai Haka Dimsum yang buka 24 jam. Area kuliner itu ternyata cukup ramai.

“Mau take away aja, Pak? Biar s
Yuli F. Riyadi

Ada yang masih ingat scene ini di bab Hello, Nanny?

| 23
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
oktaviani sri sakti
ingat banget.
goodnovel comment avatar
Yovita Andayani
inget donks...
goodnovel comment avatar
Anies
inget banget dong thor, wkwkwk bahahaha om Wima sama Jeevi sukses bikin perut kaku gegara ketawa. makasih author sayang
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Husband!   249. Perkara Anak

    “Kenapa dilepas?!”“Aku keluarin di luar, takutnya kamu hamil.”“Masukin lagi nggak?!”“Tapi—”“Masukin!!! Bentar lagi aku sampe, Anjirrr!”Brina memukul bantal dengan kesal. Membuat Rafli buru-buru masuk lagi. Keduanya kembali berlomba mencapai kepuasan. “Ngeselin! Tadi itu bentar lagi!” “Sori, Sayang.” Rafli menarik tubuh Brina, memangkunya secara berhadapan. “Ayo, kamu yang kontrol,” ucapnya seraya meremas pinggul Brina. Selagi wanita itu mulai bergerak. Rafli meraup dada sisi kiri Brina dan mengulum puncaknya. Sementara sisi lainnya, dia remas dan sesekali memilinnya. Brina mendesah panjang dengan kepala mendongak. Dua tangannya menekan bahu lebar Rafli sementara pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan brutal.“Se-sebentar lagi,” erangnya. Tangannya merambat ke belakang kepala Rafli, sedikit menekannya. Meminta pria itu tetap di sana. Memanjakan payudaranya.“Aku bantu, Honey,” desah Rafli, menarik tubuh Brina merapat tanpa jarak. Kulit keduanya saling bergesekan tanpa ce

  • Hello, Husband!   248. Curang

    “Bagus nggak, Sayang?”Rafli sedang memijat pangkal hidung saat mendapat pertanyaan itu dari kekasihnya. Dia baru saja mengecek keadaan cctv yang dia pasang di depan pintu unit penthouse milik Wima. Semua aman terkendali. Wajahnya otomatis terangkat dan matanya langsung menemukan Brina tengah berpose di ambang pintu walk in closet dengan mengenakan—lingerie? Tatapan Rafli kontan terkunci melihat begitu seksinya tubuh molek Brina dibalut kain tipis dan menerawang itu. Brina memang senang mengenakan gaun tidur seksi, tapi tidak seperti sekarang yang begitu berani dan menggairahkan. Rafli menelan ludah, dan tanpa sadar menggeser posisi duduk. “Ini aku beli siang tadi sama Jeevi. Dia juga aku pilihkan beberapa yang bagus.”Kembali Rafli menelan ludah saat wanita itu mendekat. Setiap gerakan Brina seolah mengirim getar ke tubuhnya. Sialan, tiap hari wanita itu membuatnya tak bisa menahan diri. Brina mengenakan gaun tidur renda hitam. Gaun tidur tipis dengan motif bintik- bintik yang t

  • Hello, Husband!   247. Penjagaan Ketat

    “Kabar baik kenapa dirahasiakan?” Wima mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari mendengar usulan asistennya. “Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Pak. Keguguran Mbak Jeevi kemarin cukup dijadikan pelajaran.” “Lama-lama juga perutnya akan membesar kan?” “Tidak selamanya dirahasiakan, Pak. Minimal sampai lewat trimester pertama saat janin di dalam rahim sudah kuat. Tradisi dan mitos seperti ini sudah umum di masyarakat kita. Gunanya untuk menjaga janin tetap aman.”Wima mengangguk-angguk. Selama itu untuk kebaikan Jeevi dan calon anaknya,Wima akan setuju. Dan Rafli benar, makin banyak orang tahu tentang kehamilan istrinya malah akan membahayakan wanita itu. Dia tidak mau kejadian itu terulang lagi.“Termasuk dari keluarga saya?”Sudut bibir Rafli naik sedikit, lalu mengangguk. “Termasuk mereka.” “Oke, mungkin saya akan tunda sampai usia kehamilan Jeevi sekitar 4 bulanan baru kembali ke rumah.”“Mau sekalian syukuran 4 bulanan?” “Uhm,” mengusap dagu, Wima mempertimbangkan ap

  • Hello, Husband!   246. Testpack

    “A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du

  • Hello, Husband!   245. Perubahan Aneh

    “Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan

  • Hello, Husband!   244. Bisa Jagain Istri Nggak?!

    BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status