Home / Romansa / Hello, Husband! / 17. Ganteng Kebangetan

Share

17. Ganteng Kebangetan

last update publish date: 2026-08-08 12:12:39
Wima tidak mengerti lagi perut Jeevi terbuat dari apa. Sebelum ke rumah nenek wanita itu sudah membabat makan malamnya tanpa sisa. Dan sekarang ngeluh lapar di jam sebelas malam. Wima paham itu waktu rentan perut orang keroncongan. Tapi Jeevi…

Wima mengalah dan akhirnya meminta Rafli menepikan mobil ke salah satu kedai dimsum yang kebetulan lokasinya berdekatan dengan arah kepulangannya.

Kedai Haka Dimsum yang buka 24 jam. Area kuliner itu ternyata cukup ramai.

“Mau take away aja, Pak? Biar s
Yuli F. Riyadi

Ada yang masih ingat scene ini di bab Hello, Nanny?

| 17
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
oktaviani sri sakti
ingat banget.
goodnovel comment avatar
Yovita Andayani
inget donks...
goodnovel comment avatar
Anies
inget banget dong thor, wkwkwk bahahaha om Wima sama Jeevi sukses bikin perut kaku gegara ketawa. makasih author sayang
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   144. Gado-Gado

    “Rafli, kamu bis—”Jeevi menoleh ketika Wima menjeda kalimatnya. Dia mengikuti arah pandang pria itu. Tidak ada Rafli atau pun Brina di mini bar. “Mereka ke mana?” tanya Wima mengerutkan dahi sambil menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan. Namun beberapa detik lamanya, dia pun menghela napas. Melihat ekspresi suaminya, Jeevi mengernyit. “Kamu tahu mereka ke mana, Mas?” “Mungkin di ruangan sebelah.”“Ruang sebelah?” “Ruangan Rafli.” Wima beranjak ke meja dan menekan angka satu yang langsung menghubungkan ke ruang kerja Rafli. Tidak lama, suara Rafli terdengar dari mesin interkom.“Ya, Pak?” “Kamu ingat ini masih jam kerja, kan?”“Ya, saya tahu, Pak.”“Cepat ke ruangan saya.” Wima mematikan panggilan itu dengan cepat. Lantas kembali mendekati istrinya. “Brina sama Mas Rafli juga, Mas?” tanya Jeevi saat suaminya duduk di sebelahnya.“Yang hilang kan mereka berdua.”“Mereka masih berhubungan rupanya.” Jeevi mendesah. Menarik napas panjang. Dia bukan tidak mengizinkan. Kalau

  • Hello, Husband!   143. Ruang Kerja

    “Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun

  • Hello, Husband!   142. Foto Pernikahan

    Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status