Home / Romansa / Hello, Husband! / 226. Kebebasan Papa

Share

226. Kebebasan Papa

last update publish date: 2026-10-27 21:35:15
Wima benar. Bukan hanya Jenan dan ibunya. Yang menyambut kebebasan papa terlalu banyak dan agak meriah. Sampai Jenan membooking satu restoran penuh. Seolah ini benar-benar sebuah perayaan.

Jeevi yang tidak menduga akan begini cuma bisa bengong. Tidak sesuai seperti apa yang ada di kepalanya.

Yang menakjubkan, banyak di antara mereka mengenal suaminya. Hal itu membuat mereka antusias mengajak papa untuk kembali berpolitik lagi.

Papa juga berpidato singkat, mengucapkan terima kasih dan sebagain
Yuli F. Riyadi

Haruskah Wima pergi?

| 16
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk habisnya nackal sih
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Duh gimana yaak
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Jenan kena suuzon lagi hahahaha
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Husband!   246. Testpack

    “A-apa ini, Mas?” Mata bulat Jeevi mengerjap beberapa kali saat Wima menjatuhkan paper bag berwarna putih ke pangkuannya. “Testpack.” “Loh, buat apa kamu beli beginian?” Jeevi melongok isi tas kertas itu dan agak terkejut karena ada banyak alat uji kehamilan dengan berbagai macam bentuk dan merek di sana. Dari yang murah hingga termahal ada.“Buat tes kehamilan, Sayang.” “Tapi aku kan nggak hamil.”“Coba kamu tes dulu. Pake semuanya, kita lihat mana yang paling akurat.” Bibir Jeevi mengerucut, tidak tertarik, dan malah mengembalikan tas kertas itu ke tangan suaminya lagi. “Aku nggak mau. Aku nggak hamil, Mas.”“Waktu itu kamu juga bilang nggak hamil, tapi ternyata hamil kan? Firasat suami biasanya nggak meleset.” Menarik napas dalam, Jeevi pun meluruhkan bahu. “Tapi aku nggak punya tanda-tanda kehamilan.” “Oh ya?” Di depan wanita itu, Wima bersedekap tangan. “Kapan kamu terakhir haid aku tanya?” Jeevi tak yakin tapi sepertinya … dia menelan ludah saat sadar sudah lewat dari du

  • Hello, Husband!   245. Perubahan Aneh

    “Kamu yakin nggak apa-apa?” Jeevi menatap lama ketika suaminya menanyakan itu. “Kayaknya daripada aku, kamu yang ragu deh kalau kita balik ke rumah lagi.”“Iya.”“Kamu khawatir apa?” Jeevi terpaksa meninggalkan kegiatannya membereskan buku-buku kuliah lalu menghampiri Wima. Dia mengalungkan kedua lengan ke leher suaminya, siap mendengar keluh kesah pria itu. “Aku sudah konfirmasi ke Arjun. Ternyata mereka memang beneran putus.”Jika tidak salah ingat, Arjun adalah ayah Ruby. Jadi yang Wima maksud adalah hubungan Satya dengan Ruby. Jeevi mulai paham apa yang mengganggu pikiran suaminya. “Serius kamu khawatir soal itu? Kamu insecure sama ponakanmu sendiri?”Wima berdecak. Bukan itu poinnya. Wima cuma tidak mau Satya mengganggu istrinya lagi. Anak itu agak bebal, apalagi Wima saat ini belum seratus persen percaya padanya. Meleng dikit, Jeevi langsung ditarik. “Bukan itu masalahnya. Dia itu agak bebal. Aku suruh jauhin kamu, malah makin nekat dan nyari-nyari peluang deketin kamu. Dan

  • Hello, Husband!   244. Bisa Jagain Istri Nggak?!

    BRAAKK! Bunyi pintu dibuka dari luar dengan kasar mengejutkan semua yang ada di ruang ranap itu. Semua kepala menoleh dan melihat Satya muncul dengan napas terengah. Lelaki itu menatap ke arah Jeevi yang duduk di atas bed dan terkesiap cemas. “Jeevi!” Langkahnya dengan cepat menghampiri wanita itu. Mengabaikan semua yang ada di sana, dia hendak menggapai Jeevi. Namun sebelum itu terjadi, lengan panjang Wima lebih dulu mencekalnya, dengan menarik kerah belakang lelaki itu. Kaki Satya auto kesulitan bergerak dan dua tangannya menggapai-gapai udara. “Jeevi, Jeevi, Jeevi!” “Kamu mau apa?” tanya Wima masih menarik kerah belakang ponakannya itu. “Aku mau lihat keadaan Jeevi, Om. Lepasin!” “Cukup lihat dari jauh.” Wima menarik mundur Satya hingga lelaki itu berjarak dari tempat istrinya. Dua alis Satya mengerut. Dia menatap kesal omnya itu. “Aku denger kabar kalau Jeevi diculik. Om gimana sih jadi suami? Bisa jagain istri nggak? Kalau nggak bisa, lepasin aja. Masih ada yang mau jagai

  • Hello, Husband!   243. Sup Penambah Stamina

    Willa mendorong pintu ganda berwarna putih diikuti Bunda di belakangnya. Keduanya berniat menjenguk Jeevi yang masih belum pulang dari rumah sakit pasca insiden Jenan. Sebenarnya sudah sejak kemarin Bunda mengajak Willa untuk menengok menantunya itu. Semarah-marahnya wanita itu pada Jeevi, dia khawatir juga. “Lah kosong? Ke mana mereka?” Willa celingungkan mendapati kamar rawat inap VVIP itu tidak ada penghuni. Jangankan Wima, Jeevi pun tidak ada di tempat. “Mungkin mereka lagi—” Dua ibu dan anak itu kontan terpegun saat mendengar suara cekikikan dari arah kamar mandi. Bukan cekikikan horor, tapi cekikan manja. “Ih, Mas! Jangan mainin itu, geli tau!” Willa terperanjat mendengar suara itu. Suara yang dia tahu betul milik kakak iparnya. Sementara Bunda di tempatnya mematung, agak kaget juga mendengar kalimat seperti itu bisa telontar— “Enak kan diginiin?” Suara berat yang menimpali lagi-lagi membuat Willa dan Bunda terkejut. Keduanya mengerjap bersamaan. “Iya, tapi jangan la

  • Hello, Husband!   242. Wanita Dewasa

    Yang merasa sangat bersalah atas peristiwa itu adalah Danendra Priyadi. Mantan menteri itu mendatangi rumah sakit, mengunjungi putrinya di tengah kesibukan atas kekacauan yang putranya buat. Dirinya merasa gagal segagal-gagalnya. Danendra sama sekali tidak mengira putranya bisa masuk dalam jaringan bisnis obat-obatan terlarang. Tidak heran selama kurang lebih lima tahun belakangan aset putranya itu meningkat drastis. Seharusnya Danendra tidak percaya begitu saja saat Jenan memamerkan deretan usaha F & B yang katanya naik pesat. Usaha itu memang ada, dan awalnya juga menjadi pekerjaan utama lelaki itu sebelum relasi membawa Jenan ke bisnis berbahaya itu. “Harusnya papa memang tetap melarang Jenan bertemu kamu. Semua ini salah papa, Nak. Bahkan ketika papa nggak di sisi kamu, papa masih saja berbuat kesalahan. Papa bingung dan nggak tau cara memperbaiki ini semua.” Di depan Jeevi, pria berambut keperakan itu menangis. Menciumi tangan putrinya sambil terus mendengungkan kata maaf.

  • Hello, Husband!   241. Pelukan Sayang

    “Jeevi!” Teriakan itu tidak hanya membuat Jeevi menoleh, tapi juga menyita perhatian pasien lain yang sedang menikmati keindahan pagi taman rumah sakit. Brina menubruk sebuah kursi roda yang terparkir di taman, dan memeluk dari belakang. “Sumpah, sumpah, kenapa nggak ada yang ngasih tau gue! Kenapa lo nggak cerita ke gue?! Kenapa lo giniin gue?! Lo anggap gue apa? Hadiah kinderjoy?!” protesnya seraya mewek. Tahu cerita Jeevi diculik, membuatnya menggila. Lalu ketika dapat kabar Jeevi sudah kembali ke Jakarta tapi harus mendapat perawatan di rumah sakit, tanpa pikir panjang dia langsung mengambil cuti dan pagi-pagi sekali sudah menyambangi rumah sakit tempat Jeevi dirawat. Jeevi menutup muka melihat tingkah sahabatnya itu. Serius malu, karena hampir semua mata menatap ke arah Brina. “Gue kesel banget, nggak Rafli, nggak lo, semua sama aja. Gue kayak orang bego. Sejak nikah, lo lupain gue, mending waktu itu lo nggak usah nikah aja. Daripada akhirnya lo giniin gue!” Heh! Sembar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status