Beranda / Romansa / Hello, Husband! / 80. Patah Hati

Share

80. Patah Hati

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Tanggal publikasi: 2026-08-30 16:53:11
Wima agak terkejut mendengar jawaban istrinya barusan. Di luar dugaannya. Pria itu pikir, Jeevi akan menjawab absurd seperti biasanya.

“Untuk apa cemburu sama wanita bersuami?”

“Ya karena kamu cinta sama dia. Apa lagi?”

“Mau gimana pun perasaan aku, nggak akan ada pengaruhnya. Dia punya suami, dan sangat mencintai suaminya itu.”

“Mas…,” panggil wanita itu pelan. “Kalau aku juga cinta sama kamu, gimana?”

Wima mengerjap. Tidak langsung merespons. Siapa tahu ini hanya prank. Istrinya itu gemar
Yuli F. Riyadi

Tisuenya buat lap bibir ya, bukan lap lainnya. Kan abis makan biasanya belepotan tuh. Wkwkk #plak

| 18
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (14)
goodnovel comment avatar
risqu ratih purwanti
lepas mass...lepasss....
goodnovel comment avatar
Anies
huh.. aku meremang thor, ya ampuuun
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
T.O.P bangeettt si jeevi mah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Husband!   143. Ruang Kerja

    “Kamu punya ruang pribadi seperti Pak Wima?”Jari lentik Brina menarikan sendok kecil di dalam cangkir berisi kopi yang dia campur dengan krimer. “Kalau yang kamu maksud kamar di balik rak dinding, aku nggak punya. Kalau ruang kerja … ada,” sahut Rafli. Dia pun sama sedang mengaduk minuman. “Aku boleh lihat?” “Boleh.”Mata Brina dengan bulu mata yang tebal dan lentik itu berpendar. Dia menyisihkan sendok, dan segera meraih lengan Rafli. “Kita ke sana sekarang, yuk. Aku penasaran.”Tidak menunggu jawaban Rafli, Brina segera menarik tangan pria itu meninggalkan mini bar dan juga ruangan mewah ini. Keduanya keluar tanpa Wima dan Jeevi sadari.“Tapi, Pak Wim—”“Dia lagi sibuk sendiri sama istrinya. Nggak akan tahu kalau kita keluar. Lagi pula, kita cuma ganggu mereka. Wanita hamil pasti lagi pengen manja-manja sama suami.”Rafli pasrah ketika Brina memintanya menunjukkan ruang kerjanya. Tidak jauh dari ruang kerja Wima, di sana ada ruangan khusus asisten pribadi. Memiliki satu pintu tun

  • Hello, Husband!   142. Foto Pernikahan

    Tawa Brina belum juga berhenti sampai mereka sampai di lantai 70. Tempat kantor Wima berada. “Puas banget gue liat muka dua ondel-ondel itu. Sekali pecundang tetep aja pecundang,” ujarnya sembari mengusap perut yang agak kram karena kebanyakan tertawa. “Mereka sering begitu?” tanya Rafli yang berjalan di sebelah wanita itu. “Dari dulu mereka sering cari gara-gara sama Jeevi.” “Kenapa?” sambar Wima. “Biasalah gara-gara cowok.” Jika Wima menaikkan dua alisnya tinggi-tinggi mendengar itu, Jeevi mengerutkan dahi. Jawaban Brina seolah-olah dirinya ini hobi rebutan cowok. “Kamu suka rebutan cowok, Sayang?” Tuh kan! “Ya kali,” sahut Jeevi sambil memutar bola mata malas. Wima terkekeh dan merangkul bahu istrinya. “Aku yakinnya kamu yang jadi rebutan cowok.” Di front liner, sekretaris Wima berdiri dan terheran-heran melihat bosnya kembali lagi. “Pak Wima nggak jadi keluar?” tanya sekretaris berkacamata tebal itu. “Nggak jadi. Istri saya mau makan di ruangan saya. Tolong kamu pesan

  • Hello, Husband!   141. Era dan Yosi

    Selain Wima dan Rafli ada juga Brina yang keluar dari lift bersamaan. Wanita itu agak terkejut ketika melihat Jeevi secara sengaja disenggol dua wanita korporat itu hanya demi ingin menyapa Wima lebih dulu. Brina mengenal dua wanita itu.“Selamat siang, Pak Wima, Pak Rafli,” sapa dua wanita itu seraya tersenyum manis. Namun hanya berselang beberapa detik senyumnya raib ketika melihat sosok Brina ada di antara Wima dan Rafli. “Brina?!” seru dua wanita itu yang ternyata juga mengenal Brina. Mereka heran dengan kemunculan Brina bersamaan dengan bos besar Grup Sagara. “Lo kenapa ada di sini?” Brina yang kesal melihat kelakuan dua wanita itu melangkah cepat, mendahului Rafli dan Wima. Dia berkacak pinggang dan menatap galak. “Emang kenapa kalau gue di sini, huh?” Dengan dua tangannya dia mendorong dua bahu wanita itu, hingga mereka berdua sedikit limbung. Brina lantas menghampiri Jeevi. “Lo nggak apa-apa, Jev?” “Mereka siapa sih, Bri. Kok kenal gue, kenal lo juga?” tanya Jeevi pelan. “

  • Hello, Husband!   140. Abegeh Tua Birahi

    “Serius boleh?” “Ya. Mas Wima udah izinin.” Jeevi mengambil tas, memindahkan dompet dan lip balm serta beberapa printilan lainnya ke sana. “Pokoknya jangan sampai Pak Wima mecat gue gara-gara lo.” “Astaga nggak percayaan amat sih. Dia udah kasih izin. Gue ntar langsung ke mall sebelah ya.” Setelah memakai jam tangan, Jeevi memilih salah satu koleksi flat shoes di rak. Sempat bingung karena terlalu banyak sepatu yang ada di rak. Wima benar-benar berlebihan dalam memenuhi kebutuhannya. Biasanya dia hanya punya satu sepatu buat dipake sehari-hari. Sementara sekarang? Semua model dia punya. “Oke deh. Hati-hati, ya. Kalau udah sampai berkabar.” Dengan riang Jeevi melangkahkan kakinya keluar paviliun. Selain pada Wima, dia juga sudah izin ke bunda dan nenek untuk keluar bersama Brina sekalian makan siang. Dia melewati koridor yang menghubungkan langsung ke sisi taman bagian samping. Di sana ada akses yang langsung terhubung ke cartport tanpa melalui jalan utama rumah. Dia bar

  • Hello, Husband!   139. Insting

    Dengan tampang datar Wima menatap salah satu asisten rumah tangga muda di depannya itu. Jika bukan karena harus menjaga wibawa di mata pekerja, ingin rasanya dia menghardik wanita dengan seragam serba biru itu. Ganggu saja! “Ada apa, Rani?” tanya Wima tanpa basa-basi. Dia tidak repot menunjukan wajah kesalnya. Asisten rumah tangga yang bernama Rani itu menunduk. “Maaf, Pak Wima, sudah waktunya Nyonya minum vitamin.” Dengan malas, Wima menarik nampan yang Rani bawa. “Sini. Biar saya yang kasih. Jeevi sudah makan kan?” “Sudah, Pak.”“Oke, kamu boleh pergi.”“Baik, Pak. Permisi.” Namun baru saja wanita itu melangkah, dia memutar badan lagi. “Oh iya, Pak. Saya lupa. Di depan Pak Rafli menunggu. Apa saya minta ke sini saja?”“Nggak perlu. Nanti saya yang ke sana. Suruh dia tunggu.” “Baik.”Ketika Wima masuk Jeevi sudah keluar kamar. Wanita itu duduk di depan meja belajar yang memang sudah Wima siapkan sebelumnya untuk persiapan kuliah wanita itu nanti. “Pilih berapa mata kuliah seme

  • Hello, Husband!   138. Biar Kamu Puas

    “Iya, aku maafin.”Bahu Jeevi yang terguncang efek menangis sontak menegak mendengar suara itu. Dia memutar kepala melewati bahu. Tidak jauh dari posisinya, wanita itu melihat Wima berdiri tersenyum hangat menatapnya. “Mas Wima,” bisik Jeevi segera berdiri. Dengan langkah cepat dia menghampiri pria itu dan menghambur ke pelukannya. Jeevi membenamkan wajah ke dada Wima sebab malu ketahuan menangis diam-diam. “Sudah selesai ngambeknya?” tanya Wima selagi mengelus punggung istrinya. Di pelukan Wima, Jeevi menggeleng. Dia belum mau mengangkat wajah sampai akhirnya Wima membopong wanita itu memasuki paviliun. “Kamu nggak balas pesanku, nggak angkat telepon. Bikin aku nggak fokus kerja,” ucap pria itu sesaat setelah membaringkan istrinya ke tempat tidur. “Sebenarnya aku buat kesalahan apa? Aku beneran bingung,” lanjutnya lantas ikut berbaring di sebelah wanita itu. Menggunakan sapu tangan dia mengusap wajah Jeevi yang basah. “Dari semalam kan kamu nangis? Bikin aku nebak-nebak sampai ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status