Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 12. Permintaan Polos Ranu

Share

12. Permintaan Polos Ranu

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-21 16:44:44

“Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”

Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat itu.

“Udah paling bener lo di Jakarta, sih. Cuma masalahnya gue kepikiran sama Mama. Lo yakin Mama bakalan baik-baik saja, sementara lo-nya di sini?”

Kalimat Vanessa berikutnya ikut menyusul dalam in
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Andrea Parker
boleh donk
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
keluar juga kata2nyaaa yaaa Mas wkwkwkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   12. Permintaan Polos Ranu

    “Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat itu.“Udah paling bener lo di Jakarta, sih. Cuma masalahnya gue kepikiran sama Mama. Lo yakin Mama bakalan baik-baik saja, sementara lo-nya di sini?”Kalimat Vanessa berikutnya ikut menyusul dalam ingatannya. Megantara mengembuskan napas panjang, lalu pandangannya menoleh ke kaca spion.Ranu terlihat tertidur pulas di kursi belakang. Kepalanya bersandar miring, napasnya teratur, tubuh kecilnya tampak benar-benar kelelahan. Wajar saja. Sejak sore tadi ia tidak berhenti bergerak. Anak itu terlihat senang berlari, tertawa, bermain tanpa henti bersama Steven.Dan pemandangan itu membuat Megantara terdiam lebih lama. Ada rasa hangat yang mengalir di hatinya. Tapi juga… sesuatu yang lain yang tid

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk sayur lodeh langsung terkekeh kecil.“Lo kan gabut juga, Men,” balasnya ringan. “Bonus gue masakin. Gue yakin lo kangen masakan gue juga, kan?”Carmen mengangkat alis, lalu berjalan mendekat ke meja. “Iya, sih,” jawabnya tanpa malu-malu. “Kalau soal masakan, gue nggak bisa nolak.”Hagia meletakkan makanan itu di atas meja, bergabung dengan beberapa hidangan lain, tempe goreng, ikan asin, sambal, dan nasi hangat yang masih mengepul tipis. Semua sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana terasa… rumah.Mereka kemudian duduk di sofa.Televisi menyala di depan mereka, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Suaranya hanya menjadi

  • Hello, Mantan!   10. Gosip Tentang Megantara

    Setelah setengah hari berkutat dengan gambar desain, revisi material, dan diskusi yang seolah tidak ada habisnya, Hagia akhirnya ikut turun bersama Arsenio, Sinta, Kaluna, dan Risa menuju warteg langganan mereka.Tempat itu selalu sama—ramai, hangat, dan penuh suara. Bau tumisan, sambal, dan lauk sederhana bercampur jadi satu, menciptakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan.Mereka duduk berderet, masing-masing dengan piring nasi yang sudah terisi lauk pilihan.Arsenio langsung makan tanpa basa-basi. Sinta sibuk mencampur sambalnya. Kaluna sesekali tertawa kecil membaca sesuatu di ponselnya.Hagia sendiri memilih diam sembari menikmati makanannya.Tidak banyak bicara.Seperti biasa, ia memilih jadi pendengar.“By the way, kalian lihat tingkah Mbak Rachel hari ini, nggak?” tanya Arsenio tiba-tiba, memecah suasana.Hagia sedikit mengangkat wajahnya. Namun ia tetap diam.“Yang dia mulai kegatelan sama Pak Megan ya, Sen?” sambar Risa cepat.“Iya, Mbak!” Arsenio mendecak pelan. “Sumpah,

  • Hello, Mantan!   9. Vanessa Adiwangsa

    Megantara baru saja tiba di Despresso Coffee setelah mengantar Ranu ke sekolah.Langkahnya terayun pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya. Pintu kaca kafe ia dorong, bunyi lonceng kecil menyambut kedatangannya. Aroma kopi langsung memenuhi indera, hangat dan familiar.Ia menyapu pandangan sekilas ke dalam ruangan. Dan tidak butuh waktu lama.“Gan!”Suara itu datang dari sudut kanan. Vanessa sudah duduk di sana, satu tangan terangkat melambai ke arahnya, wajahnya menunjukkan ekspresi campur aduk antara kesal dan tidak percaya.Megantara mendekat tanpa banyak ekspresi.Begitu sampai, ia menarik kursi di depan Vanessa, lalu duduk. Tangannya bertumpu di meja, sementara napas panjang keluar dari bibirnya, seolah baru saja menahan sesuatu sejak tadi.“Gila lo, ya!” Vanessa langsung membuka tanpa basa-basi. Ia mendecak sambil memutar matanya. “Gan, sumpah, gue beneran nggak nyangka kalau lo bakalan pindah beneran ke Jakarta tahu, nggak.”Megantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menata

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan sejak subuh.Di luar dapur, suara televisi pelan terdengar dari ruang tengah. Ranu duduk di kursi kecilnya, kakinya yang pendek menggantung, sesekali bergoyang mengikuti lagu kartun yang sedang ia tonton.“Ranu,” panggil Hagia tanpa menoleh. “Sarapan yang bener, ya. Jangan sambil main terus.”“Iya, Ma!” sahut Ranu cepat, meski matanya masih terpaku ke layar.Hagia tersenyum tipis.Ia memindahkan telur ke piring, lalu membawa sarapan itu ke meja makan kecil di dekat jendela. Cahaya pagi masuk dengan lembut, membuat suasana terasa hangat. Nyaris damai, kalau saja pikiran Hagia tidak sesekali kembali ke kejadian semalam.Ia meletakkan piring di depan Ranu. “Bilang apa, Ranu?” ucapnya.“Terima k

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. Namun di dalam hatinya, ia tahu itu hampir mustahil terjadi.Setelah perceraian mereka, Megantara tidak pernah benar-benar ‘masuk’ lagi ke dalam hidupnya. Tidak dengan cara yang menyakitkan. Tidak dengan cara yang membuatnya harus membangun tembok lebih tinggi dari yang sudah ada.Sebaliknya lelaki itu justru terlalu patuh. Semua syarat yang dulu Hagia ajukan, diterima tanpa bantahan. Tanpa perdebatan. Tanpa usaha untuk melawan.Selama satu hal tetap ia dapatkan, Ranu Adiwangsa.Ia hanya meminta haknya sebagai ayah. Dan setelah itu, ia menjaga jarak dengan cara yang… nyaris sempurna.Itulah yang membuat semuanya terasa aman. Dan mungkin terlalu tenang. Sampai akhirnya, semuanya berubah hari i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status