Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 11. Kekhawatiran Hagia

Share

11. Kekhawatiran Hagia

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-18 15:28:01

“Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”

Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.

Hagia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk sayur lodeh langsung terkekeh kecil.

“Lo kan gabut juga, Men,” balasnya ringan. “Bonus gue masakin. Gue yakin lo kangen masakan gue juga, kan?”

Carmen mengangkat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   23. Megantara dan Ranu

    “Papa…”Suara kecil itu terdengar serak, masih berat oleh sisa-sisa kantuk. Megantara yang sejak tadi duduk di kursi dekat ranjang langsung menoleh. Ia tidak benar-benar jauh dari Ranu sejak Hagia pergi. Bahkan bisa dibilang, ia hampir tidak mengalihkan perhatian sama sekali.“Hei, Sayang. Udah bangun?” sapanya pelan, suaranya otomatis melembut.Ranu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi duduk. Gerakannya masih hati-hati, mungkin karena belum sepenuhnya sadar, atau mungkin juga karena masih mengingat rasa sakit di tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya masih menyisakan bekas bantal.Anak itu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mencari sesuatu, atau… seseorang?“Mama…”Megantara langsung menangkap arah itu. Ia bangkit sedikit dari duduknya, mendekat ke ranjang, memastikan jaraknya cukup dekat untuk membuat Ranu merasa aman.“Mama lagi pulang sebentar,” jawabnya lembut. “Buat ambil bajunya Ranu.”Ia menyentuh pelan kepala anak itu, merapi

  • Hello, Mantan!   22. Protes Hagia

    Suara alarm yang nyaring memecah keheningan pagi itu. Tidak terlalu keras tapi cukup untuk membangunkan Hagia dari tidur yang tidak benar-benar nyenyak. Perempuan itu menggeliat pelan. Matanya mengerjap, terasa berat saat terbuka. Butuh selama beberapa detik untuk menyadari di mana ia berada. Aroma antiseptik khas rumah sakit tercium samar.Hagia meraih ponselnya dari atas meja, lalu mematikan alarm itu dengan satu sentuhan.Namun saat hendak kembali menyandarkan tubuh, gerakannya seketika terhenti. Alisnya sedikit berkerut saat menyadari ada selimut yang membungkus tubuhnya.Hagia langsung tersentak. Ia menurunkan pandangannya, meraba permukaan selimut itu sejenak, lalu tanpa sadar ia menegakkan tubuhya. Ingatannya mencoba mengejar, kapan ia benar-benar tertidur? Bagaimana posisinya terakhir kali?Hagia yakin… semalam ia hanya duduk. Terjaga tanpa berniat tidur. Lalu, kepalanya menoleh ke arah ranjang. Dan di situlah ia melihatnya.Megantara.Lelaki itu tertidur di samping Ranu, pos

  • Hello, Mantan!   21. Kalah Telak

    “Pesanan atas nama Pak Megan!”Suara pramusaji itu membuyarkan lamunan Megantara yang menggantung tanpa arah. Lelaki itu yang berdiri bersandar di dekat konter langsung menegakkan tubuhnya, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan.Ia melangkah mendekat, menerima kantong kertas berisi pesanan dengan satu anggukan kecil. “Terima kasih.”Megantara berjalan meninggalkan restoran tersebut, langkahnya kembali menyusuri lorong rumah sakit yang tampak lengang. Senyap, kontras sekali dengan pikirannya justru semakin berisik.Tentang cara Hagia berbicara.Tentang jarak yang selalu ia jaga.Tentang setiap kalimat yang terasa seperti dorongan halus untuk menjauh.Megantara mengembuskan napas pelan. “Ternyata aku nggak tahu apa-apa tentang kamu, Nad…” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.Kalimat itu terasa aneh keluar dari mulutnya sendiri. Karena dulu, Megantara pikir ia cukup tahu banyak hal tentang perempuan itu. Atau setidaknya… cukup untuk tidak merasa asing seperti sekarang. N

  • Hello, Mantan!   20. Sikap Tegas Megantara

    Ruang rawat itu dipenuhi cahaya temaram dari lampu dinding. Suasana di dalamnya jauh lebih tenang dibandingkan lorong di luar.Hanya ada suara napas pelan Ranu yang kini terlelap di atas ranjang kecilnya. Tangan mungilnya yang di-gips terbaring di atas selimut, sementara wajahnya sudah kembali tenang, seolah kejadian beberapa jam lalu hanya mimpi buruk yang mulai memudar.Megantara duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit condong kedepan. Tatapannya tak lepas dari Ranu, seakan memastikan bahwa anak itu benar-benar terlelap dengan nyenyak. Jemarinya sesekali bergerak, merapikan selimut, mengusap pelan rambut Ranu yang sedikit berantakan. Sementara di sudut ruangan, Hagia berdiri. Tidak benar-benar diam, tapi juga tidak benar-benar bergerak. Pandangannya sesekali tertuju pada Ranu, lalu beralih ke arah lain, lalu kembali lagi. Wajahnya masih terlihat gelisah. Dan Megantara menyadari hal itu.“Ranu sudah tidur, Mas. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi.”Suara Hagia akhirnya memec

  • Hello, Mantan!   19. Tangisan Ranu

    Lorong rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, bercampur dengan suara langkah kaki yang hilir mudik tanpa henti. Perawat berlalu lalang, beberapa keluarga pasien duduk menunggu dengan cemas dan di sana Hagia berdiri, mondar-mandir tanpa arah yang benar-benar pasti.Di pelukannya, Ranu menangis.Tangisnya tidak keras seperti anak yang meraung karena marah. Lebih ke… tangis yang pecah-pecah, tersengal, seperti menahan sakit yang tidak ia mengerti bagaimana menjelaskannya. Tangan kecilnya yang kanan sudah terbungkus gips putih, masih terlihat terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Dokter tadi mengatakan ada keretakan. Tidak parah, tapi cukup membuatnya harus dipasangi gips agar tulangnya bisa pulih dengan baik.Kalimat ‘tidak parah’ itu seharusnya menenangkan. Tapi bagi Hagia, tetap saja. Ia tidak semudah itu ditenangkan begitu saja melihat bagaimana keadaan Ranu saat ini. “Ssh… Ranu… sayang, Mama di sini…” bisiknya pelan, sambil mengusap punggung anak itu berulang kali. H

  • Hello, Mantan!   18. Membujuk Megantara

    Suasana restoran siang itu tidak terlalu ramai, namun cukup untuk menyamarkan percakapan-percakapan pribadi di tiap mejanya. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan, memantul lembut di permukaan meja kayu yang tertata rapi. Aroma makanan yang hangat bercampur dengan suara alat makan yang saling beradu. Semua terasa biasa, kecuali meja di sudut dekat jendela.Megantara duduk tegak, satu tangannya bertumpu ringan di atas meja. Sementara tangan lainnya sesekali memainkan gelas air di depannya. Ia tidak benar-benar lapar. Dari tadi, makanannya nyaris tidak tersentuh. Di hadapannya, Elvira duduk dengan postur sempurna seperti biasanya. Ia baru saja meletakkan sendok, lalu menyeka bibirnya dengan tisu secara perlahan. Gerakan kecil yang tetap terlihat elegan tanpa dibuat-buat.Untuk sesaat hanya ada hening. Lalu Elvira membuka suara, seolah percakapan yang tadi sempat tertunda kini menemukan momentumnya kembali.“Belum lama ini, Pak Jordan menghubungi kantor,” kata E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status