Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 11. Kekhawatiran Hagia

Share

11. Kekhawatiran Hagia

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-04-18 15:28:01

“Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”

Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.

Hagia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk sayur lodeh langsung terkekeh kecil.

“Lo kan gabut juga, Men,” balasnya ringan. “Bonus gue masakin. Gue yakin lo kangen masakan gue juga, kan?”

Carmen mengangkat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   91. Kalutnya Megantara

    “Gan, belum balik?”Suara Kafka memecah keheningan di dalam ruangan itu. Megantara yang sejak tadi duduk membeku di balik meja kerjanya tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada sesuatu di hadapannya. Seolah pikirannya berada jauh di tempat lain.Kafka mengernyit. Begitu menutup pintu ruangan tersebut, lelaki itu langsung menyadari ada yang tidak beres. Megantara tidak terlihat seperti biasanya. Lelaki itu terlihat berantakan. Kemeja yang biasanya rapi kini sedikit kusut. Dasinya sudah dilepas entah sejak kapan. Dan entah apa yang membuatnya bisa sekacau ini. “Gan?” Kafka melangkah mendekat. Namun tepat saat matanya jatuh ke atas meja kerja Megantara, langkahnya langsung terhenti. “What the—”Kafka tertegun. Di atas meja berserakan beberapa lembar foto. Foto yang tanpa perlu menjelaskan saja, Kafka tahu apa yang terjadi di sana.“Gan...” Kafka mengambil salah satu foto itu. “Ini apa?”Megantara tak langsung menjawab. Ia meraup wajahnya kasar. “Gue nggak tahu harus nyala

  • Hello, Mantan!   90. Harus Jujur

    “Jadi... sekarang udah nggak denial lagi, nih?”Carmen yang tengah menikmati semangkuk ramennya mengangkat sebelah alis. Senyum jahil langsung terbit di wajah perempuan itu.“Bukan lagi yang kemarin-kemarin nolak mentah-mentah, terus bilang mau fokus sama hidup sendiri. Eh, faktanya masih cinta mati.”Hagia mendecak pelan. Terlihat enggan sekali menanggapi ledekan Carmen. “Nggak usah lebay deh, Men.”“Lho, siapa juga yang lebay, sih? Kan gue cuma mau konfirmasi, doang.”Sementara Hagia memilih kembali menyeruput kuah ramen di hadapannya. “Lo tuh hobi banget ya datang tiba-tiba begini?” gerutu Hagia. “Nggak ada kerjaan apa gimana?”“Lho, suka-suka gue dong.” Carmen menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kan gue bosnya.”“Bos apanya. Lo cuma manfaatin jabatan buat ganggu hidup orang.”“Benar sekali.” Carmen menjentikkan jarinya, kemudian terkekeh. “Emang mau ganggu siapa lagi kalau bukan lo?”Sore ini Carmen memang tiba-tiba muncul di kantor dan menyeretnya keluar untuk menikmati ramen di

  • Hello, Mantan!   89. Penolakan Auriga

    “Kamu bahkan nggak punya hak mengusik ketenangan hidup anak saya lagi, Megantara Adhiwangsa. Setelah apa yang dia lalui sendirian... sampai mati pun, saya nggak akan pernah mengizinkan kamu kembali ke hidup anak saya lagi. Jadi jangan buang-buang waktu kamu di sini.”Auriga berbalik. Lelaki itu sudah berniat mengakhiri percakapan itu dan pergi meninggalkan Megantara.Namun suara lelaki itu kembali terdengar dari belakang hingga membuat Auriga menghentikan langkahnya.“Kami saling mencintai, Pa.”Auriga mengepalkan kedua tangannya erat. Sementara Megantara melanjutkan kalimatnya. “Saya tahu selama ini saya telah melakukan kesalahan. Saya tahu saya nggak seharusnya pergi ninggalin Nadi begitu saja. Saya tahu saya gagal sebagai suami. Tapi saya kembali ke sini untuk menebus semua kesalahan itu.”Megantara menatap punggung Auriga yang masih membeku. Namun lelaki itu masih belum berniat untuk membalikkan badan. “Perasaan kami masih utuh. Setelah semua yang terjadi, kami masih memilih satu

  • Hello, Mantan!   88. Mantan Mertua

    “Mas Megan? Mas, kok ke sini? Ada apa?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Raga—adik Hagia. Megantara yang baru saja menginjakkan kaki di lobi gedung kantor milik keluarga Chandrakanta lantas menghentikan langkah, kemudian menoleh. Sudah lama sekali ia tidak datang ke tempat ini. Bahkan terakhir kali, kedatangannya justru berakhir dengan ketegangan yang tidak menyenangkan.“Apa kabar, Ga?” tanya Megantara. “Baik, Mas.” Raga menyalami Megantara. “Mas Megan bukannya di Singapura?”“Aku udah sebulanan lebih di Jakarta.”Megantara mengedarkan pandangannya ke sekitar. Beberapa karyawan masih terlihat lalu-lalang di area lobi, sementara resepsionis di meja depan tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.“Papa kamu ada?”Namun alih-alih langsung menjawab, Raga justru mengernyit. Tatapannya menelusuri wajah Megantara yang siang itu terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.“Mas Megan mau nemuin Papa?” tanyanya hati-hati. “Ada masalah apa? Apa ini ada hubungannya sama Mbak H

  • Hello, Mantan!   87. Cemburu?

    “Selama aku tinggal, Ranu nggak rewel kan, Mbak? Tadinya saya sempat kepikiran kalau anaknya malah ngerepotin.”“Nggak kok, Mbak.” Mbak Asri menggeleng sambil tersenyum. “Ranu anaknya nurut banget. Dia tahu kalau Mamanya kerja, jadi dia nggak pernah rewel.”Hagia mengulas senyum tipis.Pandangannya tertuju pada Ranu yang sedang berlarian di taman apartemen bersama beberapa anak seusianya. Sesekali terdengar tawa riang bocah itu ketika berhasil mengejar temannya.“Syukurlah.”Jujur saja, selama dirawat kemarin, salah satu hal yang paling mengganggu pikirannya adalah Ranu. Ia khawatir putranya rewel atau bahkan membuat Mbak Asri kerepotan.Namun melihat Ranu yang tampak baik-baik saja saat ini, beban di dadanya sedikit berkurang.“Mbak Hagia sendiri gimana?” tanya Asri kemudian. “Wajahnya masih pucat sekali. Ada luka serius?”“Nggak ada kok, Mbak.” Hagia menggeleng pelan. “Cuma beberapa memar sama benturan. Dokter bilang harus banyak istirahat aja.”“Alhamdulillah.” Asri memperhatikan p

  • Hello, Mantan!   86. Terbongkar

    Hagia sempat kehilangan napas selama beberapa saat, sebelum akhirnya berpaling. Kepalanya mendadak berdengung, pikirannya tiba-tiba saja buntu.Ia tidak tahu harus menjelaskan apa setelah apa yang baru saja mereka lihat.“Ris, Sen, Lun...” Hagia berdeham pelan. “Ini nggak seperti yang kalian—”“Pak Megan nggak pakai baju dan kalian ciuman. Lo mau bilang kalian nggak ada apa-apa, Mbak? Seriusan, lo pikir kami sebodoh itu?” potong Arsenio tanpa ampun.“Apa yang kalian lihat nggak seperti yang kalian pikirkan, kok.” Hagia meraup wajahnya dengan kasar. “Iya, kami memang… ciuman. Tapi soal Mas Megan yang nggak pakai baju ini, dia luka dan aku baru lihat. Aku cuma mau mastiin kalau dia… nggak apa-apa.”“Oh, jadinya lagi khawatir gitu ya, Gi?” sahut Kafka dengan sengaja. Hagia melotot kesal kemudian menoleh ke arah Megantara. Lelaki yang berdiri di samping ranjang justru terlihat jauh lebih tenang.“Pokoknya gue sama Mas Megan tuh—”“Apa yang kalian pikirkan tentang kami itu benar,” ujar Me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status