Share

129. Our Home

Penulis: IKYURA
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 19:36:23

Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.

Akasia Residence.

Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.

Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.

Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”

Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
so sweeeetttt...
goodnovel comment avatar
A mum to be
I love you, Author hehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hello, Mantan!   129. Our Home

    Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.Akasia Residence.Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Hagia.Hagia menatapnya heran. “Mas?”Megantara mengulurkan tangan. “Yuk.”“Mas, jawab dulu, dong. Ini kita mau ke rumahnya siapa, sih?” Hagia menerima uluran tangan itu, lalu turun dari mobil. “Jangan sok misterius gitu, deh!”Megantara hanya terkekeh pelan. “Nanti kamu juga tahu, Sayang.”Hagia masih terlihat kebingungan ketika mengikuti langkah Megantara. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terpaku pada bangunan di hadapan mereka.Perempuan itu terdiam selama b

  • Hello, Mantan!   128. Selalu, Selamanya

    “Dia sengaja bikin kamu hamil supaya kamu mau balikan sama dia, kan?” Suara Auriga seketika menarik perhatian Hagia yang tengah menyesap tehnya. Ia menurunkan cangkirnya dengan hati-hati, kemudian tersenyum kecil.“Pa…”“Papa serius, Hagia…”Sore itu Hagia sengaja datang menjenguk Auriga ke kediaman keluarga. Meskipun Dokter Trenggana mengatakan bahwa keadaan Auriga telah membaik, namun tetap saja, Hagia tidak tenang jika belum memastikan keadaan sang ayah.“Papa masih ragu sama Mas Megan, ya?”Auriga menarik napas pendek. “Setelah apa yang terjadi sama kamu, kamu pikir Papa bakal rela melepaskan kamu begitu saja?”Hagia terdiam. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang bertautan di pangkuan. Lalu, “Aku ngerti kalau Papa khawatir sama aku. Aku juga tahu kalau Papa takut kalau aku akan terluka untuk kedua kalinya. Tapi, Pa, kali ini saja, tolong berikan kesempatan buat Mas Megan untuk menebus semuanya.”Auriga masih diam.Hagia menarik napas panjang. “Apa yang terjadi di masa

  • Hello, Mantan!   127. Rencana Pernikahan

    “Jadi… ko udah mantep, nih, nikah lagi sama Mas Megan? Nggak bakalan nyesel lagi?” tanya Carmen. Hagia tak langsung menjawab.Tangannya masih sibuk mengaduk plain yogurt di hadapannya. Ia memperhatikan tekstur putih yang perlahan tercampur sebelum akhirnya mengulas senyuman kecil.“Anak gue memang butuh seorang ayah, Men.” Carmen mengangguk pelan. “Tapi bukan karena kehamilan gue yang jadi alasan.” Hagia meletakkan sendoknya. “Kalau boleh jujur... gue masih mencintainya.”Carmen langsung mendengkus. “Kan memang dari dulu lo masih cinta sama Mas Megan. Lo aja yang selalu denial.”Hagia terkekeh kecil. “Ya... mungkin.”“Bukan mungkin. Emang iya!” cibir Carmen.Hagia hanya menggeleng, lalu kembali menyendok yogurt ke mulutnya. Carmen memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali bertanya.“Terus... nyokap Mas Megan gimana?”Hagia terdiam.“Lo yakin nggak bakalan ada sesuatu yang buruk?”Kening Hagia mengernyit. “Misalnya?”Carmen mengedikkan bahu. “Si nenek sihir itu ngamuk di KUA pas

  • Hello, Mantan!   126. Cemburu Lagi

    Elvira masih terdiam. Raut wajahnya yang semula tenang mendadak berubah. Ada keterkaitan yang terlihat jelas di matanya, seolah kalimat Megantara barusan adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga.Megantara menatapnya lekat.Lalu, “Aku serius, Mas. Kamu yakin bakalan begini terus sama Mama. Kondisi kesehatannya menurun dan kamu—”“Begini gimana maksud kamu, El?” Nada suara Megantara terdengar datar. “Kalau kamu ngajak ketemu aku cuma buat ngebujuk aku supaya ninggalin Nadi, lebih baik jangan.” Ia menyandarkan punggungnya ke belakang. “Mau Mama merestui atau nggak, itu nggak akan membuatku mundur.” Megantara menghela napas pendek. “Nadi hamil sekarang.”Kalimat itu membuat ekspresi Elvira seketika berubah. Megantara tetap melanjutkan. “Dan aku bakalan menikahinya dalam waktu dekat ini.”Elvira menatap Megantara tanpa berkedip. “Hamil?”Megantara menganggukkan kepala. “Iya.”Untuk beberapa saat, Elvira tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya perlahan turun, kemudian kembali mena

  • Hello, Mantan!   125. Ajakan Moreno

    “Kamu yakin bakalan baik-baik saja?” tanya Megantara.Lelaki itu menoleh ke samping. Raut wajahnya terlihat khawatir. “Aku cuma bentar, sih. Cuma kalau—”“Aku baik-baik saja, Mas,” sela Hagia dengan cepat. “Aku udah nggak ngerasa mual kayak pagi tadi, kok. Sekarang udah mendingan.”Megantara masih terlihat ragu. Tatapannya menelusuri wajah Hagia seolah memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja.“Telepon aku kalau kamu kenapa-napa. Oke?”Hagia tersenyum. “Iya.”Setelahnya, Hagia mendekat, mengecup bibir Megantara lembut. Kemudian ia beranjak turun.Mobil Megantara perlahan meninggalkan area depan sekolah, sementara Hagia masih berdiri beberapa saat di tempatnya, memperhatikan mobil itu sampai menghilang di balik gerbang.Terhitung sudah sebulan ini Hagia berhenti bekerja. Dan sedikit banyaknya, ia bersyukur karena sekarang bisa lebih fokus dengan Ranu.Tidak lagi terburu-buru mengejar waktu pulang kantor, tidak lagi harus membagi perhatian antara pekerjaan dan putranya. Meski

  • Hello, Mantan!   124. Rencana Megantara

    “Jadi pengangguran kayaknya bikin Lo happy, ya?”Suara celetukan Kafka membuat Megantara yang baru saja datang langsung terkekeh. Lelaki itu menarik kursi kosong di samping Kafka, kemudian duduk dengan santai.“Kayaknya gue mesti nyoba jadi pengangguran juga, deh,” sahut Kafka lagi.“Yang ada lo pusing, Ka.” Megantara mendecak pelan. Tak lama kemudian, seorang barista datang menghampiri. Megantara langsung memesan secangkir kopi sebelum kembali mengalihkan perhatiannya pada Kafka.“Udah sempat jenguk nyokap lo?” tanya Kafka sembari menyesap kopinya.Megantara terdiam sejenak. “Mm.” Ia menarik napas pendek. “Beberapa hari yang lalu gue ke sana.”“Terus?”“Ya...” Megantara bersandar pada kursinya. “Mau separah apa sakitnya, dia masih saja terlihat arogan.”Kafka terkekeh. “Nyokap lo sakit, Gan. At least lo udah jenguk dia, sih. Nggak ada huru-hara diantara kalian, kan?”Megantara menoleh. “Huru-hara apa, sih?”Kafka mengangkat kedua tangannya. “Ya mana tahu ada kejadian apa gitu, kan? G

  • Hello, Mantan!   66. Gusarnya Megantara

    Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan

  • Hello, Mantan!   46. Perempuan Istimewa

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di hotel.Lampu-lampu lobby masih menyala terang, memantul di kaca besar bagian depan bangunan. Suasana sudah jauh lebih sepi dibanding saat mereka berangkat tadi.Megantara menghentikan laju mobilnya tepat di depan lobi lalu menoleh ke samping. Hagia menol

  • Hello, Mantan!   34. Rasa Penasaran Megantara

    “Siapa tadi?”Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Megantara. Nadanya terdengar datar. Bahkan nyaris terdengar biasa.Namun tatapannya masih tertahan ke arah ruang meeting di ujung koridor, ke arah pintu yang baru saja tertutup setelah Hagia mengantar lelaki itu masuk.Kafka yang tadi sud

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status