LOGIN“MBAAAAK!”Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Suara Arsenio menggema begitu pintu apartemen baru saja terbuka. Hagia yang masih memegang kain lap seketika tertegun.Belum sempat ia bereaksi, Arsenio sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terbuka lebar. Di belakangnya menyusul Risa, Kaluna, dan Sinta yang sama-sama membawa beberapa kantong belanja berisi camilan dan minuman. “Kalian kok bisa naik, sih?”“Bisa, dong. Kan gue sama satpam sini bestie-an,” kelakar Arsenio.Hagia terkekeh. Pandangannya tertuju pada Risa, Kaluna, dan Sinta. Kemudian memeluk mereka satu per satu. “Ya ampun, kalian baru balik ngantor?”“Iya. Sekalian pengen ngecek,” ujar Risa sambil menyeringai jahil, “mantan bos sama mantan rekan kerja kita masih hidup apa nggak.”Hagia tak kuasa menahan tawanya. “Ya ampun...”“Kangen sama Mbak Hagia...”Hagia hanya menggeleng geli. Sudut bibirnya terus terangkat. Sudah lama rasanya ia tidak tertawa selepas ini.“Ayo, masuk dulu.” Ha
“Mama benar-benar berterima kasih, Mas.” Suara Djiwa terdengar begitu hangat.Perempuan itu menoleh ke arah Megantara yang kini duduk di kursi ruang tunggu, tepatnya di depan ruang rawat Auriga. “Karena kamu mau mengantar anak Mama ke sini. Dia pasti panik sekali waktu dengar kabar Papanya dirawat.”Megantara mengulas senyuman kecil. “Nggak perlu berterima kasih, Ma. Sudah seharusnya aku menemani dia.”Tatapan Megantara sempat beralih ke pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat. Di dalam sana, Hagia dan Auriga tengah berbincang dari hati ke hati. Ia tahu ada banyak hal yang selama dua tahun terakhir belum pernah mereka selesaikan. Dan Megantara memilih memberi mereka ruang. Sementara itu, ia dan Djiwa menunggu di ruang tunggu. Suasana koridor rumah sakit terasa tenang. Beberapa perawat terlihat berlalu-lalang membawa berkas, sesekali terdengar suara roda brankar yang melintas dari kejauhan.“Mas Megan gimana kabarnya? Ranu sama siapa sekarang?” tanya Djiwa. Megantara menol
Suasana mendadak berubah menjadi hening. Monitor jantung di samping ranjang berdetak dengan ritme yang teratur. Sinar matahari sore yang menembus sela-sela tirai membuat ruangan itu terasa hangat. Namun tidak mampu mengusir kecemasan yang masih menggumpal di dada Hagia.Perempuan itu masih duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Jemarinya tak pernah lepas menggenggam tangan Auriga. Sesekali ia mengusap pelan punggung tangan ayahnya, seolah ingin memastikan bahwa lelaki itu benar-benar baik-baik saja.“Papa harus jaga kesehatan,” kata Hagia lirih.Ia bahkan belum memiliki cukup keberanian untuk sekadar menatap mata ayahnya. Namun suaranya jelas terdengar menyimpan rasa khawatir.Sementara Auriga hanya terkekeh. “Iya.”“Pa…”“Iya, Sayang. Papa cuma ingin mencairkan suasana kita biar nggak canggung.”Hagia mencebikkan bibir. Sedikit menemukan kelegaan di hatinya. “Aku beneran nggak suka lihat Papa terbaring di rumah sakit begini. Papa lebih pantas marah-marah di depan staff Papa d
“Hei, everything’s gonna be okay.” Suara Megantara memecah keheningan di dalam mobil. Ia meraih tangan Hagia, kemudian menggenggamnya dengan erat. Hagia mengerjap pelan, kemudian menoleh ke samping. Megantara mengulas senyuman tipis. Lalu “Papa pasti baik-baik saja,” ucapnya lagi.Hagia hanya mengangguk kecil. Namun, kegelisahan di wajahnya tidak lagi bisa disembunyikan.Sejak menutup telepon dari Djiwa beberapa menit yang lalu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia bahkan tidak sempat bertanya lebih jauh tentang kondisi Auriga.Beruntung Carmen bersedia menjaga Ranu sehingga Megantara dan Hagia bisa bergegas menuju ke rumah sakit saat itu juga.Hagia menarik napas pendek, berusaha menenangkan dirinya, walaupun hasilnya nihil. Pikirannya penuh, dan kini hanya tertuju pada satu orang.Auriga.“Mas…” Hagia menggigit bibirnya bagian dalam. “Aku takut.”Kalimat itu keluar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil.Megantara mempererat genggaman tangannya. “
“Kalau Malin Kundang dikutuk jadi batu gara-gara durhaka sama ibunya...” Carmen mengaduk ramennya dengan ekspresi kesal. “Gimana kalau sekarang kita kutuk aja ibunya Mas Megan jadi batu karena durhaka sama anak sendiri?”Hagia yang sejak tadi menopang dagu justru terkekeh pelan.“Please ya, Men...”“Lah, emang salah?” Carmen terlihat kesal luar biasa. “Gue lagi kesel, ya. Sumpah, nggak suka banget sama kelakuan nenek-nenek ini.” Carmen menusuk telur ramennya dengan sumpit. “Kalau gue jadi kalian, gue nekat kawin lagi, sih. Syukur-syukur lo langsung bunting sekalian, kan. Biar mampus itu nenek-nenek.”Siang itu, Hagia sengaja menemui Carmen untuk makan siang bersama.Sudah cukup lama mereka tidak benar-benar duduk berdua tanpa terburu-buru. Setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir, Hagia merasa ia membutuhkan seseorang untuk sekadar mendengarkan.“Lo tahu nggak sih...” gerutu Carmen. “Gue tuh pengen banget nyamperin tuh ibu-ibu terus bilang, ‘Bu, kalau nggak sayang s
“Hei… we need to talk, right?”Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, keheningan langsung menyelimuti ruangan. Tidak ada suara selain embusan napas keduanya.Hagia berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia meletakkan kardus berisi barang-barangnya di atas lantai, tepat di samping sofa.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tangan Megantara sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Hagia menghentikan langkah, kemudian menoleh dan kini keduanya berdiri berhadapan.Sorot matanya dipenuhi perasaan bersalah. “Say something, Nadi,” kata Megantara. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti bisikan. Terdengar sedang memohon. “Kamu boleh marah, kamu boleh kecewa sama aku.” Ia menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam tangan Hagia. “Atau tampar aku kalau memang kamu ingin melakukannya.” Megantara menatap perempuan itu lekat-lekat. “Tolong... jangan diam begini,” pintanya. “Aku lebih takut kamu diam daripada kamu marah.”Hagia hanya m
“Mama nggak nyangka kalau akan bertemu dengan kamu di sini,” ujar Djiwa pelan. Nada suaranya terdengar tenang, ada sedikit ragu. Lebih seperti seseorang yang masih menata ulang banyak hal di kepalanya. “Kabar kamu… baik, Mas?”Mereka duduk berdampingan di kursi lorong depan ruang rawat Ranu. Suasan
“Pesanan atas nama Pak Megan!”Suara pramusaji itu membuyarkan lamunan Megantara yang menggantung tanpa arah. Lelaki itu yang berdiri bersandar di dekat konter langsung menegakkan tubuhnya, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan.Ia melangkah mendekat, menerima kantong kertas berisi pesanan
“Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat
“Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d







