LOGIN“Wow, you look so damn beautiful, Baby.”Suara Carmen seketika membuat Hagia mendengus pelan. Ditatapnya penampilan Hagia dari ujung kaki hingga ujung rambut. Kemudian tersenyum lebar.Siang itu, Carmen dan Hagia datang ke salah satu butik untuk fitting gaun pengantin.“Men, lo yakin gue disuruh pakai gaun beginian? Ini berlebihan nggak, sih? Kan gue udah bilang dari awal kalau gue maunya konsep yang sederhana aja?”Carmen tidak mengacuhkan ucapan Hagia, memilih memperhatikan setiap detail gaun Hagia. “Lho, ini juga yang paling sederhana, Sayang.” Carmen mengangkat bahu santai. “Lagian ini nggak berlebihan, kok.” Tatapannya kembali menyapu gaun yang dikenakan Hagia. “Mas Megan pasti langsung kesengsem lihat lo.”Hagia mendengus pelan. “Tanpa pakai gaun ini pun dia udah kesengsem sama gue!”Carmen langsung tertawa. “Iya, iya. Yang lagi jatuh cinta.”Perempuan itu kemudian berdiri di samping Hagia, memperhatikan pantulan sahabatnya di cermin besar.“Just look at you, Gi.” Hagia ikut men
“Kamu yakin mau melakukan ini, hm?”Megantara menoleh ke samping. Mobil yang mereka kendarai baru saja tiba di depan sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta. Lelaki itu mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun. Tatapannya masih tertuju pada Hagia yang duduk di sampingnya, sebelum kemudian menoleh ke arah teras rumah yang menyala terang. Hagia ikut mengarahkan pandangannya ke arah teras, kemudian tersenyum tipis. “Meskipun Mama nggak pernah menyetujui hubungan kita...” Tatapan Hagia beralih pada Megantara. “Tapi Mama tetap berhak tahu.”Megantara terdiam. Hagia kemudian meraih tangan lelaki itu. “Aku nggak datang ke sini buat memaksa Mama merestui kita.” Ia menggenggam tangan Megantara sedikit lebih erat. “Aku cuma nggak mau Mama tahu semuanya dari orang lain.”Megantara menatapnya lekat. “Kamu nggak takut?”Hagia tersenyum kecil. “Takut.” Jawabannya jujur. “Tapi aku lebih takut kalau suatu hari Mama menyesal karena tahu semuanya terlambat.”Megantara menghela napas pelan. Tangan
Mobil yang dikendarai Megantara akhirnya memasuki sebuah kompleks perumahan elite.Akasia Residence.Lelaki itu memelankan laju mobilnya sebelum akhirnya berhenti tepat di depan salah satu rumah yang berdiri di sebuah sudut kompleks.Megantara mematikan mesin kemudian menoleh ke samping.Hagia mengerutkan kening. “Mas, kita mau berkunjung ke rumah siapa?”Megantara tidak langsung menjawab. Ia justru membuka sabuk pengamannya, beranjak turun dari kursi kemudi. Kemudian berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Hagia.Hagia menatapnya heran. “Mas?”Megantara mengulurkan tangan. “Yuk.”“Mas, jawab dulu, dong. Ini kita mau ke rumahnya siapa, sih?” Hagia menerima uluran tangan itu, lalu turun dari mobil. “Jangan sok misterius gitu, deh!”Megantara hanya terkekeh pelan. “Nanti kamu juga tahu, Sayang.”Hagia masih terlihat kebingungan ketika mengikuti langkah Megantara. Namun baru beberapa langkah, pandangannya terpaku pada bangunan di hadapan mereka.Perempuan itu terdiam selama b
“Dia sengaja bikin kamu hamil supaya kamu mau balikan sama dia, kan?” Suara Auriga seketika menarik perhatian Hagia yang tengah menyesap tehnya. Ia menurunkan cangkirnya dengan hati-hati, kemudian tersenyum kecil.“Pa…”“Papa serius, Hagia…”Sore itu Hagia sengaja datang menjenguk Auriga ke kediaman keluarga. Meskipun Dokter Trenggana mengatakan bahwa keadaan Auriga telah membaik, namun tetap saja, Hagia tidak tenang jika belum memastikan keadaan sang ayah.“Papa masih ragu sama Mas Megan, ya?”Auriga menarik napas pendek. “Setelah apa yang terjadi sama kamu, kamu pikir Papa bakal rela melepaskan kamu begitu saja?”Hagia terdiam. Wajahnya tertunduk, menatap kedua tangannya yang bertautan di pangkuan. Lalu, “Aku ngerti kalau Papa khawatir sama aku. Aku juga tahu kalau Papa takut kalau aku akan terluka untuk kedua kalinya. Tapi, Pa, kali ini saja, tolong berikan kesempatan buat Mas Megan untuk menebus semuanya.”Auriga masih diam.Hagia menarik napas panjang. “Apa yang terjadi di masa
“Jadi… ko udah mantep, nih, nikah lagi sama Mas Megan? Nggak bakalan nyesel lagi?” tanya Carmen. Hagia tak langsung menjawab.Tangannya masih sibuk mengaduk plain yogurt di hadapannya. Ia memperhatikan tekstur putih yang perlahan tercampur sebelum akhirnya mengulas senyuman kecil.“Anak gue memang butuh seorang ayah, Men.” Carmen mengangguk pelan. “Tapi bukan karena kehamilan gue yang jadi alasan.” Hagia meletakkan sendoknya. “Kalau boleh jujur... gue masih mencintainya.”Carmen langsung mendengkus. “Kan memang dari dulu lo masih cinta sama Mas Megan. Lo aja yang selalu denial.”Hagia terkekeh kecil. “Ya... mungkin.”“Bukan mungkin. Emang iya!” cibir Carmen.Hagia hanya menggeleng, lalu kembali menyendok yogurt ke mulutnya. Carmen memperhatikannya beberapa saat sebelum kembali bertanya.“Terus... nyokap Mas Megan gimana?”Hagia terdiam.“Lo yakin nggak bakalan ada sesuatu yang buruk?”Kening Hagia mengernyit. “Misalnya?”Carmen mengedikkan bahu. “Si nenek sihir itu ngamuk di KUA pas
Elvira masih terdiam. Raut wajahnya yang semula tenang mendadak berubah. Ada keterkaitan yang terlihat jelas di matanya, seolah kalimat Megantara barusan adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia duga.Megantara menatapnya lekat.Lalu, “Aku serius, Mas. Kamu yakin bakalan begini terus sama Mama. Kondisi kesehatannya menurun dan kamu—”“Begini gimana maksud kamu, El?” Nada suara Megantara terdengar datar. “Kalau kamu ngajak ketemu aku cuma buat ngebujuk aku supaya ninggalin Nadi, lebih baik jangan.” Ia menyandarkan punggungnya ke belakang. “Mau Mama merestui atau nggak, itu nggak akan membuatku mundur.” Megantara menghela napas pendek. “Nadi hamil sekarang.”Kalimat itu membuat ekspresi Elvira seketika berubah. Megantara tetap melanjutkan. “Dan aku bakalan menikahinya dalam waktu dekat ini.”Elvira menatap Megantara tanpa berkedip. “Hamil?”Megantara menganggukkan kepala. “Iya.”Untuk beberapa saat, Elvira tidak mengatakan apa-apa. Tatapannya perlahan turun, kemudian kembali mena
Megantara mengembuskan napas pelan. Tatapannya terpaku di depan sana, memperhatikan Hagia yang tengah berdiri di dekat layar presentasi sambil menjelaskan detail proyek yang sedang mereka kerjakan untuk Astu Group.Perempuan itu mengenakan kemeja putih dengan rambut yang disanggul sederhana. Tangan
“Gi, mau ke mana?”Hagia yang sudah berdiri sambil merapikan map di tangannya menoleh sekilas. Sinta bersandar di sandaran kursinya, memutar badan setengah menghadap Hagia dengan ekspresi penasaran yang tidak ditutup-tutupi.“Mau nganterin berkas proyek Cilandak ke Pak Megantara, Sin.”Alis Sinta l
Megantara baru saja duduk di kursi kerjanya. Ruangan itu masih terasa asing, meski desainnya sederhana—meja kerja berbahan kayu gelap, rak buku yang belum sepenuhnya terisi, dan jendela lebar yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jakarta.Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.Baru be
Pagi itu dimulai seperti biasa—tergesa, penuh daftar kecil yang harus dicentang sebelum waktu benar-benar habis.Hagia baru saja selesai menyiapkan bekal untuk Ranu, putranya yang berusia lima tahun. Tangan kirinya masih memegang kotak makan berisi nasi, ayam goreng, dan sayur tumis sederhana, seme







