ホーム / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 138. Bujukan Djiwa

共有

138. Bujukan Djiwa

作者: IKYURA
last update 公開日: 2026-08-17 23:18:03

“Mas Megan...”

Suara Djiwa yang baru saja tiba membuat Megantara yang tengah duduk di depan ruang rawat Hagia langsung menoleh cepat.

Perempuan itu melangkah menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan.

“Ma...”

“Gimana keadaan Hagia, Mas? Dia udah sadar?”

Megantara mengangguk-angguk pelan. “Dia udah bangun, Ma. Dia—” Kalimatnya terhenti. Megantara menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang rawat. “Dia nggak mau ditemenin.”

Djiwa duduk tepat di sebelah Me
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
Hagia hanya terlalu shock makanya sampe gk mau ketemu Megan.. sabar y Megan.. mental Hagia lagi down.. dia butuh waktu buat Nerima semuanya..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Hello, Mantan!   138. Bujukan Djiwa

    “Mas Megan...”Suara Djiwa yang baru saja tiba membuat Megantara yang tengah duduk di depan ruang rawat Hagia langsung menoleh cepat.Perempuan itu melangkah menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan.“Ma...”“Gimana keadaan Hagia, Mas? Dia udah sadar?”Megantara mengangguk-angguk pelan. “Dia udah bangun, Ma. Dia—” Kalimatnya terhenti. Megantara menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang rawat. “Dia nggak mau ditemenin.”Djiwa duduk tepat di sebelah Megantara. Membiarkan calon menantunya melanjutkan kalimatnya meskipun suaranya terdengar bergetar.“Dia kayaknya masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia kehilangan bayinya, Ma.” Megantara menarik napas panjang, tetapi napas itu justru terdengar berat. “Dia nggak mau aku temenin. Dia nggak mau aku di sana.”Djiwa langsung mengusap lengan Megantara dengan lembut. “Mas, kamu yang tenang, ya?”Megantara menundukkan wajah. “Tapi aku nggak tahu harus ngapain, Ma.” Suara lelaki itu terdengar benar

  • Hello, Mantan!   137. Kembali

    “Gan...”Suara seseorang menarik Megantara dari lamunannya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Vanessa melangkah menghampirinya.“Mbak... Ranu?” Megantara langsung menegakkan posisi duduknya. Tatapannya tertuju lekat pada Vanessa.Setelah berhari-hari berada di rumah sakit, Megantara memang sengaja menitipkan Ranu kepada Vanessa. Ia tidak ingin anak itu terlalu sering berada di rumah sakit dan melihat kondisi Hagia yang masih belum sadarkan diri. Beruntungnya, Ranu tidak terlalu rewel dan masih bisa diberi sedikit pengertian.“Ranu aman, Gan. Mas Areksa ngajak mereka jalan-jalan, jadi gue bisa ke sini buat mastiin keadaan lo.”Megantara mengembuskan napas lega. Vanessa kemudian duduk di kursi yang berada di sampingnya.Sesaat hening.“Belum ada perkembangan apa-apa, ya?” tanya Vanessa memecah keheningan. Megantara menggeleng pelan. “Belum.”Ia menundukkan wajah sejenak sebelum kembali menatap pintu ruang perawatan Hagia.“Beberapa hari yang lalu Nadi sempat bergerak. Tapi katanya itu c

  • Hello, Mantan!   136. Satu Minggu Telah Berlalu

    “Udah ada perkembangan apa, Gan?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Kafka. Satu Minggu telah berlalu sejak kecelakaan itu, namun Hagia masih belum juga membuka mata. Tubuhnya masih terbaring di ruang perawatan dengan berbagai alat media yang terpasang di tubuhnya.Kafka melangkah mendekat, kedua tangannya membawa sebuah paper cup kemudian mengangsurkannya pada Megantara. “Lo kelihatan berantakan banget.” Kafka menarik napas pendek. “Belum ada kabar lagi soal Hagia?”Megantara meraup wajahnya dengan kasar. Rambutnya sedikit berantakan, lingkaran hitam tampak jelas di bawah matanya.“Belum, Ka.” Ia menerima paper cup dari tangan Kafka, tetapi tidak langsung meminumnya. “Kata Dokter Aru, kondisinya mengalami perkembangan yang jauh lebih baik dibandingkan kemarin.” Megantara menatap pintu ruang perawatan di hadapannya. “Tapi entah kenapa... dia belum juga bangun.”Kafka mengembuskan napas pendek. “Good. Itu artinya dia tetap punya kemungkinan buat bangun sebentar lagi.”Megantara

  • Hello, Mantan!   135. Kondisi Hagia

    Megantara masih diam termenung di tempatnya. Tatapannya kosong, namun tidak dengan pikirannya yang berkelana entah ke mana.Penampilannya masih sama seperti beberapa jam yang lalu. Setelan jas hitam yang rapi, kemeja putih, dan dasi yang terpasang sempurna. Seharusnya pakaian itu ia kenakan untuk mengucapkan ijab kabul.Bukan untuk duduk menunggu di lorong rumah sakit dengan tangan yang terus menggenggam ponsel.Di balik pintu ruangan itu, Hagia sedang ditangani oleh tim dokter.Megantara menundukkan wajah. Sejak mereka tiba di rumah sakit, tidak ada satu pun kalimat yang mampu benar-benar ia cerna.Yang terus terngiang di kepalanya hanya suara Hagia dari sambungan telepon tadi.Suara perempuan itu yang panik. Suara bentakan dan perdebatannya dengan Moreno. Kemudian disusul suara decitan ban yang begitu keras dan klakson yang bersahut-sahutan.Setelah itu, semuanya hening.Megantara bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa sampai di rumah sakit. Ia hanya mengingat saat mereka menemuka

  • Hello, Mantan!   134. Kegilaan Moreno

    Hagia berdiri seorang diri di tepi jalan dengan napas yang masih memburu. Jari-jarinya mencengkram ujung gaun putih yang ia kenakan, sementara matanya terus bergerak mencari ke segala arah. Tidak ada.Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan angin sore yang sesekali menerpa wajahnya. Sampai akhirnya sebuah mobil hitam bergerak lambat di hadapannya. Mobil itu berhenti tepat di tepi jalan.Kaca jendela pengemudi turun perlahan.Moreno.“Masuk, Mbak.”Hagia langsung menghampiri mobil itu. “Ranu mana, Ren?”Moreno tidak menjawab. Ia hanya menekan tombol untuk membuka kunci pintu.“Masuk dulu.”Hagia berdiri mematung. “Ren, saya tanya Ranu di mana?”“Ranu aman.”Jawaban itu seharusnya membuatnya sedikit tenang. Namun entah mengapa, justru membuat dada Hagia semakin sesak.“Kalau Mbak mau ketemu Ranu, masuk.”Hagia menatap wajah Moreno beberapa saat. Ada sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Perempuan itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mem

  • Hello, Mantan!   133. Permintaan Auriga

    “Papa beneran ikhlas melepas Nadi buat nikah sama saya lagi, kan?”Pertanyaan itu membuat Auriga yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya lantas menoleh. Megantara sudah berdiri tepat di hadapannya. Terlihat rapi dengan setelan jasnya, terlihat begitu tenang, meskipun jelas ada ketegangan yang terselip di balik sorot matanya.Megantara tak langsung menjawab.“Pa, saya tulus mencintai Nadi. Dari dulu, sampai detik ini.” Megantara menarik napas pendek. “Dan saya berharap Papa bisa merestui hubungan kami.”Auriga mendengus pelan. “Setelah dia hamil, kamu pikir aku nggak bakalan membunuh kamu kalau sampai kamu nggak mau tanggung jawab, hm?”Megantara tersenyum kecil. “Sekalipun Nadi nggak hamil, saya akan tetap menikahinya, Pa.” Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Saya menikahi Nadi bukan karena dia hamil. Tapi karena saya benar-benar menginginkannya.”Auriga terdiam. Untuk beberapa saat, lelaki tua itu hanya menatap calon menantunya. Sebelum kemudian pandangannya perlahan beralih ke

  • Hello, Mantan!   8. Jemputan Megantara

    Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan

  • Hello, Mantan!   7. Paniknya Hagia

    “Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N

  • Hello, Mantan!   6. Sahabat Hagia

    Hagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang t

  • Hello, Mantan!   5. Marriage is Scary, Right?

    Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status