LOGIN“Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”
Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi. Hagia menghela napas pendek. “Iya.” Jawaban itu sederhana. Namun di dalam hatinya, ia tahu itu hampir mustahil terjadi. Setelah perceraian mereka, Megantara tidak pernah benar-benar ‘masuk’ lagi ke dalam hidupnya. Tidak dengan cara yang menyakitkan. Tidak dengan cara yang membuatnya harus membangun tembok lebih tinggi dari yang sudah ada. Sebaliknya lelaki itu justru terlalu patuh. Semua syarat yang dulu Hagia ajukan, diterima tanpa bantahan. Tanpa perdebatan. Tanpa usaha untuk melawan. Selama satu hal tetap ia dapatkan, Ranu Adiwangsa. Ia hanya meminta haknya sebagai ayah. Dan setelah itu, ia menjaga jarak dengan cara yang… nyaris sempurna. Itulah yang membuat semuanya terasa aman. Dan mungkin terlalu tenang. Sampai akhirnya, semuanya berubah hari ini. Kini, mereka sudah berdiri di depan lobi apartemen Hagia. Lampu-lampu terang menyinari area drop-off, beberapa kendaraan keluar masuk dengan ritme yang pelan. Suasana malam terasa lebih tenang dibandingkan jalanan utama tadi. Hagia berdiri di samping mobil Carmen, tasnya sudah ia genggam. Angin malam menyapu pelan rambutnya yang tergerai, membawa sisa aroma kota yang belum sepenuhnya tidur. “Gue balik, ya. Thanks untuk hari ini,” ucap Carmen sambil membuka bagasi kecil di belakang, mengambil beberapa paper bag, lalu mengangsurkannya ke arah Hagia. “Dan ini buat lo sama Ranu.” Hagia langsung mengernyit, tapi tetap menerima. “Ngerepotin banget sih, Men.” Carmen mendecak pelan, menutup bagasi dengan satu gerakan ringan. “Harga diri gue terluka kalau sampai nggak bawa apa-apa buat lo, ya.” Hagia terkekeh kecil, menggeleng. “Ya ampun.” Carmen menyenggol lengannya pelan. “Sana masuk. Cubitin pipinya Ranu buat gue.” Hagia tersenyum tipis. Hangat. “Iya.” Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tidak ada kata tambahan. Tapi cukup. “Hati-hati, ya,” lanjut Hagia. Carmen mengangguk. “Lo juga. Jangan mikir berat-berat malam ini. Jadi single parent berat!” Hagia tidak menjawab. Hanya tersenyum kecil. Lalu melambaikan tangan saat Carmen kembali masuk ke mobilnya. Dan perlahan, mobil itu melaju meninggalkan area apartemen. Hagia masih berdiri di tempatnya beberapa detik. Menatap ke arah mobil yang semakin menjauh. Sampai akhirnya benar-benar hilang dari pandangan. Ia mengembuskan napas panjang. Lalu menatap paper bag di tangannya. Hagia kemudian berbalik, melangkah masuk ke dalam lobi apartemen. Pintu otomatis terbuka, udara dingin dari dalam langsung menyambut. Langkahnya pelan. Tidak terburu-buru. Namun di dalam pikirannya satu hal tetap tinggal. Megantara Adiwangsa. Dan fakta bahwa untuk pertama kalinya setelah dua tahun hidup mereka kembali berada di jalur yang sama. Begitu pintu unitnya terbuka, Hagia langsung melangkah masuk dengan tergesa. Tasnya masih menggantung di bahu, paper bag dari Carmen ia jinjing begitu saja tanpa benar-benar ia perhatikan. “Ranu?” panggilnya refleks. Sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada suara langkah kecil berlari. Tidak ada celotehan yang biasanya langsung menyambut begitu ia pulang. Hagia berhenti di tengah ruang tamu. Keningnya mengernyit. “Mbak?” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Mbak Asri?” Tidak ada jawaban. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia melangkah lebih dalam, matanya menyapu setiap sudut ruangan. Paper bag di tangannya masih ia genggam, tapi perlahan genggamannya melemah. “Ranu…” Nada suaranya berubah. Panik mulai menyusup. Langkahnya semakin cepat. Ia membuka pintu kamar utama, lalu beralih ke kamar Ranu, tapi tidak ada siapa pun di sana. “Nggak mungkin…” gumamnya pelan. Paper bag di tangannya akhirnya terlepas, jatuh begitu saja ke lantai tanpa ia pedulikan. Napasnya mulai tidak beraturan. “Udah jam segini…” bisiknya. “Kenapa nggak—” Kalimatnya terputus. Tepat saat ia berbalik hendak keluar dari unit pintu di depannya terbuka dari luar. Dan di sana seorang lelaki berdiri. Hagia terpaku. Waktu seolah berhenti beberapa detik. Pandangannya tertuju pada Ranu yang kini terlelap dengan nyenyak di dalam gendongan Megantara. Napas Hagia tertahan. Dadanya naik turun cepat, antara lega dan emosi yang bercampur jadi satu. Tanpa sadar, ia mendorong pintu lebih lebar ke belakang, memberi jalan. Megantara tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah masuk dengan tenang, langkahnya hati-hati agar tidak membangunkan Ranu. Hagia mengikuti dari belakang. Matanya tidak lepas dari sosok kecil dalam pelukan lelaki itu. Begitu sampai di kamar Ranu, Megantara menunduk sedikit, menidurkan anak itu perlahan ke atas tempat tidur. Tangannya bergerak hati-hati, membenarkan posisi kepala Ranu, lalu menarik selimut hingga menutup tubuh kecil itu dengan rapi. Ranu tidak terbangun. Napasnya teratur. Wajahnya terlihat damai. Dan di situlah ketegangan di tubuh Hagia akhirnya runtuh. “Mas…” Suaranya lirih. Nyaris pecah. Ia berdiri di ambang pintu, tangannya mencengkeram sisi pintu seolah butuh penopang. Setelahnya, Megantara keluar dari kamar dan melangkah menghampiri Hagia. Lelaki itu terdiam, seolah merasa tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja ia lakukan. “Kenapa kamu nggak bilang kalau mau bawa Ranu, sih?” suaranya mulai bergetar. “Emang nggak bisa kamu ngabarin aku dulu? Emang—” “I do, Nadi.” Suara Megantara memotong, tenang. Ia berdiri tegak, menoleh ke arah Hagia. “Aku udah coba telepon dan chat kamu,” lanjutnya. “Aku bahkan sudah minta Mbak Asri buat chat kamu. Sudah kamu baca?” Hagia terdiam. Tangannya langsung meraih ponselnya di dalam tas, membuka layar dengan cepat. Beberapa notifikasi menumpuk. Telepon tak terjawab. Pesan yang belum terbuka. Dari Megantara. Dari Mbak Asri. Napasnya tercekat. Ia meraup wajahnya dengan kasar, jari-jarinya menekan pelipisnya seolah mencoba menenangkan diri yang tiba-tiba terasa kacau. Ia bahkan tidak sempat membuka ponselnya sejak tadi. “Nadi…”Suara Megantara kali ini lebih pelan. Lebih dekat. Hagia menundukkan wajahnya. Rasa bersalah, panik, lelah, semuanya bercampur jadi satu, membuat kepalanya terasa penuh. “Mas, aku capek,” ucapnya akhirnya. Suaranya tidak lagi tinggi. Tidak lagi panik. Tapi… kosong. “Aku mau mandi,” lanjutnya pelan. “Dan mending kamu pulang sekarang.” Kalimat itu menggantung di udara. Megantara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Hagia beberapa detik. Memperhatikan wajah perempuan itu, yang jelas menunjukkan lebih dari sekadar lelah. Namun akhirnya ia mengangguk kecil. “Oke. Selamat beristirahat.” Satu kata. Tanpa bantahan. Tanpa tambahan apa pun. Megantara melangkah melewati Hagia tanpa mengatakan apa-apa lagi. Pun begitu dengan Hagia yang sama sekali tidak menoleh. Perempuan itu hanya berdiri diam beberapa detik setelah langkah Megantara menjauh. Sampai akhirnya suara pintu utama terbuka. Lalu tertutup kembali. Hagia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya tertuju pada Ranu yang masih terlelap di atas tempat tidur. Hagia bisa melihatnya dari tempatnya berdiri sekarang. Kemudian ia melangkah mendekat, duduk di sisi ranjang. Tangannya terangkat, mengusap pelan rambut anaknya. “Maaf…” bisiknya lirih. “Maafin Mama…” Entah untuk Ranu. Atau untuk dirinya sendiri. Atau mungkin untuk seseorang yang baru saja pergi.Hagia baru saja menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard, sementara layar laptopnya masih menampilkan deretan angka dan laporan yang sejak pagi menuntut perhatiannya tanpa jeda.Perempuan itu menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi, mengusap pelipisnya pelan, mencoba mengusir sisa lelah yang menggantung di kepala. “Mbak, udah jam makan siang, nih! Kita makan dulu nggak, masih? Gue udah lapar.” Suara Sinta menarik perhatian semua orang di area kubikel.“Boleh, boleh. Yuk! Gue juga udah lapar.” Risa bangkit. “Gi, lanjutin kerjaannya nanti, deh.” Hagia melirik jam di sudut layar dan benar saja sudah lewat dari waktu makan siang. Perempuan itu menghela napas pendek. Pekerjaannya belum sepenuhnya selesai, namun perutnya juga tak kalah keroncongan sekarang.“Iya.”Setelah menyimpan beberapa pekerjaannya, Hagia mematikan layar laptop, merapikan beberapa dokumen di meja lalu berdiri mengikuti teman-temannya. Seperti biasa, mereka berlima—Hagia, Risa, Arsen
Hagia menggeliat di atas tempat tidurnya. Matanya mengerjap pelan, tubuhnya bergulir ke samping, menatap langit-langit kamarnya dalam diam. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Bahkan bisa dikatakan nyaris tidak tidur sama sekali. Pikirannya terlalu penuh.Percakapannya dengan Megantara semalam terus berputar di kepalanya tanpa henti. Setiap kalimat, setiap jeda, setiap tatapan Megantara. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja.Dan yang paling mengganggu bukan apa yang mereka perdebatkan. Tapi apa yang ia rasakan setelahnya.Hagia mengembuskan napas panjang, lalu menutup matanya sejenak. Ia ingat dengan jelas bagaimana Megantara akhirnya tidak benar-benar pulang malam itu.Bagaimana lelaki itu duduk di sisi ranjang Ranu, menemani anak mereka tidur. Dan bagaimana… tanpa sadar, waktu berjalan terlalu lama.Hagia sendiri tidak tahu sejak kapan ia akhirnya tertidur di kamarnya. Yang ia tahu, ketika ia sempat terbangun saat dini hari, lampu kamar Ranu masih menyala redup. Dan Megan
“Udah malam. Kamu harus pulang sekarang.”Kalimat itu terdengar datar. Tanpa nada tinggi, tanpa emosi yang ditunjukkan secara jelas. Namun justru karena itu, Hagia terdengar tegas. Seperti garis yang kembali ditarik di antara mereka.Megantara tidak langsung bergerak. Kakinya tetap tertanam di tempatnya berdiri. Ia menoleh kembali ke arah ranjang, ke arah Ranu yang masih tertidur pulas, seolah dunia di luar sana tidak ada hubungannya dengan dirinya.Megantara menarik napas pendek. Lalu, “Aku nggak boleh… nginep di sini, ya?”Pertanyaan itu keluar pelan, nyaris seperti gumaman. Namun cukup untuk membuat Hagia membeku di tempatnya.Hagia yang semula hendak melangkah menjauh, kini berhenti. Punggungnya menegang seiring dengan jantungnya yang berdegup kencang.Perempuan itu kemudian berbalik. Tatapannya langsung menemukan Megantara.Lelaki itu melangkah mendekat. Jarak mereka hanya beberapa langkah. Namun cukup untuk memperjelas bahwa ia tidak sedang bercanda.“Mas, jangan bikin Ranu sel
“Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat itu.“Udah paling bener lo di Jakarta, sih. Cuma masalahnya gue kepikiran sama Mama. Lo yakin Mama bakalan baik-baik saja, sementara lo-nya di sini?”Kalimat Vanessa berikutnya ikut menyusul dalam ingatannya. Megantara mengembuskan napas panjang, lalu pandangannya menoleh ke kaca spion.Ranu terlihat tertidur pulas di kursi belakang. Kepalanya bersandar miring, napasnya teratur, tubuh kecilnya tampak benar-benar kelelahan. Wajar saja. Sejak sore tadi ia tidak berhenti bergerak. Anak itu terlihat senang berlari, tertawa, bermain tanpa henti bersama Steven.Dan pemandangan itu membuat Megantara terdiam lebih lama. Ada rasa hangat yang mengalir di hatinya. Tapi juga… sesuatu yang lain yang tid
“Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa satu mangkuk sayur lodeh langsung terkekeh kecil.“Lo kan gabut juga, Men,” balasnya ringan. “Bonus gue masakin. Gue yakin lo kangen masakan gue juga, kan?”Carmen mengangkat alis, lalu berjalan mendekat ke meja. “Iya, sih,” jawabnya tanpa malu-malu. “Kalau soal masakan, gue nggak bisa nolak.”Hagia meletakkan makanan itu di atas meja, bergabung dengan beberapa hidangan lain, tempe goreng, ikan asin, sambal, dan nasi hangat yang masih mengepul tipis. Semua sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana terasa… rumah.Mereka kemudian duduk di sofa.Televisi menyala di depan mereka, menampilkan acara yang sebenarnya tidak benar-benar mereka tonton. Suaranya hanya menjadi
Setelah setengah hari berkutat dengan gambar desain, revisi material, dan diskusi yang seolah tidak ada habisnya, Hagia akhirnya ikut turun bersama Arsenio, Sinta, Kaluna, dan Risa menuju warteg langganan mereka.Tempat itu selalu sama—ramai, hangat, dan penuh suara. Bau tumisan, sambal, dan lauk sederhana bercampur jadi satu, menciptakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan.Mereka duduk berderet, masing-masing dengan piring nasi yang sudah terisi lauk pilihan.Arsenio langsung makan tanpa basa-basi. Sinta sibuk mencampur sambalnya. Kaluna sesekali tertawa kecil membaca sesuatu di ponselnya.Hagia sendiri memilih diam sembari menikmati makanannya.Tidak banyak bicara.Seperti biasa, ia memilih jadi pendengar.“By the way, kalian lihat tingkah Mbak Rachel hari ini, nggak?” tanya Arsenio tiba-tiba, memecah suasana.Hagia sedikit mengangkat wajahnya. Namun ia tetap diam.“Yang dia mulai kegatelan sama Pak Megan ya, Sen?” sambar Risa cepat.“Iya, Mbak!” Arsenio mendecak pelan. “Sumpah,







