LOGINHagia masih sibuk menekuri pekerjaannya meskipun waktu sudah beranjak malam. Cahaya dari layar laptop menjadi satu-satunya sumber terang di mejanya, memantul di matanya yang sejak tadi tidak benar-benar beristirahat.
Di tangannya, beberapa lembar kerangka desain terbuka. Garis-garis bangunan yang tegas berpadu dengan catatan kecil di pinggir kertas, revisi, ide tambahan, dan beberapa tanda tanya yang belum ia putuskan. Di sampingnya, daftar material sudah ia tandai sebagian, sementara jadwal meeting dengan mandor lapangan tertulis rapi di sticky notes yang ditempel di sudut meja. Hagia mengembuskan napas pelan. Ia melirik ke sekitar. Suasana kantor sudah mulai lengang. Beberapa meja kosong, kursi ditinggalkan tanpa penghuni, lampu di beberapa sudut sudah dimatikan. Hanya segelintir orang yang masih bertahan. Itu pun terlihat sibuk dengan dunianya masing-masing. Ia kembali menunduk, mencoba menyelesaikan satu bagian terakhir dari desain yang sejak tadi belum selesai. Namun belum sempat benar-benar fokus ponselnya berdering. Hagia mengernyit, meraih ponselnya dari samping laptop. Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya langsung terangkat. Carmen. Ia tersenyum kecil, lalu segera mengangkat panggilan itu. “Lo di mana?” Belum sempat Hagia menyapa, suara di seberang sudah lebih dulu menyerbu. Kening Hagia langsung mengernyit. “Assalamualaikum dulu nggak, sih?” balasnya, setengah menghela napas. “Assalamualaikum Bu Haji,” jawab Carmen cepat, tanpa jeda. “Lo di mana sekarang?” Hagia menggeleng kecil, senyum tipis masih tersisa. “Masih di kantor. Kenapa?” “Bagus,” jawab Carmen mantap. “Gue lagi ngidam ramen di Ruang Kaldu. Buruan lo turun. Gue ada di lobi kantor lo.” Hagia terdiam sepersekian detik. Lalu matanya sedikit membesar. “Hah? Lo udah di Jakarta sekarang?” Namun di seberang, Carmen hanya tertawa kecil. “Udah, nggak usah banyak tanya. Gue tunggu.” Lalu sambungan terputus begitu saja. Hagia menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Beberapa detik ia hanya diam. Ia mendecak pelan. “Kebiasaan,” gumamnya lagi, tapi kali ini nadanya tidak sepenuhnya kesal. Hagia menghela napas panjang. Lalu perlahan menutup berkas di tangannya. Laptopnya ia matikan. Kemudian ia meraih tasnya, memasukkan beberapa barang penting, lalu berdiri. Sepatu heels-nya kembali menyentuh lantai, langkahnya terdengar jelas di ruang kantor yang hampir kosong itu. Lampu di mejanya dimatikan. Ia melangkah melewati lorong yang lengang lalu bergerak menuju lift. Untuk sesaat ia hanya diam dan menunggu. Lampu panel lift tampak bergerak, lalu tak berselang lama pintu terbuka. Hagia masuk, menekan tombol menuju lobi. Di dalam lift, ia berdiri diam, memandangi pantulan dirinya di dinding logam yang mengkilap. Wajahnya terlihat lelah. Lift berdenting pelan saat sampai di lantai dasar. Pintu terbuka, dan begitu Hagia melangkah keluar. Suasana lobi langsung menyambutnya dengan cahaya terang dan sedikit keramaian. Matanya langsung mencari. Dan tidak butuh waktu lama ia menemukan Carmen. Carmen berdiri dengan santai, satu tangan memegang ponsel, satu tangan lagi dimasukkan ke saku, ekspresinya tenang dan santai seperti biasanya. Begitu melihat Hagia ia langsung tersenyum lebar. Detik itu juga perempuan itu langsung menghambur memeluk Hagia. “Ihh, kangen banget.” Carmen menarik diri. “Lama banget, deh!” Hagia mendekat, menggeleng kecil. “Salah siapa dadakan?” katanya sambil mendengus. “Tiba-tiba banget lo udah di Jakarta? Bukannya baliknya masih Minggu depan?” Hagia melirik Carmen saat mereka berjalan berdampingan keluar dari lobi. Nada suaranya terdengar santai, tapi jelas ada rasa heran yang belum benar-benar hilang. “Surprise?” Carmen mengedikkan bahu ringan, ekspresinya santai seperti tidak ada yang aneh dari kemunculannya yang mendadak. “Kenapa, sih? Kayak nggak seneng gitu lo ketemu sama gue?” Hagia terkekeh pelan, menggeleng kecil. “Berisik banget, si Comel.” Carmen tergelak dan Hagia hanya bisa menggeleng, tapi senyumnya tidak benar-benar hilang. “Ayo, buruan!” lanjut Carmen sambil menarik ringan lengan Hagia. “Gue udah lapar, nih. Pengen banget makan ramen.” “Di Jepang banyak ramen dan sekarang lo di Jakarta juga pengen makan ramen? Sakit jiwa emang,” gumam Hagia. “Ya namanya gabut, Bun,” jawab Carmen enteng. Mereka berdua akhirnya keluar dari gedung, udara malam Jakarta langsung menyambut. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih ringan dibandingkan di dalam kantor. Lampu-lampu jalan menyala terang. Suara kendaraan lalu-lalang terdengar konstan, menciptakan latar yang akrab. Keduanya melangkah menuju parkiran. Langkah Carmen sedikit lebih cepat, sementara Hagia mengikuti di sampingnya, sesekali melirik ke arah sahabatnya itu yang tampak… lebih sumringah dari biasanya. Sepanjang perjalanan menuju Ruang Kaldu, Carmen tidak berhenti bercerita. Tentang Jepang. Tentang pekerjaannya. Tentang hidupnya yang, seperti biasa, selalu penuh dinamika. “Lo tahu nggak sih,” katanya sambil menyandarkan punggung ke kursi mobil setelah mereka masuk, “di sana tuh semuanya serba cepat. Disiplin banget. Kadang gue aja sampai capek sendiri ngikutinnya.” Hagia melirik sekilas sambil memasang seatbelt. “Lah, bukannya itu yang lo suka?” “Iya sih,” Carmen mengangguk. “Tapi tetep aja… capek, Gi.” Mobil mulai melaju pelan keluar dari area parkir. Lampu kota bergerak di luar jendela, membentuk garis-garis cahaya yang terus berganti. “Pusing juga jadi bos, ya?” lanjut Carmen sambil menghela napas panjang. “Banyak banget yang harus dikerjain!” Hagia tersenyum tipis. Nada itu ia kenal. Bukan sekadar keluhan. Tapi kejujuran yang jarang Carmen tunjukkan. Begitu tiba di Ruang Kaldu, mereka tidak butuh waktu lama untuk memesan. Dua porsi ramen langsung dipesan tanpa banyak pertimbangan, seolah itu memang sudah jadi tujuan sejak awal. Mereka memilih duduk bersisian di deretan kursi yang menghadap ke open kitchen. Dari sana, aktivitas dapur terlihat jelas. Uap dari kuah kaldu mengepul, suara air mendidih bersahut-sahutan, dan para koki bergerak cepat, meracik pesanan dengan ritme yang hampir seperti koreografi. Bau gurih yang khas langsung memenuhi indera, membuat perut yang sejak tadi ditahan akhirnya mulai protes. Carmen menyandarkan siku di meja, menatap ke arah dapur sebentar sebelum akhirnya melirik ke arah Hagia. ”Ada berita apa di kantor?” tanyanya santai. “Lo kelihatan… nggak happy. Ada masalah di kantor?” Hagia tak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya ke belakang sembari meneguk teh ocha miliknya, kemudian meneguknya pelan. “Nggak ada, sih. Cuma emang ada sedikit perubahan suasana.” Hagia menggigit bibir bawahnya pelan, tampak berpikir sejenak. Ia menatap lurus ke depan, ke arah dapur tapi jelas tidak benar-benar melihat. “Lo pasti bakalan syok sama omongan gue kali ini, sih,” gumamnya. Carmen langsung menoleh penuh perhatian. Keningnya mengernyit. “Maksudnya?” Hagia terdiam sejenak. Seolah sedang memastikan kata-katanya sendiri. Lalu akhirnya, “Mas Megan, Men,” ucapnya pelan. “Dia… sekarang di Jakarta dan jadi atasan gue.” Satu detik. Dua detik. Dan Carmen tersedak. “Hah?!” Suaranya pecah lebih keras dari yang ia sadari, membuat beberapa pengunjung lain spontan menoleh ke arah mereka. Carmen buru-buru menutup mulutnya, matanya membulat sempurna, sementara tangannya reflek meraih air minum. “Tunggu, tunggu! Lo barusan bilang apa, Gi?” Hagia mendengus pelan. “Mas Megan. Dia sekarang jadi head architect di Rupa Rancang Nusantara. Efektif per hari ini.” “Sumpah, lo nggak bohong?” lanjutnya setelah berhasil menelan ludah, suaranya masih setengah tertahan. Hagia hanya menggeleng pelan. “Gue juga berharap itu bercanda,” jawabnya datar. Carmen menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari celah, tanda bahwa ini mungkin hanya lelucon. Tapi tidak ada. Wajah Hagia terlalu serius untuk itu. “Gila…” Carmen menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Dia kenapa, sih? Mau cari masalah sama lo apa gimana, coba?” Hagia terkekeh kecil, tapi tawanya tidak bertahan lama. “Nah itu dia yang bikin gue penasaran.” Carmen menggeleng-geleng tidak percaya. “Tapi lo sempat nanya alasan dia balik ke Jakarta, dong?” “Udah, dan alasan dia kembali adalah demi Ranu. Dia bilang… dia pengen dekat sama Ranu, dan nggak mau Ranu kehilangan sosok figur ayah.” “Sumpah dia ngomong begitu?” Carmen masih tidak percaya. “Ke mana aja selama ini, Monyet? Dan dia baru sadar setelah dua tahun kalian pisah?” “Men…” “Diem nggak, Gi! Sumpah, gue kesal, coba. Gue tahu betul gimana perjuangan lo selama dua tahun terakhir ini, ya! Ngurusin Ranu sendirian, pontang-panting, dia ngapain aja, coba? Dan sekarang dia kesambet penunggu mana, coba? Tiba-tiba banget dia kepikiran Ranu.” “Dia pergi bukan karena kemauan dia sendiri, Men. Dia pindah karena atas permintaan Mamanya. Dan gue sendiri… gue justru lebih tenang kalau dia nggak di sini. Walaupun ya… akhirnya sedikit kewalahan ngurus Ranu sendirian.” Matanya turun sebentar ke meja, jemarinya bermain dengan tisu di depannya. Beberapa detik hening. Pesanan mereka datang, dua mangkuk ramen panas diletakkan di depan mereka. Uapnya naik perlahan, aroma kaldu semakin kuat. Namun kali ini tidak langsung mengalihkan perhatian. “Terus?” Carmen kembali bersuara, kali ini lebih pelan. “Lo sendiri… gimana? Pasti nggak mudah kerja satu atap sama mantan suami lo.” Hagia menghela napas. “Campur aduk,” jawabnya jujur. “Kaget, kesel, tapi juga bingung. Gue cuma khawatir saja orang-orang kantor tahu kalau dia mantan suami gue. Sementara gue nggak pernah cerita apa-apa soal dia. Mereka cuma tahu gue cerai sama Ayahnya Ranu.” “Mending begitu nggak, sih?” Carmen menatapnya lama. “Tapi masalahnya lo yakin bisa?” Hagia tersenyum kecil. “Entahlah. Gue belum nyoba, jadi nggak tahu apakah gue bisa atau nggak,” jawabnya jujur. Carmen menghela napas panjang. “Lucu, ya. Dulu kalian saling menyakiti satu sama lain dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Tapi sekarang… kalian justru kerja bareng.” Hagia akhirnya mengambil sumpit, mengangkat sedikit mie, lalu meniupnya pelan. “Gue nggak mikirin apa-apa sekarang. Karena yang terpenting Ranu,” katanya pelan. Kalimat itu terdengar sederhana. “Kasih tahu gue kalau sampai mantan suami lo nyakitin lo lagi. Kali ini gue bakalan usir dia lebih jauh dari hidup lo!” Sementara Hagia hanya tersenyum.”Saya terima nikah dan kawinnya Hagia Nadi Chandrakanta binti Auriga Chandrakanta dengan maskawin dan seperangkat alat sholat tunai!”“Bagaimana saksi?”“SAH!”Suara gema para saksi terdengar hampir bersamaan. Hagia yang duduk tepat di samping Megantara seketika menutup mulutnya. Isak lirih lolos begitu saja dari bibirnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya, kini akhirnya jatuh juga. Beberapa tamu undangan tampak terharu menyaksikan momen sakral tersebut. Djiwa bahkan tampak sibuk menyeka sudut matanya, sementaraAuriga hanya mengembuskan napas panjang dengan senyum yang tak mampu disembunyikan. Hari itu akhirnya tiba.Setelah semua yang mereka lalui, setelah perpisahan panjang, kesalahpahaman, luka, kehilangan, hingga sebuah kecelakaan yang nyaris merenggut Hagia dari hidup mereka. Hari ini, Hagia dan Megantara kembali menjadi pasangan suami istri. Pernikahan itu digelar sederhana di halaman belakang rumah mereka. Tidak ada dekorasi mewah atau pesta besar-besaran. Hanya ada lampu
“Kenapa?”Hagia yang sejak tadi memperhatikan sekeliling rumah seketika menoleh ke arah Megantara. Rupanya sejak tadi lelaki itu memperhatikannya.Perempuan itu terkekeh pelan. “Mas, aku masih nggak nyangka aja kalau kamu bakalan mewujudkan rumah impian aku.”Setelah menyelesaikan makan malam, keduanya memutuskan untuk bersantai di ruang keluarga ditemani secangkir teh hangat. Dari tempat mereka duduk, kolam renang terlihat jelas melalui pintu kaca yang sengaja dibuka lebar. Riak airnya bergerak tenang, memantulkan cahaya lampu-lampu taman yang menyala di sekelilingnya.Hagia mengedarkan pandangan sekali lagi. “Kayak... desain rumah ini udah lama aku simpan. Entah sekarang aku taruh di mana,” katanya. “Tapi ternyata kamu masih ingat.”Megantara menggenggam tangan Hagia. “Kan aku udah bilang kalau aku sama sekali nggak bakalan lupa sama apa pun yang ada hubungannya sama kamu.”Hagia sudah hampir memprotesnya, namun Megantara sudah lebih dulu bersuara. “Dan kamu tahu...” Megantara terd
“Saya sudah pernah mengatakan ini ke Nadi.” Megantara mengepalkan kedua tangannya erat. Tatapannya yang tajam masih memaku Moreno yang kini duduk di balik dinding kaca di hadapannya. “Siapa pun yang berani menyentuhnya, saya nggak akan membiarkan hidupnya tenang.”Ada beberapa luka lebam yang masih terlihat jelas di wajah Moreno. Setelah keluar dari rumah sakit, lelaki itu akhirnya ditempatkan di tahanan sembari menunggu proses hukum berjalan.Moreno tertegun selama beberapa saat. Sebelum menyadari apa yang baru saja dikatakan Megantara.“Jadi… ini perbuatan Bapak?”Megantara tak langsung menjawab. Namun keterdiaman lelaki itu sudah memberikan jawaban pada Moreno.Tatapan Moreno turun ke arah kaki kanannya yang kini sudah tidak ada. Wajahnya mulai merah padam, namun Megantara tetap tidak memedulikannya.“Bapak yang nyuruh orang di dalam sana untuk nyiksa saya, kan?” Napas Moreno mulai memburu. “Bapak nggak lihat kalau saya sudah kehilangan kaki kanan saya? Hah?”Megantara mendecih pel
“Lagi mikirin apa?”Pertanyaan itu meluncur dari bibir Megantara. Setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Hagia diperbolehkan untuk pulang.Hagia yang sejak tadi menatap keluar jendela menolehkan wajah. “Nggak ada, Mas.”Megantara meraih tangan Hagia. Jemarinya bertaut dengan jemari perempuan itu, sementara pandangannya sesekali melirik ke samping sebelum kembali fokus pada jalan di hadapannya.“Kasih tahu apa yang lagi kamu pikirin.”Hagia tersenyum kecil. Seolah tahu maksud dari kalimat Megantara. “Ingat, aku bukan dukun yang bisa tahu segala hal yang ada di pikiran kamu kalau kamu nggak bilang apa-apa sama aku.”Hagia terkekeh pelan. “Iya, Mas. Aku cuma… kangen sama Ranu.” Ia kembali menatap ke luar jendela. “Udah hampir satu bulan ini aku nggak ketemu sama dia, kan?”Megantara mengusap punggung tangan Hagia dengan ibu jarinya. “Bentar lagi kita bakalan ketemu sama Ranu.” Ia tersenyum kecil. “Sabar, ya.”Hagia menoleh.“Ranu juga kangen sama kamu, ka
“Mas... maaf...”Suara Hagia nyaris tertelan di kerongkongannya. Matanya terlihat berkaca-kaca, menatap Megantara yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang sama kacau.“Maaf, Mas...”“Hei, Sayang.” Megantara segera melangkah menghampiri Hagia. Tangannya langsung merengkuh tubuh perempuan itu, lalu memeluknya ke dalam dekapan. “Jangan nangis...”Namun alih-alih mendengarkan perkataan Megantara, pertahanan Hagia justru runtuh. Isak tangisnya pecah. Kedua tangannya perlahan mencengkram bagian belakang kemeja lusuh Megantara, seolah hanya lelaki itu satu-satunya tempat yang bisa membuatnya merasa aman saat ini.“Aku udah jahat sama kamu, Mas.” Hagia terisak di dada Megantara. “Maaf... aku udah bentak kamu tadi.”Megantara semakin mempererat dekapannya. Satu tangannya mengusap punggung Hagia perlahan, membiarkan perempuan itu menenggelamkan wajahnya di dadanya untuk menuntaskan tangis yang sejak tadi ia tahan.“Kamu nggak pernah jahat, Sayang.” Megantara mengecup pelan puncak kepala Hag
“Mas Megan...”Suara Djiwa yang baru saja tiba membuat Megantara yang tengah duduk di depan ruang rawat Hagia langsung menoleh cepat.Perempuan itu melangkah menghampirinya dengan raut wajah penuh kecemasan.“Ma...”“Gimana keadaan Hagia, Mas? Dia udah sadar?”Megantara mengangguk-angguk pelan. “Dia udah bangun, Ma. Dia—” Kalimatnya terhenti. Megantara menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya kembali tertuju pada pintu ruang rawat. “Dia nggak mau ditemenin.”Djiwa duduk tepat di sebelah Megantara. Membiarkan calon menantunya melanjutkan kalimatnya meskipun suaranya terdengar bergetar.“Dia kayaknya masih belum bisa menerima kenyataan kalau dia kehilangan bayinya, Ma.” Megantara menarik napas panjang, tetapi napas itu justru terdengar berat. “Dia nggak mau aku temenin. Dia nggak mau aku di sana.”Djiwa langsung mengusap lengan Megantara dengan lembut. “Mas, kamu yang tenang, ya?”Megantara menundukkan wajah. “Tapi aku nggak tahu harus ngapain, Ma.” Suara lelaki itu terdengar benar
Hagia masih duduk di meja kerjanya, tubuhnya sedikit condong ke depan, mata fokus menelusuri layar laptop yang sejak tadi tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Beberapa berkas terbuka di sekitarnya. Mulai dari print out desain bangunan, daftar material, hingga jadwal meeting dengan kepala mandor
Megantara duduk di ujung meja panjang di sebuah meeting room. Ruangan itu dipenuhi cahaya dari jendela besar di samping, memantulkan bayangan orang-orang yang duduk mengelilingi meja dengan laptop dan berkas masing-masing.Perhatiannya tertuju lurus ke depan.Arsenio berdiri di dekat layar proyekto
Pagi itu dapur kecil di unitnya dipenuhi aroma hangat dari roti yang baru dipanggang dan telur yang sedang ia olah di atas wajan. Gerakan Hagia terlihat cekatan, hampir tanpa berpikir, tangan kirinya memegang spatula, tangan kanannya sesekali meraih bumbu atau memeriksa bekal yang sudah ia siapkan
“Gue serius, Gi. Kasih tahu gue kalau mantan suami lo itu nyakitin lo.”Nada suara Carmen terdengar lebih dalam dari biasanya. Tidak ada selipan candaan. Tidak ada nada menggoda. Hanya kekhawatiran yang jujur, yang bahkan tidak ia tutupi.Hagia menghela napas pendek. “Iya.”Jawaban itu sederhana. N







