Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 32. Penghuni Baru

Share

32. Penghuni Baru

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-04 22:47:30

Aroma bawang putih tumis dan sayur hangat masih tertinggal tipis di udara ketika Hagia mematikan kompor. Pagi itu apartemennya terasa lebih berisik dari biasanya. Bukan karena ada sesuatu yang istimewa, melainkan karena pagi ini akhirnya kembali menyerupai rutinitas normal, setelah beberapa hari yang terasa panjang dan nyaris tanpa jeda.

Di meja makan, Ranu sudah duduk manis dengan mangkuk kecil di depannya. Anak itu sesekali menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri, sesekali matanya terpaku ke tele
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   97. Raga Chandrakanta

    “Saya nggak tahu kalau ternyata Alizar...”“Keponakan saya, Mbak.” Moreno tersenyum kecil. “Kebetulan orang tuanya lagi di luar kota. Jadi tadi mereka minta tolong saya buat datang ke sini.”“Oh...”Hagia mengangguk pelan. Entah kenapa, rasa canggung yang sempat muncul sejak tadi perlahan menghilang.Kini mereka berdiri di koridor sekolah yang mulai lengang. Beberapa orang tua murid sudah pulang membawa anak-anak mereka masing-masing.Dari tempat mereka berdiri, Hagia bisa melihat Ranu dan Alizar berlarian di halaman kecil dekat taman bermain. Padahal kurang dari satu jam yang lalu keduanya saling menangis. Sekarang mereka sudah tertawa bersama lagi.“Saya benar-benar minta maaf, Ren,” ujar Hagia tulus. “Saya nggak nyangka kalau Ranu bakal bertindak seperti itu.”Moreno menggeleng pelan. “Namanya juga anak-anak, Mbak. Mereka belum bisa mengontrol emosinya.” Tatapannya mengikuti sosok Ranu yang sedang berusaha mengejar Alizar. “Lihat sekarang. Mereka bahkan sudah lupa kalau tadi sempat

  • Hello, Mantan!   96. Insiden di Sekolah

    Setelah kekacauan yang terjadi di kantor, Hagia akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya lebih awal.Pikirannya masih kacau. Inside di smoking area tadi masih terus terngiang-ngiang di kepalanya. Belum lagi setelahnya, pihak HR langsung turun tangan, beberapa karyawan mulai membicarakan kejadian tersebut, dan Megantara yang tampak masih menyimpan amarahnya. Namun sebelum Hagia sempat kembali fokus pada pekerjaannya, sebuah panggilan dari sekolah Ranu datang. Dan seketika semua hal itu terasa tidak penting. Dengan langkah tergesa Hagia meninggalkan meja kerjanya. Menurut penjelasan singkat dari wali kelasnya, Ranu terlibat perkelahian dengan salah satu teman sekelasnya.Ranu memukul seorang anak bernama Alizar. Dan Sejak menerima telepon itu, jantung Hagia tidak berhenti berdebar.Sepanjang perjalanan menuju sekolah, berbagai kemungkinan bermunculan di kepalanya.Apakah Alizar terluka?Apakah Ranu terluka?Apa yang sebenarnya terjadi?Karena selama ini Ranu bukan anak yan

  • Hello, Mantan!   95. Pelecehan

    Suasana lobi kantor pagi itu sudah mulai terlihat ramai. Beberapa staff terlihat berlalu lalang dengan tumpukan berkas di tangannya. Perempuan itu mengulas senyuman kecil, mengingat kembali bagaimana Megantara meninggalkan kecupan singkat di dalam mobil beberapa menit yang lalu sebelum ia turun. “Bau-baunya kayaknya orang lagi kasmaran, nih!”Suara seseorang di belakang sana seketika membuat Hagia berjengit kaget. Suara siapa lagi jika bukan suara Arsenio? Hagia menolehkan kepala, kemudian mendecak pelan. “Apa sih, Sen. Nggak usah berisik, deh. Masih pagi ini!” bisik Hagia sambil melirik ke arah pintu lift, khawatir ada orang lain yang tiba-tiba masuk.“Kalau nggak berisik bukan Mas Arsenio, Mbak,” sahut Kaluna sambil menahan tawa melihat wajah Hagia yang mulai memerah.“Berangkat barengan nih, Mbak?” Arsenio menggerakkan alisnya naik-turun dengan tatapan menggoda. “Enak, ya? Udah nggak mikirin ongkos busway lagi.”“Lebay! Gue masih sanggup ya kalau cuma naik busway doang! Masalahny

  • Hello, Mantan!   94. I Love You

    Megantara menggeliat pelan di atas tempat tidurnya. Sayup-sayup suara alarm terdengar dari atas nakas. Dengan mata yang masih setengah terpejam, lelaki itu mengulurkan tangan untuk meraih ponselnya.Namun sebelum berhasil menjangkaunya, gerakannya tertahan. Ia menunduk, merasakan lengan kirinya terasa berat. Detik itu juga sudut bibirnya terangkat. Hagia terlihat masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat begitu damai dengan salah satu tangannya melingkar di pinggang Megantara.Setelah mematikan alarm, lelaki itu kembali pada posisinya. Wajahnya menunduk, menatap wajah Hagia dengan lekat. Seolah masih belum percaya bahwa semua ini benar-benar terjadi.Semalam terasa seperti mimpi yang sangat panjang. Setelah semua kesalahpahaman yang selama bertahun-tahun menggunung akhirnya terbongkar, mereka memutuskan untuk menghentikan pertengkaran itu. Terlebih saat Ranu mulai merengek mencari Hagia. Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke unit perempuan itu untuk menemui putranya.Sep

  • Hello, Mantan!   93. Rasa Bersalah Megantara

    “Aku takut, Mas. Aku takut kehilangan Ranu.” Suara Hagia nyaris tidak terdengar. “Aku udah kehilangan kamu.” Air matanya kembali jatuh. “Aku nggak sanggup kehilangan anak aku juga.”Kalimat itu membuat rahang Megantara mengeras. Darahnya mendidih. Bukan kepada Hagia, melainkan pada kenyataan bahwa perempuan yang dicintainya harus menghadapi semua itu sendirian.Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Berusaha menahan luapan emosi yang tiba-tiba memenuhi dadanya.Lama Megantara hanya diam. Pandangannya masih tertuju pada Hagia yang berdiri beberapa langkah darinya.Perempuan itu terlihat rapuh. Jauh lebih rapuh daripada yang selama ini ia tunjukkan. Dan itu membuat dadanya terasa semakin sesak.“Dua tahun, Nadi.” Akhirnya Megantara bersuara. “Dua tahun kamu bikin aku gagal buat jaga dan melindungi kamu, tahu nggak?”Hagia mengangkat kepalanya. Air matanya masih jatuh membasahi wajahnya. “Mas...”“Aku ini suami kamu waktu itu.” Suara Megantara mulai bergetar. “Apapun yang terja

  • Hello, Mantan!   92. Fakta Sesungguhnya

    “Tadi Bapak bilang, katanya mau ngobrol sama Mbak Hagia. Mbah Hagia sudah ketemu sama Bapak?”Mendengar perkataan itu, Hagia menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa sejak menerima telepon dari Megantara tadi, perasaannya tidak pernah benar-benar tenang. “Jam berapa dia pulangnya, Mbak?” tanya Hagia.“Barusan kok, Mbak. Mungkin 30 menitan yang lalu. Tadi sempat ke sini sebentar buat nitip Ranu karena ada yang ingin dibicarakan sama Mbak Hagia. Begitu katanya.”Hagia mengangguk-angguk. Merasakan tak nyaman karena ada sesuatu yang membuat dadanya terus terasa sesak.“Titip Ranu bentar ya, Mbak. Saya nemuin Mas Megan dulu.”“Siap, Mbak.”Hagia memaksakan senyum kecil. Kemudian ia berbalik meninggalkan unit untuk menuju ke unit Megantara. Koridor apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Langkah Hagia bergema pelan di sepanjang lorong. Semakin dekat menuju unit Megantara, semakin keras detak jantungnya.Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya segugup ini. Mungkin karena nada suar

  • Hello, Mantan!   54. Bali Zoo

    “Ranu udah siap jalan-jalan sama Papa, Mama?”Suara Megantara langsung menyambut langkah kecil Ranu yang baru saja keluar dari kamar. Bocah itu sudah berpakaian rapi dengan kaos kecil bergambar dinosaurus dan celana pendek warna krem. Rambutnya masih sedikit basah dan wangi habis mandi.Di belakang

  • Hello, Mantan!   52. Kepolosan Ranu

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.Langit Bali mulai berubah jingga samar. Area drop off bandara tampak ramai oleh kendaraan yang datang silih berganti.Megantara menghentikan mobilnya tepat di depan pi

  • Hello, Mantan!   50. Tingkah Menyebalkan Megantara

    ”MBAK!” Arsenio melangkah cepat menghampiri Hagia dengan wajah penuh drama. “Lo disuruh ngapain sama Pak Megan?” bisiknya heboh. “Sumpah, pas Pak Megan bilang lo disuruh ke villa-nya, gue langsung overthinking, dong!”Hagia langsung mengernyit. “Overthinking kenapa, sih?”“Ya lo nggak ngikutin tren

  • Hello, Mantan!   49. Paniknya Hagia

    Entah bagaimana akhirnya malam itu Hagia, Megantara, dan Ranu benar-benar tertidur di dalam satu ranjang yang sama.Ranu berada di tengah, seperti yang ia mau.Bocah itu meringkuk nyaman sambil memeluk Megantara erat-erat dalam tidurnya. Salah satu kaki kecilnya bahkan menimpa paha lelaki itu tanpa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status