MasukJam sibuk orang-orang kerja suasana kafe dengan konsep Japanese yang Kalla singgahi agak sepi. Hanya beberapa meja yang berpenghuni. Selebihnya kosong. Dan mungkin tempat seperti ini yang Nyonya Abimanyu cari. Dia memimpin jalan di depan Kalla. Menuju salah satu meja yang sudah waiter siapkan. Tas mahalnya wanita itu letakkan di sisi bagian yang dekat pembatas pot. Dia lebih dulu duduk sebelum mempersilahkan Kalla duduk di seberangnya. Untuk mengulur waktu dia memesan minuman. Diyani memesankan Kalla Vietnam Drip sementara dirinya teh hijau. Mata Kalla sampai mengerjap ketika wanita itu menawarinya minuman itu. “Tenang, saya tidak akan meracuni kamu,” ucap Diyani seolah tahu kekhawatiran Kalla. Menanggapi itu Kalla cuma tersenyum kecut. Suasana agak canggung saat jeda menunggu pesanan. Wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu bahkan belum bersuara dan malah sibuk dengan ponsel. Heran, ini gue cuma dijadiin temen ngeteh ibu konglo satu ini? bat
Sejak terakhir obrolan tentang impian melanjutkan sekolah ke Jepang, Reyga belum mau bicara. Dalam hal ini Kalla mencoba mengalah, berusaha memulai lebih dulu. Tapi semua usahanya zonk. Reyga masih bungkam, dan tetap mengabaikan eksistensinya. Perang dingin itu ternyata dirasakan Kael. Anak itu mengamati dua orang dewasa yang membersamainya dengan pandangan polos. “Kakak berantem sama papa?” tanya Kael ketika sang papa lebih dulu pamit. Padahal biasanya mereka akan berangkat bersama. “Uhmm, enggak kok. Kita cuma lagi nggak mau banyak bicara,” sahut Kalla tersenyum kecut. Dia menggapai tas Kael dan membuang resahnya sejenak. “Ayo, waktunya kita let's go!” Jangankan Kael, Kalla pun merasa tak nyaman dengan situasi ini. Tidak ada yang bisa Kalla lakukan selain menunggu emosi Reyga reda. “Kael…,” panggil Kalla menatap pintu besi yang membawanya dan Kael turun ke lobi. “Ya?” “Kalau kakak mau sekolah lagi. Menurut kamu gimana?” Anak itu tercenung sesaat, sebelum mendongak, mena
“Kael baik-baik aja?” “Baik. Ada Cade di rumah mama.” Kalla yang sedang menikmati camilan menoleh. Menatap Reyga yang sedang berkutat dengan mesin kopi. “Waktu lagi nggak ada pengasuh, kalian gimana?” tanya Kalla lagi. Kepergiannya ke Jepang pasti akan berdampak lagi. Dan Kalla tidak bisa mengabaikan ini. Beneran hari ini dia memikirkannya. Bola mata Reyga bergulir ke atas, tampak berpikir. “Kael sekolah, lanjut day care. Sorenya kalau bukan aku, Cade yang jemput. Kalau dia lagi nggak mau day care, terpaksa kubawa ke kantor.” Mendengar itu Kalla tercenung. Agak menyesal. Sebelum ada nanny baru artinya Kael bakal diombang-ambing seperti itu.“Mau pake fresh milk atau oatmilk?” tanya Reyga. Dua gelas double shot espresso sudah ready. “Oatmilk.” “Dingin atau panas?”“Dingin.” Kalla melirik Reyga di balik bar. Gayanya sudah mirip barista beneran. Tanpa sadar sudut bibirnya mencuat. Spanish Latte dingin tidak lama Reyga sodorkan ke depan Kalla. Sementara dirinya lebih suka espress
Ini udah kembali ke setting setelah syukuran ya============%Hening. Sepanjang perjalanan pulang suasana terasa mencekam. Sejak keluar dari rumah besar keluarga Abimanyu tak sepatah katapun keluar. Baik dari Kalla ataupun Reyga. Kalla tahu, lelaki itu sedang marah padanya, perkara pernikahan yang dia tolak. Dan Kalla memilih diam untuk menghindari perdebatan. Kalau ada yang marah seharusnya dirinya. Tanpa aba-aba Reyga langsung minta izin ingin menikahinya dalam waktu dekat. Tidak ada persiapan, atau kode apapun. Andai dirinya tidak segera bertindak, malam ini akan menjadi malam panjang. Sebab Kalla tahu mamanya Reyga pasti tidak mau mengalah. Kalla juga tahu Reyga tidak melajukan mobil ke arah Lebak Bulus. Alih-alih ke selatan, dia lurus ke utara mengarah ke Sudirman. Namun Kalla tidak berkomentar. Pun ketika tiga puluh menit kemudian mobil terparkir di lantai basement apartemen. “Kamu nginap,” ucap Reyga singkat, lalu keluar mobil. Seperti tidak mau dibantah. Kalla menarik nap
SEBELUM ACARA SYUKURAN=========================Setting time : sebelum Reyga membawa Kalla ketemu ortunya. *****“Lo siap, Kal?” Moya melirik Kalla yang malah meringkuk di atas ranjang. Dia menggeleng melihat kelakuan sahabatnya itu. Hari ini pengumuman lolos tidaknya apply yang Kalla ajukan untuk magang sekaligus beasiswa ke Jepang. “Nggak usah takut gitu. Kak Wima pasti bantuin lo kan?” Kalla menggeleng cepat. “Dia bilang nggak ikut campur soal perekrutan ini. Lagi pula dia nggak tau kalau gue apply.”“Ya udah sini bareng-bareng liatnya.” “Lo aja. Gue masih trauma kena tolak.” Moya membuang napas. Lantas kembali menatap layar laptop dan membuka web perusahaan Sagara Group. Dia tidak langsung membuka button rekruitmen tapi malah membuka profil perusahaan investasi itu. “Dia ternyata bekerjasama dengan banyak perusahaan Jepang. Termasuk yang ada di Indonesia, pantas buka beasiswa ke sana,” ujar Moya. Kursor lantas bergerak ke arah galeri. Di sana banyak foto-foto event yang di
Sebuah tangan menyelip dari belakang membuat Kalla yang sedang mengambil cake tersentak. Hampir saja cake itu jatuh. Saat menoleh dia menemukan Rey yang tersenyum padanya. “Kamu suka hidangan syukurannya?” tanya lelaki itu. “Suka,” sahut Kalla datar lalu beranjak mengambil garpu kecil. “Mau aku ambilkan juga?” tanyanya sebelum pergi dari dessert booth. “Enggak. Aku udah kenyang. Kael memberiku banyak makanan. Aku temani kamu makan itu aja.” Reyga mengiringi langkah Kalla menuju sebuah kursi sembari sesekali membalas sapaan orang yang berpapasan dengannya. “Acaranya sampe jam berapa?” tanya Kalla sesat setelah dia duduk. “Mungkin setelah aku ngomong sesuatu di depan semua selesai.”Ya. Reyga bintang utama di syukuran ini. Kalla harus lebih bersabar sebentar lagi. “Nggak apa-apa, kan?” Kalla hanya mengangguk. Bertahan sebentar lagi sepertinya bukan masalah. Dia hanya perlu menghindari sumber keresahan hatinya. “Kamu tadi dari mana aja?” tanya Kalla, ingin memancing kejujuran le
“Dia Cecilia Wu, Pak. Owner Phoenix Wu.” Mendengar bisikan Rafli—asistennya—Wima melotot tak percaya. Tapi gambar yang asisten itu tunjukkan membuat lelaki 37 tahun itu mau tak mau harus percaya. Wanita yang bersama Reyga memang Cecilia Wu, pengusaha Asia yang namanya sedang menjadi trending topi
“Kamu nggak kangen papa, Kael?” tanya Kalla sembari mengayunkan tangan kecil Kael. “Kangen.” Anak itu menjawab datar seraya melamoti sendok es krim. Di depan Kael, Kalla duduk sambil bertopang dagu. Saat ini keduanya sedang berada di kedai es krim selepas Kael pulang sekolah. Sebelum pulang ke ru
Begitu Cade kembali ngantor Ibu mulai mendekati Kael dan Kalla yang sekarang sedang asyik menyusun puzzle. Cade sengaja membeli puzzle yang tingkat kesulitannya cukup tinggi untuk anak seusia Kael. Agar anak itu betah mikir lama. Kalau sedang serius, Kael susah diganggu. Fokusnya pasti tidak mau t
Reyga memejamkan mata mendengar host acara. Selama jalannya seminar dia kurang fokus. Pikirannya terus melanglang ke Indonesia. Ingin segera bertemu putranya dan juga Kalla. Gemuruh tepukan yang akhirnya membuat dirinya terbangun dan sadar. Tangannya terangkat sedikit, lalu ikut tepuk tangan. Semu







