LOGINDiandra dianggap rekan kerjanya wanita lajang yang memiliki kehidupan yang sempurna , pekerjaannya sebagai designer perhiasan dengan penampilannya menarik, tetapi sebenarnya Diandra adalah orang yang sangat kesepian. Ia menyimpan rahasia yang takut ia akui, bahkan kepada sahabatnya. Rahasia masa lalunya yang menurutnya sangat memalukan untuk diungkapkan. Untuk menjaga rahasianya agar tidak terbongkar ia berjuang untuk hidup mandiri, membesarkan anak semata wayangnya sebaai ibu tunggal, mengurangi pergaulan dengan orang-orang bahkan takut jika orang-orang masa lalunya bertemu dengannya dan akan membuka kedok masa lalunya. Dimata rekan kerjanya ,Diandra tampak sempurna . Mereka heran mengapa Diandra tidak tertarik dengan lawan jenisnya hanya tertarik pada karir dan pekerjaannya dan sama sekali tidak tertarik pada hubungan romantis. Latar belakangnya, Diandra memutuskan untuk tidak pernah menikah karena masa lalunya yang kelam, ia menutup hatinya untuk cinta. Mike berasal dari keluarga tajir. Ia tampak sempurna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Postur tubuhnya yang 185 cm, wajahnya yang tampan dan kekayaannya membuat para wanita berebut menjadi kekasihnya. Tekadnya untuk tidak menikah, hidup untuk dirinya sendiri dan perusahaannya, Mike hidup di dua dunia, gemerlap klub malam dan perusahaan. Kesepian dua hati membuat mereka bertemu di klub malam dan mereka melakukan hubungan satu malam. Pertemuan satu malam menimbulkan perubahan besar dalam hidup Diandra dan Mike setelah hubungan yang penuh gairah dan baru pertama kali Mike merasakan hubungan intim dengan seorang wanita. Sejak itu Mike selalu mengejarnya dan ingin mengetahui siapa wanita yang telah menjerat hatinya, dikerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Diandra. Apakah keinginan Mike menemukan Diandra terwujud. Siapa lelaki yang membuat Diandra berkomitmen untuk tidak jatuh cinta lagi. Yuk baca novelmu ini.
View MorePertanyaan itu selalu menggelayut di pikiran Diandra. Mengapa aku dilahirkan? Mengapa mama membenciku, apakah salahku ?Setiap aku berbuat kesalahan segala sumpah serapah keluar dari mulut mama.
Tiada hari tanpa ada cinta, tak ada senyum yang ada hanyalah muka datar, dingin ,bibir tipis mengurat kuat menjadi satu garis, mulut terbuka jika mama mengamuk karena aku melakukan kesalahan.itu selalu bertarung di pikiran Dandra. “Kamu seperti laki-laki itu, malas, tidak mau bertanggungjawab!”Teriak mama dan Diandra langsung mengerutkan keningnya, kata-kata itu lagi keluar dari mulut mama membuat Diandra bingung. “Uang? Setiap hari uang! Aku mau kuliah tidak bisa, bahkan harus melupakan cita-citaku karena kamu!”Teriak mama sambil membanting benda yang dipegangnya jika Diandra minta uang untuk kegiatan sekolah. Kekerasan mental baik verbal maupun tindakan membuat Diandra tidak sanggup menghadapinya, Diandra sangat tersiksa hidupnya, membuat Diandra depresi, melakukan tindakan menyakiti dirinya atau bahkan ada keinginan untuk bunuh diri. Kepingan pertanyaan, siapakah ayahku, siapakah aku? Apakah aku anak yang tidak diakui kehadirannya? Dingin dan sepi menyerap di kamar tidurnya menyisakan pertanyaan-pertanyaan, bentrok dengan mamanya ketika Diandra mendapati mamanya mabuk, mengoceh , memaki laki-laki yang disebut bajingan yang tidak mau bertanggungjawab. “Seburuk apakah masalah yang mama hadapi hingga mama selalu mabuk?" Bisiknya lirih. "Setiap aku melarang mama untuk tidak minum alkohol mama memarahiku kata -kata, bukan urusanmu!Bertahun-tahun aku bisa mengatasinya sendiri." bisik Diandra mengusap dadanya yang bergetar hebat menahan tangisnya. Pertengkaran hebat dengan mamanya kembali terjadi ketika Diandra minta uang untuk bayar uang praktikum. "Uang uang... yang selalu di otakmu! Kamu kira laki -laki itu kasih uang? No! Kalau tidak ada tante Deasy kita tidak bisa makan." “Mama hanya memikirkan hidup mama sendiri. Tahukah mama aku selalu merasa bersalah karena mama selalu mengatakan karena aku, mama tidak bisa meraih cita-cita yang mama impikan?” jawab Diandra. “Seharusnya kamu harus sadar mengapa mama jadi begini.” “Kalau begitu mengapa mama tidak menggugurkan saja waktu mama tahu mengandung aku?” “Bajingan itu berjanji akan mengawini ku, dia mengkhianati janjinya. Menikah dengan wanita yang lebih kaya." “Lebih baik aku pergi dari rumah ini!”Teriak Diandra. “Pergi? Silahkan! Lebih baik mama tidak melihatmu. Melihatmu seperti melihat bajingan itu!”Teriak mamanya. Ada tatapan benci yang ditunjukkan mamanya kepada Diandra disertai melempar gelas dan botol minuman ke arah Diandra. Diandra benar-benar pergi meninggalkan rumah, meninggalkan mamanya yang terus berteriak bagaikan orang gila ditatap para tetangga. Semua tetangga tahu betapa tersiksanya Diandra yang selalu dicaci maki mamanya. "Anak haram itu dimarahin mamanya lagi," "Kasihan, setiap hari dimarahin." "Mau kemana anak haram itu pergi?" Cicit tetangganya, hanya sekedar prihatin dimulut , mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ketidakmampuan mereka untuk turut campur masalah ibu dan anak. *** Setelah jauh dari rumahnya Diandra baru sadar kemana ia tidak tahu kemana akan pergi, teringat akan tante Deasy teman mama yang setiap bulan datang ke rumah membawa uang dan sembako. Diraihnya ponsel jadul yang ada dalam tas kemudian menghubungi tante Deasy. Tidak tersambung. Hujanpun turun, semula rintik-rintik akhirnya hujan deras menyirami kota Surabaya, dalam keadaan basah kuyup dan mata memerah, Diandra sulit mencari lokasi tempat tinggal tante Deasy. Dicarinya tempat berteduh, dengan harapan hujan akan berhenti. Malam semakin larut, hujan bukannya berhenti malah semakin deras disertai petir dan kilat membuat Diandra ketakutan. Diraihnya ponsel, kembali mencoba menghubungi tante Deasy. "Hallo, Ndra, ada apa menelpon tante,"terdengar suara dari seberang. "Tante, Diandra diusir mama dari rumah." "Fiona mengusir mu? Kamu dimana sekarang ?" "Tidak tahu tante, Diandra tersesat. Hujan deras Diandra tidak bisa melihat arah jalan ke rumah tante Deasy. Diandra terpaksa berteduh." "Berikan alamat tempat kamu berteduh." Diandra memberitahukan alamatnya, "Oh, kamu jalan terus saja. Keluar dari gang Kelinci, di depan gang ada toko kelontong. Nah... di seberang toko kelontong...." "Baik tante," "Nanti Yu Nem menunggumu di pintu gerbang," **** Berlari-lari Diandra menerjang hujan, petir dan kilat dihiraukan yang penting cepat sampai ke rumah tante Desay, satu-satunya harapan yang ada di hatinya. Kepercayaannya bahwa tante Deasy yang baik hati pasti akan menerimanya , bahkan menampung di rumahnya. Penjaga rumah dan yu Nem sudah menunggunya di depan pintu gerbang, menyodorkan payung yang sebenarnya tidak perlu karena Diandra sudah basah kuyup. "Ayo masuk, lalu mandi, " perintah yu Nem, pembantu rumah tangga tante Deasy yang kadang-kadang menggantikan tante Desay membawa sembako bahkan makanan sisa pesta di rumah tante Deasy. "Kamu pergi dari rumah mamamu? Dasar anak nakal!"tegur tante Deasy begitu melihat Diandra setelah mandi mencari tante Deasy yang menunggunya di ruang makan. Diandra menunduk,ada ketakutan jika tante Deasy menyuruhnya kembali ke rumah, "Saya tidak tahan tinggal sama mama, bisakah saya tinggal sama tante? Saya dengar tante punya tempat kost dengan duapuluh pintu, saya akan bekerja untuk tante, asal saya ada tempat tinggal ...." "Tante tidak keberatan kamu tinggal sama tante. Mengenai apa yang akan kamu kerjakan, kita bicarakan besok pagi. Kamu pasti lapar?" tanya tante Deasy. Diandra mengangguk, " Ayo temanin tante makan, jangan sungkan-sungkan anggap rumah tante , rumahmu juga." "Terima kasih tante." Sejak pergi dari rumah meninggalkan mamanya kehidupan Diandra berubah drastis, ia mendapatkan kehidupan yang penuh kemewahan yang tidak pernah ia bayangkan. Dari anak yang tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang dia mendapatkan perhatian dari tante Deasy yang Diandra percaya menyayangi dirinya. Sebulan lebih Diandra tinggal di rumah tante Deasy, mamanya tidak pernah mencarinya. Diandra semakin yakin bahwa mamanya tidak mencintainya, hanya mencintai dirinya dan sibuk mengutuk pria yang mungkin adalah ayah kandungnya, ayah biologis yang meninggalkannya. Diandra setelah dirawat tante Deasy terlihat kecantikan yang semula tersembunyi dalam kekurusan tubuhnya dan kusamnya penampilan, telah berubah menjagi gadis cantik yang ceria . Anak kost yang kost di rumah tante Deasy sering membelikan Diandra baju, tas dan kue kesukaan Diandra.Mereka menjuluki Diandra, "Malaikat kecil tante Deasy." Diandra yang semula jarang tertawa bahkan tersenyum, mulai kelihatan energik. Tawa terkikik -kikik melihat para anak kost yang menggodanya bahkan tanpa mereka sadari mereka menceritakan masalahnya dengan boss nya. "Oom Harley memberikan mbak Yani uang banyak karena sukses membuatnya puas." "Mbak Yani kerja apa di kantor?" " Mbak cuma melayani dan merayu boss." "Terus dapat uang?" tanya Diandra menatap wajah mbak Yani dengan antusias. "Hmm...uang, tas dan ini jam tangan juga dikasihkan ke aku," kata mbak Yani. "Aku nanti mau jadi desainer perhiasan, apakah bisa dapat banyak uang?" "Bisalah,tapi dik Diandra harus belajar dulu," "Mbak Yani belajar juga?" Yang ditanya tidak langsung menjawab, menatap wajah mungil penuh kepolosan,"Orang tua mbak tidak mampu membayar uang kuliah,mbak tidak sampai kuliah." "Kok bisa dapat uang?" tanya Diandra dengan polosnya. "Tante Deasy yang mengajar mbak bisa dapat uang banyak." "Tante Deasy memang hebat, " jawab Diandra. "Dik Diandra harus pandai mengambil hati tante Deasy, pasti tante Deasy akan membuat dik menjadi kesayangan boss -boss," bisik mbak Yani di telinga Diandra. Gadis kecil itu tidak tahu telah dicekoki kata -kata tentang kehebatan tante Deasy, sejak itu tante Deasy menjadi panutan Diandra. ' Aku harus pandai mengambil hati tante Deasy,aku tidak boleh mengecewakannya biar mama melihat tanpa campur tangan mama aku bisa disayangi boss -boss.' batin Diandra dan itu tertanam dalam pikiran dan hatinya.Diandra serius menatap sketsa, rambutnya yang ikal sebagian terjuntai ke depan sebagian diikat terjuntai di bahunya. Tali satu daster pendek keluar dari bahunya, memamerkan kedua bukit kembar nya yang montok. "Dia tambah montok," bisik Feliks mengalihkan matanya dari laptop ke Diandra yang sedang sibuk di meja gambar membuat sketsa kalung pesanan salah satu konglomerat.Selama ini Feliks hanya mampu memandang tubuh indah Diandra, terutama kedua bukit kembarnya yang berisi ASI semakin membesar dan padat. Dipandangnya paha mulus , putih dibalik daster pendek terlihat menggiurkan di mata Feliks .Feliks memejamkan mata untuk beberapa saat, ingin merekam dalam benaknya lalu membuka matanya kembali menatap Diandra, entah merasakan ada yang menatapnya,Diandra menoleh ke arah Feliks tersenyum kecil. Diandra menggerakkan bibir nya,'Mengapa menatap ku?' tanyanya. "Kamu cantik." bisik Feliks menahan hasratnya. Diandra melepaskan pensil nya, menurunkan tali dasternya ,menampakkan sebag
Saatnya pulang ke rumah setelah seminggu di rumah sakit ibu dan anak. Kedatangan Diandra bersama Fedra Aurora Kartamihardo disambut meriah di penthouse. Rieke dan Hafid dibantu mbak Kinasih mengatur kesemuanya dari dekor sampai menu makanan. Mama Fiona dan papa Feliknor datang dari Dubai membawa boneka lucu, demikian juga Opa Jayden, oma Jessika ,oom Farrel dan tante Faye membawa anak -anak mereka. Penthouse penuh dengan gelak tawa jerit gembira anak -anak ketika Feliks membagi angpao,amplop merah berisi uang yang diberikan sebagai hadiah atas kelahiran bayi perempuan yang sangat didambakan oleh Feliks Semua yang menerima angpao menjerit kecil ketika mengintip isi angpao.. Rieke,Hafid berbisik -bisik ketika mengintip isi angpao. Diandra tersenyum ketika Rieke mengulurkan tangannya meminta angpao. Tidak lama angpao ditangan Hafid beralih ke dalam tas Rieke. Dengan gerakan bibir, Rieke menyatakan,'menabung persiapan nikah.'Diandra tersenyum kecil sambil mengacungkan jempol nya. Riek
Suatu kebahagiaan bagi Diandra ,Feliks mengantarnya ke rumah sakit untuk pemeriksaan usia kehamilan Diandra. Sewaktu mengandung baby boy setiap kontrol kehamilan dan tinggal sendiri di Jerman dalam cuaca dingin juga sewaktu berjuang melahirkan tidak ada yang menemaninya. Untung nya keramahan dan perhatian dokter serta perawat menghibur hatinya karena mereka tahu Diandra adalah seorang ibu tunggal. Bukan saja perhatian beberapa perawat bergantian memberi hadiah pakaian bayi buat baby boy setiap pergantian musim . Ditatapnya Feliks ketika dokter menyatakan bahwa Diandra positif hamil , kebahagiaan nampak di wajah nya, tidak ada aura dingin datar dan arogan wajah penuh kebahagiaan terpancar di wajahnya menambah ketampanannya. "Dari hasil USG, istri bapak hamil memasuki minggu kedua belas. Anak pertama?" tanya dokter muda yang menangani Diandra. "Anak kedua," "Hum.. para suami biasanya mengantar isterinya untuk kehamilan pertama, ternyata bapak masih setia mengantar untuk mengecek keh
Sinar mentari pagi menerobos tirai jendela kamar tidur utama di penthouse, Diandra yang tertidur pulas merasakan sesuatu menerpa wajahnya, "Oh aku ketiduran," bisiknya. Tangannya meraih ,mencari tubuh yang semalam membuatnya liar tak mampu mengendalikan dirinya pada fantasi liar mereka. Merasa bahwa tubuh yang dicarinya tidak ada, Diandra berbalik,"Ia sudah bangun?" bisiknya mencari ponselnya,"Apa? sudah jam sepuluh lewat?" Dihubunginya asisten RT,"Bapak sudah sarapan?" tanyanya. "Oh. Sudah ke kantor? Mmm... baik., terimakasih mbak Astri." Dengan menggerutu dihubunginya nomor, tertera,my cherish,Mengapa kamu tidak bangunin aku?" Feliks yang sedang mempelajari beberapa berkas untuk ditandatangani, meraih ponselnya yang berdering, membaca log panggilan senyum terukir di bibirnya. Diandra:["Mengapa kamu tidak bangunin aku?"] Feliks:["Nelpon itu yang sopan, bilang selamat pagi babe, langsung nyap nyap ."] Diandra:["Aku kaget, ternyata tidurku lama banget."] Feliks:["Aku tidak sa
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand
Kembali ke kamar tidurnya, Diandra tidak mampu tidur. Kejadian di ruang tamu menayang indah di pelupuk matanya , dipejamkan matanya kuat-kuat malah frekwensinya semakin tinggi. “Aku bisa gila.”Bisik Diandra, berbaring ke kanan, ke kiri , terlentang bahkan tertelungkup , lalu kembali berbaring terl
"Bagaimana? Kamu suka steak nya?" tanya pria itu sambil menatap Diandra memasukkan irisan steak ke mulut nya. "Hmm... enak. Diandra baru pertama makan daging sapi yang lumer di mulut," Tante Dessy dan pria itu tersenyum melihat gaya Diandra , menurut mereka lucu melihat ekspresi wajahnya menguy






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.